The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 78


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya, biar Chiplux makin semangat upnya.


"Mending lu nunggu dia selesai makan kalau lo mau tau ceritanya. Nih makan minum biar nggak emosi." Dhany menyodorkan semangkuk mie bakso dan es teh manis kepada William.


*****


William mengikuti arahan Dhany dan ikut menyatap mie ayam yang tadi di sodorkan oleh Dhany.


"Wooaaahh, ini enak parah. Nggak nyangka due di kedai sesederhana ini ternyata ada mie seenak ini," ucap William yang terkagum-kagum dengan keenakan rasa mie ayam langganan Nandha.


"Ya pastilah ini kan langganan gue." jawab Nandha bangga.


Karena melihat reaksi William yang sangat menikmati mie ayam itu membuat Dhany ikut mencobanya. Dhany membulatkan mata saat suapan pertamanya, "Waow ... ini sih gila. Rasanya mantap jiwa. Ini sih endol surendol tak kendol-kendol, ngenaaaaahhh .... " batin Dhany yang sudah heboh.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan seporsi mie ayam dengan pendampingnya.


"Jadi apa sudah di jelasin apa yang terjadi tadi," ucap William santai namun penuh penekanan.


"Oke karena kamu keliatan kepo banget, jadi gue bakal kasih tau. Ceritanya itu gini .... "


*Flasback On*


"Aku kan udah ijinin kamu balapan sama kadal amazon. Sebagai gantinya, bawa aku kesana. Aku mau lihat secara langsung. Tapi sebelumnya bawa aku pulang dulu," ucap Nandha sambil bersemirk.


"Tapi kamu mau apa yang?" tanya Dhany sambil terus memandang Nandha.


"Ada deh," Nandha mengedipkan sebelah matanya.


Walaupun Dhany masih bingung dengan tujuan Nandha ikut ke arena, tapi Dhany tetap mengikuti semua kemauannya. Sebelum pulang Dhany memberi burger dan cola favorit istrinya, karena Nandha terus saja merengek minta di belikan.


Nandha memakannya dengan lahap selama di perjalanan, Dhany hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nandha saat makan yang begitu lahap sehingga membuatnya belepotan.


"Uch, kenyang ... " Nandha mengusap perutnya.


"Lagian kamu makan orang yang nggak pernah makan burger aja. Liat nih sampai belepotan gini." Dhany mengusap bibir Nandha saat berhenti karena lampu merah.


"Ehehehehe, dah ayo pulang aku udah nggak sabar nih."


"Enggak sabar? emang kamu mau ngapain coba?" tanya Dhany sambil melirik Nandha.


"Jangan kepo ya sayang ... " Nandha terus saja menutupi rencananya dari Dhany.


Dhany menatap Nandha dengan intens sebelum kembali melanjutkan perjalanannya, "Sebenernya kamu itu mau ngapain sih yang," batin Dhany.


Dhany memakirkan mobilnya di depan teras. Nandha pun langsung melompat keluar dan berlari sambil bersenandung.


"Terima kasih Lily," ucap Nandha sambil tersenyum lebar.


"S-sama - sama nyonya," balas Lily setengah bingung akan ekspresi Nandha.


"Kenapa Ly?" tanya Dhany saat ad di depan maid bernama Lily itu.


"Tidak tuan, saya hanya bingung dengan sikap nyonya saja." aku Lily sambil menunduk.


"Hemm, jangan kau ganggu dia. Karena aku sendiri tak tau apa yang ada di pikirannya saat ini." ucap Dhany sambil memandang Nandha yang sudah akan menghilang dari pandangannya.


Saat ini Nandha tengah asik mengobrak-abrik isi lemari Dhany. Dia mengambil jeans robek, kemeja putih dan topi hitam dari lemari Dhany.

__ADS_1


"Astaga!! ini kenapa kayak habis kena badai gini sih?!!" teriak Dhany saat melihat ruang pakaian yang sudah berantakan.


"Chagi gimana? cocok nggak?" Nandha keluar dari dalam kamar mandi menggunakan pakaian yg ia pilih tadi.


"Waow .... kamu mau kemana pakek baju aku yang itu?" tanya Dhany setelah beberapa menit terpaku pada Nandha.


"Aku mau ke arena," aku Nandha jujur.


"Iya tau. Tapi ngapain ke arena pakek baju aku?" Dhany mendekat dan langsung merangkul Nandha.


"Aku mau balapan!!" jawab Nandha sambil merangkulkan tangannya di leher Dhany dengan manja.


"What?!!"


"Iya. Aku mau lawan Jafar, kamu nanti diem aja liatin aku ya? ya ya ya?" Nandha memberi kode dengan mengedipkan matanya berulang kali.


Dhany pun menghela nafas, "Iya kamu yang balapan, tapi kamu yakin kamu bisa ngalahin dia?" tanya Jafar setelah mengizinkan Nandha untuk balapan.


"Kalau cuma buat ngurus kadal amazon mah gampang. Dia urusan kecil," ucap Nandha sambil menjentikkan jarinya.


"Ya udah. Kamu istirahat dulu sana aku mau ganti baju." Dhany mendorong Nandha keluar dari ruang baju agar dia istirahat untuk balapan melawan sang mantan.


Nandha kembali melanjut memeriksa berkas yang tadi siang belum ia selesaikan. Saat memeriksa dokumen terakhir Dhay keluar dari ruang pakaian dan langsung menghampiri Nandha.


"Yang." Dhany memanggil Nandha yang asik dengan dokumennya.


"Kamu yakin mau lawan si Jafar?" tanyanya lagi.


"Yakinlah. Emang kenapa sih?" tanya Nandha tanpa memalingkan wajahnya.


"Jujur aku ragu yang." Dhany merampas dokumen yang sedari tadi di pegang oleh Nandha.


"Tenang aja. Kamu aja bisa aku kalahin apalagi dia." ucap Nandha yang langsung melompat di pelukan Dhany.


"Iya aku tau. Tapi tetep aja aku khawatir. Aku nggak peduli kamu menang apa kalah, yang terpenting buat aku itu kamu baik-baik aja. Balapannya cowok itu beda sayang. Kita bisa aja lakuin hal-hal gila." Dhany membalas pelukan Nandha lebih erat hingga Nandha terbatuk karena sesak.


"Chagi ... lepasin nggak bisa nafas nih akunya!!!" Nandha meronta memukul punggung Dhany.


Dhany terkejut dan langsung melepas pelukakannya. "Maaf sayang. Aku terlalu khawatir, aku mohon kamu pikirin sekali lagi. Biar aku aja yang lawan Jafar ya," Dhany masih terus berusaha untk membuat Nandha mengubah idenya.


Nandha memegang kedua pipi Dhany dan meyakinkannya, "Aku panggil kamu sayang aja ya, dengerin aku ya. Aku yakin kok kalau aku bakal menang. Aku mau kasih pelajaran ke kadal amazon itu biar dia lebih tau diri. Biar dia nggak berulah, harga diri dia itu tinggi banget. Dia bakal terluka kalau tau dia kalah dari cewek yang dia sia-siain dulu. Jadi percayalah aku bisa, ya ... "


"T-tapi ... "


"Kali ini aja, habis ini aku janji nggak bakal terlibat apapun itu yang ada sangkut pautnya sama dia." ucap Nandha sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.


Mau tak mau akhirnya Dhany menyetujui permintan Nandha, "Oke kali ini aja ya?" ucapnya.


Nandha mengangguk secepat kilat.


"Terus kamu mau pakek mobil yang mana?" tanya Dhany yang kembali memeluk tubuh Nandha.


"Pakek mobil kamu lah," ucap Nandha. Dia berusaha melepas pelukan Dhany.


"Terus aku?"


Nandha kembali duduk di sofa dan menepuk sofa disebelahnya, "Mobil kamu kan banyak, kamu pakek aja belum pernah di lihat dia. Ah, atau kamu mau pakek mobil aku?" Nandha menawarkan mobilnya untuk di pakai oleh Dhany.

__ADS_1


"Aku ada 1 mobil yang nggak pernah aku bawa keluar, dan cuma William yang tau mobil itu," ucap Dhany setelah mengingat mobil kesayangannya yang tak pernah ia pakai lagi.


"Ya udah kamu pakek itu aja. Mobil kamu yang biasanya biar aku yang pakekoke nggak?" tanya Nandha manja.


"Aku sih terserah kamu aja." Dhany pasrah akan kebucinannya.


Akhirnya Nandha jam dinding menunjukkan pukul 19.00 WIB. Nandha dan Dhany berangkat beriringan. Nandha dengan mobil ferarry yang biasa di pakai oleh Dhany, sedangkan Dhany menggunakan mobil lamborghini warna putih yang selama ini tersimpan rapi di garasinya.


Nandha sampai di arena lebih dulu di bandingkan dengan Jafar. Dhany menghentikan mobilnya di bawah pohon yang cukup gelap tak jauh dari arena.


*Flashback off*


"Jadi gitu Will ... " ucap Nandha menjelaskan duduk perkaranya.


"Oh, jadi gitu ceritanya .... saya awalnya ada mengira ada yang aneh. Tuan tak pernah mengendarai mobilnya senyantai itu, di tambah atraksi yang berbahaya itu. Saya belum pernah melihat tuan melakukannya." ucap William seusai menandaskan semangkok mie ayam miliknya.


"Lagian ya Will, lo kok ada disana sih?" tanya Nandha.


William menenggak es teh di depannya, "Dimana ada tuan makan disitu ada saya," ujar William dengan santainya.


"Udah kek hidung sama up*lnya ya," cibir Nandha.


William mendelik, "Nyonya iihh jorok!!" protes William.


Dhany dan Nandha malah tertawa terbahak-bahak, membuat beberapa pengunjung di kedai mie ayam menoleh kearah mereka bertiga.


"Udah-udah ayo pulang, udah malem. Besok kita sekolah." ucap Dhany yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke tempat kasir untuk membayar tagihannya.


*****


Di markas Blood Wolf


Jafar tengah mengamuk membabi buta membuat semua anggota yang ada disana menjadi takut dan merinding. Jafar membanting semuanya sambil memegangi buwung puyuhnya.


"Sialan !!! kenapa gue bisa kalah dari dia?! kenapa gue harus di permalukan seperti itu?!" Jafar terus saja mengamuk.


"Kak, kakak tenang dulu dong. Gue yakin masih ada cara yang lain buat deketin cewek tadi." Lional mencoba menenangkan Jafar.


"Yang di bilang Lional itu bener Far. Lo tenangin dulu diri lo itu." timpal Bagus sambil menepuk punggung Jafar.


Merasa tubuhnya di pegang oleh lain membuat Jafar menoleh sambil memberi tatapan maut pada orang yang berani menyentuhnya.


"Kalian nggak tau gimana jadi gue!! gue malu sat!!!"


Lional dan Bagus terdiam.


"Kalian nggak bakal tau gimana rasanya masa depan kalian di tendang di depan umum!! malu anjiiir!!!"


"Gue tau elo malu kak, tapi lo nggak bisa gini. Kalau lo gini mereka pasti bakal merasa kalau lo beneran kalah. Inget lo sama Dhany lebih gantengan elo kak, masih kayaan elo. Asal usul kakak lebih jelas dari dia, siapa dia nggak ada yang tau siapa orang tuannya." ucap Lional.


Mendengar ucapan Lional, Bagus hanya diam saja. Namun raut wajahnya tiba-tiba mnunjukan bahwa ia tengah mencibir ucapan Lional.


"Ya udahlah kak, mending kakak cari aja cewek yang lain. Noh minta kenalin sam si Bagus," ucap Lional lagi.


"Oke-oke sini gue kenalin sama deretan patner gue. Lo mau yang model kek siapa? bilang aja." ucap Bagus menantang Jafar.


Jafar semakin mendelik dan langung pergi meninggalkan semua orang di dalam markas. Ia membawa kuda besinya itu pergi dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


*****


__ADS_2