
Eric sudah sampai di depan rumah Anggen, rumah gadis itu tampak sepi. Laki-laki itu tampak duduk di depan teras rumah Anggen, Ia dengan sabar menanti kehadiran gadis manis yang sudah menyita pikirannya beberapa hari ini.
Hampir lima belas menit Eric menunggu di depan rumah Anggen, Eric masih tak bergeming. Ia tetap dengan sabar menanti kehadiran gadis yang berprofesi menjadi instruktur senam hamil tersebut.
Beberapa menit kemudian Anggen tampak berjalan menuju rumahnya, Ia tampak terkejut. Karena melihat Eric duduk dengan menopang dagu di depan teras rumahnya.
"Kak Eric," serunya lirih.
Eric menyadari kehadiran Anggen, Ia segera menoleh ke arah Anggen dan menyunggingkan sebuah senyuman ke arah gadis itu. Lalu Ia berdiri menyambut kedatangan gadis yang saat itu sedang mengenakan kacamata dan kemeja kotak-kotak.
"Apa ada sesuatu yang penting, sampai kak Eric menungguku disini?" Anggen tampak masih tak percaya laki-laki itu menunggunya.
"Iya, kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan siang," ajak Eric.
Ia merasa senang dengan tawaran Eric, bagaimana bisa Ia menolak orang yang sudah menolong hidupnya. Anggen bahkan berpikir untuk membalas budi baik Eric, tapi dengan cara seperti apa itu yang masih belum terpikirkan olehnya.
"Bagaimana, apa kamu mau menerima tawaranku? Jika kamu tidak mau, juga tidak apa-apa. Aku tak bisa memaksa, hanya saja. Aku berharap kali ini kamu tak menolaknya," ucap Eric. Raut wajahnya tampak santai, tapi dalam hatinya sangat berharap Anggen tak akan menolak ajakannya.
"Baiklah, kita tidak boleh menolak rejeki bukan. Dan sekarang aku sudah merasa lapar, jadi ini seperti kata pepatah 'Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba'." Anggen terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Deeggggg ....
__ADS_1
Jantung Eric rasanya berhenti berdetak ketika melihat Anggen tertawa lepas di hadapannya, laki-laki itu seolah terhipnotis. Tubuhnya bergeming menatap wajah Anggen yang terlihat polos, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
Anggen tersadar, ucapannya benar-benar tak lucu. Ia menatap Eric yang masih diam mematung mengawasinya, meskipun laki-laki itu tampak tersenyum tipis. Tapi Anggen tampak canggung karena leluconnya yang terdengar garing untuk orang lain, sungguh selera humornya sangat rendah.
"Kenapa berhenti?" ledek Eric sambil mengulas senyum.
Anggen mengerucutkan bibirnya, "Kak Eric begitu ah, selera humorku sungguh sangat buruk ya?"
"Tidak ada yang bilang buruk kan? Cuma kurang lucu," cetus Eric sambil berlari kecil menuju mobilnya. "Kenapa malah bengong? Nanti aku berubah pikiran lho, kamu gak jadi 'Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba' jadinya." Eric mulai senang menggoda Anggen, Ia tampak begitu menikmati ketika gadis itu merajuk kepadanya.
"Kak Eric nyebelin."
Anggen berdecak kesal, Ia segera berlari menghampiri Eric. Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil untuk menghindari amukan si Anggen. Mereka berdua tampak seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran.
Kebahagiaan yang dirasakan Eric ternyata mengundang penasaran orang lain, seperti yang di lakukan laki-laki yang berada tak jauh dari tempat mereka berdua. Laki-laki misterius itu kembali mengabadikan momen kebersamaan Anggen dan Eric. Ia terlihat beberapa kali mengambil gambar mereka berdua.
Sementara itu, di sebuah kamar yang bergaya classic dan di dominasi dengan warna gold yang tampak begitu mewah nan elegan. Tampak seorang gadis yang terlihat begitu kesal sekali. Gadis itu membuang semua barang yang berada di meja riasnya, Ia berteriak untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Aaaaarrrggggh ...."
Napasnya terengah-engah, matanya berkilat dan bibirnya gemetar menahan sesak yang mulai memenuhi dadanya.
"Gadis itu, aku tak akan biarkan dia bersama dengan Eric. Aku tak relaaaa ...."
__ADS_1
"Aku akan buat perhitungan dengannya, siapapun tak ada yang boleh memiliki Eric selain aku!"
Gadis yang memiliki paras cantik dengan rambut terurai itu berteriak di dalam kamarnya, ponsel yang baru saja Ia lihat. Kini menjadi beberapa keping, akibat dibanting oleh si empunya.
Gadis cantik itu adalah Clarissa, Ia yang mengutus seseorang untuk memata-matai gadis yang tengah dekat dengan Eric.
Clarissa masih memendam rasa kepada Eric, bahkan sekarang rasa cinta itu seolah berubah menjadi sebuah rasa yang tak ingin melepaskan.
Sebuah cinta yang berujung obsesi, kini tengah di rasakan Clarissa. Sakit, tentu saja sangat sakit rasanya. Hampir setiap hari dia termenung. Namun, dia adalah Clarissa. Tak ada yang tidak mungkin bagi nya, Arga sudah lepas dari cengkramannya. Berganti dengan iparnya, sungguh gadis yang malang. Mengharap pada suatu yang tak pasti.
Tak ada rasa jerah bagi nya untuk mengejar cinta seorang laki-laki, baginya apa yang dia sukai. Harus Ia perjuangkan, sekalipun harus dengan menyingkirkan orang lain untuk memuluskan niatnya. Bukan simpati tapi kebencian yang akan muncul, seperti yang dirasakan Arga saat ini.
Laki-laki itu bahkan kini menganggapnya sebagai duri di kehidupannya, sungguh ironi. Cinta sudah membutakan mata hatinya, dan menyingkirkan semua kebaikan yang ada pada dirinya.
Bukankah cinta itu anugrah? Lantas bagaimana dengan mereka yang tersiksa karena cinta? Obsesi dan cinta memang kadang selalu datang beriringan, tergantung bagaimana kita menyikapi perasaan kita. Bijak dalam bercinta adalah sebuah keharusan, agar kita tidak terperangkap dalam rasa yang salah.
Clarissa terduduk di lantai, Ia memeluk erat kedua lututnya. Gadis itu membenamkan wajahnya pada lututnya, Ia menangis sejadi-jadinya. Menangisi kisah cintanya yang tak pernah berpihak padanya. Dia cantik, pintar dan juga kaya. Tapi bukankah cinta memang tak bisa dibeli dengan uang? Hanya mereka yang berhati tulus yang akan merasakan kehadiran cinta yang sesungguhnya.
Bersambung ....
πππ
Sambil menunggu up, mampir di novel kakak online author yang super kocak ya. Cerita si Zeno Anzaylani yang memiliki misi balas dendam pada keluarga Wijaya, namun Zeno jadi dilema Karna jatuh Cinta pada anak musuhnya. Penasaran, kuy simak di Balas Dendam Cowok Kampungan by Linanda Anggen aka demenan kak Eric. π
__ADS_1
Simak juga perjuangan si cantik Alice untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Raymond dari gangguan si pelakor Greta. Penasaran, kuy simak di Terpaksa Menikahi CEO Arogan by Eka Praditaπ