
"Nona Erina." Gea nampak terkejut dengan kedatangan Erina di rumah nya.
Dia mempersilahkan Erina, Arga dan Pak Sam untuk masuk ke dalam rumah nya, Ia merasa tak enak hati.
"Nona, Tuan silahkan masuk. Maaf rumah saya sangat kecil dan maaf jika membuat Nona dan Tuan tidak nyaman." lirih Gea, Ia berjalan masuk ke dalam rumah nya, di ikuti dengan Erina, Arga Dan Pak Sam.
Rumah berlantai keramik bercorak mirip dengan potongan kayu itu terlihat sangat nyaman sekali, di tengah ruangan terdapat beberapa sofa berwarna abu-abu yang saling berhadapan. Dan sebuah karpet dengan warna senada dengan warna sofa nya, memberi kesan hangat untuk siapa saja yang melihat ruang tamu milik keluarga Gea ini.
"Terimakasih Gea, kamu tak usah sungkan seperti itu." ucap Erina seraya menjatuhkan tubuh nya di sofa empuk itu, Arga pun melakukan hal yang sama seperti Erina. Pak Sam memilih duduk di Kursi kayu di sebelah Arga.
Erina dan Arga tak terlihat canggung sedikit pun, berbeda dengan Gea yang sangat kikuk berhadapan langsung dengan taipan kaya di rumah kecil nya itu.
Seorang perempuan yang nampak lebih tua dari Gea datang dengan membawa nampan berisi dua buah toples camilan dan empat cangkir minuman. Ia meletakkan dengan hati-hati cangkir di depan Erina, Arga dan Pak Sam.
"Silahkan Tuan dan Nona, maaf kami hanya bisa menyuguhkan makanan ala kadarnya. Saya harap Nona mau mencicipinya." kata perempuan berlesung pipi itu.
"Terimakasih banyak, maaf kami jadi merepotkan." ucap Erina sambil mengulas senyuman.
"Tidak, sama sekali tidak merepotkan Nona. Justru saya merasa sangat senang Nona Erina dan Tuan Arga sudah datang ke rumah kecil kami." tutur Gea sambil melirik ke arah perempuan yang berdiri di samping Gea.
Erina mengulum senyum menatap kedua gadis yang Ada dihadapannya, "Apa dia kakakmu Gea? Kalian terlihat sangat mirip." tanya Erina sambil menatap Gea dan gadis berlesung pipi itu secara bergantian.
Gadis berambut panjang itu segera mengulurkan tangan kepada Erina, dan memperkenalkan dirinya.
"Saya Itta Zenata non, saya kakak Gea." ucap gadis bernama Itta.
"Senang sekali bisa bertemu dengan mbak Itta." tukas Erina sambil membalas uluran tangan Itta.
__ADS_1
Setelah bercengkrama dengan Erina, Itta pamit untuk kembali ke dapur. Menyelesaikan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Gea dan Itta adalah dua bersaudara, kebetulan saat itu orang tua mereka sedang berada di luar kota untuk berkunjung ke sanak Saudara nya. Sehingga di rumah hanya ada mereka berdua.
***
Erina sangat senang Gea baik-baik saja, dia tahu bahwa Gea adalah gadis yang luar biasa. Erina bahkan tak percaya gadis itu sudah membantu misi penyelamatan dirinya sendiri.
Sebelum berpamitan tadi, Erina sempat memeluk erat Gea. Dia sangat bersyukur Gea tak terluka sedikitpun, Erina tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Gea sewaktu di culik kemarin. Sebuah perasaan takut yang pernah hinggap di relung hati nya beberapa bulan yang lalu.
Gea merasa sangat tersanjung dengan perlakuan Erina terhadap nya, gadis itu tak menyangka bahwa seorang istri CEO perusahaan yang paling besar di negara nya. Sangat peduli terhadapnya, bahkan sampai menyempatkan untuk mampir ke rumah nya.
Dan yang membuat Gea begitu senang dan sekaligus terkejut hari itu adalah karena Arga memberikan penghargaan dan bonus berupa mobil suv yang diluncurkan oleh negara Sakura. Mobil yang diperkenalkan pada tahun 2016 itu sukses membuat Gea tak sadarkan diri selama beberapa menit, gadis itu bahkan mencubit beberapa kali lengan tangannya guna untuk menyadarkan dirinya. Bahwa Ia sedang tak bermimpi.
Suatu bonus yang sungguh luar biasa untuk Gea, namun hal biasa bagi laki-laki yang berstatus sebagai suami Erina itu. Bahkan harga mobil yang cukup fantastis itu seketika mampu membekap mulut Gea, sebuah nominal mendekati 500 juta untuk sebuah mobil suv yang kini sudah sah menjadi milik Gea.
***
Kediaman Arga Hutama
"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga." ucap Arga seraya mencium kening Erina, Erina hanya mengangguk pelan.
"Hati-hati sayang." seru Erina, ia melambaikan tangan kepada Arga lalu membalikkan tubuh nya untuk berjalan masuk ke dalam rumah nya.
***
Arga telah sampai di sebuah rumah, tempat Gerald di kurung oleh Pak Sam. Gerald nampak berbaring dengan tangan masih terborgol, layaknya sebuah narapidana yang sedang menunggu untuk di eksekusi.
__ADS_1
Laki-laki berwajah tampan dengan garis wajah yang tampak tegas itu berjalan mendekati Gerald, ia menepuk pelan pipi laki-laki yang sedang terlelap itu.
Gerald segera membuka kelopak mata nya, mengetahui Arga yang tengah berdiri di hadapan nya itu. Ia segera bangun dari tidur nya.
"Mr. Arga, ku mohon maaf kan atas kebodohanku. Aku .... " suara nya terhenti oleh kalimat Arga.
"Cukup ... rencana jahat selama nya tak akan bisa aku maaf kan. Kamu sudah berani mengusik kehidupan ku Mr. gerald, Aku bahkan bisa melenyapkanmu malam ini juga." tukas Arga, wajah nya masih tetap tenang.
Arga menjatuhkan tubuh nya di tepi tempat tidur Gerald, laki-laki tua itu nampak putus asa.
"Baiklah, ini semua memang kesalahan ku. Aku mengakui nya, dan sekarang silahkan lakukan semua sesuai keinginan anda Mr. Arga." Gerald tersenyum smirk, namun rasa khawatir masih terlihat jelas di kedua bola mata nya.
"Tapi aku ingin anda mengetahui suatu rahasiaku, rahasia yang menjadi sebab aku melakukan semua ini ...." ucap nya dengan suara tertahan, laki-laki paruh baya itu seperti sudah tak ada harapan untuk hidup. Dia tampak pasrah dengan takdir yang sedang Ia jalani saat ini.
"Tapi sayang nya, aku sama sekali tidak berminat mendengar celotehan mu Mister." tukas Arga, Ia tak ingin berlama-lama untuk berbasa basi.
"Ini adalah peringatan terakhir untuk mu Mr. Gerald, jangan pernah berani mengusik kehidupan ku lagi. Atau aku tak akan segan-segan membuat mu menyesal seumur hidupmu." ancam Arga, Ia menatap tajam manik biru milik laki-laki yang sudah terlihat lemah itu.
Arga bangkit dari duduk nya, Ia berjalan pelan menuju pintu keluar. Namun, suara Gerald tiba-tiba menghentikan langkah nya.
"Mr. Arga, setelah ini anda akan menjadi seorang ayah bukan? Dan setelah ini juga anda akan merasakan betapa bahagia nya menjadi seorang ayah, namun rasa itu perlahan akan sirna ketika anak yang kita sayangi tiba-tiba kehilangan harapan. Itu sungguh membuat kita dua kali lipat lebih tersakiti dari anak kita sendiri." cairan bening nampak sudah menyapu pipi Gerald yang sudah terlihat garis halus di sekitar pipi dan mata nya.
Arga masih berdiri di ambang pintu, Ia terlihat nampak terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut laki-laki bule itu.
"Katakan apa maksudmu?" seru Arga tiba-tiba.
Gerald mengulas senyuman. Dia seolah memiliki harapan lagi, Ia segera menatap Arga dengan tatapan yang sangat sulit untuk ditebak. Namun pandangan nya perlahan berubah menjadi sendu, sekilas terlihat kesedihan yang mendalam dalam manik biru laki-laki paruh baya itu. Sebuah kesedihan yang Ia sendiri tak bisa untuk mengobati kesedihan nya itu.
Bersambung
__ADS_1