Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Erina, Istriku


__ADS_3

"Pak Sam, siapkan handphone untuk Erina dan aktifkan semua yang berhubungan dengan pelacak di handphonenya. Aku takut dia bosan dirumah, jadi aku akan memberinya sedikit kebebasan dan tetap bisa mengawasinya." Perintah Arga kepada pak Sam.


"Baik Tuan, akan saya siapkan semuanya." Pak Sam menganggukkan kepala. Pak Sam keluar ruangan dan mengintruksikan kepada anak buahnya untuk mencari handphone yang diminta oleh Tuan Arga. Dua laki-laki bertubuh besar itu menganggukkan kepala dan segera melaksanakan perintah Pak Sam.


Dedikasi Pak Sam kepada Tuan Arga sudah tidak perlu diragukan lagi. Seorang laki-laki berumur 35 tahun ini telah menjadi orang kepercayaan Tuan Arga dari sepuluh tahun yang lalu. Semua urusan kantor dan urusan pribadi Tuan Arga, Pak Sam yang mengurusnya.


Satu jam berlalu, anak buah Pak Sam sudah kembali dengan membawa sebuah box berisi handphone keluaran terbaru bulan ini.


"Ini Tuan. " Pak Sam menyerahkan box kepada Tuan Arga.


"Pak Sam, hari ini aku akan makan siang dengan Erina. Telfon bibi Mar agar tidak usah menyiapkan makan siang, karna aku dan Erina akan makan diluar. " Kata Arga sambil mengambil box handphone dari tangan pak Sam.


"Baik Tuan. " pak Sam mengeluarkan handphone nya dari saku kanannya.


"Bibi Mar, hari ini Tuan dan nona akan makan diluar. Tolong beritahu nona untuk bersiap-siap. " Jelas Pak Sam di telfon.


"Oh, begitu ya. Baik Pak Sam, akan saya sampaikan kepada nona Erina. " Jawab bibi Mar seraya menutup telfon.


Bibi Mar, menghampiri nona Erina.


"Nona, hari ini Tuan mengajak makan siang diluar. Nona dimohon untuk segera bersiap-siap. " kata bibi Mar.


"Iya bi, terimakasih. " Ucap Erina sambil tersenyum manis kepada bibi Mar.


Tumben Tuan Arga mengajak makan siang diluar, ada apa ya?


Erina mengerutkan dahi


***


Arga dan Erina telah sampai di sebuah mall, yang tak lain adalah Mall keluarga Arga.


Erina merasa senang dengan ide makan siang di luar, karna sudah lama dia tidak jalan-jalan.


Erina dan Arga turun dari mobil.


"Kita mau makan siang dimana honey? " tanya Erina penasaran. Karna baru pertama kali ini Arga mengajaknya makan di mall, yang bisa dibayangkan bagaimana ramainya pengunjung.


Tidak biasanya Tuan Arga mengajak makan di mall, biasanya kan makan di mana tidak ada pengunjungnya sama sekali.


Erina mengingat kejadian makan siang bersama orangtuanya, dimana restorannya sepi tak ada pengunjung lain selain mereka berempat.


"Disini ada restoran enak, kamu akan menyukainya. " Arga menatap dan tersenyum manis pada Erina. Arga menggandeng tangan Erina dan berjalan menyusuri ramainya pengunjung mall.


Hampir semua mata tertuju pada mereka berdua, karna penampilan Arga yang mencolok memakai setelan jas lengkap dengan dasi. Membuat kharismatik Tuan Arga benar-benar terpancar. Tubuh tinggi atletis, benar-benar membuat mata ingin berlama-lama memandangnya.


Erina yang siang ini dandan sederhana dengan dress berwarna putih juga sangat terlihat menawan, banyak laki-laki yang menatapnya. Membuat Arga harus mempercepat langkah karna tak ingin istrinya dilihat oleh laki-laki lain.


"Pasangan serasi" Hampir semua mata yang melihat mereka berdua berucap demikian. Membuat iri orang lain.


Sampailah mereka berdua di sebuah restoran mewah yang berada di lantai tiga.


Erina mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, seperti biasa tak ada satupun pengunjung disana. Karna sebelum mereka tiba, Pak Sam telah memberi kabar kepada pemilik restoran. Bahwa Tuan Arga dan nona Erina akan datang untuk makan siang. Seperti di komando, semua karyawan langsung mengosongkan restoran. Meminta pengunjung lain untuk segera meninggalkan tempat karna akan ada pemilik mall yang akan makan di restoran ini.


Arga dan Erina duduk di tengah ruangan restoran, beberapa makanan pun langsung tersaji rapi di meja. Erina mengambil beberapa makanan dengan porsi sedikit dan diletakkan di piring nya.


Ternyata benar-benar lezat makanan disini, selera orang kaya memang tidak perlu diragukan lagi ya. Beda denganku, yang hanya rakyat jelata. Makan nasi goreng pinggir jalan saja sudah terasa nikmatnya luar biasa.


Erina tertawa dalam hati.

__ADS_1


Arga dan Erina telah selesai makan. Arga mengeluarkan sebuah box yang dari tadi sudah ditenteng nya.


"Ini, buatmu. " Arga menyerahkan box itu kepada Erina.


"Handphone? Harusnya tidak usah hun, handphone ku masih bagus kok. " Erina mengeluarkan handphone lamanya yang memang terlihat masih bagus tapi modelnya sudah ketinggalan jaman.


"Kamu belum sadar bahwa handphone mu sudah ketinggalan jaman. Sudah pakai saja yang ini!" Kata Arga sambil melotot


Erina hanya menganggukkan kepala pasrah. "Iya honey. "


"Apa kamu dirumah kesepian istriku? " Arga memegang tangan Erina dan mengelus-elusnya.


Erina tampak kaget dengan pertanyaan suaminya.


"Enggak kok honey, kan ada bibi Mar yang menemaniku. " Erina tersenyum


"Kalau kamu mau, kamu bisa pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi. Pak Yan bisa mengantarmu. Asal kamu tahu batas dan tahu waktu. " jelas Arga.


Erina tampak sangat senang dengan ucapan suaminya. "Benarkah honey?" Pikiran Erina melayang ke suatu tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya. Erina tersenyum manis. "Terimakasih ya honey. " ucap Erina senang


Arga hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


***


Selesai makan Arga dan Erina berjalan menyusuri toko-toko yang ada di mall. Pandangan Erina, tertuju pada sepatu yang sudah lama dia inginkan. Arga melirik istrinya.


"Kamu mau? " tanya Arga. Erina hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Arga langsung menarik tangan Erina dan masuk ke sebuah toko yang di dalamnya berjejer sepatu dan sandal yang harga sepasangnya bisa untuk biaya hidup Erina selama delapan bulan di kos dulu.


Erina hanya menuruti suaminya.


"Baik, aku akan akan memilih salah satu honey. " kata Erina lirih


Pegawai toko yang melihat Arga dan Erina menahan tawa dengan adegan yang baru saja dilihat. Sungguh menggemaskan pasangan ini. Batin mereka dalam hati


Dasar orang kaya, selalu membeli barang hanya karna suka saja. Padahal kan belum tentu butuh juga. Itu kan namanya kurang bermanfaat.


Erina menggerutu dalam hati.


"Hun, kamu pilih dulu ya. Aku keluar sebentar untuk mengangkat telfon. " Arga berlalu meninggalkan Erina


Erina mulai memilih sepatu yang benar-benar dia inginkan, karna takut membuang uang yang tidak bermanfaat pikirnya.


"Erina? Kamu Erina kan? " sapa seorang perempuan.


"Iya" Jawab Erina singkat. Erina memandang perempuan itu dan mengingat-ingat siapa dia. "Vina ya? " Erina mulai mengingatnya. Vina adalah teman masa SMA nya. Vina yang dulu yang selalu menganggap Erina adalah saingannya. Kini berada di depannya.


"Kamu bekerja disini? " Kata Vina yang memang selalu menganggap Erina jauh dibawahnya kalau masalah ekonomi.


Ternyata dia tidak berubah, masih sama seperti yang dulu. Suka memandang rendah orang lain.


Gumam Erina.


"Menurut kamu? " Seolah ingin berkata kamu tidak bisa membedakan baju pegawai toko dengan bajuku apa.


"Ya, secara dulu kamu kan... " Vina tak meneruskan kata-katanya, dia memandang Erina dengan tatapan menghina.


"Ternyata kamu tidak berubah ya Vin, kamu masih sama suka memandang rendah orang lain. " kata Erina.

__ADS_1


Cih,


"Kamu juga masih tetap sama seperti yang dulu, tidak sadar diri. Oh ya, Bima sekarang sadar kan bahwa kamu bukan gadis yang benar-benar dicintainya. Sungguh malang nasibmu. " Vina sudah mulai keterlaluan.


"Vin, kenapa kamu masih saja membenciku? Sudahlah lupakan masa lalu, kenapa kamu masih mengungkitnya. " Ucap Erina.


"Kamu tu gak selevel ya sama aku, jangan sok nasehatiku apalagi berteman sama aku. " Vina terlihat kesal. Vina yang dari tadi memandang baju Erina. Tampak semakin kesal, karna dia tahu baju itu harganya sangat mahal.


Bagaimana mungkin si miskin ini bisa beli baju semahal itu. Tidak mungkin kan dia tiba-tiba kaya.


"Kamu sekarang jadi simpenan om-om ya? Kok bisa beli baju mahal gini?" Kata Vina sambil memegang baju Erina.


Arga yang dari tadi melihat dan mendengar langsung obrolan yang kurang mengenakan itu, akhirnya tidak tahan juga.


"Ehem." Suara Arga menghentikan Vina. Vina menurunkan tangannya dari baju Erina.


"Sayang, apa kamu sudah selesai? " Arga melingkarkan tangannya di pinggang Erina. Vina hanya mematung melihat laki-laki yang sekarang ada didepannya.


"Aku tidak jadi beli hun! " Ucap Erina.


"Kenapa memangnya sayang?" Arga yang tak sabar dengan jawaban Erina, akhirnya memanggil salah satu pegawai untuk mendekat. "Sepertinya, Erina istriku ini kebingungan memilih sepatu yang dia suka. Bungkus semua model terbaru dan kirimkan kerumah. " kata Arga kepada pegawai toko itu.


"Baik Tuan Arga. " Jawab kepala toko yang memang sudah tahu siapa yang sedang berkunjung ke tokonya.


"Honey, tak perlu seperti itu. " Erina kaget dengan perkataan suaminya. Arga melotot tanda jangan membantah.


Sementara itu Vina yang dari tadi mematung melihat Tuan Arga. Mulai menyadari siapa laki-laki yang di depan nya.


"Tuan Arga? " kata Vina tak percaya.


"Jadi selama ini benar Erina ini yang di nikahi Tuan Arga. " Gumam Vina yang terdengar oleh Arga.


"Iya Erina ini. Dialah Erina, istriku." Jawab Arga datar dan semakin mempererat pelukan di pinggang Erina. Erina hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa.


"Oh ya, apa aku terlihat seperti om-om dimatamu?" Arga mendelik ke arah Vina. Vina salah tingkah dan terlihat sangat malu.


Vina lalu pergi dari toko dengan perasaan malu dan tak percaya.


Apa yang sudah dilakukan si Erina itu sampai bisa memikat hati Tuan Arga, orang terkaya di negeri ini**?


Vina tak henti-hentinya memaki sepanjang jalan. Masih tak Terima kalau sekarang Erina jauh diatasnya.


***


Arga dan Erina sudah berada di mobil.


"Honey, kamu tak seharusnya bersikap seperti itu. " Erina tampak tak nyaman dengan sikap suaminya tadi.


"Kenapa? Aku tidak suka penindasan, apalagi itu terjadi pada istriku. Apa itu salah? " Arga sedikit kesal. Erina hanya terdiam.


Arga meraih kepala Erina dan membenamkan di dadanya. "Sayang, aku tahu kamu perempuan yang baik hati. Aku hanya tidak ingin kamu disakiti oleh siapapun. Aku tak akan biarkan orang lain menyakiti perasaan mu atau melukai tubuhmu." Arga membelai lembut rambut Erina dan mengecup pelan.


"Iya honey. " Erina menjawab lirih dan melingkarkan tangannya di tubuh Arga.


Masa mudamu pasti sangat sulit ya sayang, kamu harus melewati orang-orang seperti mereka.


Pikiran Arga melayang pada sosok Dion dan Vina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2