Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Ngidam ... Apa Itu?


__ADS_3

Dua minggu istirahat dirumah tanpa melakukan apapun itu benar-benar sudah membuat Erina jengah, Arga memang sudah membatasi ruang gerak Erina. Bahkan untuk sekedar menyiram bunga di taman saja, dia tak diperbolehkan.


"Kamu harus istirahat total, ini semua untuk bayi kita sayang." Seolah menjadi mantra khusus untuk membuat Erina tak berkutik, begitu alasan yang selalu terucap dari mulut laki-laki tampan bernama Arga.


Erina berjalan menuju dapur, tempat favorit Erina setelah taman di halamannya. Entah kenapa dia sangat senang membantu Bibi Mar memasak, dan Arga tidak pernah mempermasalahkan akan hal itu. Mengingat Erina sangat kesepian dirumah besar mewah miliknya, tapi itu tak berlaku untuk sekarang.


Kehamilan kedua yang begitu di nantikan nya, ternyata membuat Arga merubah aturan nya seketika. Bahkan jika harus di tulis dalam sebuah kertas putih, butuh berlembar-lembar untuk menjabarkan aturan apa saja yang harus dipatuhi oleh Erina.


Erina sangat tersiksa? tentu saja. Dia seolah menjadi wanita yang sangat menderita saat ini. Apa setiap wanita mengalami hal sama dengannya? Begitu yang selalu ada di benaknya, ketika dia benar-benar merasa sendiri.


"Sampai kapan aku dikurung seperti ini? Bahkan menyiram bunga saja tidak boleh? Aturan macam apa ini? Apa aku sebegitu rapuhnya, sampai-sampai dia begitu mengkhawatirkan keadaanku?" ucap Erina sambil menghentakkan kakinya di lantai granit kamarnya.


Flashback On


Arga sudah bersiap untuk pergi ke kantor, Erina yang baru saja selesai mandi segera menghampiri suaminya.


"Sayang ... apa aku boleh jalan-jalan untuk menikmati kue manis ditoko kue yang berada tak jauh dari rumah kita?" ucap Erina dengan nada dibuat semanis mungkin.


"Tidak boleh .... " seru Arga singkat, padat dan jelas.


"Kenapa ....?" protesnya


"Tidak boleh, ya tidak boleh!" Arga mendelik ke arahnya, tak suka jika perkataannya dibantah.


Erina menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, dia mencoba menahan diri pada Arga. Dia tahu betul sifat suaminya, dia adalah Tuan Muda yang tak mudah merubah keputusannya. Sekali tidak tetap tidak, sekalipun nenek-nenek salto di depannya juga tak akan merubah argumennya.


Arga meraih jemari Erina, di belai dengan lembut dan dikecup nya beberapa kali. "Sayang ... kondisi fisik mu sangat lemah, kamu harus istirahat total. Aku mohon jangan membantah ku kali ini. Oke!"


"Selama ini aku tak pernah membantahmu kan sayang? sekalipun aku ingin." Erina menundukkan kepalanya.


Arga terlihat kurang senang dengan kalimat terakhir Erina.


"Pokoknya lakukan sesuai perintah ku, ini semua demi kamu dan anak kita." Arga membungkukkan badannya, hingga kini ia berada sejajar dengan perut Erina.


"Sayang, kamu jaga baik-baik ibumu ya. Jangan merepotkan ibumu, kamu tahu kan apa yang akan ayah lakukan jika membuat ibumu susah." Arga terkekeh mendengar kalimat nya sendiri, dia mengelus perut Erina yang masih terlihat rata dan mengecupnya pelan. Arga menegakkan kembali posisinya.


"Ish ... bahkan dengan anak sendiri kamu bisa berkata begitu." protes Erina sambil tertawa kecil, dia menepuk pelan bahu Arga.


"Kamu akan sangat manis jika menjadi gadis penurut." seru Arga, dia tersenyum smirk kepada Erina.


Erina hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan suaminya, Arga memegang kedua pipi Erina. Menatap lekat-lekat ke dalam wajah Erina.


"Dan saat ini, aku bahkan harus menahan diriku untuk tak menyentuhmu setiap malam. Oh ... betapa tersiksa nya aku, aku merasa menjadi laki-laki yang sangat menderita di dunia ini." Arga terlihat benar-benar tersiksa, namun hal itu membuat Erina bahagia. Karena akan terbebas sementara dari suaminya yang memang selalu membuatnya kewalahan setiap malam.


"Jangan begitu sayang ... kamu membuatku merasa bersalah akan hal itu." goda Erina dengan wajah menyeringai senang.


"Ha ... ha ... tenang saja sayang, Dokter Mili hanya mengatakan bahwa tak boleh menyentuhmu selama satu bulan bukan. Jadi untuk dua minggu ke depan, kita masih bisa bercinta lagi." Arga mengedipkan satu matanya, senyum kemenangan terlihat jelas di bibirnya. Erina bergidik mendengar kalimat suaminya.


Flashback Off


Erina kembali memusatkan perhatiannya pada benda berbentuk persegi panjang dengan layar besar yang menempel di dinding, entah sudah berapa kali dia menekan alat kecil dengan bentuk ramping memanjang yang sedari tadi ia pegang. Tak ada yang menarik perhatiannya, sampai akhirnya sebuah acara yang menampilkan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan dari kota ke kota lainnya hanya untuk menikmati kuliner di setiap daerah yang ia kunjungi.

__ADS_1


Erina menelan salivanya berkali-kali ketika ia melihat pria yang sedang melahap sebuah makanan di layar yang sedang ia tonton. Erina memegang perutnya, entah kenapa tiba-tiba dia sangat menginginkan makanan itu. Makanan yang bahkan sebelumnya tak pernah ia makan, kini seolah sangat menggunggah seleranya.


Makanan khas Jawa Timur yang disebut dengan 'Rujak' sukses membuat Erina menelan salivanya dengan susah payah, Erina segera meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Menggeser layar ponselnya dan dengan lincah mencari nama 'suamiku tersayang' di kontak telpon nya. Erina meletakkan benda pipih itu di daun telinga sebelah kiri.


"Iya sayang .... " suara Arga menyahuti dari sebrang sana.


"Sayang ... aku ingin sekali makan Rujak." tanpa basa basi Erina mengutarakan apa yang sedang ia inginkan.


"Rujak ... ? Apa itu?" suara Arga tampak heran, baru pertama kali ini ia mendengar nama itu dari mulut istrinya.


"Tunggu ... aku akan mengirimkan gambarnya padamu." Erina segera mematikan ponselnya dan dengan cepat tangannya menulis nama Rujak di laman pencarian. Deretan gambar makanan bernama Rujak terpampang jelas di ponsel Erina, Erina segera menyimpan salah satu gambar yang dirasa sangat menarik dan segera mengirim ke Arga.


***


Suasana di kantor Arga


Arga segera membuka pesan yang dikirim oleh istrinya.



Arga mengernyitkan keningnya, semakin heran dengan permintaan istrinya.


"Apa ini makanan?" ucap Arga dengan memperlihatkan layar ponsel kepada Pak Sam. Pak Sam menyunggingkan senyumannya, seolah mengerti yang terjadi dengan istri Tuan Mudanya.


"Nona Erina sedang mengidam Tuan." seru Pak Sam masih dengan bibir mengembang.


"Ngidam ... apa itu?" Arga tak mengerti ucapan Pak Sam.


Tuan Muda, jika anda berbicara seperti ini. Anda terlihat polos sekali. Bahkan istilah itu ada sebelum anda lahir di dunia ini, Tuan.


Pak sam masih tersenyum heran melihat Arga, Tuan Muda yang sangat di segani banyak orang. Ternyata sangat menggemaskan ketika kebingungan seperti ini.


"Ngidam itu sesuatu yang sering dirasakan oleh wanita hamil Tuan, biasanya hamil muda akan sering mengalami ngidam." jelas Pak Sam, dia sedikit bingung untuk menjelaskan kepada Tuan nya ini.


"Begitu ya .... " Arga tampak sedikit mengerti dengan penjelasan Pak Sam.


"Ok, baiklah. Kalau begitu carikan penjual Rujak." perintah Arga kepada Pak Sam.


Drrrrttt ... drrrttt ....


Arga melihat ponselnya dan segera menyautinya.


"Iya sayang .... "


"Apa kamu sudah menerima gambar yang aku kirim." suara Erina terdengar di benda pipih milik Arga.


"Iya, Pak Sam akan segera mencarikan makanan itu untukmu sayang."


"Tidak mau ... aku maunya kamu yang cari sayang, aku akan marah jika kamu tetap menyuruh Pak Sam mencarikannya untukku. Dan ingat satu hal, aku tak bisa dibohongi ya." seru Erina seraya mematikan sambungan telpon nya.


"Hah ... ada apa dengan dia? Kenapa dia sangat ingin aku yang mencarikan makanan itu untuknya? Bahkan aku tak pernah tau makanan seperti itu ada di muka bumi ini." Arga terlihat begitu kesal dan heran dengan sikap Erina.

__ADS_1



Pak Sam menundukkan kepala dan berkata.


"Itu juga salah satu sikap orang yang sedang ngidam Tuan."


Arga mendongakkan kepala, dan semakin kesal dengan ucapan Pak Sam.


Arga mendengus kasar. "Hah ... baiklah, ayo kita cari makanan itu untuk istriku yang sedang ngidam."


Arga bangkit dari sofa dan berjalan keluar, Pak Sam menyunggingkan senyuman dan mengekor di belakang Arga.


***



Arga terlihat bingung dan kesal, karena beberapa restoran yang di datangi nya tak ada yang menjual makanan yang dimaksud Erina. Sampai akhirnya Pak Sam memberi informasi kepada Arga.


"Tuan, di restoran di tengah kota itu menyediakan berbagai makanan tradisional. Menurut informasi Chef William, kemungkinan ada menu Rujak Tuan."


"Baiklah ayo kesana .... " Arga menjentikkan tangannya dan segera berlalu keluar dari restoran bintang lima miliknya.


Mereka telah sampai di restoran yang Pak Sam maksud, betapa bahagianya Arga ketika menemukan menu yang dimaksud Erina. Arga menginformasikan semua pesan Erina kepada Pak Sam.


"Informasikan kepada Cheff nya, Erina ingin Rujak cabe 1 dengan banyak sayuran dan beberapa lontong dan jangan lupa harus dibungkus dengan daun pisang." Arga mengernyitkan keningnya membaca pesan yang dikirim oleh Erina.


"Lakukan dengan sempurna, jangan sampai terlewat satupun." ucap Arga penuh penekanan. Pak Sam mengiyakan dan segera menginformasikan kepada Cheff restoran itu.


***


Erina segera melahap Rujak yang dibawakan Arga, dia terlihat begitu menikmati suap demi suap. Arga yang melihat Erina makan begitu lahap tampak bahagia, seolah pengorbanan nya tak sia-sia.


"Apa kamu suka ....?" tanya Arga dengan menyunggingkan senyum nya.



"Tentu saja aku sangat suka sayang, terimakasih suamiku." Erina tersenyum dengan mengacungkan kedua ibu jarinya. Terlihat senyum puas di kedua bola matanya.


"Sudah cepat habiskan makananmu." Arga segera mengalihkan pandangan nya, dia benar-benar tak bisa menahan diri melihat Erina tersenyum seperti itu.


Bersambung


.


.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sambil menunggu Up, yuk baca novel Kak Tya author kece kesayangan Aku😍


__ADS_1


__ADS_2