
Dokter Mili keluar ruangan dan segera menghampiri Arga yang tengah duduk di ruang tunggu, gadis yang berprofesi Dokter itu bahkan sudah terlihat mengganti bajunya. Sebuah kemeja dan celana kain berwarna hitam tampak membalut tubuh Dokter cantik tersebut.
"Tuan, persalinan nya harus segera di lakukan. Nona Erina sudah pembukaan sempurna, anda bisa menemani Nona Erina dalam proses persalinannya," jelas Dokter Mili.
Pria yang sudah terlihat lesu itu segera bangkit dan mengekor di belakang Dokter Mili, namun seruan seorang wanita menghentikkan langkahnya sesaat.
"Sayang ....!"
Terlihat kedua orang tuanya dan kedua mertuanya tampak berlari kecil ke arahnya dengan raut wajah yang begitu panik.
"Ibu ... Erina akan melahirkan. Do'akan semua nya berjalan lancar ya," ucap Arga kepada ibu nya.
"Iya, itu pasti sayang." Nyonya Hutama memeluk sesaat tubuh Arga. Pria itu mengedarkan pandangan dengan tatapan sendu secara bergantian kepada orang tuanya dan mertuanya. Ibu mertuanya tampak tersenyum kepada nya, menunjukkan perhatian nya dari tatapan matanya yang sayu.
"Cepat lah masuk, Erina sudah menunggumu!" perintah ibu nya dan di balas anggukkan oleh Arga.
Pria itu segera berpamitan sambil mengulas senyum, Ia menguatkan hati agar bisa mendampingi proses persalinan istrinya.
πππ
Sebuah ruangan yang di dominan warna putih sukses membuat bulu kuduk Arga meremang, seumur hidup nya Ia tak pernah ber mimpi akan masuk ke ruangan ini. Bahkan tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya.
Di tengah ruangan tersebut, terlihat Erina sudah berganti baju sama seperti dirinya senada dengan baju yang dikenakan oleh Tim Medis.
Sebuah infus yang menggantung di tiang stainless dengan selang yang terhubung di tangan Erina, membuat hati Arga semakin pilu. Perjuangan yang sesungguhnya akan segera di mulai, sebuah perjuangan seorang ibu yang akan bertaruh nyawa untuk melahirkan sang buah hati.
Pria itu berjalan mendekati sang istri, seorang perawat mengintruksikan kepada nya agar berdiri di sisi kepala Erina. Arga mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang sudah tersedia.
Sebuah kecupan Ia daratkan di kening Erina sambil berbisik lirih. "Aku disini sayang, kamu pasti bisa!" kalimat penyemangat untuk sang istri. Tapi semua yang dilakukan Arga tampak tak di acuhkan oleh Erina, seluruh fokusnya sudah tertuju pada kontraksi yang di alaminya.
Perjuangan di mulai ....
Dokter Mili beberapa kali mengintruksi Erina untuk mengejan, agar kepala bayi terdorong keluar. Sepanjang mengejan bibir Erina tak henti meracau, dan tiba saat nya. Sang bayi pertama keluar dengan tangisan yang begitu kencang.
Tangisan haru pecah di antara mereka berdua, Arga tak henti menghujani Erina dengan ciuman di seluruh wajahnya.
__ADS_1
"Bayi laki-laki Tuan dan Nona," ucap Dokter Mili sambil mengangkat sang bayi.
Erina yang masih tampak letih itu kembali merasakan kontraksi di bagian perutnya, Dokter Mili dan Tim Medis yang membantunya dalam proses persalinan itu segera bersiap-siap kembali.
Kini, dengan sekali dorongan bayi kedua lahir dengan selamat dan sehat. Dokter Mili kembali menunjukkan kepada pasangan tersebut.
"Laki-laki Tuan," terang Dokter Mili dengan mengulas senyum.
Erina yang sudah merasakan kelelahan hanya bisa menyunggingkan senyuman tipis, napasnya masih memburu. Raut wajah Arga yang semula tampak begitu tegang dan cemas perlahan mencair dan terlihat senyum bahagia tergambar di wajah tampannya.
"Nona Erina ambil napas dalam-dalam lalu buang perlahan. Nona hebat sekali, kurang satu bayi lagi Nona. Nona pasti bisa!" dukungan tulus Dokter Mili membuat Erina kembali ber semangat. Meskipun tenaganya sudah terkuras habis, tapi dia tetap berjuang sekuat tenaganya.
"Dokter, sepertinya kondisi Nona Erina sangat lemah. Itu akan berpengaruh dengan kondisi bayinya, sebaiknya kita segera lakukan cito caesar Dok!" ungkap salah satu Dokter yang membantu persalinan Erina.
"Iya, anda benar Dok. Segera siapkan, kita akan lakukan cito caesar." Dokter Mili berjalan mendekati Arga.
"Tuan, kondisi nona Erina sangat lemah. Sedangkan bayi ketiga harus segera dikeluarkan. Kami akan melakukan operasi Caesar untuk nona Erina," jelas Dokter Mili.
Pria itu tampak tak mengerti istilah yang digunakan oleh Dokter Mili, namun untuk keselamatan bayi dan istrinya. Ia hanya bisa pasrah dan mempercayakan semua nya kepada Dokter Mili.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku Dokter," pinta Arga dengan raut wajah yang begitu cemas.
πππ
Arga tak henti berucap syukur dan menghujani ciuman di seluruh wajah Erina, ia menangis haru. Ia bahkan tak menghiraukan tangisannya akan di pandang aneh oleh orang-orang yang ada di ruangan itu.
Tapi bukankah ruang bersalin itu memang tempat nya pasangan yang akan menangis haru ketika buah cinta mereka lahir pertama kali di dunia? Jawabannya pasti iya, semua Tim Medis di ruangan tersebut bahkan menjadi saksi perjuangan seorang ibu yang sangat luar biasa itu. Perjuangan antara hidup dan mati seorang ibu yang disaksikan langsung oleh sang suami, perasaan tegang, cemas dan haru membaur menjadi satu.
Indah ... sungguh indah perjuangan seorang ibu, semua perjuangannya terbayar ketika mereka melihat dengan langsung bayi yang mereka lahirkan menangis kencang untuk pertama kalinya.
Pria itu kembali menerawang bagaimana dulu perjuangan sang ibu yang telah melahirkannya, membuat airmatanya kembali menghujam pipinya.
Dan dari lubuk hatinya yang terdalam, ia bahkan telah berjanji. Di sisa hidup nya, ia tak akan membuat istrinya bersedih. Ia ingin selalu membahagiakan wanita yang sudah berjuang hari ini.
"Aku sangat mencintaimu sayang, selamanya aku akan selalu mencintaimu," ucap Arga seraya memeluk istrinya yang masih sangat lemah.
πππ
__ADS_1
Setelah setengah jam Arga terlihat sudah berganti pakaian, Ia keluar ruang bersalin dan berjalan menghampiri keluarganya.
Raut bahagia terpancar dari pria yang baru saja menyandang status baru "Ayah". Pria itu segera berhambur di pelukan sang ibu, pelukan seorang anak yang seolah sudah lama tidak bertemu dengan ibu nya. Ia tampak kembali menangis dalam dekapan nyonya Hutama. Wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang membelai lembut punggung sang anak.
Arga melepaskan pelukannya, sambil mengedarkan pandangan secara bergantian ke arah mereka semua.
"Cucu kalian sehat, mereka bertiga sangat lucu-lucu sekali. Dua laki-laki dan satu perempuan," ucap Arga dengan mengulas senyum. Tangisan haru kembali pecah, ibu dan mama mertuanya saling berpelukan. Begitu juga dengan ayah dan papa mertuanya, mereka secara bergantian memeluk Arga.
πππ
Wanita itu masih terlihat lemas pasca persalinan yang benar-benar menguras energinya, Arga masih terjaga untuk menemaninya. Ia sudah menunjukkan kesiagaannya sebagai seorang suami.
Erina membuka kelopak matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua orang yang Ia cintai tampak memutari ranjangnya, wanita itu tersenyum.
Tok-tok-tok ....
"Masuk!" perintah Arga.
Seorang perawat tampak membuka perlahan daun pintu kamar tempat Erina dirawat, kemudian Ia berjalan dengan mendorong box bayi di ikuti dengan dua orang perawat yang melakukan hal sama. Dokter Mili tampak di barisan terakhir.
Karena permintaan Erina yang ingin melihat ketiga bayinya, Dokter Mili membantu Erina menggendong anak nya secara bergantian. Kedua orang tua dan mertuanya juga tampak antusias dengan ketiga cucu mereka.
Suasana bahagia menyelimuti keluarga Hutama, kehadiran tiga bayi mungil itu sudah merubah kehidupan Erina dan Arga. Mereka diberikan amanah yang luar biasa, tiga bayi sekaligus. Erina tak henti menangis bahagia dalam dekapan sang suami. Ia benar-benar sangat bahagia, rasa bahagia yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
πTAMATπ
πππ
Istilah cito yaitu tindakan yang harus segera dilakukan karena dalam keadaan darurat alias operasi sesar di luar rencana.
πππ
Alhamdulillah, saya ucapkan beribu-ribu terimakasih untuk semua teman-teman dan para readers yang selalu mendukung novel Menikahlah Denganku ini. π₯°π₯°
__ADS_1
Jangan di unfavorite dulu ya, nanti bakal ada bonus chapter dan pemberitahuan karya terbaru saya. π€
Love you all gaesπ₯°π€