Terpaksa Menikahi Tuan Posesif

Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

"Selamat pagi Erina, adik ku yang paling cantik," sapa Eric. Laki-laki itu sengaja memberikan kejutan kepada adik satu-satu nya itu.



Erina yang sedang menyiram tanaman di taman mini nya tampak terkejut, Ia segera menghamburkan diri di pelukan laki-laki yang selama ini selalu melindunginya seperti yang di lakukan oleh papanya.


"Kakak ....," sambut Erina.


Erina merenggangkan pelukannya, Ia mengamati penampilan kakaknya yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya.


"Kakak terlihat sangat tampan sekali hari ini, apa ada sesuatu yang spesial? Apa kakak ada janji lain, selain denganku?" Erina mencecar kakaknya.


Eric mengulas senyuman, "Nanti kamu akan tahu," jawab Eric dengan mengelus pelan rambut Erina.


Arga yang dari tadi mengamati Eric dan erina di depan pintu, tampak tak senang dengan pemandangan yang ada di depan matanya itu.



"Ck ... kenapa kalian begitu mesra sekali?" ucap nya tak senang.


Arga berjalan mendekati Erina dan Eric, Ia berdecak kesal.



Erina segera mengalihkan perhatiannya pada Arga, Ia mengulum senyuman mendengar ucapan laki-laki yang dicintainya itu.


"Ha-ha-ha, apakah kamu cemburu dengan ku Tuan Muda," goda Eric, Ia segera melingkarkan lengannya di pundak adiknya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Erina.


Arga membelalakkan mata, Ia terlihat begitu kesal dengan tingkah kakak iparnya itu.


"Lepas kan tanganmu dari istriku," teriak nya penuh kesal.


"Darah lebih kental dari air, dia adikku. Jadi tak masalah bukan," goda Eric. Ia menunjukkan raut wajah serius, namun mulutnya mengatup menahan senyum.


Erina hanya mengulum senyum melihat tingkah kedua laki-laki yang begitu berharga dalam hidupnya itu, mereka seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. Begitu pikir Erina.


"Cih ...." Arga berdecih,


Ia segera menarik tangan Erina dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya itu dengan erat. Seolah tak rela tubuhnya disentuh oleh siapa pun, termasuk kakak iparnya itu.


"Aku bahkan lebih sekedar dari darah, Erina sudah mengandung darah dagingku. Bukankah itu terdengar lebih dari sekedar hak milik?" cetus Arga. Eric dan Erina terkekeh mendengar kalimat absurd Arga.


"Harus nya kamu segera mencari kakak ipar untuk kami, agar kamu tak seenaknya memeluk istriku seperti tadi," seloroh Arga.


"Ha-ha-ha, dasar suami posesif. Kamu melarangku memeluk adik ku sendiri, tapi aku senang mendengar nya. Aku semakin yakin, kamu akan menjaga adikku dengan baik." Eric mengulas senyum lega, Ia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Adik satu-satu nya, adik yang begitu Ia sayangi memiliki suami yang begitu mencintainya.


"Itu pasti ... aku akan menjaga Erina ku dengan segenap jiwa dan ragaku," ungkap Arga. Ia menatap lekat manik coklat milik Erina, tatapan mata yang begitu hangat. Gadis itu mengangkat kedua sudut bibirnya hingga terangkat sempurna.


"Hmmm ... sekarang kalian yang membuatku Iri. Kalau begini caranya, aku akan segera melamar seorang gadis. Agar aku tak terlalu tersiksa melihat kemesraan kalian," celoteh Eric dengan berkacak pinggang.


Ucapan Eric membuat Arga dan Erina tertawa lepas, begitu juga dengan Eric. Mereka bertiga tampak tertawa bahagia.


🍁🍁🍁


__ADS_1


Ruang tamu yang bergaya modern classic itu terlihat begitu nyaman sekali, ruangan yang di dominasi dengan warna cream dan nude itu tampak begitu elegan.


Erina mendudukkan tubuhnya di sebelah Arga, sedangkan Eric memilih untuk duduk berhadapan dengan Arga dan Erina.


Bibi Mar datang dengan membawa satu nampan penuh dengan minuman, camilan dan buah-buahan.


"Silahkan Tuan," ucap Bibi Mar setelah Ia meletakkan semua makanan di atas meja.


"Terimakasih Bi." Eric menyunggingkan sebuah senyuman, Bibi Mar membalas ucapan Eric dengan menganggukkan kepala dan tersenyum tulus kepada Eric.


"Kamu mengundang kakak sebenarnya ada apa Erin?" Eric seolah tahu tujuan Erina mengundang kakaknya kerumahnya.


Arga dan Erina saling pandang, Arga menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyuman. Eric yang menangkap pemandangan ganjil mereka berdua merasa sedikit curiga.


Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan? Ada apa sebenarnya? gumam Eric dalam hati.


Erina mendesah pelan, Ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk memberitahukan tentang Clarissa.


"Apa ini mengenai Clarissa?" tebak Eric. Arga dan Erina terkejut dengan tebakan Eric yang tak meleset sedikitpun.


"Entah ini hanya perasaan ku saja atau sesuatu yang ganjil. Setelah kamu melihat foto Clarissa yang aku tunjukkan saat kamu pulang kemarin, kamu terlihat sangat terkejut Erin. Tapi waktu itu kamu menjawab kamu tak mengenalnya, dan itu membuat ku semakin penasaran. Karena kamu bukan lah gadis yang pandai berbohong." Eric menjeda kalimatnya.


"Apa kalian mengenal Clarissa?" tanya Eric, Ia memandang secara bergantian ke arah Erina dan Arga.


Suasana hening sesaat,


"Iya, kami mengenalnya kak? Aku bingung harus memulai darimana," ucap Erina, Ia menggigit bibir bawahnya.


"Bicaralah ... aku akan mendengarkan semua yang kamu katakan Erin," kata Eric.


Ada perasaan lega di hati Erina, setidaknya dia masih ada harapan untuk di percaya oleh kakaknya.


Eric terdiam, ada perasaan tak nyaman dengan pernyataan Arga. Ia ingin menyanggahnya, tapi seperti nya adik iparnya itu bicara yang sebenarnya.


"Apa tujuan Clarissa merencanakan semua ini?" suara laki-laki itu terdengar datar, namun hatinya terasa sesak.


Arga menyerahkan sebuah map berwarna coklat yang sedari tadi sudah Ia siapkan di meja ruang tamu, Eric segera menerima map itu dan membuka nya secara perlahan.


Eric membaca lembar demi lembar kertas yang tersusun rapi di dalam map tersebut, mata Eric menangkap sesuatu di lembaran ketiga. Map yang berisi tentang bukti kelicikan yang sudah Clarissa lakukan pada Erina, seolah membuka mata hati Eric.


Dadanya bergemuruh, emosinya seakan menjalar naik. Tangannya mengepal kesal, setiap membaca poin-poin utama dalam lembaran itu.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita pada kakak Erin?" tanya Eric setelah membaca lembaran terakhir di map itu.


"A-aku tak sanggup kak," lirih Erina.


"Dia bahkan sudah menculik dan membunuh bayi dalam kandunganmu, kenapa kamu tak menceritakan semua ini pada kakak?" Eric memejamkan mata, menahan sesak yang semakin memenuhi dadanya.


"Kakak ...." suara Erina tertahan, airmatanya segera tumpah begitu kakaknya mengungkit tentang masalah penculikan yang pernah Ia alami itu.


Eric bangkit dari tempat duduknya, Ia berjalan menuju Erina, Erina pun melakukan hal yang sama. Ia segera memeluk erat kakaknya, Erina menangis tersedu di dada Eric.


Arga mendesah kasar, Ia tak mungkin marah dalam situasi seperti ini. Ia segera memalingkan pandangan ke sembarang arah untuk meredam rasa cemburu yang terlihat aneh bagi sebagian orang, tapi itulah yang di alaminya. Ia tak rela istrinya di sentuh oleh laki-laki lain.


"Kamu tidak usah khawatir Erin, aku tau apa yang harus aku lakukan." Eric mengelus pelan rambut Erina, sebuah pemandangan yang tulus dari seorang kakak kepada adiknya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Cafe Te Amo


Eric sudah berada di Cafe, tempat bertemu dengan Clarissa. Clarissa terlihat sudah menunggu di ujung cafe tersebut, gadis itu melambaikan tangan pada Eric. Ia segera menghampiri Clarissa dan duduk di hadapan gadis itu.


Tak ada perubahan pada raut wajah Eric, pembawaannya tetap tenang. Seolah tak terjadi apapun pada hatinya.


Clarissa tampak begitu cantik, Ia mengenakan dress berwarna putih tanpa lengan. Sehingga memperlihatkan kulitnya yang putih bersinar, Ia mengulas senyum kepada Eric. Gadis itu tertegun dengan penampilan laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Laki-laki yang sudah mengisi relung hatinya beberapa bulan terakhir, perasaan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Sekalipun itu terhadap Rendra mau pun Arga, perasaannya terhadap Eric sangat berbeda. Eric sudah mengalihkan semua nya, bahkan tentang balas dendam yang saat ini sudah 50% terealisasikan. Clarissa lebih berpusat pada perasaannya pada Eric, laki-laki yang selalu berpikir dewasa dan sangat bertanggung jawab terhadap apapun yang Ia kerjakan.


Clarissa bahkan sudah lupa bahwa dia adalah kakak dari seorang Erina, seorang gadis yang sangat Ia benci. Bahkan rasa bencinya sudah mengakar di hatinya.


"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Eric membuka percakapan.


"Tidak, baru beberapa menit yang lalu," jawab Clarissa sambil mengulum senyum.


Percakapan mereka terhenti, seorang waitress menghampiri meja mereka. Eric dan Clarissa memesan dua minuman dan beberapa kudapan.


Beberapa menit kemudian waitress tersebut sudah membawakan satu nampan pesanan mereka berdua.


Eric segera menyesap coklat hangat pesanannya, minuman kesukaannya sama dengan Erina 'coklat hangat'.


"Apa ada sesuatu hal yang penting yang ingin kamu sampaikan Cla?" tanya Eric.


"Ehmm ... masalah itu, aku ingin mengajakmu pergi ke London. Pergi menemui mommy dan daddy," ucap Clarissa. Ia tersenyum, senyuman yang sebelumnya membuat Eric terpukau. Namun kini, senyuman itu terasa begitu menyakitkan bagi Eric.


Sungguh kini kamu seperti orang asing bagiku Cla, perbuatanmu terhadap Erina membuatku ingin segera mengakhiri semua ini. gumam Eric dalam hati.


Eric mendesah lirih, "Maaf Cla, pekerjaan ku benar-benar menumpuk beberapa hari ini. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja," dalih Eric. Eric menolak ajakan Clarissa untuk bertemu kedua orangtuanya yang berada di London, mungkin jika Eric belum mengetahui kebenaran tentang Clarissa. Ia akan menyambut dengan senang hati ajakan gadis itu, tapi setelah kebenaran itu terungkap. Rasanya seperti hal yang tak akan mungkin di lakukan olehnya.


Eric mempunyai banyak rencana di kepalanya, Ia menimang kembali tawaran Arga untuk bergabung di perusahaan Montana Grup, Ia harus segera mengambil keputusan dan mengakhiri permainan yang di buat oleh Clarissa.


Clarissa begitu pintar bermain dengan perasaannya, Ia bahkan terlihat begitu tulus menerima Eric. Tapi kini setelah semuanya terungkap, Eric seolah menekan dalam-dalam perasaannya. Menepis semua kenangan yang telah terukir indah di sudut hatinya, menyesakkan. Tentu sangat menyesakkan, tapi inilah kenyataannya. Begitu pikir Eric.


Clarissa tampak begitu kecewa dengan penolakan Eric, namun bukan Clarissa namanya jika Ia menyerah begitu saja. Clarissa tak kenal kata penolakkan, semua yang Ia inginkan selalu Ia dapat. Kecuali Arga, ya kecuali seorang Arga Hutama yang saat ini sangat sulit Ia raih.


"Aku akan bicara kepada Ivanka, kamu bisa ambil cuti kapanpun kamu mau," ucap Clarissa. Ivanka adalah sahabat Clarissa sekaligus wakil PresDir di tempat Eric bekerja.


"Tidak ... Aku tidak suka mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, kamu tau kan tentang itu?" tukas Eric. Laki-laki itu sangat professional dalam bekerja.


Clarissa masih mencoba untuk mencari cara agar Eric mau ikut terbang dengannya ke London.


"Aku masih ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan, aku pergi dulu." Eric segera bangkit dari tempat duduknya.


Clarissa yang tak punya cara lain, masih berusaha untuk menahan kepergian Eric.


"Jangan pergi dulu aku mohon," pinta Clarissa.


Tapi hati Eric telah tertutup, ucapan gadis itu tak lagi menenangkan hatinya. Ia tetap memilih meninggalkan Clarissa.


"Baiklah, jika kamu memang tidak bisa. Tapi aku harap lain hari kamu mau aku ajak untuk bertemu dengan kedua orangtuaku," tutur Clarissa dengan suara tertahan.


Eric hanya mengulas senyuman, Ia tak mengiyakan juga tidak menolak. Ia seolah menggantung ajakan Clarissa.

__ADS_1


Laki-laki itu terus berlalu meninggalkan Clarissa seorang diri di kafe, gadis itu merasa Eric sedikit berubah. Namun, pikiran itu segera Ia tepiskan jauh-jauh. Clarissa mencoba tersenyum walau hatinya resah tak menentu.


Bersambung


__ADS_2