The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 99


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.😊😊😊


Mendengar dirinya dan tuannya di gosipkan membuat William kembali naik pitam, "KALAU UDAH NGGAK MAU ADA DISINI SILAKAN PERGI, TAPI TINGGALKAN KEDUA TANGAN DAN KAKI KALIAN!!!"ancam William dari belakang dan tepat di telinga para penggosip itu.


*****


"Kamvret si Leon mana sih lama bener," batin William sambil mondar mandir di lorong.


Seseorang yang sama bertopengnya menghampiri William yang tengah mondar-mandir menunggu Leon datang.


"Siapa kamu?" tanya orang itu.


William tak menggubris pertanya dari orang itu.


"Yeee ... berani banget lu ngacangin gue," kata orang itu songong.


William melirik ke arah orang yang mengajaknya bertanya, "Banyak nyawa?" kata William singkat dan sinis.


"T-tuan William!!"


Orang itu memegangi topengnya sambil berlutut, "M-maafkan saya tuan William," ucap orang itu memohon pengampunan.


"Enyahlah."


Orang itu lantas lari terbirit-birit meninggalkan William yang kembali mondar-mandir. Karena sudah tak tahan menunggu kedatangan Leon akhirnya Dia menelfon Leon.


"Dimana?"


"Nganterin boss ke tempat nyonya bang sesuai perintah abang."


"Balik."


"Sekarang?"


"Ya."


"Oke."


William menutup ponselnya setelah menyampaikan semua pertanyaan yang panjang lebar. Dia kembali ke lapangan untuk memantau para junior yang sangat menjengkelkan untuknya.


Saat meninjau bagian Informatika yang berisikan para hacker jenius dia mendapati teman baiknya Benedict Robert yang sangat ia kenali walau memakai topeng sekali pun. Sahabat sedari dia mulai mengikuti Dhany dulu. Namun sejak beberapa bulan yang lalu hubunan mereka tengah berubah menjadi sangat buruk. Dan karena devisinya informatika membuat dia harus pergi menjadi mata-mata di sebuah geng kecil yang di duga sebagai biang onar.


"Yoo hay bro ... " sapa Ben sambil melambaikan tangan.


William berbalik arah dan tak menghiraukan sapaan dari Ben.


"Yak William!!! mau kemana lo?" teriak Ben membuat semua orang yang ada di ruang itu menatap kearah William.


"Pergi, tolong jangan buat keributan disini," kata William sebelum dia pergi dari ruang informatika.


Dengan hati yang kacau William pergi ke ruangannya dan mengunci dirinya. Sekelebat bayangan gadis berparas cantik dan lembut muncul di benaknya.


Sosok gadis periang namun berhati lembut yang telah berhasil merebut hatinya selama 1 tahun penuh. Gadis yang bisa membuat hari-hari kelamnya menjadi penuh warna.


Tanpa sadar William telah menitihkan air matanya. Dia kembali mengingat bagaimana tubuh gadis itu mulai mendingin di pangkuannya.


Seakan enggan untuk melawan ingatan itu William malah semakin hanyut dalam kilas masalalunya.


*Flasback on*


1 tahun yang lalu di Singapura.


"Hey William jelek bangun," seorang gadis cantik berambut pendek berponi dengan warna nude membangunkan William yang masih tertidur.


Karena William yang tak menggubris panggilannya gadis itu menyempotkan air dari botol semprot yang di siapkannya sebelum menemui William.

__ADS_1


"Bangun .... rasain nih," ucap Gadis itu sambil terus menyemprotkan air pada tubuh William.


Merasa sesuatu membasahi tubuhnya membuat William terkejut dan terbangun dari tidurnya.


"Aaah ... bajing*n mana yang berani ganggu tidurku!!"


"Berani-beraninya kamu ngatain aku bajing*n!!" teriak gadis itu.


"Eeh Nayla sayang ... " ucap William setelah mengetahui ada Nayla sang kekasih.


"Apa kamu?" gadis cantik bernama Nayla itu tengah mengambek akibat ucapan spontan William.


"Jangan ngambek gini dong, nanti aku beliin es krim ya," bujuk William.


"Nayla sayang ... jangan ngambek dong. Nanti aku ajak jalan di taman bermain ya," bujuk William lagi.


"Janji?"


"Janji sayang," jawab William sambil mencubit pipi Nayla.


"Ya udah mandi sana," ucap Nayla mengusir William.


Setelah mandi mereka memutuskan untuk sarapan berdua. Di tengah-tengah acara makan tiba-tiba ponsel William berbunyi dan menampilkan nama tuannya di displaynya.


"Halo tuan," sapa William.


"William segeralah ke markas ada yang mau ku diskusikan denganmu."


"Ada apa ya tuan. Aku masih makan saat ini," kata William.


"Tinggal saja nanti kita makan disini."


"Baik tuan."


William pun menyudahi acara telfon menelfonnya.


"Artinya kita gagal ke taman bermain?" tanya Nayla kecewa.


William mengusap kepala Nayla dengan lembut, "Sayang dengerin aku, nanti kalau urusan organsasi udah selesai kita baru pergi ya. Kamu bisa sepuasnya bermain disana, bisa makan apapun yang kamu mau." William terus berusaha membujuk Nayla agar tidak kecewa.


"Ya udah sana," ucap Nayla sambil tersenyum.


"Ayo aku antar kamu pulang dulu," ajak William dengan tangan yang terulur.


Naylamenyambut uluran tangan itu dengan senang hati, "Yuk ..." balasnya.


Mereka berjalan keluar dari apartemen milik William sambil bercanda dan tertawa. Setelah William mengantarkan Nayla pulang, ia lantas memutar arah tujuannya dan mengarahkan mobilya ke markas Ghost Crime.


Para ketua dan anggota lainnya sudah berkumpul di dalam ruang rapat. Terlihat jelas raut marah pada wajah Dhany saat itu.


"Katakan apa ini Will?" tanya Dhany sambil melepas setumpuk fotonya bersama Nayla.


William bingung kenapa masalah sekecil ini bisa membuat Dhany terlihat sangat marah.


"Ini fotoku bersama Nayla, dia kekasihku," jawabnya santai.


"Apa kau berusaha menghianati tuan Will?" tanya Ben.


"Apa maksud ucapanmu Ben, mana mungkin aku menghianati tuan," balas William.


"Kalau kau tak ingin menghianatiku untuk apa kamu menjalin hubungan dengan mata-mata?" ujar Dhany dengan suara tertahan.


"Apa?! mata-mata?" kata William terkejut dan bertanya-tanya.


"Ini nggak mungkin!! dia bukan mata-mata," ucap William.

__ADS_1


"Semua informasi tentang kita telah sampai pada kelompok keluarga Feng. Menurut informan kita semua tentang kita di jual oleh wanita ini," jelas Dhany sambil menunjuk foto Nayla yang ada di hadapannya pada akhir kalimatnya.


"Aku akan tanyakan padanya," kata William.


"Ben!! pergi ikuti William dan bawa gadis itu kemari." perintah Dhany.


William langsung meninggalkan markas Ghost Crime dan pergi mencari Nayla. Belum ada 30 menit dari saat William mengantarkan Nayla pulang ternyata dia sudah tak di rumah. Ibu Nayla mengatakan bahwa dia pergi ke taman bermain bersama temannya.


"Tiba-tiba perasaan gue nggak enak," batinnya.


William kembali memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Beberapa kali ia sampai ingin menabrak pengendara lain karena mengebut di saat jalanan padat.


Dengan penuh perjuangan sampailah ia di taman bermain yang paling dekat dengan rumah Nayla. Dia berlari memutari taman bermain itu sampai akhirnya dia melihat sang kekasih tengah bercumbu dengan seorang pria di sudut belakang taman bermain itu.


PLOK ... PLOK ... PLOK


"Bagus sekali sayang ..." ucap William sambil bertepuk tangan.


Nayla yang mengenali suara William lantas mendorong tubuh laki-laki itu.


"Ada apa Nayla?" tanya laki-laki yang di dorong olehnya hingga jatuh terduduk.


"William ... aku bisa jelasin semuanya, aku di jebak sama dia ... A-aku tadi ada di rumah lagi ... lagi,"


PLAK !!!


William menampar Nayla, "Jadi soal kamu yang menjual informasi organisasi ku pada keluarga Feng itu benar," kata William sambil menatap laki-laki yang terduduk di lantai. Dia tau siapa laki-laki itu, dialah putra tertua keluarga Feng.


"Apa?!! tidak, aku bahkan tak mengenalnya. Tadi dia datang dan berkata kalau dia temenmu dan dia menjemputku atas perintahmu," ucap Nayla yang mulai menangis.


"Nayla jangan takut. Dia nggak akan berani melakukan apapun disini. Jadi tak apa, akui saja kalau kamu yang menjual informasi itu," sahut tuan muda Feng.


"DIAM KAMU!!" teriak Nayla dalam isakannya.


"Apa yang dia katakan itu bohong Will,"


William tak menghiraukan penjelasan Nayla, dia malah berjalan ke arah tuan muda Feng dan langsung menendangnya. Di hajarnya laki-laki itu sampai setengah mati.


"Sudah siap mati?" tanya William.


"A-ampuni aku, aku mohon jangan bunuh aku," laki-laki itu terus memohon pada William.


Naas bukanya pengampunana yang di dapat malah William yang menguarkan pistolnya dan langsung menembakan pistolnya tepat di tengah kepala laki-laki itu.


Melihat William yang seperti bukan manusia itu membuat nayla gemetar ketakutan. William berjalan mendekati Nayla dan langsung memeluknya, "Maaf membuatmu takut," katanya lirih.


Nayla terpaku dalam pelukan William saat sebuat peluruh meluncur menembus dadanya. Darah segar Nayla mengucur keluar mengenai tangan William. William terbelalak melihat darah yang ada di tangannya. Pandangannya nanar mencari sosok yang sudah menembaknya.


Di dapatinya sosok Ben yang tengah memegang sebuah pistol namun pandangannya kosong. Karena William sudah di butakan oleh amarah membuat dia menghajar Ben dengan sangat kejam.


*Flashback Off*


Sebab itulah dia kini membenci Benedict dan tak pernah mau ada dalam 1 ruangan yang sama dengan Benedict.


TOK ... TOK ... TOK


Suara pintu ruangan tempat William bernostalgia di ketuk dari luar. Sambil menyusap matanya yang habis menangis di bukalah pintu itu dan nampak tubuh Benedict berdiri disana.


"Pergi!!" usir William.


"Will dengerin gue dulu, gue bis jelasin masalah Nayla 1 tahun yang lalu itu," pinta Benedict.


"Nggak perlu!!"


"Will ... bukan gue yang bunuh Nayla!!"

__ADS_1


*****


__ADS_2