Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Khawatir


__ADS_3

"Baik lah, Pak Sam segera urus rumah sakit yang menanganinya. Jika memang masih memungkinkan, pindahkan ke rumah sakit Hutama. Berikan yang terbaik agar nyawanya dapat tertolong, kita akan berusaha semaksimal mungkin. Aku akan menyusul kesana, setelah Erina benar-benar tertidur pulas," ucap Arga seraya menutup telpon dari Pak Sam.


Pria itu tampak menghembuskan napasnya dengan kasar, ingatannya kembali menerawang tentang kejadian satu tahun yang lalu. Ketika Clarissa melakukan sandiwara kecelakaan, agar gadis itu bisa melancarkan aksinya kepada Erina.


Namun, kali ini berbeda. Arga melihat langsung kejadian nya, proses evakuasi yang tak sengaja Ia lihat membuat hatinya pilu. Seorang yang dulu sangat berarti di hidupnya kini tengah berjuang antara hidup dan mati.


🍁🍁🍁


Sebuah panggilan masuk terdengar di ponsel pria yang saat ini sedang mengelus pelan rambut istrinya, Ia meraih ponsel yang berada di atas nakas tersebut. Jemarinya menari sesaat di layar benda pipihnya itu, kemudian dengan perlahan Ia letakkan di telinga kirinya.


Suara Pak Sam mulai terdengar dari sebrang sana.


"Tuan, semuanya sudah saya urus. Sekarang nona Clarissa sudah di pindahkan ke Rumah Sakit Hutama dan kondisinya masih kritis, nona Clarissa kehilangan banyak darah. Untung saja stok darah yang di perlukan masih aman."


"Baik lah, Aku akan kesana sekarang," ucap Arga seraya menutup telpon.


Pria itu menatap ke arah Erina dengan tatapan sendu, Ia memilih untuk pergi meninggalkan Erina tanpa berpamitan. Arga mendaratkan sebuah kecupan di kening wanita yang tengah tertidur pulas itu. Ekor matanya melirik pada jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya, jam dua belas lewat lima menit dini hari.


"Aku akan segera kembali," ucapnya lirih.


🍁🍁🍁


"Bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Arga pada Pak Sam yang telah berada di Rumah Sakit sejak satu jam yang lalu.


"Nona Clarissa masih menjalani operasi Tuan," ucap Pak Sam.


Arga mendesah lirih. "Dia disini hanya tinggal seorang diri, semua keluarganya berada di London. Aku baru saja menghubungi Om Yoland." Arga menjeda kalimatnya. "Beliau tampak begitu terpukul dan sekarang perjalanan ke Indonesia."


"Aku tak bisa terus menunggunya disini, aku tak mau Erina terbangun dan kebingungan saat aku tak disampingnya." Arga tampak berpikir keras, wajah tampannya menunjukkan guratan-guratan kecemasan.


"Bagaimana jika Tuan menghubungi Tuan Rendra? Saya rasa Tuan Rendra tak keberatan untuk menemani nona Clarissa disini sampai keluarga nona Clarissa datang," ucap Pak Sam yang segera di iyakan oleh Arga.


"Kamu benar Pak Sam, Rendra ... Dia pasti tak akan keberatan untuk menunggu Clarissa disini."


🍁🍁🍁


Sementara itu, Erina yang tengah tertidur tiba-tiba harus terjaga karena sosok yang biasanya tidur di sebelah nya tidak Ia temukan. Saat itu, waktu menunjukkan jam dua dini hari.

__ADS_1


Wanita itu segera beranjak dari tempat tidurnya, Ia mencari ke kamar mandi tapi hasil nya nihil. Erina segera keluar kamar dan beralih ke tempat kerja suami nya. Namun, hasil nya tetap sama. Ia tak menemukan pria yang sangat Ia cintai itu, Erina mendudukkan tubuh nya di kursi kebesaran suaminya itu dengan tatapan sendu dan bertanya-tanya.


"Kemana dia? Tidak biasanya dia pergi dini hari seperti sekarang ini!" gumam Erina, pikirannya sangat tidak tenang.


Erina segera kembali ke kamarnya, mengecek ponsel nya. Namun, tidak ada pesan masuk dari sang suami. Ia tampak semakin gusar, tak menunggu lama. Sebuah nama "Suamiku Tercinta" yang tertera di salah satu kontak ponsel nya menjadi pilihan terakhirnya untuk mengetahui keberadaan sang suami.


"Halo, sayang kamu dimana?" Suara Erina tampak begitu khawatir ketika Arga berhasil menjawab telponnya.


"Aku sedang di rumah Sakit sayang."


"Rumah Sakit? Siapa yang Sakit? Kamu tidak apa-apa kan sayang?" Erina terlihat semakin panik.


"Sayang, kamu tenang dulu ya. Aku akan pulang sebentar lagi, nanti akan aku jelas kan semuanya di rumah. Ok!"


"Baiklah, aku akan menunggu mu. Kamu hati-hati di jalan ya sayang!" Erina segera menutup ponselnya. Rasa khawatir masih menyelimuti perasaannya, beberapa pertanyaan menggelayut di pikirannya.


"Siapa sebenarnya yang sakit? Apa ada hubungan dengan kecelakaan tadi?" Perasaan Erina semakin tak karuan, Ia tampak mendudukkan tubuh nya di tepi ranjang.


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk, ya Tuhan." Erina memejamkan matanya beberapa saat, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.


🍁🍁🍁


Setelah Arga menerima telpon dari Erina, Ia tampak sedang menunggu seseorang. Pak Sam yang duduk di sebelah Arga tampak mengerti kegelisahan sang Bos.


"Tuan, sepertinya nona sangat mencemaskan anda. Apa tidak sebaiknya anda pulang terlebih dahulu, urusan Tuan Rendra. Biar saya yang akan menjelaskannya nanti," ucap Pak Sam mencoba memberi solusi.


Pria itu tampak menoleh kepada orang yang sudah mengabdi kepada keluarganya selama lima belas tahun itu, sebuah senyuman terulas di wajah tampannya.


"Tidak apa-apa, Rendra mungkin sebentar lagi akan datang. Aku ingin bertemu dengannya, sudah lama kita tidak bertemu. Bahkan sekarang kita harus mempunyai sebuah alasan untuk hanya sekedar bertemu, seperti sekarang ini." Pikiran Arga kembali mengenang beberapa tahun yang lalu, saat kedua sahabat ini menghabiskan banyak waktu hanya untuk bersantai atau sekedar nongkrong untuk melepas rasa penat mereka berdua.


"Apa kamu sangat merindukanku Tuan Muda?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka berdua.


Arga mendongakkan kepala, Ia mengulum senyum dan segera bangkit dari duduknya. Pria itu segera memeluk sahabatnya, sahabat yang bahkan sempat Ia lupakan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan statusnya sebagai seorang suami. Ia sibuk dengan istri tercintanya.


"Apakah ini semacam reuni?" seloroh Rendra dengan di iringi tawa renyahnya.


"Aku juga sangat merindukanmu, sahabat ku." Rendra semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Sesaat mereka larut dalam suasana haru, ada perasaan bahagia menyusup di hati mereka berdua. Tak terkecuali Pak Sam yang menjadi saksi persahabatan mereka, Ia tampak turut bahagia dalam pertemuan singkat kedua sahabat ini.


🍁🍁🍁


Arga bergegas menemui istrinya, Ia tampak mencemaskan keadaan Erina yang memang tengah menunggunya di kamar.


"Sayang."


Pria itu segera mendekap tubuh istrinya, melepaskan semua rasa yang sempat menggelayut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Sayang, ada apa sebenarnya?" tanya Erina dengan raut wajah serius.


Arga segera melepaskan pelukannya, membimbing istrinya untuk duduk di sofa yang berada di sudut kamarnya. Pria itu menceritakan semuanya, dari mulai kecelakaan yang sempat mereka lihat. Yang ternyata korban kecelakaan nya adalah Clarissa dan sampai pertemuannya dengan Rendra yang baru saja Ia alami.


Wanita itu mendengarkan dengan seksama, Ia tampak terbawa suasana. Tampak kristal bening beberapa kali lolos dari kedua sudut matanya, dada nya terasa sesak saat mendengar bahwa Clarissa saat ini sedang tergolek lemas di rumah sakit.


Meskipun Clarissa pernah menyakitinya, tapi itu tak menyurutkan kekhawatirannya. Ia bahkan meminta Arga untuk membawanya ke Rumah Sakit, wanita hamil itu ingin menjenguk Clarissa. Ini lah yang membuat nya berbeda dari Clarissa dan gadis-gadis lain yang pernah mendekatinya. Kelembutan hatinya sudah membuat Arga semakin mencintainya lebih dan lebih di setiap harinya.


"Baik lah, nanti kalau Clarissa sudah sadar. Kita akan kesana untuk menjenguknya," ucap Arga sambil memeluk Erina.


Bersambung ....


💖💖💖


Sambil menunggu up, mampir ke novel temen author yang super keren ya 😍👍🏻


Kontrak Pernikahan Season 2 ~ Samudra Lee



Hot Daddy ~ Tya Gunawan



Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard) ~ Aldekha Depe


__ADS_1


__ADS_2