Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Kembali Mengidam?


__ADS_3

"Sayang, aku sangat lapar," ucap Erina sambil mengguncang pelan tubuh Arga yang sudah terlelap sedari dua jam lalu. Entah kenapa, Ia tiba-tiba terjaga dan merasakan sangat lapar.


Arga yang sudah terlelap, mengerjap-kerjapkan matanya. Sejenak Ia terdiam untuk mengembalikan kesadarannya, Ia menyingkap selimutnya dan mendudukkan tubuhnya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tepi ranjangnya, ekor matanya melirik pada jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya. Jam satu lewat lima belas dini hari, tidak biasanya istrinya lapar di jam seperti saat ini. Arga menatap lekat wajah Erina yang tampak lesu.


"Pasti kamu dari tadi tidak bisa tidur ya?" Arga membelai lembut rambut Erina yang terurai, Ia menyunggingkan senyuman melihat istrinya yang tampak polos.


Erina menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, "Aku tadi sudah tidur, tapi tiba-tiba terbangun dan merasakan perutku sangat lapar," jelasnya.


"Baiklah, aku akan menyuruh Bibi Mar untuk memasak untukmu sayang," Arga hendak turun dari tempat tidurnya. Namun, Erina segera menarik tangan Arga.


"Jangan merepotkan Bibi Mar," ucap Erina dengan mata memelas.


"Lalu? Apa kamu meminta aku yang memasak? Jangan bilang kamu mengidam seperti itu?" Arga menaikkan kedua alisnya, tatapannya menuntut sebuah jawaban pada istrinya.


"Aku tak meminta seperti itu, kenapa kamu menatapku begitu!" Seru Erina dengan wajah kesal.


"Benarkah? Lalu kamu ingin makan apa? Aku pesan Delivery Order ya?" Arga menarik tangan Erina dan mengelus beberapa kali tangan lembut istrinya tersebut.


"Tidak, aku ingin kita makan ditempat sayang. Aku tidak mau makanan yang dibungkus," rengek Erina. Kedua matanya menatap lekat wajah suaminya, dengan wajah memelas berharap suaminya akan menuruti kemauannya kali ini.


Arga mendesah lirih, Ia tak pernah bisa menolak permintaan istrinya.


"Baiklah, ayo kita cari restoran yang masih buka. Ngidam kali ini, meskipun dini hari. Tapi masih lebih baik dari pada ngidam ingin bertemu dengan laki-laki lain atau ngidam yang tak ingin disentuh olehku." Arga tersenyum penuh arti, Ia kembali mengingat ngidam-ngidam Erina yang sebelumnya. Yang benar-benar membuat dia harus menahan sabar.


"Oh, kamu begitu manis sekali sayangku." Erina mencubit kedua pipi Arga, laki-laki itu hanya meringis mendapat perlakuan gemas dari Erina.


"Yuk, kita pergi sekarang!" Arga menarik tangan Erina, namun Erina bergeming.


Arga menautkan alis, "Katanya lapar, kok malah diam? Ayo kita pergi sekarang!" seru Arga dengan tangan masih menggandeng Erina.

__ADS_1


"Ganti baju dulu sayang, kita kan masih pake baju tidur. Kamu mau aku keluar pakai baju seperti ini?" goda Erina sambil menunjuk baju nya dengan gerakan matanya. Ia masih mengenakan baju tidur berwarna merah dengan model dada sedikit terbuka.


Arga sejenak menatap baju Erina, tepat nya di bagian dadanya. Ia menelan salivanya dengan kasar, padahal baru beberapa jam lalu. Ia menikmati setiap inci tubuh Erina, tapi begitu pandangannya tertuju pada belahan yang sangat menggemaskan baginya. Pikiran liarnya kembali terpusat di kepalanya.


Sejenak Ia mencoba untuk menguasai pikirannya, bernapas dalam-dalam dan membuang jauh pikiran yang ingin menerkam perempuan yang tengah hamil anak nya tersebut.


"Cepat ganti bajumu sayang." Arga segera membuang muka ke sembarang arah.


Erina tampak heran dengan sikap suaminya tersebut, tapi Ia sudah tak bisa menahan lapar nya. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar ganti.



🍁🍁🍁


"Kamu mau makan apa sayang?"



"Hmm, aku ingin makan sesuatu yang dibungkus sayang," ungkap Erina.


"Dibungkus? Tadi kamu bilang tidak mau delivery order**? Kenapa sekarang malah minta dibungkus?" Arga tampak mengernyitkan keningnya, Ia menghela napas dengan perlahan.


"Memang aku ingin makan di tempat sayang, tapi makanan itu harus dibungkus," jelas Erina.


Suasana hening sesaat, Arga kembali fokus pada kemudinya. Kota yang tak pernah tidur, sebutan itu yang cocok untuk ibu Kota negaranya. Meskipun dini hari, tapi kendaraan masih tampak lalu lalang membelah jalanan.


"Sesuatu yang dibungkus itu seperti apa sayang? Apa makanan yang dibungkus dengan box makanan atau makanan yang sengaja dibungkus sebelum dimakan?" pertanyaan ambigu sekaligus absurd Arga akhirnya keluar juga dari mulut laki-laki yang malam ini terlihat sangat memesona dengan mengenakan kaos lengan panjang berwarna hitam.


Erina menyunggingkan sebuah senyuman mendengar pertanyaan suaminya tersebut, Ia tahu bahwa laki-laki di sebelah nya itu menahan kesal karena kelakuan aneh nya. Tapi Ia masih bisa bersabar menuruti kemauan sang istri yang bisa dikatakan kembali mengidam.

__ADS_1


"Aku tahu, namanya nasi bakar sayang," ucap Erina dengan menjentikkan jarinya.


"Nasi bakar?" tanya Arga dengan raut wajah bingung.


Laki-laki yang sejak kecil selalu bergelimang harta dengan makanan yang selalu higienis dari chef terbaik itu, tampak begitu asing dengan nama makanan yang baru saja di sebut kan Erina. Bayangan nasi putih di bakar di atas tungku mulai tergambar di kepalanya, gosong dan pasti tak enak rasanya. Begitu pikirnya.


Arga menepikan mobilnya di depan minimarket yang berlabel buka 24 jam, Ia mengambil ponselnya yang berada di cela dashboard.


"Kenapa kita berhenti disini sayang?" raut wajah Erina tampak heran.


"Aku mau minta tolong Pak Sam untuk mencari lokasi nasi bakar tersebut," ucapnya tanpa menoleh ke Erina. Ia masih sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Jangan mengganggu orang yang sedang istirahat sayang, dia sudah seharian kerja untukmu. Hanya karena masalah sepeleh begini kamu harus meminta bantuan Pak Sam, bukankah itu terlihat berlebihan," ketus Erina. Memang semenjak usia kehamilannya menginjak trisemester kedua, Ia terkesan moody. Kadang kesal, beberapa menit kemudian bahagia. Namun Arga begitu sabar meladeni sikap sang istri, Ia tak bisa marah atau pun menampakkan kesal nya pada Erina.


"Kita punya benda pintar ini, Ia bahkan tahu segala informasi di dunia ini. Pasti akan sangat mudah mencari nasi bakar di sini." Erina mengangkat ponselnya.


Dengan cepat Ia mengetik nama 'warung nasi bakar' di laman pencarian, deretan nama muncul di halaman pencarian. Matanya berpusat pada benda pipih miliknya, beberapa detik kemudian senyum tampak mengembang di bibirnya.


"Ketemu!" seru Erina sambil menunjukkan layar ponsel miliknya di hadapan Arga. Sebuah nama cafe yang menjual menu nasi bakar tampak terpampang di layar tersebut.


"Baiklah, ayo kita pergi kesana!" sahut Arga dengan penuh semangat, Ia tak mau salah ucap di hadapan istrinya tersebut. Setidaknya Ia ingin menunjukkan bahwa Ia adalah suami yang benar-benar siaga.


Bersambung ....


💖💖💖


Alhamdulillah akhirnya bisa menyapa teman-teman lagi, semoga teman-teman menikmati cerita receh author ya😅


Sambil menunggu up, temen-temen bisa kunjungi novel karya kakak dan adek online author yang super keren ya.😍

__ADS_1




__ADS_2