
Eksekutif muda yang sudah tidak diragukan kepintaran dan kelihaiannya dalam berbisnis oleh semua pebisnis di negeri ini. Memiliki banyak anak cabang dan saham di hampir berbagai perusahaan besar.
Arga anak tunggal dari keluarga kaya yang cukup berpengaruh di negeri ini, dia dikenal sangat dermawan di masyarakat. Walaupun terbiasa hidup mewah dengan semua fasilitas yang dimilikinya, dia tak sungkan untuk langsung terjun ke masyarakat. Memastikan bantuan tepat pada yang membutuhkan. Ya, jiwa sosialnya memang sangat tinggi.
***
"Ini berkas yang anda minta Tuan. " sekertaris Sam menyerahkan amplop coklat besar.
Arga membuka lembar demi lembar, membacanya dengan teliti dan seksama.
"Hmm, cukup menarik." ucapnya lirih
"Siapa Bima ini? Cari tahu tentangnya!" Arga berhenti membaca di poin tentang Bima.
"Dia anak dari Pak Suryo Tuan. Kepala cabang di perusahaan XX." Seperti tahu apa saja yang akan ditanya oleh Tuannya. Sekertaris Sam sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.
"Berapa saham yang kita punya disana?" tanya Arga menyelidik.
"63% Tuan." sekertaris Sam sangat mengenal Tuan nya. Tuan Arga akan menanyakan sesuatu yang tidak disenangi nya secara mendetail.
"Baiklah, mari membereskannya. Urusan tentang Erina dan keluarganya." Arga beranjak dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya diikuti sekertaris yang setia melayaninya kapan pun dan dimana pun.
***
Erik yang baru sampai dirumahnya nampak bingung dengan masalah yang sedang menimpa keluarganya, dia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi dia tidak punya uang sebesar itu, di sisi lain dia juga tidak akan membiarkan adiknya menikah dengan laki-laki yang lebih pantas di panggil bapak olehnya.
Erik masih sibuk dengan lamunannya dan tiba-tiba mobil mewah berhenti di depan rumah nya. Erik penasaran siapa yang datang dengan mobil mewah yang sudah terparkir di halaman depan rumahnya, pasti bukan orang sembarangan.
Apa orang ini juga mau menagih hutang.
gumam Erik yang sudah tidak bisa berpikir jernih.
Dua orang laki-laki turun dari mobil dan berjalan ke arahnya, penampilan Arga yang memang sangat mencolok membuat Erik tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.
Seperti saya pernah lihat tapi dimana ya, siapa dia.
gumam Erik mencoba mengingat-ingat.
__ADS_1
Erik masih mengingat-ingat tentang sosok yang sekarang berjalan menuju rumahnya.
"Selamat siang, pak Erik. Bisa menggangu waktunya sebentar? " sekertaris Sam mengulurkan tangan kepada Erik.
Dia tau namaku, mustahil? Mereka seperti orang penting. Bagaimana mungkin mereka mengenalku.
gumam Erik dalam hati.
Erik masih merasa heran. Tapi langsung sadar dan mempersilahkan masuk.
Erik berjalan mendahului Tuan Arga dan sekertaris Sam.
"Mohon maaf rumah kami kecil, silahkan duduk." Erik mempersilahkan Arga dan sekertaris nya duduk.
Arga tersenyum dan segera duduk di depan Erik.
"Bisa tolong panggilkan orang tua anda pak Erik?" sekertaris Sam memulai pembicaraan.
"Oh iya, sebentar." Erik segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju ruang belakang untuk memanggil orangtuanya. Erik masih bertanya-tanya dan heran dengan tujuan kedatangan dua orang ini.
"Mohon maaf menggangu waktu kalian semua. Tuan Arga ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda." jelas pak Sam sambil menoleh ke arah papanya Erina.
Terlihat raut gusar di wajah keluarga Erina. bertanya-tanya ada apa ini.
"Saya Arga, tujuan saya kesini adalah untuk melamar anak anda Erina. saya ingin menikahinya. Saya mohon doa restu, saya mohon anda merestui hubungan kami." Tuan Arga terkenal orang yang tidak suka basa basi, dia selalu mengatakan maksud dan tujuan tanpa perlu memperpanjang pembicaraannya.
Erik seolah-olah mulai ingat sesuatu, dia mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk mencari tahu siapa sosok yang ada didepannya.
"Anda Arga Hutama? " tanya erik yang dari tadi sudah sangat penasaran.
"Iya dan saya mohon doa restu untuk menikahi adik anda." jawab Arga menundukkan kepala.
"Anda tidak usah khawatir masalah hutang anda kepada pak Rudi, semua sudah di lunasi sebelum kami datang kesini." seperti Tuan Arga, Pak Sam juga tanpa basa basi mengatakan masalah hutang kepada keluarga Erina.
Ada perasaan lega di raut wajah mereka bertiga, tapi masih bingung dengan situasi ini.
"Terimakasih banyak untuk bantuan nya Tuan. Say tidak tahu bagaimana cara kami membalas budi baik Tuan Arga?" papa Erina seolah tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Tidak usah sungkan, saya akan menjadi bagian keluarga ini jika kalian merestui hubungan saya dengan Erina. Saya hanya perlu restu anda semua." kalimat Tuan Arga menegaskan untuk kedua kalinya, bahwa mereka belum mengatakan persetujuan yang diminta Arga.
"Ini sangat mendadak, apa Erina tahu dengan kedatangan anda kesini?" Erik menanyakan kecemasan adiknya.
"Saya kesini untuk meminta restu kepada keluarga Erina dulu, jika kalian merestui. Tentu Erina akan sangat senang sekali." Arga meyakinkan Erik.
"Jika ini memang untuk kebahagiaan Erina, kami pasti akan merestui." Papa Erina tampak sangat pasrah dan berharap semoga anaknya hidup bahagia.
"Beberapa bulan ini, dia mengalami masa yang sangat berat. Dia ternyata menyembunyikan hubungannya dengan anda Tuan." perasaan lega tampak di raut wajah papa Erina.
Tentu saja dia menyembunyikan dari kalian semua, namaku saja Erina belum tau.
gumam Arga.
"Baiklah itu saja yang ingin saya sampaikan, kalian tidak perlu repot untuk menyiapkan apa-apa. Kalian hanya perlu datang ke acara pernikahan kami dan merestui kami." Arga berdiri dan berjalan keluar meninggalkan keluarga Erina masih dengan rasa tidak percaya.
"Tunggu Tuan!" suara papa Erina menghentikan langkah Tuan Arga.
Arga berhenti dan membalikkan badan. Papa Erina berjalan mendekati Arga.
"Saya mohon jaga Erina baik-baik ya Tuan, dia adalah anak gadis kami satu-satunya. " bulir bening muncul di ujung mata papa Erina. Tuan Arga memeluk papa Erina.
"Saya akan menjaga Erina dengan segenap jiwa raga saya." Arga melepaskan pelukannya dan segera berpamitan.
"Dia dicintai namun juga dikhianati. " Arga bergumam sendiri sambil menatap pemandangan di luar.
Pak Sam melirik Tuan Arga dan tersenyum.
Nona Erina benar-benar sudah menarik simpati Tuan Muda.
gumam sekertaris Sam dalam hati.
Arga masuk kedalam mobil, di ikuti dengan pak Sam. Mobil berlalu meninggalkan keluarga Erina dengan perasaan yang masih campur aduk. Mobil terus melaju menembus jalanan yang mulai di penuhi kendaraan-kendaraan pribadi.
Arga tersenyum penuh arti, ada perasaan senang menyelimuti hatinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1