Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Tindakan Berbahaya


__ADS_3

"Aku memang tak butuh cintamu, tapi aku butuh dirimu. Aku ingin kamu menikah denganku, aku rela menjadi istri kedua. Karena aku sama sekali tak butuh cintamu, aku hanya ingin kamu menemaniku di sepanjang hidupku." suara gadis itu nampak bergetar, kedua sudut matanya sudah basah akan cairan bening yang menggenang.


Arga terdiam, pria itu mencoba untuk menenangkan pikirannya. Ia memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku hanya mencintai istriku. Aku tak punya niatan untuk menduakannya." sorot mata Arga menatap tajam ke arah Grace.


Gadis itu tak gentar, pandangan mereka beradu. Kali ini Grace tak mengalihkan pandangan nya, Ia ingin menunjukkan keseriusannya. Ia tak pernah main-main dengan ucapannya.


"Sayang." suara Erina secara tiba-tiba mengalihkan pandangan Arga.


Erina berjalan mendekati Arga, dibelakang Erina terlihat Gerald dan Pak Sam. Arga mengernyitkan kening nya.


Apa yang sedang terjadi dengan Erina sampai Pak Sam turun dari persembunyiannya? gumamnya dalam hati.


Arga memandang Pak Sam beberapa saat, mereka saling menatap dan seolah mata berbicara. Arga menatap tajam ke arah Gerald, ternyata laki-laki tua itu mempunyai rencana jahat terhadap Erina.


"Jika kamu sampai berani menyentuh istriku, akan ku buat kamu menyesal seumur hidup mu." ancam Arga dengan wajah geram.


Gerald yang di dampingi Pak Sam hanya bisa menundukkan kepala, tangannya sudah terborgol ke belakang.


Sial, ternyata Arga adalah laki-laki berbahaya. Aku bahkan sudah di tipu oleh nya, dia mengkhianati rencana yang sudah kita sepakati kemarin. Mereka semua akan menggagalkan rencana ku, Grace ... Daddy berjanji akan melakukan segala cara untuk kebahagiaanmu. gumam Gerald


Laki-laki paruh baya itu menatap anak nya dengan pandangan nanar, Ia tak tega melihat anak nya terluka untuk yang ke sekian kali.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Arga segera memeluk Erina yang kini sudah berada di hadapannya, "Kamu tak apa-apa sayang?" bisiknya lirih, raut wajah laki-laki tampan itu tampak begitu khawatir dengan keadaan Erina.


Erina membalas pelukannya, "Aku baik-baik saja sayang." sahut Erina.


Erina bersyukur bahwa suaminya tak terpengaruh oleh ucapan Grace, Ia mendengar jelas semua yang percakapan Arga dan Grace. Walau pun Gerald mencoba menyakiti nya, tapi Ia beruntung karena Pak Sam datang tepat waktu. Gerald hampir saja menyeretnya keluar restoran, namun Pak Sam segera membekuk Gerald dan memborgolnya.


Kemesraaan Arga dan Erina sungguh menyesakkan batin Grace, gadis itu semakin geram dengan Erina. Sorot matanya nampak berkilat, tangannya mengepal kesal. Nafasnya memburu menahan rasa kesalnya, Ia bahkan tak menghiraukan keadaan Daddy nya yang tangannya sudah terborgol.


"Kita pulang sayang, kita sudah membuang waktu saja disini." seru Arga, Ia melingkar kan tangannya di pinggang Erina. Arga sengaja menunjukkan kemesraan nya di depan Grace, Ia sudah jengah menghadapi gadis keras kepala itu.


Gadis itu semakin meradang melihat kemesraan Arga dan Erina, "Baik, kalian semua memang tak ada yang peduli dengan ku. Hidupku juga sudah tak berarti lagi di dunia ini." Grace beranjak dari kursi nya.


Gadis bermata biru itu mengambil pisau makan yang ada di hadapannya, Ia mengarahkan ke pergelangan tangannya. Semua yang berada di sana tampak panik.


Namun, hal itu tak membuat Grace berubah pikiran. Ia semakin menekan pisau itu di pergelangan tangannya.


Erina membekap mulutnya dengan kedua tangannya, Ia tak percaya bahwa Grace senekad itu. Arga mencoba bersikap setenang mungkin, karena menghadapi gadis yang tak waras itu membutuhkan pikiran yang tenang. Begitu pikir Arga.


"Hei gadis yang mengaku mencintaiku, tindakan mu ini malah membuat ku semakin yakin bahwa aku tak akan melihat mu walau aku belum mempunyai istri sekalipun. Kamu melakukan tindakan berbahaya saat ini, bisa jadi suatu saat nanti suami mu yang akan menjadi korban nya jika semua tak sesuai harapanmu." Arga menatap Grace dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.


Gadis itu tampak mencerna kalimat Arga, namun pisau di tangannya masih tak beralih.


"Apa ini sebuah pilihan? Apa jika aku tidak melakukan hal berbahaya ini kamu mau menjadi suamiku? Aku hanya menginginkan dirimu, aku sama sekali tak berharap cintamu Tuan. Kamu bisa tetap mencintai wanita itu, asal aku memiliki ragamu." ucap gadis berambut pirang itu. Kedua manik biru itu menatap Arga dengan tatapan sendu.


Deggg ....

__ADS_1


Entah kenapa hati Erina terasa sakit sekali mendengar ucapan gadis itu, Ia sebagai perempuan merasa sangat rendah dengan ucapan Grace.


"Tidak ... aku sudah bilang. Aku tak akan menikahimu, sekalipun aku harus berbohong untuk menyenangkanmu. Aku tetap tak akan mengatakan hal itu. Karena aku hanya mencintai istriku seorang." Arga mengalihkan pandangan nya kepada Erina, Ia mengulas senyum sambil menatap lekat wajah Erina. Gadis bermanik coklat itu merasa tersanjung dengan ucapan suaminya.


Nafas Grace terlihat terengah-engah, Ia menahan emosinya yang tampak sudah menjalar naik di kepala nya.


"Sudah cukup ... kalian hanya ingin melihat ini bukan? Kalian senang jika melihat aku mati mengenaskan bukan? Baiklah, aku akan mengabulkannya." Grace tampak semakin menajamkan pisau nya di pergelangan tangannya.


Erina yang melihat tindakan bodoh Grace segera berjalan mendekatinya, Erina berjalan dengan langkah cepat. Arga yang hendak menahan Erina segera Ia urungkan, Ia tahu istri nya tidak akan melakukan hal konyol seperti yang dilakukan anak gadis Gerald itu.


Kini Erina sudah berada tepat di hadapan Grace, Ia segera menampar pipi mulus gadis itu.


Plaaaaakkkk ....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Grace, gadis itu nampak tak percaya dengan tamparan yang baru saja menghujam pipi nya. Pipi Grace nampak merah, Erina segera mengambil pisau dari tangan gadis itu yang sudah tampak lengah.


Sorot mata Grace menatap tajam manik coklat Erina, Ia tak terima dengan perlakuan istri orang yang Ia cintai. Erina sadar gadis ini sedang labil, matanya tetap waspada jika gadis itu mencoba menyerangnya secara tiba-tiba.


"Tindakan mu ini sudah mencoreng kaum hawa, kamu bahkan memandang rendah kaumu sendiri. Tidak kah kamu malu, mengatakan untuk menjadi istri kedua? Asal kamu tahu, aku sebagai perempuan sangat malu dengan ucapan mu barusan. Sebagai Nyonya Arga, jelas aku tak rela jika suamiku menduakan aku. Tapi di satu sisi, aku melihat dari sudut pandang perempuan. Kita sebagai perempuan harus menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan kita, kehilangan orang yang kita sayangi bukanlah alasan untuk menjadikan harga diri kita tak berharga. Ibumu pasti akan sangat sedih jika melihat putri kesayangannya memohon untuk menjadi istri kedua. Ini adalah obsesi, bukan cinta nona. Ku mohon sadarlah." napas Erina nampak terengah-engah, Ia mengutarakan semua isi hati yang Ia rasakan dengan amarah yang meluap-luap.


"Jangan singgung tentang Mommy ku, kamu tak tahu apa pun tentang dia. Kamu juga tidak akan pernah mengerti bagaimana menderita nya aku selama ini? Kamu sudah mendapat cinta dan raganya. Aku hanya meminta raganya saja kenapa kamu begitu serakah? Apakah itu tidak boleh?" kedua sudut mata gadis itu nampak sudah mengalir deras airmatanya. Ia terisak, Ia menutup wajah nya dengan kedua tangannya.


Emosi Erina yang meluap-luap kini mulai surut, Ia merasa iba dengan gadis yang berada di hadapannya. Ia melangkah lebih dekat ke arah gadis itu, Erina memegang pelan kedua bahu gadis itu, Ia mendekatkan tubuhnya dan hendak memeluk Grace. Namun tangan Grace memberikan penolakan, Ia mendorong tubuh erina ke belakang, Arga membelalakkan mata mengetahui istri nya terdorong ke belakang. Erina tak bisa menguasai tubuh nya, Arga segera berlari mendekati Erina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2