
Arga masih berkutat dengan laporan bulanan dan dokumen-dokumen yang siap untuk di tanda tanganinya, dia sibuk mengamati satu persatu laporan yang di berikan oleh sekertaris Sam. Arga adalah pebisnis yang sangat teliti, dia tak mau satupun terlewat dari pandangan matanya.
"Tuan, siang ini sebelum anda menghadiri acara ulang tahun nyonya Sanjaya. Anda akan menghadiri pertemuan akuisisi perusahaan kontruksi." jelas Pak Sam.
Arga menghentikan sejenak aktifitasnya, dia memutar-mutar bolpoin ditangannya.
"Pak Sam, berikan ponselku. Aku lupa belum memberitahu Erina tentang acara ulang tahun Tante Sanjaya. " ucap Arga.
Pak Sam mengambil ponsel Tuan Arga dan segera menyerahkan pada Tuan nya. Arga segera meraih ponselnya dan menggeser layar ponselnya.
"Halo, sayang." Arga mulai berbicara dengan benda pipih yang menempel di telinganya.
"Iya sayang." sahut Erina.
"Aku lupa memberitahumu sesuatu." ucap Arga.
"Apa sayang?" Erina terdengar sangat antusias.
"Hari ini ada acara ulang tahun Tante Sanjaya, aku lupa memberitahumu. Nanti sore kamu siap-siap ya, ibu dan ayah tidak bisa datang karena sekarang masih di luar negeri. Oh ya, Nanti Pak Sam akan mengirimkan baju untukmu. " jelas Arga.
Tante Sanjaya? Bukankah itu Ibu Rendra Sanjaya?
Gumam Erina dalam hati.
"Oh iya sayang." sahut Erina.
"Sampai ketemu nanti sore ya sayang." kata Arga seraya menutup telfonnya.
Setelah kejadian tentang pernyataan perasaan Rendra terhadap istrinya, Arga seolah sudah melupakan peristiwa itu. Dia sama sekali tak menaruh dendam kepada sahabatnya, dia hanya merasa sahabatnya telah khilaf saja.
***
Erina sudah menerima dress yang dikirim Pak Sam untuknya, dress berwarna silver yang terlihat tampak cantik sekali. Meskipun Erina sudah sering menerima dress yang khusus di desain untuknya. Dia merasa ini masih sangat berlebihan.
Erina sedang bersiap-siap, terdengar dering telfon di ponselnya. Erina segera mengambil ponselnya yang berada di meja kamarnya. Dia melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Suamiku tercinta." begitulah nama Arga tersimpan di ponsel Erina. Arga sendiri yang memberi nama di ponsel istrinya.
Erina segera mengangkat telfon suaminya.
"Halo, iya sayang!" jawab Erina
"Sayang, nanti kamu datang dulu ya. Aku mungkin akan sedikit terlambat sekitar 30 menit ke acara ulang tahun Tante Sanjaya. Masih ada beberapa urusan yang harus segera aku selesaikan." jelas Arga.
Erina terdiam sesaat, dia merasa sedikit gusar.
Aku tidak mengenal siapapun disana. Bagaimana ini?
batin Erina cemas.
"Halo, sayang ... sayang? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Arga sedikit khawatir.
"Eh, iya ... aku baik-baik saja. Aku hanya ... sedikit cemas, tidak ada yang ku kenal disana sayang." Erina mencoba menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.
"Kamu tenang saja sayang, kamu nanti berangkat bersama Gea. Dia staf yang direkomendasikan Pak Sam untuk menemanimu saat aku belum datang." jelas Arga yang sudah bisa memperkirakan kegelisahan Erina.
"Syukurlah kalau begitu." Erina bernafas lega.
"Sampai ketemu disana sayang, I Love U." Arga menutup telfonnya.
***
Sebelum berangkat Gea sudah diberi beberapa wejangan oleh Arga. Pastikan nona merasa nyaman, jangan biarkan Rendra atau laki-laki lain mendekati nya. Jangan tinggalkan nona seorang diri. Dan segera beri informasi jika ada yang membuat nona tidak nyaman.
Gea yang mendengar titah dari Arga sedikit frustasi, jika bukan karna bayarannya yang menggiurkan. Mungkin Gea tidak akan senekad ini menerima tawaran Pak Sam untuk menemani nona Erina di pesta ulang tahun nyonya besar Sanjaya.
Dan satu lagi yang membuat Gea frustasi.
Siapa Tuan Rendra ini? Bagaimana wajahnya? Setidaknya kasih foto kek, atau paling tidak ciri-cirinya seperti apa? Bagaimana aku bisa bekerja maksimal, sedangkan orang yang mereka curigai saja aku tidak tahu.
batin Gea frustasi.
Flashback On
"Pak Sam, carikan seseorang untuk menemani Erina di pesta nanti sore. Aku akan datang terlambat, dia tak mengenal siapapun disana kecuali Rendra dan Clarissa. Aku takut dia tak nyaman dan masih di ganggu dengan Rendra." jelas Arga pada Pak Sam.
Pak Sam mengiyakan dan segera keluar untuk berpikir tentang siapa yang cocok untuk menemani nona Erina. Di saat itu, Gea yang merupakan pegawai yang sudah bekerja lebih dari 3 tahun di perusahaan Arga memberikan salam kepada Pak Sam.
"Selamat siang Sekertaris Sam." sapa Gea sambil menundukkan kepala.
Lama Pak Sam mengamati Gea, dia gadis tomboy dan berdedikasi tinggi pada perusahaan. Dia juga menyandang sabuk hitam saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
"Tunggu, siapa namamu?" tanya Pak Sam menghentikan langkah Gea.
Gea menghentikan langkah nya, dan segera menghadap Pak Sam dengan raut wajah yang bertanya-tanya.
__ADS_1
Apa aku sedang membuat kesalahan ya, kenapa tiba-tiba Sekertaris Sam memanggilku.
Gumam Gea dalam hati.
"Gea Tuan." jawab Gea singkat.
"Aku ada pekerjaan untukmu!" seru Pak Sam memberikan tawaran kepada Gea.
"Maksud Tuan?" Gea masih belum mengerti maksud dari Pak Sam.
"Tugasmu menemani istri Tuan Arga pergi ke pesta ulang tahun Nyonya, tidak lama hanya sekitar 30 menit saja. Setelah itu kamu boleh meninggalkan acara itu." jelas Pak Sam.
Menemani istri Tuan Arga? Aku? Tapi kenapa aku ya? Ini tidak apa-apa kan? Tunggu ... aku sedang tidak disuruh menjadi bodyguard kan?
Gumam Gea kebingungan.
"Aku akan membayarmu tiga kali lipat dari gajimu, untuk 30 menit itu." ucap Pak Sam.
"Baik, saya mau Tuan." seru Gea tanpa berpikir panjang.
OMG, tiga kali lipat dari gajiku selama sebulan. Bukankah ini jackpot yang jarang aku dapatkan.
Gumam Gea dengan membayangkan nominal yang akan muncul di rekening nya nanti. Matanya sudah berubah jadi ijo.
"Nanti jam 3 menghadap ke ruangan Tuan Arga." jelas Pak Sam.
Pak Sam berbalik meninggalkan Gea, Gea tak henti mengucapkan terimakasih kepada Pak Sam.
Flashback Off
Pak Sam memberikan Gea sebuah kotak yang di dalamnya berisi baju pesta yang sangat cantik.
Sepertinya aku sudah mendapat double jackpot hari ini. Selain mendapatkan uang, aku juga mendapatkan gaun yang sangat cantik. Dan harganya setara dengan gajiku selama dua bulan. OMG!
batin Gea yang merasa sangat senang.
"Cepat ganti bajumu dan segera jemput nona Erina." perintah Pak Sam.
"Ba ... ik Tuan." Gea bergegas menuju ruang ganti.
***
Gea sudah sampai di kediaman Arga, dia begitu takjub melihat rumah mewah milik bosnya itu.
"Rumahnya indah sekali ya." ucap Gea lirih. Matanya membulat dan bibirnya tak henti memuji keindahan setiap detail dirumah Arga.
Erina turun menemui Gea, dia terlihat sangat anggun dan mempesona dalam balutan gaun berwarna silver di hiasi detail laces yang cantik. Gea pun terkesima dengan penampilan Erina.
OMG! Nona Erina sangat cantik sekali, pantas saja Tuan Arga tak rela jika istrinya harus di dekati laki-laki lain.
Gumam Gea yang terus mengingat wejangan dari Arga.
"Kamu Gea kan?" tanya Erina. Gea sempet terkejut dengan suara Erina.
"I ... ya nona, saya Gea." jawab Gea singkat.
"Kamu cantik sekali." puji Erina. Erina tersenyum manis kepada Gea.
Kalau saja aku laki-laki, mungkin aku juga akan jatuh cinta pada nona ini. Dia begitu cantik dan ramah.
Gumam Gea yang terus memuji Erina.
"Terimakasih nona, nona Erina juga sangat cantik sekali." puji Gea kepada Erina.
Erina hanya tersenyum.
"Yuk, berangkat sekarang." ajak Erina. Gea mengiyakan dan berjalan mengekor di belakang Erina.
***
Erina dan Gea sudah terlihat sangat akrab, Erina senang karena Gea gadis yang humoris. Sepanjang perjalanan Erina dibuat tertawa oleh cerita-cerita lucu Gea. Sampai mereka tak menyadari, bahwa mereka sudah sampai di kediaman Sanjaya.
Rumah yang sama mewahnya dengan rumah orang tua Arga. Sekali lagi Gea dibuat takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. Matanya sangat di manjakan dengan pemandangan rumah mewah milik keluarga Sanjaya.
Erina menarik pelan lengan Gea, agar Gea berjalan beriringan dengannya. Gea hanya tersenyum kepada Erina.
"Kita disini saja ya, aku sama sekali tidak kenal dengan orang-orang yang ada disini." ucap Erina kepada Gea. Gea hanya mengiyakan.
Erina dan Gea sudah berada di tengah pesta ulang tahun Nyonya Sanjaya, ruangan yang seperti dome (gedung serba guna) bagi Gea. Karna saking luasnya tempat ini.
Seorang laki-laki menghampiri mereka berdua.
"Erina!" sapa laki-laki itu yang tak lain adalah Rendra.
__ADS_1
Erina hanya tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Rendra. Gea yang masih terus mengingat wejangan Arga, mengernyitkan dahi memandang Rendra.
Wah, gawat ini kalau aku membiarkan laki-laki ini mendekati nona Erina. Gajiku akan terancam ini.
Gumam Gea dalam hati.
"Arga dimana?" tanya Rendra basa-basi.
"Dia nanti menyusul, sekarang masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera dia selesaikan." jawab Erina. Erina melihat raut wajah kebingungan Gea.
"Kamu kenapa Gea?" tanya Erina khawatir.
"Nona, maaf. Laki-laki ini siapa ya nona?" serunya sambil berbisik di telinga Erina.
"Oh, dia. Dia Tuan Rendra." jawab Erina lirih.
Rendra yang mendengar percakapan dua perempuan di depannya segera bertanya.
"Iya, ada apa Rin?" tanya Rendra sedikit penasaran karna namanya disebut oleh Erina.
Belum sempat Erina menjawab, Gea segera maju ke depan, selangkah di depan Erina. Yang kini sudah berhadapan langsung dengan Rendra. Gea menelan salivanya.
OMG! Dia sangat tampan sekali.
Gumam Gea, dia hampir melupakan tugas penting nya. Namun dengan cepat dia segera menguasai rasa kagumnya terhadap Rendra.
"Ehem ... Tuan Rendra, mohon maaf karna saya mendapat tugas yang sangat penting yaitu menjaga nona Erina dari semua laki-laki dan termasuk anda Tuan Rendra. Jadi, saya mohon agar anda menjaga jarak dari nona Erina." Gea berlagak seperti bodyguard yang sedang melindungi nona nya dari ancaman orang jahat.
Rendra tertawa mendengar kalimat Gea. Rendra mendekatkan wajahnya kepada Gea dan segera
"Tenang saja, aku tidak akan menggoda nonamu. Tapi aku ingin menggoda kamu." Rendra mengedipkan matanya pada Gea.
Pipi Gea langsung bersemu merah. Seketika dia merasa sangat canggung, namun dia mencoba untuk menguasai dirinya.
Kamu harus kuat Gea. Ini cobaan. Kuat ... kuat ... kuat.
gumam Gea.
Erina tersenyum melihat ekspresi Gea, Erina yang mengerti maksud Gea untuk melindunginya dari Rendra segera menarik tangan Gea.
"Saya kesana dulu." pamit Erina pada Rendra sambil menggandeng lengan Gea yang masih diam mematung.
Seorang perempuan yang sedari tadi mengawasi Erina akhirnya mendekatinya, dia tak lain adalah Clarissa dan Nyonya Sanjaya ibu dari Rendra Sanjaya.
"Selamat siang nona, sepertinya kita belum pernah bertemu. Kamu siapa?" tanya Nyonya Sanjaya dengan tatapan tak bersahabat.
"Saya ... " belum sempat Erina mengenalkan diri, Clarissa langsung memotong kalimatnya.
"Dia Erina tante, istri Arga." jelas Clarissa dengan pandangan sinis menatap Erina.
Erina menelan sativa nya, dia merasa canggung. Begitu juga dengan Gea yang masih tidak begitu paham dengan situasi yang terjadi.
"Jadi kamu yang namanya Erina. Sepertinya, selera Arga menurun ya." seru Nyonya Sanjaya dengan nada merendahkan Erina. Erina hanya menundukkan kepala mendena
Gea yang terus merapal tugas dari Tuan Arga. Segera mundur beberapa langkah dan berlagak sedang mengecek ponselnya.
"Karna Arga sudah aku anggap seperti anak ku sendiri sama halnya dengan Clarissa, jadi aku ingin kamu memberiku hadiah dengan memainkan piano itu untukku." ucap Nyonya Sanjaya tegas. Dia menunjuk ke arah panggung yang berada di ujung ruangan itu.
Dia segera mempersilahkan Erina untuk maju ke atas panggung yang disiapkan khusus untuk penyanyi-penyanyi terkenal di negeri ini yang akan menghibur para undangan.
Gea yang mendengar sesuatu yang janggal, segera mengirim pesan kepada Pak Sam dengan disertai foto Erina, Clarissa dan Nyonya Sanjaya.
Erina menuruti perintah Nyonya Sanjaya dan segera maju dengan langkah tak yakin. Clarissa tersenyum puas melihat Erina akan dipermalukan oleh Tuan rumah. Rendra yang melihat Erina maju ke depan segera menghampiri ibunya.
"Ibu, apa yang sudah terjadi?" tanya Rendra pada ibunya.
"Aku hanya ingin melihat istri Arga memainkan piano untukku." ucapnya dengan senyum menyungging di bibir.
Rendra melihat ke arah Clarissa, dan segera tahu bahwa Clarissa telah menghasut ibunya.
Rendra hanya bisa bernafas dengan berat, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Erina.
Sementara itu Pak Sam yang baru saja mendapat pesan dari Gea segera memberitahu Tuan Arga.
Arga melihat foto Erina di ponsel Pak Sam.
Arga segea mengepalkan tangan dengan kesal. Dia benar-benar tak habis pikir dengan ibu Rendra.
"Atur semuanya setelah kita selesai dari pesta. Kita pergi sekarang." ucap Arga. Arga segera berdiri meninggalkan lokasi rapat n
Erina menaiki lima anak tangga menuju ke panggung, dia segera duduk menghadap piano besar berwarna hitam.
Erina mengambil nafas dengan berat, dia melihat ke sekeliling. Semua mata tertuju kepadanya. Seolah menunggu apa yang akan dilakukan Erina.
Bersambung
__ADS_1
Bonus Chapter Arga Pergi ke pesta Nyonya Sanjaya