
Erina tampak gelisah mondar mandir di depan tempat tidurnya, sesekali dia keluar kamar untuk memastikan bahwa Arga sudah pulang atau belum.
Erina melirik jam yang terpaku rapi di dinding berwarna silver.
"Hampir jam sembilan lebih tapi kenapa Tuan Arga belum pulang ya. Tak biasanya dia seperti ini, dan kenapa handphonenya tidak aktif." Erina semakin cemas, pikirannya tak karuan.
Erina duduk di sofa dan sesekali mengecek handphonenya, berharap ada telfon atau sekedar pesan singkat dari Arga. Cukup lama Erina menunggu, akhirnya dia tidak bisa menahan kantuk nya. Erina tertidur di sofa dengan posisi miring dan tangan menahan pipinya.
Sementara itu, di sebuah Cafe yang biasanya ramai akan pengunjung kini sepi tak ada satu pun penghuni tersisa disana. Kecuali beberapa pegawai cafe, Tuan Arga dan Pak Sam. Pak Sam sebelumnya sudah mensterilkan terlebih dahulu tempat itu. Karna Tuan Muda sedang ingin menenangkan hatinya di sana. Tuan Muda masih duduk di sudut cafe, di temani dengan Pak Sam. Suasana hatinya benar-benar sedang tidak baik.
"Pak Sam, bagaimana jika Erina tidak mencintaiku? Bagaimana jika selama ini dia hanya berpura-pura bahagia di depanku? Aku benar-benar takut dia meninggalkanku suatu saat nanti." ucap Arga mulai bimbang.
"Tuan, saya tidak terlalu pintar dalam masalah anak muda dan percintaan. Tapi menurut saya, bagaimana jika anda tanyakan langsung kepada nona Erina? Bukankah itu lebih baik untuk anda dan nona erina?" saran Pak Sam.
Arga terdiam pikirannya mulai melayang. Hembusan nafasnya terasa berat dan tatapan matanya terasa hampa. Arga merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman di hatinya.
Pak Sam dengan setia menemaninya, menunggu sampai hatinya benar-benar membaik. Setidaknya Pak Sam sudah memikirkan beberapa ide untuk Tuannya, kekalutan hati Tuannya adalah sebuah masalah serius untuknya. Dia benar-benar tidak ingin semua ini terjadi dan berlangsung lama.
"Tuan saya mempunyai ide untuk anda dan nona Erina." kata Pak Sam berharap Arga sedikit terhibur.
"Apa itu?" suara Arga mulai bersemangat.
Pak Sam bergeser berpindah tempat lebih dekat dengan Tuan Arga. Berbisik tentang sebuah rencana untuk dirinya dan Erina.
"Apa kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Arga ragu.
"Semoga Tuan, kita tidak tahu kalau kita tidak mencobanya." jelas Pak Sam tersenyum kepada Arga.
"Baiklah, siapkan segalanya." sahut Arga yang kini sudah merasa lebih baik suasana hatinya setelah mendengar ide dari Pak Sam. "Ayo kita pulang, Erina mungkin sudah menungguku." senyum merekah di bibir Arga.
Kini Pak Sam, sudah bisa bernafas lega. Tuan Muda nya sudah kembali seperti semula. Optimis dan percaya diri.
Arga segera beranjak dari kursinya, dia melangkah keluar di ikuti dengan Pak Sam.
Beberapa saat kemudian Arga membuka pintu kamar tidurnya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mencari Erina, dan matanya tertuju pada sebuah sofa. Arga mendekatinya dan duduk bersila di lantai memandang lekat-lekat wajah Erina.
"Apa aku terlalu egois? Aku membuatmu tak punya pilihan karna keinginanku. Apa aku sudah membuat perasaanmu menderita? Maafkan aku yang hanya mementingkan perasaanku saja." Arga menghela napas panjang, tangannya mengelus lembut kepala Erina.
"Aku hanya ingin membuatmu bahagia sayang." kecupan mesra mendarat di pipi Erina.
Arga berdiri dan membopong tubuh Erina. Memindahkannya ke tempat tidur dan menyelimuti nya.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, jika cintamu masih belum tumbuh untukku. Akan aku buktikan bahwa aku pantas mendapatkan cintamu." senyum mengembang di bibirnya, ada sedikit rasa lega di hatinya.
***
Keesokan harinya, Erina terbangun dan mendapati Arga masih tidur dengan posisi menghadap tepat di wajahnya.
__ADS_1
Erina tersenyum, bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan suaminya. Erina masih memandang wajah Arga.
Kenapa dia sangat tampan ketika tidur? Gumam Erina dalam hati.
Arga terbangun membuat Erina salah tingkah dan langsung berpindah posisi membelakanginya.
"Kenapa? Apa aku setampan itu sampai membuatmu tak berkedip menatapku." goda Arga yang menyadari bahwa Erina memandanginya sejak tadi.
Ternyata dia hanya pura-pura tidur. Ah, malunya aku.
Erina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Arga menggeser tubuhnya lebih dekat dengannya dan segera memeluk Erina dari belakang. Kini mereka sangat dekat, bahkan deru nafas Arga sangat jelas terdengar di telinga Erina.
"Kenapa? Malu? Aku senang jika istriku menatapku, menyentuhku bahkan jika ingin mengatakan sesuatu tentang perasaan nya. Tentu aku akan merasa sangat senang." Arga mencoba memancing Erina, berharap Erina akan mengatakan sesuatu kepadanya.
Erina hanya terdiam, tak tahu kalimat apa yang ingin di dengar suaminya dari mulutnya.
"Apa kamu sudah selesai datang bulannya sayang?" suara Arga mendesis ditelinga Erina, dia kelabakan karna merasakan sesuatu dalam dirinya. Kalimat Arga membuat jantung Erina berdegup kencang. Dia langsung melarikan diri ke kamar mandi.
"Hah, rasanya jantungku mau copot saja! Bisa-bisanya dia mengatakan itu dengan nada biasa saja." Erina benar-benar merasa malu. "Bagaimana nanti aku akan keluar dari sini ya." Erina mengacak-acak rambutnya sendiri, bingung apa yang harus dilakukan.
Erina sudah tampak segar, dia membuka pintu kamar mandi dengan sangat pelan. Dia melangkah keluar kamar mandi dengan berjalan sangat pelan sekali.
"Ada apa?" suara Arga membuat Erina terkejut, Erina melirik Arga dan segera berjalan cepat menuju pintu kamarnya.
"Aku istrimu, sudah seharusnya seorang istri menunggu suaminya pulang kan." sahut Erina. Setelah itu dia segera melangkah keluar kamar. Ada rasa yang sedikit mengganjal di hatinya. Tapi segera ia tepis kan rasa itu.
***
Suasana di kantor Arga.
Arga sudah kembali di sibukkan dengan urusan kantor, tapi urusan hatinya masih belum terselesaikan.
"Bagaimana Tuan, apa anda sudah merasa lebih baik hari ini?" tanya Pak Sam memastikan.
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa pada Erina." ucapnya lesu.
Tuan, saya harus mengakui kepimpinan anda pada perusahaan ini sudah tidak diragukan lagi. Tapi sepertinya urusan hati sudah benar-benar membuat percaya diri anda menghilang.
Gumam Pak Sam dalam hati.
"Semuanya sudah saya siapkan dengan baik, baju nona Erina sudah dikirim ke rumah." jelas Pak Sam (yang diartikan, jangan buang-buang waktu inilah waktu yang tepat untuk kalian berdua).
"Telfon Bibi Mar, suruh Erina bersiap-siap untuk makan malam nanti." perintah Arga seolah tak ada pilihan lain yang harus dia lakukan.
"Baik Tuan." merasa rencananya sedikit berbeda, karena imajinasi Pak Sam. Tuan Arga memberitahu secara langsung nona Erina dengan kata-kata yang romantis dan membuat nona Erina terkesan karna akan ada makan malam yang spesial. Pak Sam hanya menghela nafas panjang. Halunya Pak Sam. Haha
__ADS_1
Pak Sam menelfon Bibi Mar, perihal makan malam yang akan di laksanakan oleh Tuan nya. Dan Bibi Mar segera memberitahu Erina.
***
Erina sudah terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna hitam. Ada sedikit rasa trauma mendera perasaannya. Makan malam terakhir yang berujung penculikan dirinya dan menyebabkan keguguran.
"Tidak, Tuan Arga pasti ada hal penting yang ingin disampaikan." Erina tersenyum menenangkan perasaannya sendiri. Menepis jauh-jauh rasa trauma nya itu.
Erina berangkat di antar Pak Yan, sesampainya di tempat tujuan. Erina disambut oleh beberapa pegawai restoran. Suasana di dalam restoran benar-benar sangat romantis di sepanjang jalan yang di lewati Erina terpajang karpet merah dan bunga mawar merah di kanan kiri. Erina masuk ke dalam lift dan pegawai yang mengantarnya menekan tombol angka tingkat tertinggi.
Kenapa perasaanku tak karuan begini ya, apa yang sebenarnya direncanakan Tuan Arga.
Erina bertanya-tanya dalam hati.
Mereka telah sampai di gedung paling atas. Erina melangkah keluar, dia menyusuri bunga-bunga yang tersusun rapi di sepanjang jalan yang ia lewati.
Arga sudah berada disana, berdiri membelakangi Erina. Arga menyadari keberadaan Erina, dia membalikkan tubuhnya. Setelan jas hitam membuatnya terlihat sangat tampan dan gagah. Erina sedikit terpukau dengan penampilan suaminya.
Arga berjalan mendekati Erina.
"Kamu sangat cantik hari ini." puji Arga sambil membelai pipi Erina, membuat Erina menundukkan kepala karna malu.
"Ada acara spesial?" tanya Erina sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Karna semua tampak istimewa di mata Erina.
"Iya." sahut Arga singkat. Erina mengangkat bahu masih bingung ada acara apa sebenarnya.
"Karna kamu adalah orang yang spesial di hatiku." Arga menjatuhkan lututnya ke lantai. Dengan sikap berlutut dan tangannya merogoh sakunya meraih sesuatu disana.
"Will you marry me?" ucap Arga sambil mengangkat box berisi cincin berlian yang sangat indah dengan diikuti suara kembang api, percikan kembang api terlihat sangat indah. Tiba-tiba semua lampu mati dan samar-samar terlihat tulisan "will you marry me, Erina" yang sangat besar.
"Ini adalah perasaanku sesungguhnya, aku ingin mengulang momen beberapa bulan yang lalu. Saat dimana aku memintamu menikah denganku, sungguh saat itu aku telah jatuh cinta padamu. Tapi aku sungguh egois, aku bahkan tak menanyakan perasaanmu kepadaku terlebih dahulu. Sekarang walau kita sudah resmi menikah, aku ingin melamarmu secara resmi. Sebuah lamaran seorang laki-laki kepada seorang perempuan yang sangat dicintainya, seorang laki-laki yang berharap akan bisa bersama sampai mereka menua dan tetap saling mencintai. Seorang laki-laki yang memiliki cinta yang begitu besar untuk perempuan yang begitu berharga dalam hidupnya. Seorang laki-laki itu adalah aku. Aku sangat mencintaimu dengan seluruh sisa hidupku. Untuk kedua kalinya, maukah kau menikah denganku? Bukan karna terpaksa tapi karna kamu juga mencintaiku." suara Arga terdengar jelas dan sangat romantis menurut Erina.
Erina masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Airmatanya menetes tanpa aba aba, tangannya memegang mulutnya dan tak bisa berkata apa-apa.
Erina menganggukkan kepala berulang kali, dia merasa sangat bahagia.
"Ya, aku mau menikah denganmu karna aku juga mencintaimu." ucap Erina dengan suara serak tapi terdengar jelas ditelinga Arga.
Arga memasang cincin di jari manis Erina, berdiri dan memeluk mesra Erina.
"Terimakasih... terimakasih, aku sangat mencintaimu." pelukan Arga semakin erat. Erina membalas pelukan Arga dan tangisannya pecah di dada suaminya.
Arga melepaskan pelukannya, mengangkat dagu Erina dan mencium mesra bibir Erina. Erina memejamkan mata merasakan sentuhan lembut bibir Arga dibibirnya. Mereka larut dalam kebahagiaan.
Visual Arga menyatakan seluruh cintanya kepada Erina. ❤
__ADS_1