Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Kaki Bengkak


__ADS_3

Eric dan Anggen tampak duduk di tepi kolam renang rumah Arga dan Erina. Kolam renang yang berkonsep indoor itu, dilengkapi dengan kolam jacuzi dan tempat duduk yang bisa di gunakan untuk berspa. Layaknya sebuah hotel yang menyuguhkan fasilitas lengkap untuk para pengunjung. Begitu lah reaksi para tamu yang berkunjung ke kediaman Arga Hutama, mereka bak menginap di hotel bintang lima. Semua fasilitas tersedia disana.


Eric dan Anggen merasakan ketenangan dan kenyamanan di ruangan itu, gemericik air yang terus mengalir membawa atmosfir yang berbeda dengan ruangan lain yang berada di rumah tersebut.


Orfeu Buxton, peneliti dari Live Science, menuturkan bahwa suara gemericik air bisa memengaruhi pikiran seseorang agar tetap tenang, nyaman, dan tidak khawatir dengan keadaan. Hal ini lah yang mendorong orang-orang untuk membangun lingkungan air di area rumah untuk mendapat ketenangan. 



"Malam ini, kamu benar-benar terlihat sangat berbeda Anggen." Eric masih enggan mengalihkan pandangannya, Ia terus menatap wajah ayu Anggen.


"Apa aku terlihat aneh, kak?" Anggen menundukkan kepala nya, memastikan kalau penampilan nya tidak terlalu aneh untuk dilihat orang lain.


"Tidak, maksud ku berbeda itu ... Kamu terlihat sangat cantik malam ini," pujinya. Eric seorang laki-laki yang selalu berkata apa adanya, Ia bukan tipe laki-laki yang suka berkata gombal untuk memikat hati seorang gadis.


Anggen tersipu mendengar pujian Eric, pipi nya tampak merah merona bak saos tomat.


"Kak Eric, terlalu berlebihan," ucapnya malu-malu.


🍁🍁🍁


Di ruang keluarga, Erina terlihat begitu kelelahan. Ia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa dengan kaki Ia naikkan ke atas meja, agar sejajar dengan posisi duduk nya.


Arga yang baru saja dari ruang kerja untuk mengecek email dari Pak Sam, tampak berjalan mendekati istrinya. Ia duduk di samping perempuan yang tengah hamil tujuh bulan itu.


"Apa kamu capek sayang? Mau aku pijitin?" tawar Arga.


Erina seketika langsung menoleh ke arah suaminya itu, tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. Tak biasanya Tuan Muda itu menawarkan diri untuk memijit sang istri, ada apa gerangan? Ah, positif thinking saja. Mungkin dia sedang tak tega dengan keadaan Erina yang memang terlihat tak berenergi.


"Benarkah?" ucap Erina meyakinkan tawaran suaminya tersebut. Raut wajahnya tampak begitu sumringah.


"Iya sayang ku, aku akan menjadi suami siaga untukmu dan calon ketiga bayi kita."


Arga menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Erina, Ia dengan perlahan memijit pundak istrinya terlebih dahulu.


Erina tampak sangat menikmati setiap sentuhan yang di ciptakan oleh Arga, sesekali Ia memejamkan mata karena merasa keenakan.


Tangan Arga berpindah ke paha Erina, Ia sedikit merasa geli karena pijitannya sedikit menggelitik. Namun, sesi pijit ala Tuan Muda tiba-tiba berubah menjadi dramatis karena teriakan kencang Arga. Hal itu, sontak membuat Eric dan Anggen yang berada di ruang berbeda itu saling beradu pandang dan dengan kompak berkata, "Erina ...."


Tak terkecuali dengan Erina, Ia begitu terkesiap mendengar teriakan sang suami yang memang terdengar sangat memekakkan telinganya.


"K-kamu kenapa sayang?" Erina menurunkan kakinya, Ia membenarkan posisi duduk nya dan mengelus perlahan dadanya untuk menetralkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


"K-kakimu s-sayang, ka-kimu ...." suara Arga terbata, Ia tampak membeku menatap kaki Erina.


Eric dan Anggen memiringkan kepala agar bisa melihat kaki Erina dengan jelas. Laki-laki itu tampak membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Kakimu kenapa Erin?" pertanyaan Arga di ulang oleh Eric.


Erina yang penasaran dengan ucapan kedua laki-laki di hadapannya, segera menaikkan kembali kakinya ke atas meja. Ia kembali terperangah, karena melihat kakinya yang tiba-tiba bengkak.


"Hah ... kakiku kenapa?" pekik nya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit sayang," ucap Arga dengan posisi hendak menggendong Erina.


"Tuan, itu sesuatu yang normal yang di alami seorang ibu hamil," desis Anggen mencoba menenangkan suasana.


"Normal? Memang kamu pernah hamil apa? Sampai bilang ini sesuatu yang normal? Ini kaki Erina bengkak lho, aku tak bisa tinggal diam. Aku tak ingin Erina ku kenapa-napa!" Arga kembali mencoba menggendong Erina, tapi semenjak kehamilannya, perempuan itu mengalami kenaikan berat badan yang sangat drastis. Sehingga membuat tubuh nya lebih berat, hal itu tentu saja membuat Arga kesusahan untuk mengangkatnya.


"Bukan begitu maksud Saya Tuan, Nona Erina bisa disembuhkan tanpa perlu ke rumah sakit," jelas Anggen meyakinkan kedua pasangan itu.


"Benarkah? Dengan cara seperti apa?" Arga mengerutkan keningnya.


"Nona Erina, bisa meninggikan posisi kakinya. Jadi Nona Erina bisa tidur terlentang dan menaikkan kaki Nona ke atas agar cairan yang tertumpuk di kaki Nona bisa mengalir. Dan cara kedua, Nona bisa tidur menghadap samping. Seperti halnya menghadap ke kiri, cara itu juga efektif bisa mengurangi pembengkakan pada kaki." jelas Anggen.


Namun Arga merasa sanksi dengan penjelasan Anggen. Maklum dia kan mengidap penyakit tak mudah percaya kepada orang lain, dan terlalu sayang kepada istrinya. Jadi maklum saja, jika ucapan seseorang yang bukan di bidang ahlinya tak serta merta membuatnya percaya.


"Aku tak percaya kepadamu gadis senam ibu hamil, aku akan tetap membawa Erina ku ke rumah sakit."


Eric menatap Anggen sambil mengulas senyum, seolah mata Eric berbicara 'Jangan kamu masuk kan ke dalam hati ya'. Gadis itu membalas senyumannya dan menganggukkan kepala. Bahkan mereka berdua bisa berkomunikasi hanya dengan menatap mata satu sama lain. Kekuatan cinta memang selalu di luar nalar. Hehe


Arga mencoba mengangkat tubuh Erina dengan susah payah, dan usahanya tak sia-sia. Ia berhasil menggendong Erina walaupun dengan wajah meringis menahan berat badan Erina yang sudah mencapai angka 79 kg.


🍁🍁🍁


"Sayang, aku masih bisa jalan sendiri. Jadi kamu tak perlu bersusah payah menggendong ku," ucap Erina yang tak tega melihat suaminya kelelahan.


"Ck ... kamu pikir aku selemah itu apa? Aku kan rajin berolahraga, meskipun berat badanmu mencapai 200 kg pun. Aku tetap kuat menggendongmu sayang," seloroh Arga dan di iringi dengan tepukan keras di pundaknya oleh Erina.


"Memang aku sumo apa? Berat badanku saja bahkan tak sampai 90 kg!" Erina mengerucutkan bibirnya.


Arga terkekeh melihat istrinya merajuk.


"Aku kan hanya bercanda sayang, maksudku bagaimanapun keadaanmu. Aku akan selalu di sampingmu dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu, sayang ku ...."


Mendengar kalimat Arga, Erina mengulas senyum. Rasa bahagia menyusup di relung hatinya. Ia bersyukur, sangat bersyukur sekali memiliki suami yang sangat mencintainya.


Erina melingkarkan kedua tangannya di leher Arga dan membenamkan kepalanya di dada suaminya.


"Sayang, sepertinya ucapan Anggen ada benarnya. Tidak ada salahnya kan kita mencobanya," terang Erina.


Arga menghentikkan langkahnya, membuat Erina mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck ... apa kamu mau jadi bahan percobaan? Bisa-bisanya kamu bilang mencoba untuk kesehatanmu dan calon anak kita."


"Ish ... bukan begitu sayang, maksudku kita tak perlu ke rumah sakit malam ini ...."


"Baiklah, Aku akan segera menghubungi Dokter Mili. Paling tidak dia bisa memeriksamu saat ini. Dan yang aku heran, kenapa kakimu bisa bengkak seperti itu? Apa tadi kamu menabrak sesuatu sayang?" pertanyaan aneh akhirnya lolos juga dari bibir Arga.


"Aku kan bukan anak kecil sayang, dan Aku juga sangat berhati-hati selama aku hamil. Biarkan Dokter Mili yang menganalisa masalah kakiku ini, kenapa kaki ku bisa bengkak seperti ini."


Arga mengiyakan ucapan Erina, dengan perlahan ia meletakkan tubuh Erina di atas kasur king size dan menyelimuti tubuhnya.


"Istirahatlah, aku akan segera menghubungi Dokter Mili," Arga mengecup pelan kening Erina dan membelai lembut rambutnya.


🍁🍁🍁


Satu jam kemudian Dokter Mili telah sampai di rumah Arga, gadis yang memiliki tinggi 168 cm itu segera memeriksa Erina.


"Bagaimana keadaan istriku Dok?" tanya Arga setelah Dokter Mili merampungkan aktivitasnya.


"Kaki bengkak di alami ibu hamil itu sesuatu yang wajar Tuan, Nona Erina hanya kecapekan. Dengan tidur miring ke samping kiri dan banyak minum airputih bisa mengurangi bengkak pada kakinya Tuan," jelas Dokter Mili sambil memasukkan peralatan medisnya ke dalam tas.


"Benarkah seperti itu Dok? Kenapa penjelasanmu mirip dengan gadis senam ibu hamil itu ya?" ucap Arga dengan menggaruk tekuknya yang tak gatal.


"Gadis senam ibu hamil?" Dokter Mili tampak mengerutkan keningnya, sedikit aneh dengan panggilan yang disebut oleh Arga.


Erina mendelik ke arah Arga, ia tak senang jika suaminya menyebut Anggen dengan sebutan seperti itu.


Arga menyeringai. "Lupakan Dok, aku hanya asal bicara saja!"


Dokter Mili mengulum senyum seraya berkata, "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Mili berjalan mendekati Erina. "Mulai saat ini, jangan terlalu lelah ya Nona. Ketiga bayi anda, tak ingin mommy nya terlalu capek dan sakit."


"Iya Dokter, terimakasih banyak ya," ucap Erina sambil tersenyum tulus kepada Dokter Mili.


🍁🍁🍁


Dokter Mili berjalan keluar kamar, ia begitu terkejut ketika melihat Eric berdiri di depan pintu dengan seorang gadis.


"Tuan Eric," sapanya ramah.


"Dokter, bagaimana keadaan Erina?" tanya Eric dengan raut wajah cemas.


"Tuan tak usah khawatir, Nona Erina baik-baik saja. Nona hanya butuh istrirahat cukup dan banyak minum airputih," jelasnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.


Senyuman Dokter Mili tampak sangat berbeda kepada Eric, Anggen yang berdiri di sebelah Eric merasa tak nyaman dengan tatapan dan senyuman Dokter Mili yang di tujukan kepada Eric.


Positif thinking Anggen, positif thinking, batin Anggen menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2