Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Cemburu


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan Erina?" tanya Eric dengan raut wajah cemas.


"Tuan tak usah khawatir, Nona Erina baik-baik saja. Nona hanya butuh istrirahat cukup dan banyak minum airputih," jelasnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Senyuman Dokter Mili tampak sangat berbeda kepada Eric, Anggen yang berdiri di sebelah Eric merasa tak nyaman dengan tatapan dan senyuman Dokter Mili yang di tujukan kepada Eric.


Positif thinking Anggen, positif thinking, batin Anggen menenangkan dirinya sendiri.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Silahkan duduk dulu Dokter, bibi Mar sudah membuatkan anda minuman hangat. Cuaca di luar begitu dingin, tak ada salahnya jika minum terlebih dahulu sebelum anda pulang bukan?"


Tawaran Eric ternyata langsung di iya kan oleh Dokter Mili, hal ini semakin membuat Anggen merasa tak nyaman. Laki-laki itu berjalan mendahului kedua gadis tersebut, Dokter Mili segera mengekor tepat di belakang Eric. Sedangkan Anggen masih terpaku di tempat, perasaannya berkecamuk.


Kenapa hatiku rasanya sakit ya? Ah, kenapa aku jadi baperan gini sih**! gumam Anggen dalam hati.


"Anggen, ayo!" ajak Eric dengan senyum tersungging di wajahnya.


Anggen membalas senyuman Eric tapi senyuman nya seketika memudar saat Ia mengalihkan pandangannya pada Dokter Mili, gadis yang berprofesi Dokter itu bahkan tak tersenyum kepada nya. Tatapan nya seolah mengisyaratkan bahwa Ia tak suka Anggen berada disini.


"Ehm ... iya kak," jawab Anggen singkat.


Dengan sedikit ragu Ia melangkahkan kaki nya untuk menyusul Eric dan Dokter Mili, mereka bertiga duduk di ruang keluarga.


Anggen memilih duduk sedikit menjauh dari Eric. Hal itu tentu saja membuat Eric sedikit heran.


"Anggen apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan Eric memecah keheningan antara mereka bertiga. Namun, gadis itu tampak terkesiap mendengar pertanyaan Eric.


"A-aku ...." ucapan Anggen terhenti karena tiba-tiba Dokter Mili mencoba menyela percakapan mereka berdua.


"Tuan Eric, teh nya aku minum ya?" tanya Dokter Mili basa basi.


"Oh, tentu saja Dok. Teh ini memang di buatkan bibi Mar khusus untuk anda, Dokter."

__ADS_1


"Wah, benarkah? Tapi, memang teh buatan bibi Mar memang tak ada duanya Tuan Eric."


Anggen meremas bajunya, Ia merasa kesal karena Eric lebih peduli dengan Dokter kandungan itu.


Hah ... sekarang boleh kan kalau aku negatif thinking sama Dokter ganjen satu ini? Jelas-jelas dia sengaja mengalihkan perhatian kak Eric kepada ku, batin Anggen dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal sekali.


🍁🍁🍁


"Dokter, jika kamu tak keberatan biar kamu pulang diantar dengan Pak Yan," ucap Arga setelah mendudukkan tubuhnya di sebelah Eric.


"Tidak Tuan, terimakasih. Aku bisa pulang sendiri," ucap Dokter Mili sambil mengulas senyum memandang ke arah Arga lalu beralih ke Eric.


Hah ... apa-apaan itu? Kenapa Ia tersenyum seperti itu kepada kak Eric? Dia tidak sedang menggoda kak Eric bukan. Benar-benar menyebalkan sekali.


Anggen semakin meremas kuat bajunya, rasa cemburu yang menyergap hatinya membuat Ia tak bisa berpikir jernih.


"Jangan Dokter, sekarang sudah larut. Jika anda berkenan saya bersedia mengantar anda, tidak baik jika seorang gadis pulang selarut ini," tawar Eric yang dibenarkan oleh Arga. Namun, sangat bertentangan dengan perasaan Anggen saat ini. Rasa cemburunya semakin menjadi, hatinya semakin terasa sakit karena Ia merasa Eric membuka peluang untuk Dokter Mili. Meskipun maksudnya baik hanya karena tak tega melihat seorang gadis harus pulang sendirian. Tapi entah kenapa rasa cemburunya benar-benar berlebihan kali ini.


"Aku juga mau pulang kak Eric, Tuan Arga," ucap Anggen seraya bangkit dari tempat duduk. Sontak hal itu membuat yang berada di ruangan tersebut mengalihkan perhatian nya ke arahnya.


"Tadi Erina memintamu untuk tidur disini," ucap Arga.


"Iya, lagian sekarang sudah larut malam. Lebih baik kamu menginap disini dulu ya, besok pagi aku akan mengantarmu pulang," imbuh Eric.


Anggen merasa dilema dengan ucapan Eric, karena di rumah sedang tak ada orang. Jadi jika Ia pulang ke rumah sekarang, yang ada dia hanya akan kesepian dirumah. Tapi jika dia tak pulang sekarang, Ia takut Eric akan tergoda dengan Dokter ganjen ini.


"Besok aku ada urusan, jadi sekarang aku pulang saja Tuan. Oh iya, aku akan berpamitan dulu kepada Nona Erina." Anggen hendak berjalan meninggalkan mereka bertiga, tapi suara Arga menghentikkan langkahnya.


"Tidak usah, Erina sedang tidur. Nanti akan aku sampai kan kepada nya."


"Baiklah, terimakasih Tuan." Anggen menundukkan kepalanya kepada Arga.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan mengantarmu sekalian ya!" pinta Eric dengan memandang sendu ke arah Anggen. Seolah tak rela gadis pujaannya pulang malam ini.


Kedua sudut bibir Anggen terangkat sempurna, ada perasaan lega menyusup di benaknya. Sekilas ekor mata gadis itu melirik ke arah Dokter Mili, terlihat jelas senyum getir di wajah Dokter cantik itu.


🍁🍁🍁


Suasana di mobil begitu canggung di rasakan oleh Anggen, gadis itu memilih untuk duduk di kursi belakang dan membiarkan Dokter Mili duduk di sebelah kekasih hatinya itu yang saat ini sedang mengemudi.


Rasa tak nyaman kembali menyergap perasaannya, Dokter Mili kini bahkan lebih intens berbincang dengan Eric. Ia tak segan memegang bahu Eric dengan tawa lepas saat laki-laki itu melontarkan gurauan di sela percakapan mereka.


Hati Anggen terasa terbakar, meskipun malam itu terasa sangat dingin sekali. Tapi Anggen merasa kepanasan karena melihat orang yang Ia cintai tertawa dengan gadis lain dihadapannya.


"Kak Eric, bisa kan mengantarku terlebih dahulu?" pertanyaan Anggen menghentikan obrolan mereka berdua. Dan tentu saja membuat Eric terhenyak.


"Oh, jika memang demikian. Tak apa jika Tuan Eric mengantar Nona Anggen pulang terlebih dahulu. Aku tak keberatan, Tuan," ucap Dokter Mili dengan mengulas senyum.



Huh, Dokter itu bahkan sekarang berani menyebut nama ku. Tentu saja, ini kan yang anda mau? Agar bisa berduaan dengan kak Eric. Dan tololnya aku kenapa aku mengatakan pertanyaan itu, bagaimana jika kak Eric mengiyakan. Ah, sudah lah. Biarkan saja.


Anggen merasa menyesal dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir nya. Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul, niat hati ingin menghentikkan obrolan yang membuat nya sesak. Tapi malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Tidak, kita akan mengantar Dokter Mili dulu ya. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Eric tegas membuat kedua gadis itu segera terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.



Bersambung ....


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terimakasih untuk para readers dan teman-teman yang setia mengikuti karya author, beberapa episode lagi novel ini akan tamat. Jadi biar semakin semangat minta dukungan berupa like, komen yang membangun semangat author ya dan Vote jika berkenan. πŸ€—

__ADS_1


Love you allπŸ₯°


__ADS_2