Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Sebuah Hukuman


__ADS_3

Erina masih terdiam, dia tak tahu harus berbuat apa. Dia seperti mati kutu dan juga mati gaya kali ini. Suasana di dalam mobil terasa canggung baginya, tak ada obrolan antara mereka berdua. Sampai akhirnya Arga angkat suara.


"Apa kamu sangat menyukai makanan manis? itu tak terlalu baik untuk mu, jika terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung gula berlebih .... " Arga mencoba mencairkan suasana.


Erina memandang ke arah Arga dengan pandangan heran.


"Memangnya kenapa ...? Aku tak setiap hari mengkonsumsi nya .... " entah kenapa Erina merasa kesal saat Arga membahas soal cake, pikirannya langsung teringat kejadian di toko kue milik Clarissa. Dia sangat menyesali ketidaktahuan nya itu, dia merutuki dirinya yang sangat kudet (kurang update).


Arga tertawa kecil melihat ekspresi Erina.


"Kamu kesal ....?" tanya Arga sambil melebarkan senyumnya.


"Tidak ... aku tidak kesal ....!" ketus Erina.


"Iya ... kamu sedang kesal ....!" goda Arga.


"Aku bilang tidak kesal ... ya, tidak kesal ...!" teriak Erina, wajahnya memerah karena menahan emosi.


"Ha ... ha ... kamu sepertinya sangat merindukanku ya ...? Sampai-sampai kamu sensitif seperti ini." senyum merekah di bibir Arga. Erina merasa heran dengan Arga, karena sikapnya sedikit aneh hari ini.


Terimakasih ... terimakasih karena kamu tetap bersabar menghadapi egoku, terimakasih karna memilih tetap tinggal saat aku sendiri tak bisa membendung amarahku.


Terimakasih Erina ku sayang, I Love you so much.


Gumam Arga dalam hati sambil tersenyum memandang Erina.


Arga merasa sangat lega, karena bisa melihat Erina lagi. Arga mendekatkan wajahnya dan berkata.


"Bagaimana ... ? Apa selama dua hari ini kamu berpikir dengan baik? Atau kamu hanya menyia-nyiakan waktu yang sudah aku berikan .... ?" Arga menatap lekat-lekat wajah Erina, dia terlihat sangat serius dengan pertanyaan nya.


Deggg ....


Kenapa detak jantungku rasanya mau berhenti? Padahal dari kemarin, aku sudah mempersiapkan kalimat yang ingin aku sampaikan padanya. Tapi sekarang, kenapa rasanya pikiranku tak bisa mengingat apapun.


Erina terdiam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia sungguh gugup.

__ADS_1


Mobil berhenti di halaman rumah, Arga yang menyadari Erina terpaku segera mendaratkan ciuman di keningnya dan segera turun terlebih dahulu.


Sekali lagi Erina dibuat mati gaya oleh sikap Arga yang tiba-tiba, dia hanya bisa mendengus pelan karena tak bisa berbuat apa-apa.


***


Arga berjalan masuk ke dalam rumah, Bibi Mar yang mendengar langkah kaki Arga segera berlari mendekatinya.


"Selamat siang Tuan." sapa bibi Mar.


"Selamat siang Bi." senyum mengembang di bibirnya, Bibi Mar sangat senang melihat Arga telah kembali ke rumah. Namun, bibi Mar segera mengerutkan keningnya. Karena tak mendapati Erina di dekat Arga, bibi Mar segera menuju ke ruang depan.


Bibi Mar mendapati Erina berdiri terdiam di depan pintu, seolah sedang melamunkan sesuatu.


"Nona .... " Bibi Mar berhasil membuyarkan lamunan Erina.


"Eh, iya bi .... " Erina gelapan karena suara Bibi Mar mengagetkan nya. Erina menyunggingkan senyuman manisnya dan segera berjalan masuk meninggalkan Bibi Mar yang masih heran dengan tingkahnya.


"Sudah bertemu tapi sikapnya masih aneh, tadi Tuan Arga terlihat bahagia. Sedangkan nona Erina terlihat murung. Hmm ... memang pasangan muda sekarang, jalan pikirannya susah di tebak." ucap lirih Bibi Mar sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.


Erina mendengus kasar dan dengan mengerahkan segenap keberaniannya, Erina mantap melangkahkan kakinya.


Pintu kamar tak tertutup, Arga sudah merebahkan dirinya di sofa. Erina menutup pelan pintu kamarnya, dan berjalan masuk. Tak ada reaksi dari Arga, Erina melangkah ke kamar mandi hendak mengganti bajunya. Namun, langkahnya segera terhenti oleh ucapan Arga.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi ...." Arga segera bangun dari sofa dan berjalan ke arahnya.


Erina mengigit bibirnya.


"A ... aku minta maaf atas sikapku kemarin." Erina bingung harus memulai dari mana. Kini Arga sudah berada tepat di depannya.


"Untuk apa ...? Kenapa kamu minta maaf ...? Bukankah seharusnya aku yang minta maaf kepadamu, karena pergi tanpa kabar." kalimat Arga membuat Erina semakin bingung harus menjawab apa.


"A ... a ... ku .... " suara Erina terbata. Arga segera mendaratkan ciuman di bibir merahnya, Erina merasakan jantungnya berdegup kencang.


Arga semakin liar menyusuri bibir Erina, dia menciuminya dan sesekali mengigit pelan bibir bawah Erina. Erina merasakan kerinduan dalam diri Arga, tanpa sadar tangan Erina sudah melingkar di leher Arga. Arga menghentikan ciumannya.

__ADS_1


"Jangan pernah berani memikirkan laki-laki lain selain diriku ...." ucapnya lirih, lalu dia kembali mencium Erina. Arga mencurahkan seluruh kerinduannya dalam ciumannya, mereka berciuman selama beberapa menit. Arga sudah melucuti kemeja yang dikenakan Erina, Erina menahan tangan Arga yang hendak membuka pengait yang tinggal satu-satunya menutup dadanya. Arga terlihat tidak senang, dia melepaskan ciumannya.


"Kenapa ... ? Ini adalah hukuman karena kamu membuatku cemburu." ucap Arga lirih.


"Aku masih belum siap .... " kalimat Erina terhenti, Arga melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di pinggang ramping Erina. Arga terlihat kecewa, dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.


"A ... ku akan mempersiapkannya untuk nanti malam." ucap Erina lirih, dia segera membuang pandangannya agar tak beradu pandang dengan Arga. Wajahnya terlihat jelas bersemu merah. Arga yang tadi terlihat putus asa seolah mendapat energi baru. Dia kembali bersemangat, wajahnya terlihat lebih ceria.


"Kamu harus menerima hukuman, karena membuatku hampir gila karena mu .... " goda Arga. Erina hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


"Aku senang karena kini kamu lebih pintar menggodaku ..., karena kamu membuatku menjauhimu selama dua hari. Jadi hukuman mu berlangsung selama satu bulan penuh." ucap Arga penuh kemenangan.


"Apa ....?" mata Erina terbelalak tak percaya dengan yang dikatakan Arga.


Bukankah itu hukuman yang paling aneh yang pernah aku dengar.


gumam Erina kesal.


"Kenapa begitu ... ? Bukankah, kamu yang meninggalkan rumah tanpa kabar. Kenapa aku yang mendapatkan hukuman ....?" Raut wajah Erina tampak sangat kesal.


"Karena kamu membuatku tak bisa berpikir jernih saat itu .... " seru Arga tak kalah kesal.


"Apa .... ?" Erina terdiam, bagaimanapun memang dia lah yang membuat Arga seperti itu. Dia membiarkan Arga dalam kesalahpahaman tentang perasaannya.


"Kalau kamu tak mau, aku akan menambah hukuman selama satu bulan setengah ....!" ucapnya menyeringai.


"Apa ....?" teriak Erina dengan membelalakkan mata, tak percaya Arga memberikan hukuman tak masuk akal kepada nya.


"Kenapa memangnya ...? Bukankah itu suatu kewajiban istri, untuk melayani suami. Kenapa kamu terlihat keberatan seperti itu ....?" ucap Arga sambil berkacak pinggang.


"Aish ... dasar suami mesum ... terserah padamu saja .... " teriak Erina kesal. Dia bahkan tak sadar bahwa setengah badannya telah telanjang hanya penutup dada yang tersisa di dadanya.


Erina segera berlalu ke kamar mandi dengan langkah kesal, Arga yang masih mengawasi Erina hanya bisa tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2