
Arga kembali melakukan aktifitasnya, Pak Sam berjalan masuk di ikuti dengan Vina. Dia adalah teman Erina yang pernah datang ke kantor Arga satu bulan yang lalu, untuk meminta ganti rugi kepada Arga. Karena Arga telah merusak ponselnya yang senilai lima belas juta, sesuai janji Arga dia menerima ganti rugi sebesar 2x lipat.
Kali ini Vina datang tidak untuk meminta ganti rugi kepada Arga, tapi karena pesan yang di kirim Arga kemarin sore.
Flashback On
Sebelum pergi ke hotel Arga masih terdiam di mobil, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan. Ingatannya langsung tertuju pada teman Erina, gadis yang pernah datang ke kantornya untuk meminta ganti rugi.
"Ya, gadis itu .... " gumamnya lirih.
Arga segera mencari nama asisten di layar ponsel nya, setelah berhasil menemukan nama asistennya di daftar kontak telponnya. Arga segera menekan tombol telfon.
"Halo ... iya Tuan, ada yang bisa saya bantu .... ?" suara staff yang bernama Diana segera menyahuti. Seperti hal nya Pak Sam, Diana adalah orang kepercayaan Arga. Diana selalu siap siaga untuk nya, jika sewaktu-waktu Arga membutuhkan sesuatu mengenai pekerjaan nya.
"Berikan aku nomer telfon tentang gadis yang pernah datang ke kantor untuk ganti rugi ponsel nya." jelas Arga tanpa basa basi.
"Baik Tuan ..., akan segera saya kirim nomernya." sahut Diana.
Arga segera menutup telfon dan tak menunggu lama, Diana segera mengirim nomer telfon yang diminta Arga.
Arga segera menyalin nomer yang diberi nama nona Vina oleh Diana ke dalam kontak pesan Arga. Tangan Arga dengan lincah menari di atas layar ponselnya, mengetik beberapa kata dan mengirimnya.
Di tempat Vina.
Vina sedang berada di salon langganan nya, dia sedang melakukan perawatan rambut. Suara pesan masuk di ponsel barunya, dia segera meraih benda pipih miliknya yang berada di atas nakas. Dengan malas dia menggeser layar ponselnya.
Dia terlihat enggan untuk membaca karena nomer baru yang mengirimi pesan.
"Halah, paling juga pesan tak penting." ucap Vina lirih, dia memejamkan kan mata menikmati pijatan di kepalanya yang dilakukan oleh kapster salon yang sudah ditunjuk Vina untuk melayaninya.
Ketenangan Vina terusik, dia melihat ponselnya sekali lagi. Kali ini dia mencoba membuka isi pesan tersebut.
'Besok datang ke kantor jam 9 pagi, penting.' sebuah pesan yang terkesan seperti perintah menurutnya.
Vina mengamati dengan seksama nomer yang mengirim pesan itu, Vina mengernyitkan keningnya. Alisnya beradu. Vina berpikir keras siapa yang sudah berani mengirim pesan seperti itu kepadanya.
Vina membalas pesan tersebut.
'Hei, kamu siapa? Berani sekali maen perintah padaku, kamu belum tau siapa aku**? '
balas pesan Vina. dia segera menekan tombol kirim.
Tak menunggu beberapa detik, sebuah balasan segera masuk ke ponselnya. Vina dengan cepat segera membuka balasan pesan itu.
'Kau sudah berani mengancamku, aku sedang tak ingin main-main. Besok datang ke kantorku. ARGA HUTAMA.'
Vina segera terperanjak, kapster yang masih membilas rambutnya terkejut dan akhirnya mengarahkan shower ke baju Vina.
"Ah ... kenapa kamu Menyiramku seperti ini, lihat sekarang baju ku basah." teriak Vina. Dia segera berdiri dan mendelik ke arah kapster salon itu.
"Maaf ... nona ..., nona sudah mengagetkan saya. Tiba-tiba nona terbangun, saya jadi terkejut." bela kapster salon itu.
"Aaaargh .... " teriaknya kesal. Vina segera berjalan meninggalkan kapster itu.
__ADS_1
"Nona ... rambut nona belum selesai di bilas." teriak kapster. Tapi Vina sudah berlalu meninggalkan salon itu.
Flashback Off
Kini Vina sudah berdiri di depan Arga, Vina masih bertanya-tanya apa tujuan Arga menyuruhnya datang ke kantornya.
Arga meletakkan bolpoin yang sedang di pegang nya, dia menatap Vina dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi yang ia duduki.
"Duduk .... " perintah Arga. Vina segera duduk di kursi tepat di depan Arga.
Pak Sam yang belum mengetahui maksud kedatangan Vina hanya mengawasi gadis itu dari belakang.
"Kamu tahu bagaimana hubungan Erina dengan Bima dulu?" tanya Arga dengan nada datar.
"Apa .... ?" Vina mencoba meyakinkan bahwa dia tidak salah dengar dengan pertanyaan Arga. Raut wajahnya tampak sedikit heran.
"Aku tak akan mengulangi pertanyaan ku untuk kedua kali, jawab pertanyaan ku sekarang juga." ucapnya menatap Vina tajam.
Vina segera menundukkan kepalanya, dia merasa Arga sedang dalam keadaan yang tidak stabil.
"Iya ... Tuan ... mereka dulu adalah pasangan yang sangat serasi, mereka berdua terlihat sangat saling mencintai." Vina mendongakkan kepalanya, ingin mengetahui bagaimana reaksi Arga.
Arga segera membuang muka ke segala arah, matanya tampak kecemburuan yang luar biasa. Vina menyimpulkan bahwa sedang terjadi sesuatu dengan Erina dan Arga, Vina yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini mencoba menguasai keadaan. Dia mencoba menjelek-jelekkan Erina.
"Dulu, Erina adalah gadis yang suka menggoda cowok Tuan." ucap Vina lirih, Vina terdiam sesaat untuk menunggu reaksi Arga. Merasa Arga tak ada respon, Vina meneruskan kata-kata nya.
"Banyak cowok di sekolahan yang sudah tergila-gila kepadanya, ya karena mereka sudah dirayu .... " belum selesai Vina meneruskan ucapannya Arga sudah memotong kalimatnya.
"Siapa yang menyuruhmu bicara ... ? Gadis sepertimu pasti yang sudah membuat masa lalu Erina tidak menyenangkan, kamu iri dengannya lalu dengan mudah kamu menjelek-jelekkan nya. Sudahlah, sepertinya aku telah salah orang. Kamu boleh pergi sekarang." usir Arga kepada Vina. Vina tak bisa berkata-kata, dia hanya menuruti perintah Arga. Karena takut jika dia melawan akan membahayakan dirinya sendiri, Vina beranjak dari tempat duduknya.
Suasana hati Arga kembali memburuk, karena mendengar masa lalu Erina dengan Bima. Pak Sam berjalan ke arah Arga.
"Mohon maaf Tuan, kenapa anda tidak menceritakan kepada saya. Jika Tuan berkenan saya akan mencoba mencari informasi secara mendetail tentang masa lalu nona Erina dengan Bima." jelas Pak Sam kepada Arga.
"Tidak ... tidak perlu." Arga mengangkat tangannya, dia menghembuskan nafas dengan berat.
"Sepertinya Erina masih perlu waktu ... " Arga tak meneruskan kalimatnya, dia terdiam sejenak.
"Sekarang aku sangat merindukannya, tapi aku ingin dia menyadari bagaimana perasaan nya sesungguhnya kepada ku. Awalnya aku sangat percaya diri, bahwa Erina sudah benar-benar hanya mencintaiku. Tapi kemarin ... di matanya masih ada orang lain. Dan itu sangat menggangguku." ucap Arga sambil meraup wajahnya dengan kasar.
Pak Sam sudah bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi dengan Tuan nya.
"Tuan ... jika anda merindukan nona, kenapa tidak menghubunginya melalui Bibi Mar?" seru Pak Sam memberi ide kepada Arga.
Arga segera menoleh kepada Pak Sam, menjentikkan jarinya dan tersenyum.
"Kamu benar ... dengan begitu, aku tetap bisa memantaunya walau aku mencoba menjauhinya." serunya.
Arga segera meraih ponsel di sakunya, tangannya berlarian sebentar di layar ponsel dan mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya.
"Halo iya Tuan .... " suara Bibi terdengar dari benda pipih itu.
"Bi, Erina sedang tidak bersama Bibi kan?" Arga meyakinkan.
__ADS_1
"Tidak Tuan ... saya panggilkan nona Erina Tuan?" tanya bi Mar.
"Tidak ... tidak perlu, aku ingin bicara sama Bibi."
"Oh iya Tuan .... "
"Jangan sampai Erina tahu ya bi, kalau aku telfon Bibi. Aku ingin memastikan keadaan Erina, Erina sedang apa bi? Dia baik-baik saja kan? Dia tidak telat makan kan bi?" Arga mencerca Bibi dengan rentetan pertanyaan.
"Ti ... tidak Tuan. Nona Erina dari kemarin belum makan Tuan, hari ini nona Erina belum keluar kamar. Saya tadi sempat ke kamar, untuk mengingatkan nona sarapan. Tapi nona bilang belum lapar." suara Bibi terdengar sangat mencemaskan Erina.
Arga yang mendengar Erina tidak mau makan, terlihat begitu panik.
"Bi, bagaimanapun caranya Bibi harus bujuk Erina agar mau makan. Jangan biarkan dia telat makan Bi." ucapnya dengan nada khawatir.
"Ba ... ik Tuan, setelah ini akan saya coba untuk bujuk nona Erina."
"Baiklah, nanti aku akan telfon lagi. Tapi ini rahasia ya Bi. Jangan sampai Erina tahu, saya telfon Bibi." seru Arga.
"Baik Tuan, saya mengerti." ucap Bibi Mar seraya menutup telfon.
"Kenapa ya dengan Tuan dan nona Erina, tidak biasanya Tuan seperti ini. Tapi sepertinya mereka sedang terjadi kesalah pahaman. Kasihan nona, semoga masalah mereka segera selesai." ucap Bibi Mar sambil menghirup nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Bibi Mar berjalan menuju kamar Erina, Bibi Mar mengetuk pintu kamar Erina.
Tok ... Tok ... Tok ....
Erina bergegas membuka pintu kamarnya, dia berharap kali ini Arga yang mengetuk pintu. Walaupun biasanya dia langsung masuk, tapi kali ini Erina sangat berharap yang berada di depan pintu itu adalah Arga. Erina memutar handle pintunya, dia membuka lebar pintu kamarnya. Erina tampak kecewa karena yang berdiri di depan pintu adalah Bibi Mar.
"Iya bi ... ada apa?" tanya Erina lesu seolah tak ada energi dalam dirinya.
"Non ..., dari kemarin nona belum makan. Saya tidak mau melihat nona sakit, saya mohon nona makan dulu ya." ucap Bibi Mar, kedua pelupuk Bibi Mar sudah penuh cairan bening. Bibi Mar sangat menyayangi Erina layaknya ibu kandung dan ibu mertuanya. Bibi Mar selalu menitikkan airmata jika terjadi sesuatu kepada Erina.
"Tapi saya tidak lapar bi." ucapnya lirih, mata Erina masih terlihat sembab karena menangis semalaman.
"Nona, saya mohon jangan menyiksa diri nona ya ... Nona makan ya sekarang." airmata Bibi Mar sudah tak tertahankan lagi, Erina yang melihat Bibi Mar menangis mulai kebingungan.
"Bibi Mar ... kenapa menangis?" Erina memegang pundak Bibi Mar.
"Nona, saya sayang sekali sama nona. Jadi kalau nona tidak makan trus sakit, saya akan jadi sangat sedih. Jadi, saya mohon nona makan ya ....?" bujuk Bibi Mar sambil mengusap airmata nya.
Erina merasa bersalah karena sudah membuat Bibi Mar bersedih, akhirnya Erina menganggukkan kepala tanda setuju. Erina dan Bibi Mar berjalan ke arah meja makan, Bibi Mar mempersilahkan Erina untuk duduk di meja makan. Sementara Bibi Mar menyiapkan sarapan untuk Erina.
Bibi Mar tersenyum melihat Erina makan dengan sangat lahap.
"Bi ... aku sangat sedih karena Tuan sekarang sedang marah padaku." ucap Erina sedih, dia sudah selesai menghabiskan makanan di piringnya.
Bibi Mar yang sedang menuangkan air putih untuk nya hanya bisa menghela nafas berat.
"Nona ... mungkin Tuan sedang banyak pekerjaan, nona jangan berpikir yang macam-macam ya." seru Bibi Mar mencoba menenangkan, Bibi Mar menyerahkan segelas air putih kepada Erina. Erina segera menghabiskan air putih itu.
"Aku sangat menyesal bi ... aku harap dia segera kembali pulang dan mau memaafkanku, walaupun aku rasa itu hal yang mustahil untuk saat ini." pikiran Erina kembali teringat saat Arga pergi tanpa sepatah kata, pandangan mata Arga yang tajam masih membekas di ingatannya. Bahkan kini terasa menyesakkan baginya.
Erina memejamkan mata, air mata nya ikut mengalir seiring kesedihan yang sedang ia rasakan saat ini. Bibi Mar yang melihat Erina menangis benar-benar tidak tega, walaupun Bibi Mar tidak tahu dengan pasti apa masalah yang sedang dihadapi pasangan muda ini. Tapi hatinya ikut terenyuh melihat Erina bersedih seperti sekarang ini.
__ADS_1
Bersambung