
Sinar mentari sangat cerah pagi ini, memberikan semangat baru untuk penduduk di Bumi ini. Kecuali Erina, Erina masih dalam kebingungan nya. Pikirannya masih tidak bisa menjangkau alasan kenapa Tuan Muda ingin menikahinya.
Dia laki-laki kaya raya, tidak mungkin kan dia tidak punya kekasih yang sepadan dengannya. Apa yang dia harapkan dariku, bahkan aku tak punya apa-apa untuk dibanggakan di publik.
gumam Erina.
Erina yang sebelumnya mencari tau tentang sosok Arga Hutama di laman pencarian di handphonenya, sedikit khawatir tentang nasib yang akan menimpanya. Perbedaan status yang membuat Erina merasa cemas akan sesuatu yang terjadi padanya di masa yang akan datang.
"Tidak ada berita negatif tentangnya, semua yang berhubungan dengan dia selalu berhubungan dengan ke dermawan an dan kesuksesan nya. Dia selalu mendapatkan apa yang di inginkan nya, seperti hari itu yang dengan entengnya mengajakku menikah. Dan dengan pasrah nya aku mengiyakan." ucap Erina lirih.
Erina hanya bisa meratapi nasibnya, yang dia sendiri tidak tahu harus bahagia atau menangis sejadi-jadinya.
Kriiiing... kriing....
Suara telfon membuyarkan lamunan Erina.
"Kak Erik, " lirih Erina.
"Halo Rin, bagaimana persiapan mu sampai hari ini. Maaf kak Erik belum bisa ke tempatmu, tapi nanti kalau sudah dekat acara pernikahan mu. Kakak akan mendampingimu." suara kak Erik menimbulkan pertanyaan besar di kepala Erina.
Apa yang sudah dikatakan Tuan Arga sampai kakak bicara seperti ini.
gumam Erina dalam hati.
"Rin, Erin. kamu baik-baik saja kan? " tanya kak Erik khawatir. Karna Erina belum menjawab pertanyaan kak Erik.
"Eh, iya kak. Aku baik-baik saja. Hmm, sejauh ini aku belum mempersiapkan apa-apa kak. " Erina mencoba berkata jujur kepada kakaknya.
"Lho, kok belum mempersiapkan apa-apa Rin? Oh ya, Tuan Arga kan punya banyak pegawai ya. Mungkin semua sudah ada tugasnya masing-masing, kamu tinggal duduk manis ya." suara tawa kak Erik terdengar sangat bangga, adik kesayangannya menikah dengan orang terkaya di negeri ini. Bukankah itu seperti cerita putri di dalam dongeng. Gadis desa yang tak punya apa-apa, di nikahi oleh seorang pangeran tampan yang kaya raya.
"Haha, iya kak." tawa paksa Erina dengan wajah yang masih bertanya-tanya.
"Kamu beruntung Rin, kakak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kamu bahagia dengan laki-laki pilihanmu. " kak Erik
Pilihan? Bagaimana bisa kak Erik bilang seperti itu. Apa saja yang dibicarakan Tuan Arga, sehingga membuat kak Erik seolah percaya bahwa dia adalah laki-laki pilihanku sendiri.
gumam Erina yang semakin penasaran.
"Tuan Arga juga sangat baik Rin, dia melunasi hutang papa dan dia datang kerumah untuk melamar mu. Walaupun aku lihat caranya sedikit aneh. " jelas kak Erik panjang lebar menunjukkan bahwa dia sangat kagum dengan sosok Arga Hutama.
Dia datang melamar ke keluarga ku, sebagai perempuan pilihannya. Sungguh aku benar-benar tak bisa berpikir kali ini. Bukankah lebih tepatnya dia membeliku 100 juta pada keluarga ku.
Erina merasa pasrah dengan nasibnya.
"Ya sudah ya Rin, baik-baik kamu di sana ya. Sudah dulu, kak Erik masih ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan." kak Erik menutup telfon
"Sudahlah memang takdir ku seperti ini, bagaimanapun aku tak bisa lari atau memberontak. Aku harus Terima bahwa pernikahanku telah dibeli dengan uang 100 juta." ucap Erina lirih.
Sebuah pesan masuk di handphone Erina. Erina segera membuka layar handphone nya.
"Calon istriku, bersiap ya nanti malam kamu ku jemput. " pesan singkat dari Tuan Arga
Kenapa aku merinding ya, dia menyebutku begitu. Tunggu! Dia tidak mengajakku menikah malam ini kan?
gumam Erina menebak apa yang akan terjadi.
Pikiran Erina melayang membayangkan kejadian disaat Arga mengajaknya menikah.
"Dia kan bisa melakukan apa saja yang dia mau. Aaarggh... aku bisa gila kalau begini." Erina menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ini hanya sebuah mimpi.
***
Tuan Arga sudah di depan, Erina bergegas keluar dan menundukkan kepala.
"Berani ya, kau membuatku menunggu!" Tuan Arga melototi Erina.
"Maaf Tuan, aku hanya bingung harus pakai baju seperti apa." Erina menunduk memegang bajunya yang memang tak ada istimewanya menurut dia.
cih
"Merepotkan sekali, ayo masuk. " sekertaris Sam membukakan pintu untuk Tuan Arga dan Erina.
__ADS_1
"Pak Sam, datang sudah lama ya?" Erina bertanya sangat lirih kepada sekertaris Sam, saking lirih nya seperti berbisik.
"Dua menit yang lalu nona." Pak Sam menjawab singkat
Dasar, laki-laki aneh. Memang lama apa dua menit itu?
gerutu Erina dalam hati.
Mobil melaju pelan, menyusuri jalanan kota yang mulai padat.
Erina melihat pemandangan dari balik kaca mobil, gedung-gedung tinggi berjejer rapi menjadi penghias ditengah kota yang sibuk ini.
"Maaf Tuan, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Erina penasaran.
"Mau bertemu orang tua ku!" jawab singkat Tuan Arga.
Apaaa? bertemu ibu Tuan Muda. Aku bahkan tidak menyiapkan apa-apa untuk bertemu ibu Tuan Muda. Bagaimana kalau dia tidak menyukai ku. Tungguu! itu kan yang aku harapkan. ibu Tuan Muda tidak setuju dan membebaskan ku dari pernikahan aneh ini.
gumam Erina dalam hati.
Muka cemas Erina berubah ceria lagi, tersenyum membayangkan dia akan terbebas dari pernikahan aneh ini.
Tuan Arga mengawasi tingkah pola Erina.
"Kamu tak usah khawatir, ibu bukan monster yang akan memakan mu. Jadi nanti kamu cukup duduk tenang disampingku." ucap Arga yang seolah tahu apa yang dipikirkan Erina.
"Iya Tuan, tapi maaf saya tidak sedang memikirkan bahwa ibu Tuan Muda adalah monster. Saya tidak sejahat itu Tuan." Erina menjawab polos.
Dasar memang benar-benar gadis bodoh. gumam Tuan Arga sambil tersenyum melihat sikap polos Erina.
Mobil berhenti di salah satu mall terbesar di kotanya. Sekertaris Sam membuka pintu, Arga turun di ikuti dengan Erina.
"Berikan gaun terbaik yang kalian punya, layani nona muda dengan baik" sekertaris Sam menunjuk kepada beberapa pramuniaga.
"Baik Tuan... ikuti kami nona" pramuniaga dengan sigap mempersilahkan Erina mengikuti mereka.
Bukankah ini berlebihan. Iya sih, mau bertemu dengan nyonya besar harus memakai baju yang bagus. Tapi seperti nya ini sudah berlebihan juga si.
Erina mencoba gaun yang dipilihkan, dia melirik harga yang tertera.
Apa? Bahkan gajiku satu tahun tidak cukup untuk membeli baju ini. kenapa orang kaya suka sekali membuang uang hanya untuk baju, yang mungkin hanya sekali mereka pakai sih. Ini kan sangat pemborosan namanya.
Erina mengernyitkan dahi mengetahui harga yang tertera di bajunya.
"Sudah selesai nona." kata pramuniaga dengan senyuman manisnya.
"Oh iya, terimakasih mbak." Erina menatap kaca seolah tak percaya dengan perubahan dirinya. Ya, dia memang jarang sekali berdandan. Sedikit di poles saja, dia sudah tampak berbeda.
Apa ini benar-benar tidak berlebihan ya?
Erina memandang aneh pada dirinya sendiri.
"Mbak, ini tidak terlalu berlebihan apa?" Erina merasa make up nya terlalu tebal.
"Tidak nona, ini make up natural. " pramuniaga meyakinkan Erina. Erina masih merasa sedikit tak nyaman dengan penampilannya.
Erina melangkah ke arah Tuan Arga. Arga yang melihat Erina Terdiam sesaat dan tersenyum pada Erina.
Degg...
Ada apa dengan diriku? Kenapa rasanya dada ini terasa sangat sesak? Dan dia tampak sangat cantik sekali.
gumam Arga dalam hati.
"Kalau begini kamu terlihat seperti perempuan juga ya." Arga tersenyum dan melangkah keluar.
Selalu deh, emang aku bisa berubah-ubah gender apa. Puji atau apa gitu, walaupun memang terlihat sangat aneh penampilan ku.
Erina mendesah merasa sangat aneh dengan penampilan dirinya.
***
__ADS_1
Arga dan Erina masuk ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah orang tua Arga.
Mereka sudah sampai di rumah mewah milik keluarga Hutama. Erina berjalan beriringan dengan Arga.
Makan malam sudah tersaji rapi di meja makan, Erina duduk di sebelah Tuan Muda. Di depannya nyonya besar dan Tuan besar.
Ibu Tuan Arga tersenyum kepada Erina.
"Ibu senang akhirnya kamu menemukan gadis yang kamu cintai Arga, kalau tidak di beri deadline kamu mungkin akan terus menyembunyikan Erina dari kami." ucap Ibu Arga sambil mendelik ke arah Arga.
"Deadline?" Erina mulai tampak bingung.
"Maaf, deadline apa ya tante?" saking penasaran nya Erina memberanikan diri bertanya.
"Ternyata Arga masih menyembunyikan nya ya, Arga kami beri deadline untuk segera menikah Erin. Kalau tidak begitu, dia tidak akan mau untuk segera menikah. Sedangkan kami kan sudah ingin menimang cucu." tawa ayah dan ibu Tuan Arga membuat Erina cemas.
Jadi ini alasannya dia mengajakku menikah. Apa benar sosok Arga Hutama tidak mempunyai kekasih atau wanita yang dicintainya untuk dinikahi?
gumam Erina dalam hati .
Makan malam, berjalan dengan lancar. Erina dengan cepat akrab dengan ibu Tuan Arga. Di luar dugaan Erina, ibu Tuan Arga sangatlah baik dan ramah. Dia bukan orang kaya yang semena-mena seperti sinetron di TV. Ya begitulah pikirnya. Dia juga tidak mempermasalahkan latar belakang Erina yang hanya terlahir dari keluarga biasa.
Aku salah sangka, ternyata ibu Tuan Musa sangatlah baik.
gumam Erina merasa senang bisa diterima dengan baik oleh keluarga Hutama.
"Kalian ingin hadiah apa untuk pernikahan kalian?" ayah Arga bertanya dengan wajah sangat senang.
"Belikan rumah, aku ingin aku dan calon istriku menikmati hidup berdua saja." Arga melingkarkan tangannya di bahu Erina.
Iya, karna kamu akan menikmati untuk menyiksaku.
Erina memaksakan senyumannya.
"Padahal kami ingin kalian tinggal dirumah ini setelah kalian menikah." ibu Tuan Arga tampak sedih.
"Tidak apa-apa bu, biar mereka fokus dan cepet dapat cucu." gelak tawa ibu dan ayah Arga terdengar begitu menyiksa Erina.
Bahkan aku masih tidak bisa membayangkan kalau dia menyentuhku. Erina memejamkan matanya, membayangkan apa yang terjadi setelah pernikahan ini terjadi.
"Kenapa Erin, kamu tidak enak badan?" tanya ibu Arga khawatir melihat sikap yang ditunjukkan Erina.
"Oh, tidak tante. hanya sedikit mengantuk." Erina menutup mulutnya dengan berpura-pura menguap.
"Iya bu, sepertinya Erina sangat capek. Karna mempersiapkan pernikahan kita. Tiga hari lagi kita kan akan menikah. Jadi mungkin dia sudah tak sabar menunggu hari bahagia kita." Arga mengeratkan pelukannya, Erina hanya bisa meringis kesal.
Tiga hari lagi, bahkan dia tidak bilang padaku. Benar-benar keterlaluan. Dasar Tuan Muda yang suka seenaknya sendiri.
gumam Erina dalam hati.
"Ya sudah, antar Erina pulang sekarang. jangan sampai dia sakit, ingat kamu harus menjaga baik-baik Erina untuk ibu ya. Jangan pernah menyakitinya." nasihat ibu Arga membuat Erina sedih.
Aku seperti pembohong besar, aku membohongi mereka yang sangat tulus menerimaku.
gumam Erina merasa sangat berdosa.
"Oh ya, mulai sekarang panggil kami ayah dan ibu mertua ya Erin. Anggap kami sebagai orang tua kandungmu sendiri ya." ibu Arga memeluk Erin dengan hangat. Erina mengiyakan dan membalas pelukan ibu Arga.
Arga dan Erina berpamitan, mereka berjalan berlalu meninggalkan orang tua Arga yang diselimuti rasa bahagia.
Mobil meninggalkan halaman luas menuju ke tempat Erina.
"Tuan, kenapa Tuan tidak bilang kalau pernikahan nya tiga hari lagi?" Erina tampak sangat kesal.
"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik. malah, aku ingin besok kita menikahnya." Arga menggoda Erina.
"Apaaaa?" Erina tampak semakin kesal
"Kamu tidak usah khawatir, semuanya sudah di atur pak Sam. kamu hanya menyiapkan jiwa dan raga mu yang sebentar lagi akan menjadi milikku seutuhnya." Arga tersenyum penuh arti.
Erina reflek memegang bajunya mendengar kalimat Arga, Erina merinding dan semakin cemas.
__ADS_1
BERSAMBUNG