Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Keraguan


__ADS_3

Suasana di kediaman Arga Hutama


Erina masih kembali mengingat tentang gadis yang dicintai oleh kakak satu-satu nya itu. Apakah ini sebuah kebetulan? Atau memang mereka berjodoh? Perempuan berparas cantik itu begitu bingung harus bagaimana, dilema yang sedang di alami Erina sudah membuatnya bimbang.


Tak mungkin ia menceritakan semuanya kepada kak Eric dari awal, tentang perlakuan gadis itu kepadanya. Tapi juga tak mungkin ia berdiam diri begitu saja. Sungguh sebuah dilema yang benar-benar membuat Erina tak bisa berhenti memikirkannya, pasca kepulangannya dari rumah kedua orangtuanya.


"Aku harus bagaimana ini? Aku benar-benar bingung sekali, Aku ingin kakak ku bahagia! Tapi di satu sisi, aku juga merasa ragu dengan gadis itu. Oh, aku harus bagaimana ini?" gerutu Erina penuh kebingungan.


Arga yang baru saja selesai mandi, tampak heran dengan sikap istrinya yang termenung itu. Pria itu berjalan mendekati Erina yang tengah duduk di sofa yang berada di sudut kamarnya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Arga memastikan keadaan Erina, Ia mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu. Arga memiringkan kepala supaya bisa melihat wajah Erina dengan jelas, Erina yang saat itu melamun dengan menopang dagu tak menyadari pertanyaan dan kehadiran suaminya yang sekarang berada di sampingnya itu.


"Sayang!" seru Arga sekali lagi, Ia melambaikan tangan tepat di hadapan Erina. Gadis itu terkejut dan segera sadar dari lamunannya.


"Ah ... kamu mengangetkan ku saja sayang," lirihnya, Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang yang super empuk itu. Arga mendelik ke arah Erina, karena pertanyaan nya masih di acuhkan oleh gadis itu.


"Kenapa kamu memandangiku seperti itu?" tanya Erina, Ia merasa suaminya itu sedang kesal kepadanya. Erina membenarkan posisi duduknya untuk mengurangi rasa canggungnya akibat tatapan tajam suaminya itu.


"Kamu kenapa? Aku perhatikan kamu sedikit aneh setelah pulang dari rumah orang tuamu?" ketus Arga, pandangannya masih tetap sama. Tajam dan menuntut sebuah jawaban.


"A-aku ... a-ku tak apa-apa sayang," jawabnya terbata.


"Bohong!" seru Arga.


Erina menggigit bibir bawahnya, Ia ragu untuk mengatakan pada Arga perihal gadis yang disukai kak Eric. Ia takut dugaannya salah.


"Tuh kan, nglamun lagi. Kamu kenapa sebenarnya sayangku?" selidik Arga sekali lagi, pandangannya mulai melembut tak setajam tadi.


Arga menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan istrinya itu, Ia menarik jemari Erina dan mengelusnya secara perlahan.


"Katakan padaku, apa yang sudah menganggu pikiranmu?" tanya Arga.


Erina masih bergeming, Ia mengatupkan bibirnya. Antara bingung dan resah menjadi satu.


"Kalau kamu masih tak mau bicara, aku bakal cium kamu tanpa ampun ya," ancam Arga, Ia mendekatkan wajahnya.


"Ma-mau apa kamu sayang?" desis Erina, Ia begitu terkesiap, karena wajahnya dan wajah Arga yang hanya berjarak beberapa inci saja. Bahkan hembusan nafas pria itu bisa Ia rasakan menerpa hangat di pipinya.


"Mau apa lagi? Mau memberikan ciuman kepadamu secara bertubi-tubi karena kamu tak mau jujur dengan suami mu ini," pekik Arga. Pandangan matanya tertuju pada bibir merah Erina, pandangannya bak burung elang yang siap menerkam dan mencengkram mangsanya tanpa ampun.


Arga terus mendorong tubuh Erina, hingga kini gadis itu berada tepat di bawah tubuhnya. Erina terlentang di atas sofa dengan tangan menutup dadanya sambil memejamkan mata, sementara Arga menahan tubuhnya dengan kedua tangannya dan terus memandang wajah istrinya yang terlihat polos tanpa riasan di wajahnya.


"Ka-kamu kan harus pergi ke kantor sayang," lirih Erina, Ia mencoba meloloskan diri dari terkaman suaminya itu.


"Jangan coba mengalihkan pembicaraan! Kamu lupa bahwa suamimu ini seorang bos yang memiliki orang kepercayaan seperti Pak Sam, dia bahkan bisa melakukan pekerjaan tanpa kehadiranku. Jadi, aku tetap bisa menghukummu tanpa memperdulikan pekerjaan bukan," ucap Arga sambil tersenyum smirk.


"Dasar Tuan Muda arogan," gerutu Erina.


"Apa kamu bilang?" tukas Arga, pria itu semakin mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Erina yang sudah tak tahan dengan perlakuan suaminya itu memilih menyerah, Ia tak mau kebungkamannya tentang kak Eric mengganggu aktifitasnya di pagi ini.


"Baiklah ... aku menyerah, aku akan menceritakan semuanya kepadamu sayang. Tapi sebelumnya, biar kan aku duduk dengan tenang," ucap nya mencoba menguasai keadaan karena degup jantungnya yang terasa sudah mau copot. Akibat ulah bar-bar suaminya itu.


Arga mengulas senyuman, Ia menggeser tubuhnya agar Erina bisa leluasa bergerak. Erina membenarkan posisi duduknya, Ia mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan suaminya itu. Namun tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi nya.


cup ....


Erina membulatkan matanya, Ia terkesiap. Jantungnya kembali berpacu lebih cepat, entah kenapa akhir-akhir ini tindakan Arga sering membuatnya menjadi salah tingkah. Ia bahkan tak bisa membendung rasa malunya yang tergambar di kedua pipinya yang merona.


Pria itu tampak semakin senang menggoda istrinya, Erina tampak semakin menggemaskan ketika sedang tersipu. Hasratnya sebagai seorang laki-laki semakin memuncak, namun segera Ia singkirkan pikiran mesumnya ketika mengingat bahwa Ia belum menemukan jawaban atas ketidak tahuannya tentang bercinta yang benar dengan istri yang sedang hamil.


Terdengar begitu konyol bukan? Namun, kegalauan inilah yang membuat Arga kesal dan merutuki dirinya sendiri. Kenapa Ia begitu tampak bodoh ketika menyinggung masalah kehamilan istrinya.


Arga memutar kedua bola matanya ke kanan dan ke kiri selama beberapa saat, lalu menjentikkan jarinya. Seolah baru saja mendapat sebuah ide yang cemerlang.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang sudah mengusik pikiranmu?" tanya Arga setelah Ia membenarkan posisi duduknya, Ia sedikit membungkukkan badannya dengan siku bertumpu pada kedua pahanya.


"Sebenarnya ini tentang kak Eric, tentang alasan kak Eric menyuruhku pulang kemarin," ucap Erina memulai pembicaraannya, Ia tampak serius.


Erina mendesah kasar, mencoba merangkai kata agar penyampaiannya tidak salah di depan suaminya itu.


"Ada apa dengan kak Eric?" Arga menautkan kedua alisnya, raut wajahnya menggambarkan rasa penasaran tentang apa yang terjadi dengan kakak iparnya itu.


"Kakak sedang jatuh cinta," lirih Erina.


"Jatuh cinta? Bagus dong! Kenapa kamu terlihat tidak suka sayang?" Arga menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata dengan nada menyelidik. "Jangan bilang kamu 'Brother Komplek' dengan kakak mu sendiri?"


"Kamu ngomong apa sih?!" tukas Erina sambil memukul pundak suaminya dengan keras.


"Ouch ... sakit sayang," pekiknya dengan memegang pundak nya.


"Kamu sih, ngomong nya asal," jawab Erina dengan mengerucutkan mulutnya dan mendekapkan kedua tangan di dadanya.


"Ha-ha-ha ... kamu semakin cantik kalau lagi marah sayang," goda Arga sambil mencolek dagu Erina.


"Ya sudah, kalau kamu becanda terus. Aku gak mau nglanjutin lagi," Erina semakin kesal, Ia membuang pandangan ke sembarang arah.


"Hmm ... istriku sudah pandai merajuk sekarang," ledek Arga sambil menyunggingkan senyum.


"Lanjutin lagi sayang, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu," rayu Arga dengan gaya menopang dagu dan senyum yang masih tergambar di wajah tampannya.


Erina menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Ia menatap lekat-lekat wajah laki-laki yang sudah menjadi suaminya selama kurang lebih satu tahun itu.


"Bukan masalah jatuh cinta nya yang membuatku kepikiran, namun gadis yang membuat kak Eric jatuh cinta yang menjadi masalah," ucap Erina melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.


"Kenapa memang dengan gadis nya? Apa dia tidak secantik dirimu? Oh tidak ... tidak, memang istriku lah yang paling cantik di dunia ini. Tidak ada yang lebih cantik dari dirimu sayang," ucap nya sambil mengerlingkan mata dan mengulas senyuman, senyuman yang di buat semanis mungkin.


"Sayang ... aku serius ... masalahnya gadis ini adalah orang yang kita kenal, lebih tepatnya dia adalah gadis yang pernah kamu ....," Erina menghentikan ucapannya, Ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskannya sekarang.

__ADS_1


"Yang pernah aku apa ....?" tukas Arga, dia benar-benar sudah tidak sabar dengan apa yang ingin disampaikan Erina.


Erina mengatupkan mulutnya, bulu matanya tampak lentik seiring matanya yang berkedip beberapa kali.


"Tunggu ... apa gadis yang kamu maksud adalah Clarissa?" tebak Arga, Ia seolah bisa membaca pikiran Erina.


Perempuan cantik bernama Erina itu segera menganggukkan kepalanya dengan lemah, nafasnya tampak berat.


Arga seolah mengerti apa yang di rasakan Erina, laki-laki itu memegang pundak Erina dan menatap lekat manik coklat milik istrinya.


"Sekarang aku tahu apa yang sudah mengusik pikiranmu sayang, aku akan minta Pak Sam menyelidiki motif Clarissa ....," Arga menjeda kalimatnya, Ia bernapas dalam dan menghembuskannya secara kasar kemudian melanjutkan kalimatnya. "Semoga Clarissa juga tulus mencintai kak Eric," Ada penekanan dalam kalimat terakhirnya.


"Aku juga berharap demikian sayang," imbuh Erina.


🍁🍁🍁


Suasana di Kantor Arga


Arga tampak memijat pangkal hidungnya, masalah kakak iparnya membuat Ia berpikir keras. Apa ini sebuah kebetulan? Atau Clarissa memiliki motif lain dan merencanakan sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan itu sudah memenuhi isi kepalanya.


Clarissa yang dulu pernah mengisi hatinya, kini tampak begitu asing baginya. Bahkan, Ia tak ingin menyimpan kenangan semanis apapun bersama gadis itu. Karena kehadiran Erina mampu mengalihkan segalanya, bahkan gadis polos itu mampu menghapus luka yang pernah ditorehkan oleh Clarissa.


"Pak Sam ....," panggilnya kepada laki-laki yang selalu setia berdiri di sampingnya itu.


"Iya Tuan," sahut Pak Sam tegas.


Sebelum mengutarakan maksud nya, Arga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Cari tahu tentang motif Clarissa mendekati kak Eric, kakak Erina atau kakak iparku," Arga memperjelas tentang status kakak iparnya yang membuat menggelitik di telinga Pak Sam.


"Nona Clarissa?" tegas Pak Sam.


Laki-laki yang berumur 38 tahun itu, seolah menerawang pada sesuatu kejadian.


Pikirannya merasa untuk kembali mengingat tentang peristiwa beberapa waktu yang lalu, kejadian di restoran tempat Arga dan Gerald mengadakan meeting.


Pak Sam mengingat bahwa di tempat itu, Ia melihat Clarissa dengan seorang laki-laki. Apa mungkin ia adalah kakak dari nona Erina? Pertanyaan itu kembali muncul dalam pikiran Pak Sam.


"Iya ... kakak Erina sudah jatuh cinta kepada Clarissa. Dan itu sudah membuat Erina resah, Ia mempertanyakan ketulusan Clarissa. Seperti halnya aku, aku tak bisa menganggap ini sebuah kebetulan. Tapi pasti Ada motif lain di balik semua ini. Cari tahu sedetail mungkin motif di balik semua ini, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan Pak Sam?" tutur Arga.


"Baik, saya mengerti Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik. Secepatnya saya akan memberikan hasil yang Tuan inginkan," ucap Pak Sam, Ia menganggukkan kepala penuh keyakinan.


Arga mengulas senyum, Ia tahu bahwa Pak Sam akan melakukan tugas dengan baik. Dan selama ini, Ia tak pernah kecewa dengan hasil yang di berikan oleh Pak Sam.


"Bagus, saya percaya kepadamu," ucap Arga masih dengan senyum tersungging di wajah tampannya.


"Oh ya, satu lagi. Cari artikel tentang cara bercinta yang baik dan benar dengan istri yang sedang hamil," titah Arga kepada Pak Sam tanpa basa basi, bahkan Ia tak canggung sama sekali mengutarakan maksudnya kepada orang kepercayaannya itu.


Pak Sam hanya menganggukkan kepala dan tersenyum canggung. "Baik Tuan, saya akan segera memberikan hasil artikel yang anda minta," tutur Pak Sam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2