
Arga masih berdiri di antara kerumunan para manusia yang sedang kehausan, menunggu giliran untuk memesan minuman yang mereka inginkan. Arga terlihat sangat tak nyaman, beberapa kali dia harus menggeser tubuhnya ke kebelakang agar tidak bersentuhan dengan orang lain.
Seorang gadis yang sedari tadi terus mengawasi Arga berbisik pelan. Mereka adalah Office Girl di perusahaan Arga, mereka adalah Ria dan Eni. Mereka tak menyadari bahwa cowok di sebelahnya adalah Bos mereka.
"Eh ... lihat deh, cowok sebelahmu ganteng banget ya." seru Eni kepada Ria yang berada tepat di sebelah Arga dengan mata berbinar-binar melihat ke arah Arga. Ria segera menoleh ke Arga, dia begitu terkejut sampai-sampai dia harus menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar mulutnya tak bersuara.
Ria segera melemparkan pandangan kepada Eni dengan membelalakkan matanya.
"Kamu kenapa .... ?" tanya Eni heran.
Ria mendelik ke arah Eni, tangannya mengacung ke arah mulutnya.
"Pelan kan suaramu .... " ucap Ria sangat lirih. Eni hanya menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal.
Ria segera meraih ponsel di tangannya, jarinya dengan lincah berlarian di atas layar ponselnya. Ponsel Eni berbunyi, dengan cepat dia menggeser layar ponselnya dan segera membuka pesan yang baru saja ia Terima.
"Tinggal bilang aja apa susahnya sih, kenapa pake kirim pesan segala coba .... " Gerutu Eni dengan mata masih menatap layar ponselnya.
Isi pesan itu 'Jangan keras-keras bicara mu, sebelah ku itu Tuan Arga Hutama. Presdir tempat kita bekerja tau .... ' seketika mata Eni langsung terbelalak setelah membaca isi pesan Ria. Dengan tanpa sadar mulutnya bersuara.
"Apa ... Tuan Arga Hutama?" teriak Eni, Ria yang sadar akan kebodohan temannya segera membungkam mulutnya.
Semua orang langsung memperhatikan mereka berdua, tak terkecuali Arga sendiri. Dia segera menengok ke arah suara yang ia dengar, Arga mengernyitkan keningnya. Beberapa orang yang berada pada antrian tersebut langsung menyadari keberadaan Arga.
"Maafkan teman saya Tuan .... " Ria menundukkan kepala kepada Arga. Sekali lagi Arga masih bingung dengan situasi yang terjadi.
Dan belum selesai kebingungan Arga, ada seseorang yang berteriak.
"Wah, beruntungnya kita bisa bertemu secara langsung orang kaya di negeri kita." ucap salah seorang yang berada di kerumunan. Sontak semua memandang Arga dengan tatapan bahagia karna bisa bertemu secara langsung tanpa ada pengawalan dari para bodyguard, dan bodyguard yang dari tadi mengawasi Arga dari kejauhan langsung berlari mendekat.
"Maafkan kelalaian kami Tuan." ucap salah satu bodyguard yang merasa dirinya sudah lalai dalam menjalankan tugas, mereka yang berjumlah lima orang segera membentuk lingkaran memutari Arga. Orang yang berada di kerumunan sontak menjadi riuh. Arga yang merasa dirinya baik-baik saja, dan justru terlihat senang karena walaupun sudah berdandan ala rakyat jelata tapi masih bisa dikenali juga oleh orang lain.
"Sudah tidak apa-apa, kalian melakukan tugas dengan baik." serunya kepada para bodyguard nya. Kerumunan yang tadi membentuk antrian memanjang ke belakang kini berganti mengeremuni Arga. Mereka melupakan rasa haus mereka, suatu kesempatan yang bahkan tak akan datang datang dua kali untuk bertemu seorang presdir perusahaan ternama di negeri ini.
"Baiklah, karena kalian telah berbaik hati. Maka silahkan ambil minuman secara gratis, aku akan membayar semua minuman di stand ini. Tapi ada satu syarat, berikan aku dua gelas terlebih dulu." sontak semua bersorak sorai karena merasa senang dengan ucapan Arga. Arga tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala sangat bangga dengan dirinya sendiri (karena Arga narsisnya gak ketulungan. Haha), Arga berjalan mendekat ke arah stand untuk mengambil minuman nya.
Karena stand itu tidak menyediakan mesin EDC, maka Arga mengeluarkan cek yang sudah di siapkan oleh anak buahnya. Arga menyerahkan cek kepada penjual minuman itu. Penjual minuman melongo melihat jumlah yang tertera pada cek, Arga yang melihat eksperi wajah penjual itu segera bertanya.
"Kurang ya .... ?" tanya Arga memastikan.
"Ti ... tidak Tuan, ini bahkan nominal yang sangat besar bagi saya." ucapnya masih tidak percaya dengan cek yang baru saja ia Terima. Sebuah nominal yang fantastis jumlahnya untuk sebuah minuman, cek tersebut tertera nominal 50 juta.
"Ya sudah, anggap saja kamu mendapat bonus hari ini." ucap Arga seraya mengambil minuman dan berlalu meninggalkan stand dan kerumunan orang yang mengaguminya.
"Terima kasih Tuan ... Terima kasih banyak." ucap penjual itu. Arga hanya melambaikan tangan dan tersenyum simpul, Arga terus berjalan meninggalkan stand. Arga memberi instruksi kepada para bodyguard nya untuk menjauhinya lagi, para bodyguard nya hanya menganggukkan kepala dan segera pergi meninggalkan Arga.
"Erina pasti akan sangat bangga denganku, karena aku berhasil mengantri segelas minuman untuknya." ucapnya tersenyum melihat gelas yang sedang ia bawa. Langkah Arga segera terhenti ketika melihat Erina sedang dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu, berani sekali mengganggu Erinaku." raut wajah Arga seketika menjadi kesal. Arga mendekati Erina dan laki-laki itu, laki-laki itu tak lain adalah Bima.
"Ehemm .... " suara nya segera mengagetkan Erina dan Bima. Bima terlihat celingukan karena mendapati Arga sudah datang.
***
Flashback On
Kejadian sebelum Arga datang menghampiri Erina.
Erina yang tengah sibuk dengan gambar Arga di ponsel nya seketika langsung mendongakkan kepala ketika ada laki-laki yang menyapanya, Erina terlihat shock saat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu tak lain adalah Bima mantan kekasih Erina. Bukan kali pertama ini Erina bertemu dengan Bima sejak mereka putus satu tahun yang lalu. Tapi kali ini terlihat berbeda, Erina merasakan suatu hal aneh dengan hatinya. Erina segera berdiri dari tempat duduknya dan mencoba tersenyum walaupun sedikit di paksakan.
"Bima .... " sapa Erina pelan.
Bima yang tak melihat Tuan Arga di sekitar Erina, segera memberanikan diri untuk sekedar basa basi dengan Erina.
"Kamu bagaimana kabarnya Erin?" tanya Bima dengan raut wajah yang terlihat sangat senang karena bisa bertemu dengan Erina lagi.
"Baik ... kamu bagaimana kabarnya? Kamu sama siapa kesini?" tanya Erina balik. Erina mengedarkan pandangan nya.
"Aku ... bersama tunangan ku Rin." ucapnya lirih, bahkan hampir tak terdengar.
"Dia sedang ke toilet." lanjutnya sambil menunjuk toilet yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Erina menganggukkan kepala dan mengatupkan bibirnya, entah kenapa jawaban Bima membuatnya sedikit tak nyaman. Namun segera ditepis kan oleh Erina.
Flashback Off
Suara deheman Arga membuat Bima sedikit terkejut, dia segera mundur beberapa langkah menjauh dari Erina. Erina merasa tak nyaman dengan situasi ini, dia memutar bola matanya mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Pandangan Arga tampak sinis ke arah Erina dan Bima.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Arga menyelidik. Pandangannya tampak sangat tak senang kepada Bima.
"Maaf Tuan, saya baru saja datang. Saya menunggu tunangan saya yang pergi ke toilet dan tak sengaja melihat Erina duduk sendirian disini. Jadi saya kesini hanya untuk menyapanya." jelas Bima kepada Arga. Arga masih tak puas dengan jawaban Bima.
"Siapa yang sudah menyuruhmu berbicara dengan Erinaku .... ?" ucapnya ketus.
"Sayang ... kita hanya ngobrol basa basi aja kok." sela Erina mencoba untuk mencairkan keadaan, tapi Arga terlihat semakin geram.
"Kita .... ?" tanya Arga tak senang.
"Memang apa hubunganmu dengan dia sampai kamu berani menyebut kita?" ucap Arga dengan nada tinggi. Erina menggigit bibir bawahnya, dia bingung harus menjawab apa.
Bima ingin mencoba membantu menjelaskan tapi di saat itu, tunangannya menghampirinya.
"Sayang, maaf ya lama." ucapnya kepada Bima, tunangan Bima mengedarkan pandangan kepada Arga dan Erina. Dia mengulurkan tangan kepada Erina.
__ADS_1
"Hai mbk ... salam kenal. Saya Nadia tunangannya mas Bima." ucapnya sambil tersenyum manis kepada Erina, Erina segera meraih tangan Nadia dan tersenyum. Erina memandang lekat-lekat wajah Nadia, Erina merasa Nadia berbeda dengan gadis yang di pesta dulu.
"Saya Erina ... dan ini suami saya Tuan Arga." seru Erina. Arga segera melirik Erina, sedikit tak senang karena Erina memanggilnya Tuan.
Nadia segera membungkam mulutnya sendiri, dia terlihat terkejut.
"Ya ampun, saya sangat senang sekali bertemu secara langsung dengan anda nona Erina dan Tuan Arga." ucap Nadia dengan mata berbinar-binar.
"Bukankah dulu kita pernah bertemu di pesta pak Suryo?" Arga memicingkan matanya, ingatannya tak lupa akan kejadian itu.
"Maaf Tuan ... dia gadis yang berbeda, saya sudah putus dengannya dan sekarang Nadia adalah tunangan saya." Bima tersenyum ke arah Nadia, Nadia membalas senyuman Bima dan meraih lengan Bima. Dia bergelayut manja di lengan Bima. Ada perasaan getir dirasakan Erina.
"Oh iya, kalian juga akan melangsungkan pernikahan seminggu lagi ya. Saya sudah menerima undangan kalian." ucap Arga.
Deggg ....
Kali ini perasaan Erina benar-benar tak nyaman, Arga melirik ke arah Erina. Ada sesuatu yang berbeda dengan Erina.
"Jangan lupa untuk datang ya Tuan dan nona." ucap Nadia bersemangat. Arga hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepada mereka berdua. Ada rasa sakit di hati Arga melihat perubahan di wajah Erina.
"Kami pamit dulu, selamat bersenang-senang." seru Bima. Bima segera meraih tangan Nadia dan berlalu meninggalkan Arga dan Erina.
Erina masih menatap punggung Bima dan Nadia yang mulai pergi menjauh, Erina bernafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Arga yang masih mengamati Erina, merasa ada sesuatu yang dirasakan Erina.
"Kamu masih menyukainya?" tanya Arga tanpa basa basi. Tatapan mata Arga sangat tajam menusuk hati Erina, Erina merasa tak sanggup menatap wajah suaminya kali ini.
"Ti ... tidak, aku sudah tak mempunyai perasaan apa-apa padanya." ucap Erina sambil menundukkan kepala.
"Bohong ... tatap mataku dan jawab jujur pertanyaan ku." seru Arga dengan nada tinggi.
Erina terkejut karena baru kali ini Arga membentaknya, Erina hanya mengatupkan kedua bibirnya.
"Aku tak bohong sayang." ucapnya lirih, dia mengerahkan semua keberaniannya untuk memandang wajah Arga.
Cih,
"Aku bahkan sudah mendapat jawabannya." raut wajah Arga tampak sangat kesal.
"Ayo kita pulang .... " Arga menarik tangan Erina dengan kasar.
***
Di sepanjang perjalanan Arga hanya diam, dia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Erina sesekali melirik ke arah Arga, Erina bingung bagaimana menjelaskannya.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai dirumah. Arga berjalan masuk terlebih dahulu dengan langkah cepat, Erina berjalan dengan menundukkan kepala. Mencoba menyusun kata yang tepat untuk suaminya.
Erina masih berada di ruang tengah, dia sangat bingung dan tak berani masuk ke kamarnya. Arga sudah terlihat rapi, Erina tampak terkejut karena Arga berlalu meninggalkannya tanpa berkata sepatah katapun.
__ADS_1
Bersambung