
Ya Tuhan, aku mohon selamatkanlah aku. Aku benar-benar takut sekali, siapapun itu. Aku mohon datanglah kesini untuk menyelamatkan ku, gumam Anggen. Ia terus berdoa dalam hati.
Sekejap pikiran Anggen langsung mengingat pada sosok Eric yang selalu datang di saat Ia membutuhkan pertolongan. Kali ini, sekalipun hal itu adalah suatu yang tidak mungkin. Tapi Anggen sangat berharap Eric datang untuk menyelamatkan nya.
"Sayang, cintaku pada mu tetaplah sama
seperti dahulu. Tak ada yang berubah sedikitpun, hanya saja melihat mu dengan laki-laki lain. Membuatku sangat cemburu, cemburu sekali. Jika aku bertemu dengan kekasihmu itu lagi, aku tak akan segan-segan untuk menghabisinya. Berani-beraninya dia merebutmu dariku! Anggen hanya milikku seorang." Kalimat terakhir Burhan penuh penekanan, dia ingin menegaskan bahwa tak ada yang boleh mendekati Anggen.
"Kak ... ku mohon jangan begini, hubungan kita sudah berakhir. Ku mohon lepaskan aku." Anggen mencoba memohon kepada Burhan, tapi laki-laki itu sudah dipenuhi hawa nafsunya. Ia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
"Kenapa aku harus melepaskanmu? Apakah kamu sudah tidak merasakan cintaku pada mu, hah!" pekik Burhan dengan mata berkilat menahan amarah.
Anggen semakin ketakutan, Ia meringkuk dengan bersandar pada tembok yang sudah berubah warna itu. Tubuhnya menggigil ketakutan.
Burhan semakin mendekatinya, tangannya dengan kasar menarik baju yang dikenakan Anggen, gadis itu dengan susah payah mencoba menahan tangan Burhan. Namun, usahanya semakin sia-sia, laki-laki itu berhasil merobek baju yang dikenakannya.
"Tolong ... Ku mohon ... tolong aku." Anggen berteriak sekencang mungkin, Ia berharap ada seseorang yang akan menolongnya.
Burhan segera membekap mulut gadis itu, salah satu tangannya mencengkram kedua tangan Anggen dan menarik nya ke atas. Laki-laki itu sudah berada di atas Anggen, gadis itu masih mencoba untuk memberontak, tapi tubuhnya semakin sulit untuk bergerak. Karena tubuh Burhan yang besar sudah menindihnya.
Braaaakkkk ....
Terdengar suara pintu terbuka secara paksa,
Burhan tampak terkesiap. Namun, Ia masih tak melepaskan tubuh Anggen. Sosok laki-laki samar terlihat oleh Anggen, gadis itu mengucap syukur dalam hati.
__ADS_1
Ya Tuhan, terimakasih. Engkau kirim malaikat untuk menolongku, gumam Anggen dalam hati.
Laki-laki itu berjalan mendekat, Anggen begitu terkesiap melihat laki-laki yang sudah menjadi penolongnya saat ini. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Pikiran itu terus muncul dalam kepala Anggen.
Tuan Eric, gumam Anggen.
Sorot mata Eric tajam menatap Burhan yang masih berada di atas tubuh Anggen, Eric terkejut mendapati tubuh Anggen yang hampir bertelanjang dada.
Eric segera menyeret Burhan, Ia segera melayangkan pukulan ke wajah laki-laki itu secara bertubi-tubi. Burhan mencoba melawan, tapi segera ditepis oleh Eric.
Anggen segera bangun dan menutup tubuhnya dengan baju yang sudah dirobek oleh Burhan, Pak Sam berjalan mendekati Eric. Karena mengingat pesan dari Tuannya.
"Biarkan kak Eric nanti yang menyelamatkan gadis senam ibu hamil itu, aku ingin melancarkan aksi istriku yang berniat ingin menjodohkan kak Eric dengan gadis itu. Terdengar konyol bukan, tapi ini perintah istriku. Dan aku tak bisa menolaknya," ucapan Arga seperti rekaman yang terus berputar di kepala Pak Sam.
Eric menganggukkan kepala mengiyakan permintaan Pak Sam, tapi sebelum Ia berjalan mendekati Anggen. Laki-laki yang mempunyai lesung pipi itu, memberikan pukulan keras di perut Burhan. Burhan tampak kesakitan.
🍁🍁🍁
Anggen masih terlihat sangat ketakutan, Eric mendekatinya dengan pelan-pelan. Laki-laki itu, memberikan jas yang sedari tadi sudah dilepasnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Eric.
Padahal aku sangat berharap gadis yang aku selamatkan bukan Anggen kamu, tapi ternyata Anggen itu adalah kamu. Aku mohon jangan lemah lagi mulai saat ini, kamu terlalu polos untuk di sakiti, gumam Eric dalam hati.
__ADS_1
Anggen hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah, gadis itu benar-benar merasa malu saat ini.
Eric membantu Anggen mengenakan jasnya, "Mari Aku bantu," ucap Eric. Dengan cepat Eric menutupi tubuh Anggen dengan jasnya.
Laki-laki itu, melingkarkan tangannya di pundak Anggen, gadis itu tampak terkesiap. Tapi entah kenapa, rasanya tangan kokoh yang melingkar di pundaknya terasa sangat nyaman sekali.
🍁🍁🍁
Suasana di Mobil
"Terimakasih ... terimakasih," ucap Anggen berulang kali. Gadis itu menatap Eric dengan mata berkaca-kaca.
Eric tampak terkejut, Ia yang sedang duduk di sebelah Anggen segera menoleh ke arah gadis itu. Arga sengaja meminta Eric untuk naik mobilnya dan diantar oleh sopir pribadinya, setidaknya ini juga salah satu dari rencananya untuk mendekatkan Anggen dengan Eric.
"Tidak usah berterimakasih, Aku melakukan yang harus Aku lakukan," jawab Eric dengan mengulas senyum.
Airmata Anggen kembali lolos dari kedua sudut matanya, gadis itu begitu terharu. Ia bahkan tak akan tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika Eric tidak datang menyelamatkan nya.
"Jika kamu butuh sesuatu untuk bersandar, bahuku terasa nyaman untuk tempat menangis," seloroh Eric mencoba mencairkan suasana.
Anggen tersenyum, entah kenapa Ia seolah tak ingin menolak tawaran laki-laki disampingnya itu. Ia segera menyandarkan kepalanya di pundak Eric, laki-laki yang memiliki mata indah itu tampak terkesiap. Ia tak menyangka Anggen akan menerima tawarannya.
Eric tampak ragu untuk melingkarkan tangannya di bahu Anggen, tapi segera Ia tepiskan keraguannya. Ia segera melingkarkan tangannya di pundak gadis itu, Anggen terdiam. Sekali lagi Anggen merasakan kenyamanan di lengan kekar Eric. Suasana hening, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung ....