Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Sangat Merindukan


__ADS_3

Dua hari sudah Erina menunggu tanpa kepastian kapan Arga akan pulang, hatinya masih di selimuti rasa bersalah atas kepergian suaminya. Ia tak menyangka jika kebungkaman tentang perasaan nya, membuat Arga ragu terhadapnya. Bahkan sekarang meninggalkan nya tanpa kabar.


Selama dua hari terakhir, sejak kepergian Arga. Erina selalu menunggunya di halaman rumahnya, berharap Arga akan berbaik hati untuk memaafkan kebodohannya. Tapi sampai saat ini, harapan itu seolah semakin menipis. Bahkan seperti sudah berakhir.


Erina menatap layar ponselnya, jarinya menggeser-geser layar benda pipih miliknya. Erina memandang lama layar ponselnya, memandang foto Arga yang kini ia jadikan sebagai wallpaper di ponselnya. Hatinya terasa sakit sekali, rasa bersalah dan rindu bercampur menjadi satu.


Erina bahkan tak mempunyai keberanian untuk sekedar mengirim pesan kepada suaminya, dia benar-benar takut. Takut akan penolakan, takut akan semakin membuat Arga kesal kepadanya. Rasa takutnya yang semakin hari semakin besar, seperti sudah menutupi perasaannya.


Hari semakin larut, tapi Erina masih enggan beranjak dari ayunan tempat ia singgah saat ini. Sudah dua kali Bibi Mar mengingatkan bahwa cuaca di luar sangat dingin dan segera menyuruhnya untuk masuk, tapi Erina sama sekali tak bergeming sedikit pun. Bahkan membuat Bibi Mar harus membawakan selimut, agar Erina tak kedinginan.


***


Di hotel tempat Arga menginap.


Sama halnya seperti Erina, Arga merasakan kerinduan yang mendalam kepada Erina. Kerinduan yang enggan untuk di akuinya. Arga masih bersikukuh bahwa ini adalah hukuman untuk Erina, hukuman yang bahkan tak hanya menyiksa Erina. Tapi juga sangat menyiksa batinnya.


Arga mempunyai ratusan foto Erina di ponselnya, namun sepertinya itu tak cukup untuk mengobati rasa rindu yang saat ini sedang mendera batinnya. Erina terlalu berarti baginya, bahkan seluruh cintanya sudah dia serahkan hanya untuk Erina. Sehingga dia begitu kalap, ketika semua tak berjalan sesuai keinginannya. Bahkan dia harus melihat langsung, bahwa Erina masih menyimpan rasa pada laki-laki lain. Tentu saja itu sangat melukai perasaan nya, rasa cemburu yang berlebihan sudah menutup mata hatinya.


Arga memandang lama foto demi foto di layar ponselnya, semenjak menikah dengan Erina. Arga mempunyai hobby baru, mengkoleksi foto istrinya sendiri. Ya, dia sangat menyukai Erina dalam situasi apapun. Setiap kali melihat Erina, dia tak lupa untuk mengabadikan nya lewat ponselnya.


Jari Arga terhenti, dia mendekatkan ponselnya di wajahnya agar dia bisa melihat lebih jelas. Arga memandang foto itu begitu lama, foto pertama kali bertemu Erina. Dia bahkan tanpa sadar sudah sangat menyukai Erina sebelum mereka menikah, foto itu seolah menjadi bukti. Bahwa Erina sudah membuatnya tergila-gila, dan semakin hari perasaan itu semakin tumbuh besar.


***


Arga sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar Erina dari Bibi Mar, andai dia bisa sedikit menepis ego nya. Mungkin kini dia sudah berada di samping Erina, menatap sendu wajah Erina yang sedang terlelap dalam mimpinya.


Arga segera menekan nomer telfon rumahnya, seperti biasa. Suara Bibi Mar segera menyahuti.


"Halo .... " sahut Bibi Mar.


"Bi ..., Erina sudah tidur?" tanya Arga yang sudah sangat penasaran sedang apa Erina sekarang.


"Belum Tuan ... nona ma ...." belum selesai Bibi Mar bicara, terdengar suara Erina yang sedang bersin.

__ADS_1


Hatchiiiii ....


Mendapati Erina masuk, Bibi Mar segera menutup telfonnya. Dan membuat Arga panik, karena suara bersin Erina.


"Nona .... " Bibi Mar berjalan ke arah Erina dan merekatkan selimut di tubuh Erina.


"Nona tunggu disini sebentar ya, akan saya seduhkan minuman hangat untuk nona." Bibi Mar menuntun Erina agar duduk di kursi yang berada di pinggir dapur. Bibi Mar segera meracikkan sesuatu dan menuangkan air hangat di dalam cangkir kecil berwarna biru tua.


Bibi Mar segera menyerahkan cangkir yang baru saja di seduhnya, dia membantu Erina untuk minum. Kali ini Erina tak membantah sama sekali kepada Bibi Mar, dia merasakan tubuhnya sedikit menggigil. Erina hanya minum beberapa teguk dan menyerahkan kembali kepada Bibi Mar, Erina segera beranjak dan menoleh kepada Bibi Mar yang sedang meletakkan cangkir di atas meja makan.


"Bi ... aku ke kamar dulu ya." mata Erina sayu karena menahan kantuk, dia terlihat menguap beberapa kali.


"Saya bantu nona ....?" seru Bibi Mar mencoba membantu Erina, tapi Erina hanya menggelengkan kepala.


"Tidak ... Bibi istirahat saja, aku bisa sendiri bi." ucapnya sambil menyunggingkan senyuman, Erina meninggalkan bibi Mar sendiri. Dia terus mengawasi Erina, Bibi Mar merasa kasihan dengan Erina.


***


Suasana di kamar hotel Arga.


Arga yang selalu tenang dalam segala hal, kini tengah dirundung galau tingkat tinggi.


"Bagaimana keadaan Erina sekarang? Kenapa dia sampai bisa bersin seperti itu? Kenapa tadi Bibi Mar menutup telfon nya secara tiba-tiba? Aaaargh ... apa yang harus kulakukan?" Arga mengacak-acak rambutnya, dia benar-benar tidak bisa berpikir saat ini.


Arga menjatuhkan tubuhnya secara kasar di atas tempat tidur, matanya terpejam mencoba untuk berpikir. Tapi hasilnya tetap nihil, dia tak tahu harus berbuat apa. Arga kembali meraih ponselnya yang berada di atas nakas, mencari nama yang dia sendiri tak tahu harus menghubungi siapa. Pandangannya terhenti pada sebuah nama.


"Ya, aku rasa aku bisa menghubungi Pak Yan." Arga menekan tombol telfon.


Pak Yan yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, dikagetkan dengan dering telfon di ponselnya. Melihat nama Tuan Arga di ponsel nya, dia segera beranjak dari tempat tidurnya.


"Ha ... lo, iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sahutnya.


"Tolong berikan telfon ini kepada Bibi Mar, dan pastikan Erina tidak mengetahui nya." perintah Arga.

__ADS_1


"Ba ... ik Tuan." ucapnya seraya berjalan ke ruang utama dan segera mencari Bibi Mar yang tengah berada di dapur. Pak Yan mengedarkan pandangan nya, memastikan Erina sudah tidak ada disana. Pak Yan mendekati Bibi Mar.


"Bi ... ada telfon dari Tuan Arga." ucapnya pelan, sambil menyerahkan ponselnya kepada Bibi Mar. Mendengar nama Tuan Arga, Bibi Mar dengan cepat menyahut ponsel Pak Yan dari tangan Pak Yan.


"I ... ya Tuan ... Saya minta maaf karena secara tiba-tiba menutup telfon dari Tuan. Tadi nona Erina berada di luar dan tiba-tiba sudah masuk rumah, jadi saya spontan menutup nya Tuan." jelas Bibi Mar, merasa takut Tuan nya akan marah kepadanya.


"Sudah bi ... lupakan hal itu. Sekarang bagaimana keadaan Erina? Apa dia demam? Dia sudah minum obat? Bagaimana dia sekarang?" Arga terus mencerca Bibi Mar.


Bibi Mar merasa sedikit pusing karena banyaknya pertanyaan yang di ajukan oleh Arga untuknya, dia bahkan bingung harus menjawab yang mana dulu.


"Nona Erina tidak apa-apa Tuan, hanya saja nona terlihat mau flu. Karena .... " Bibi Mar masih ragu untuk mengatakannya.


"Bi ... bibi ... ada apa dengan bibi?" suara Arga terdengar cemas.


"Tidak Tuan ... hanya saja. Beberapa hari ini nona Erina terlihat sangat tersiksa, dia sangat menderita karena Tuan Arga tidak pulang ke rumah dan tidak memberinya kabar. Sudah dua hari ini nona menunggu anda di halaman depan, sampai-sampai dia mengabaikan kesehatannya sendiri. Maaf ... Tuan, jika saya terlalu banyak bicara." Bibi Mar bernafas lega, akhirnya dia bisa mengatakan semua pada Arga. Bibi Mar berharap semoga Tuan Muda mau mengalah dan segera kembali pulang.


Tak terasa airmata Arga menetes membasahi pipinya, hatinya terasa sesak dan sangat sakit mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Bibi Mar.


"Bi ... aku mau video call, untuk melihat Erina. Bibi bisa ke kamar sebentar dan arahkan ponsel nya ke Erina." ucap Arga.


Entah kenapa setelah mendengar ucapan Bibi Mar, Arga semakin merindukan Erina.


Bibi Mar mengiyakan perintah Arga dan mengikuti sesuai intruksi Arga untuk menekan tombol-tombol seperti yang di contohkan nya. Bibi Mar sudah berada di depan pintu kamar Erina, bibi Mar memegang handle pintu dan mencoba memutar handle pintu secara perlahan. Pintu kamar sudah setengah terbuka, bibi Mar melihat Erina sudah tertidur dengan posisi miring ke kanan.


Bibi Mar mengarahkan layar ponsel yang sedang ia pegang tepat di depan Erina, di layar sudah terlihat jelas wajah Arga. Arga melihat seksama wajah erina, ada rasa sedih mencuat di dalam hati nya.


Betapa bodohnya aku sudah menghukum gadis polos yang sangat aku cintai, kecemburuan ku benar-benar membuatku hampir gila.


gumam Arga dalam hati.


Arga memejamkan mata dan segera menepis airmata yang sudah siap untuk keluar. Hatinya benar-benar hancur melihat Erina menelungkup di atas tempat tidur, bahkan dia bisa melihat dengan jelas mata Erina yang terlihat sembab karena sisa tangisan yang sudah keluar tanpa keinginannya.


"Terimakasih bi ..., matikan ponselnya." Arga segera menggeser layar ponselnya dan melempar nya di atas tempat tidur, hatinya masih terasa sakit.

__ADS_1


Arga meraup wajahnya dengan kedua tangannya, dia mengingat janji-janji yang sudah di ucapkannya. Dan sekarang dia sudah melanggar janjinya sendiri.


Bersambung


__ADS_2