
*****
Nandha dengan kejamnya menembak beberapa penjaga yang berusaha menghentikan dia bersama Pak Wahid keluar dari markas penyekapan. Pak Wahid yang dari tadi hanya mengekori Nandha di belakang hanya bisa terpanah melihat gadis itu menembakan timah panas tanpa rasa takut sama sekali.
"Apa yang sudah dilalui gadis ini sampai-sampai dia tetap tenang pada posisi ini?" batin Pak Wahid.
3x tembakan dan 6 orang tewas. Nandha yang mampu memperkirakan jarak target dan kemampuan senjata yang ditangannya membuat dia lebih efektif dan mematikan. Kurang dari 10 menit Nandha dan Pak Wahid sudah keluar dari sana.
Di luar gedung sudah ada sebuah mobil mewah yang sangat Nandha kenal pemiliknya.
"Hah ... Capek banget," keluhnya saat sudah masuk mobil.
"Gimana Dek? Bukan target utama kita kah yang nyulik lo?" tanya laki-laki yang duduk di kursi kemudi.
"Bukan. Mereka orang yang berbeda. Gue bahkan nggak pernah bayangin kalau dia yang bakal nyulik gue," jawab Nandha dengan nafas tersengal, tampaknya dia benar-benar kecapekan.
"Halo Pak, gimana rasanya jalan bareng adek saya?" tanya laki-laki tersebut pada pria parubaya yang ikut masuk bersama Nandha.
"Waduh Mas, saya nggak nyangka adek Mas bisa sekejam itu. Saya bahkan nggak pernah ketemu musuh di lapangan yang sebengis adek Mas," jawab bapak-bapak tersebut.
"Hahaha, maafin dia ya Pak. Ah ngomong-ngomong saya belum ngenalin diri kan ya?" ucapnya seraya memajukan mobilnya meninggalkan area tersebut.
"Nama saya Leakai Pak. Saya kakaknya Nandha," lanjut Leakai.
"Saya Wahid Mas."
Selama perjalanan tersebut Leakai banyak mengobrol dengan Pak Wahid. Sedangkan sang adik Nandha, ia tengah menutup matanya beristirahat.
"Sebenrnya kalian ini siapa ya Mas? Maaf kalau lancang, soalnya gimana ya. Adek Mas kan perempuan. Tapi kemampuan dia bahkan melampaui kemampuan penjaga majikan saya," tanya Pak Wahid yang sudah tak tahan akan perasaan penasarannya.
"Jangan takut Pak, adek saya orangnya tanggung jawab kok. Apalagi Nandha sudah minta saya buat menyelediki semua tentang Bapak" jawab Leakai.
"Menyelidiki saya?" tanya Pak Wahid.
"Semua tentang Bapak. Mulai dari kapan Bapak ikut orang itu sampai apa yang orang itu lakukan pada Bapak dan keluarga Bapak." jawab Leakai yang masih melajukan mobilnya.
"Jangan khawatir sama keluarga Bapak. Kita udah mikirin cara buat nyelamit semua keluarga Bapak kok."
Pak Wahid tampak terkejut mendengar ucapan Leakai. Ia tak menyangka kalau akan ada orang yang bisa menyelamatkannya dari majikan super kejam itu.
__ADS_1
"Makasih Mas. Terima kasih banyak," ucap Pak Wahid dengan mata terkaca-kaca.
"Bukan masalah besar. Tolong percaya sama Nandha ya pak," Pak Wahid hanya mengangguk dan mata yang berlinang air mata.
Kini mereka sudah sampai di sebuah gedung yang cukup besar dan jangan lupa akan kemewahannya. Sampai di tempat parkir secara otomatis mata Nandha terbuka menandakan bahwa acara tidurnya sudah selesai.
"Mommy masak apa ya?" tanya Nandha saat membuka matanya.
"Lo gak ada rencana buat ngubungin lakik lo?" Tanya Leakai sambil menatap bingung ke arah sang adik.
"Nggak dulu. Masih males, " jawab Nandha sambil menguap.
Leakai hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang ada di dalam otak sang adik. Gimana ya? Masalahnya Nandha itu bertindak sesuka hatinya.
"Ayo Pak Wahid, Bapak pasti capek kan?" ajak Leakai. Akhirnya kedua laki-laki tersebut menyusul Nandha memasuki rumah mewah keluarga Agatha.
"Mommy ... Nandha pulang!" teriak gadis itu seperti orang kerasukan, yang menggelegar memenuhi seisi ruangan.
"Astaga anak Mommy!" Monica berlari menuruni tangga rumahnya dengan tergesa saat mendengar suara menggelegar sang putri yang beberapa hari ini telah hilang tanpa kabar.
Monica menatap sendu putrinya. Hatinya bergetar saat melihat putri yang selalu ia jaga sedari di dalam kandungan. Kini tengah berdiri di hadapannya dengan muka yang masih penuh luka dan baju yang berlumuran darah.
"Mom ... Leakai pulang," ucap Leakai yang baru saja masuk bersama Pak Wahid.
Monica tampak bingung melihat sosok asing di samping putra angkatnya tersebut. Laki-laki itu tampak malu dan enggan di saat bersamaan.
"Bapak ini siapa Kai?" tanya Monica.
Leakai memalinghkan wajahnya menatap Pak Wahid yang tampak tak enak hati, "Aduh maaf Mom, Leakai lupa ngenalin," ucap Leakai dengan cengiran tanpa dosa.
"Pak Wahid ini Mommy saya juga ibunya Nandha. Mom, ini Pak Wahid Mom. Beliau yang udah bantuin Nandha buat kabur dari sekapan si penculiknya." lanjutan.
Monica mendekati Pak Wahid dan meraih tangan laki-laki yang sudah menyelamatkan putrinya tersebut. "Terima kasih banyak Pak, saya nggak tau gimana jadinya putri saya kalau bapak nggal batuin dia," ucapan terima kasih yang tulus keluar dari mulut Monica membuat Pak Wahid mengetahui asal sifat baik gadis yang ia jaga beberapa hari ini.
"Tidak Nyonya, justru saya yang di bantu anak Nyonya. Saya tidak tau sampai kapan saya akan jadi penjahat kalau tidak bertemu dengan anak Nyonya," balas Pak Wahid tak kalah tulusnya.
"Udah-udah kasian Pak Wahid dari tadi nangis terus. Btw kak, lo udah nyuruh anak-anak buat ngelacak dimana dia sembunyiin keluarga Pak Wahid kan?" tanya Nandha saat menunggu hidangan di sajikan.
"Mom ...."
__ADS_1
Monica kembali mendengar namanya di panggil dari pintu masuk. "Di meja makan." sahut Monica.
Seorang laki-laki berjalan bersama dengan pemuda yang jauh lebih muda dengan wajah yang sedikit mirip. Siapa lagi kalau bukan Alexander dan Bryan.
"Mom, udah kabar dari Nandha belum? Daddy tadi dari kantor polisi dan belum ada kab-" ucapan Alexander terhenti saat mlihat seorang gadis tengah duduk di meja makan sambil memandangnya dengan tatapan berbinar.
"Hai Dad ...." sapanya dengan wajah polosnya.
Bryan yang sedari tadi mematung kini tengah berjalan cepat bahkan cendengeerung berlari menghampiri sang adik yang ada di seberang sana. Di pelukanya sang adik yang sudah lama tak ia temui. Erat, terlampau erat.
"Hai My Brother, how are you?" tanya Nandha yang tengah membalas pelukan sang kakak tak kalah eratnya.
"Hiks ... Hiks ... K-kemana kamu selama ini? K-kamu makan teratur kan? B-badan kamu ada yang sakit nggak? K-kakak panggilin dokter ya?" ucap Bryan di sela tangisannya.
Nandha yang mengetahui bahwa kakak kesayangannya ini menangis ia hanya tertawa lebar. Ia bahkan tak melepaskan kesempatan untuk mengolok-ngolok sosok yang masih memeluknya.
Meninggalkan kakak beradik yang sedang temu kangen. Alexander mendekati putrinya dan mengecup pelan pucuk kepalanya. Lalu mendekati Pak Wahid yang tengah menatap sendu kedua putra-putrinya.
"Pak Wahid, saya Alexander ayahnya Nandha. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang ada berikan kepada putri kami," ucap Alexander kembali berterima kasih.
"Tolong Tuan sudah cukup terima kasihnya. Mas Leakai dan Nyonya sudah mengucapkannya berulang kali. Saya jadi nggak enak, karena saya nggak ngapa-ngapain. Semua nak Nandha yang bekerja," jawab Pak Wahid.
"Tapi semuanya tidak akan terjadi tanpa kerjasama Bapak," putus Alexander.
Akhirnya mereka pun melanjutkan acara makan-makan sempat tertunda karena Alexander dan Bryan yang terus menangis sambil bergelayut manja di badan Nandha.
*****
Seorang gadis cantik tampak tengah mengamuk dengan cara menghancurkan barang-barang yang ada di gudang. Gudang tempat ia menyekap seseorang beberapa hari ini. Gudang itu juga yang kini tengah berubah menjadi gudang berdarah.
"KEMANA GADIS SIALAN ITU?! LALU KEMANA SI TUA BANGKA WAHID? APA DIA SUDAH TIDAK SAYANG KELUARGANYA?" teriak gadis itu.
"Tampaknya Pak Wahid sudah kabur bersama dengan tawanan kita Non," ucap sosok lain yang ada disamping itu.
"Nggak bisa. Nggak bisa kayak gini!" teriak Gadis itu lagi.
"Cari tau semuanya. Cek semua cctv kita. Aku nggak mau dia selamat. Dia nggak boleh kembali hidup-hidup. Aku nggak mau dia balik di samping orang yag aku sukai. Sudah cukup aku bersaing dengan guru sialan itu. Setelah hampir berhasil melenyapkannya."
*****
__ADS_1