Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Lepaskan Semuanya


__ADS_3

Eric melirik sekilas pada meja tempat mantan tunangan Anggen dan kekasihnya itu, Ia mengulas senyuman.


Begitu juga dengan Anggen, gadis itu melakukan hal yang sama dengan Eric. Ia melirik kepada mantan tunangannya itu. Namun, di luar kendali Anggen. Mata mereka beradu, mantan tunangannya menatap ke arah nya. Sorot matanya tajam melihat padanya dan berganti menatap Eric. Tangannya terlihat mengepal kesal, Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke meja Eric dan Anggen.


Laki-laki itu berjalan dengan raut wajah penuh kesal, Ia bahkan tak memperdulikan perempuan yang bersamanya yang sedari tadi memanggil namanya.


Braaaakkkk ....


Mantan tunangan Anggen yang bernama Burhan itu menggebrak meja dengan keras, dia tampak bersungut-sungut menahan amarahnya. Semua pengunjung restoran tampak menoleh ke arah mereka, desas desus mulai terdengar dari para pengunjung lainnya.


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?" pekik Burhan.


Anggen memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang mulai terengah-engah akibat menahan emosi. Eric memperhatikan perubahan sikap Anggen, Ia mencoba menahan diri. Selama laki-laki itu tak menyentuh Anggen, Ia membiarkan Anggen menyelesaikan masalahnya.


Gadis itu tampak membuka kelopak matanya, sorot matanya menatap tajam ke arah Burhan. Eric mengulum senyuman. Anggen segera bangkit dari kursi, Ia tak kalah emosinya dengan Burhan.


"Maling teriak maling," sindir Anggen tanpa menoleh pada Burhan.


"Apa maksudmu?" tanya Burhan dengan mata berkilat.


"Kepalamu baru saja terbentur tembok ya? Hingga mengalami amnesia?" pekik Anggen.


"Jangan berbelit-belit! Siapa laki-laki ini?" desis Burhan.


"Tidak ada urusannya denganmu, dan satu lagi kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Ingat itu!" tukas Anggen.


Eric menyunggingkan senyum memandang Anggen yang berhasil meluapkan emosinya, walaupun jelas terlihat gadis itu sedang menahan untuk tidak menangis. Tapi bagi Eric, Anggen adalah gadis yang luar biasa saat ini.


Sorot mata tajam Burhan tampak berubah, kini pandangannya tampak melembut. Ia segera meraih tangan Anggen.


"Anggen, apa yang sudah kamu katakan? Kamu hanya salah paham saja." Burhan menjeda kalimat nya, Ia melirik ke arah gadis yang masih duduk di meja sebrang. Gadis itu tampak santai dengan sikap Burhan, Ia seolah tak terpengaruh oleh sikap laki-laki tersebut.


"Dia bukan siapa-siapa," imbuhnya. Burhan berkata sangat lirih takut gadis itu mendengar nya. Anggen mencoba melepaskan genggaman tangan Burhan, tapi laki-laki itu tetap mendekap erat tangan gadis itu.


Eric yang melihat sikap Burhan tampak jengah, laki-laki yang memiliki tinggi 183 cm itu sekilas menatap gadis yang datang bersama Burhan. Ia heran kenapa gadis tersebut hanya diam saja melihat sikap pacarnya ini.



"Tuan, lepaskan tangan anda!" seru Eric dengan sorot mata tajam menatap Burhan, Eric mencengkram tangan Burhan dengan kuat. Laki-laki itu tampak meringis kesakitan, Ia segera melepaskan tangan Anggen dengan kasar.

__ADS_1


"Cih ...." Burhan berdecih, "Dia adalah tunanganku, kamu yang seharusnya menjauh dari nya," pekik Burhan.


Eric mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih duduk dengan santai itu, Ia benar-benar tak terpengaruh sikap pacarnya ini.


"Nona ....," panggil Eric kepada gadis yang Ia belum tahu namanya itu.


Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menunjuk dirinya sendiri, "Aku?" tanya gadis itu.


"Iya ....," sahut Eric.


Gadis itu mendesah kasar, Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah mereka bertiga.


"Kenapa?" tanya gadis itu dengan lagak sok-sok an.


"Anda gadis normal bukan?" tanya Eric, Ia memandang heran gadis itu.


"Maksudmu?" gadis itu mendelik pada Eric.


"Gadis normal akan cemburu jika melihat pacarnya tidak di akui, tapi anda? Sama sekali tidak menampakkan rasa itu, hubungan macam apa ini?" ucap Eric, Ia benar-benar terlihat geram dengan sikap mereka berdua.


Gadis itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, "Dia hanya selingkuhanku, hubungan kita hanya main-main. Kenapa juga Aku harus cemburu, lagian aku gak level dengan gadis kampung ini," ucap nya dengan melipat tangan di dadanya.


Anggen yang mendengar kalimat gadis itu tampak meradang, bukan karena gadis itu mengatainya kampungan. Melainkan kata 'main-main' yang baru saja keluar dari mulut gadis itu.


Plaaaaakkk ....


Sebuah tamparan keras melayang di pipi laki-laki bernama Burhan, cairan bening itu lolos dari kedua sudut mata Anggen. Gadis berwajah manis itu tampak terengah-engah, napasnya memburu kesal.


Ia mendesah kasar,


"Mulai detik ini, kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," ucap Anggen penuh penekanan.


Anggen segera menarik tangan Eric dan berjalan meninggalkan kedua pasangan selingkuh itu.


Burhan memegang pipi nya yang terasa panas, kakinya menendang udara untuk melampiaskan kekesalannya.


"Awas kamu Anggen," desis Burhan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Eric dan Anggen sudah sampai di sebuah Danau buatan di kotanya, danau yang di kelilingi pohon-pohon yang rindang serta sebuah taman lengkap dengan kursi panjangnya.


Anggen tampak bingung kenapa laki-laki itu mengajaknya ke Danau tersebut.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Eric setelah mereka duduk di kursi panjang yang mengarah langsung ke arah Danau.


"Sedikit lega, walaupun masih terasa sesak yang tinggal secuil," jawab Anggen dengan memperagakan jarinya dengan membentuk huruf C.


"Ikuti aku," Eric bangkit dan berjalan lurus ke depan.


Anggen lagi-lagi hanya mengikuti ajakan laki-laki itu, Ia berjalan mengekor di belakang Eric.


Kini mereka berdua sudah berdiri di tepi Danau, lebih tepatnya empat meter dari Danau tersebut.


"Sekarang berteriaklah sekencang mungkin," ucap Eric sambil menoleh ke gadis itu.


"Apa?" Anggen tampak terkejut dengan ucapan Eric, belum selesai rasa herannya. Eric sudah berteriak kencang di sebelah nya.


Aaaaarrrggghh ....


Eric seolah mengeluarkan semua perasaannya melalui teriakannya itu, perasaan yang selama ini Ia pendam dalam hati. Kini perlahan mulai berangsur menghilang.


Anggen membulatkan matanya, Ia tak menyangka Eric akan melakukan hal itu. Tapi gadis itu merasa tertantang, sepertinya akan sangat menyenangkan berteriak untuk melepas belenggu yang ada dihatinya saat ini.


"Aku akan mencoba nya," kata Anggen dengan penuh keyakinan.


Aaaargggghh ....


"Kurang keras," pekik Eric.


Anggen mencobanya sekali lagi,


Aaaarggggh ....


"Sekali lagi, kurang keras Nona," ucap Eric yang sekarang lebih seperti seorang pemimpin yang sedang melatih anak buahnya.


Napas Anggen memburu, namun perasaannya masih belum sepenuhnya merasa lega. Ia mencoba berteriak sekali lagi.


Aaaaaaaarrrrrrrrrggggggg ....

__ADS_1


Kali ini Anggen berteriak sangat kencang sekali, Ia merasa sangat lega dan puas. Senyuman yang sangat manis tergambar di bibir merahnya, Eric tersenyum penuh arti melihat raut wajah Anggen.


Bersambung ....


__ADS_2