
*WARNING ππ*
TOLONG YANG DI BAWAH UMUR UNTUK LEBIH MEMPERHATIKAN BACAANNYA!!!
ππ»ππ»ππ»
Matahari sudah mulai tertidur di ufuk barat. Langit indah menampakan pemandangan yang menawan, memberi sedikit keindahan dalam kemacetan Ibukota. Di dalam mobil mewah sekelas Ferrari tengah terduduk 2 orang yang saling diam. Sangatlah canggung.
"Mah," tegur yang lebih muda yang mencoba mencairkan suasana.
Katrine sedikit terlonjak saat mendengar sapaanya. Matanya menatap bingung pada sang anak. Dhany masih terfokus dengan padatnya jalanan yang memang memasuki jam pulang kantor.
"Ada apa sayang?" tanya Katrine dengan wajah cemasnya.
"Siapa dia?" Pertanyaan singkat yang di lontarkan sang putra entah kenapa terasa menyesakkan.
Perasaan kesedihan dan kekecewaan berhasil menyelimuti Katrine. Amarahnya mendadak meluap bagaikan ledakan magma super gunung Merapi. Teringat kembali betapa menggelikannya persahabatannya dengan sosok yang ia tinggal di kafe tadi.
"Dulu ... Mamah sama Rika itu temenanβ" Katrine mulai bercerita hubungannya dengan Rika, sosok masa lalu-nya.
"Kita temenan semasa kita SMA bisa di bilang kita dulu sahabatan. Kita menghabiskan waktu berdua, hang out, main, saling atur waktu nginep selama liburan, haha. yah ... kayak anak-anak muda pada umumnya," Katrine terkekeh di saat mulai bercerita.
"Sampai akhirnya Mamah punya kekasih namanya Marshel. Dia dulu anak orang kaya disana, awalnya Mamah ragu mau berhubungan dengan dia. Karena ketakutan dan keraguan Mamah, akhirnya Mamah curhat ke Rika orang tadi kamu lihat. Dia bilang buat menjauhi Marshel karena Mamah nggak pantas buat dia," tutur Katrine terputus.
"Jadi apa Mamah bener-bener jauh-in si Marshel ini? Sesuai dengan saran dari orang tadi?" tanya Dhany tanpa menatap Mamahnya.
Katrine menghirup udara dalam-dalam memenuhi paru-parunya dengan udara yang lebih segar sebelum menjawab pertanyaan putranya. Ia butuh tenaga ekstra untuk kembali menceritakan luka lamanya.
"Benar, Mamah langsung jauh-in Marshel saat itu juga. Tapi laki-laki itu tak berhenti disana. Dia semakin gencar deketin Mamah sampai akhirnya Mamah luluh dan menjalin kasih dengannya."
"Lalu gimana tanggapan orang itu?" Dhany kembali bertanya.
"Hahaha," Katrine tertawa sumbang, "Dia marah besar, alasannya dia takut Mamah di sia-siain sama Marshel karena orang kaya itu semena-mena. Kamu pasti tau gimana tabiat cowok kalau sudah jatuh cinta kan Nak? Jadi Marshel terus-terusan nge-yakinin Mamah kalau dia tulus sama Mamah."
Dhany sekilas melarikan pandangannya pada sang Mamah tampak kesedihan di dalam matanya. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus menenangkan Mamah? Atau haruskah aku acuh? Pikiran-pikiran itu berputar-putar di kepalanya.
"Terus apa yang terjadi?" Dhany meruki mulut licinnya dalam batin. Betapa bodohnya ia sampai melancarkan pertanyaan yang mungkin menyakiti sosok yang di sayangi-nya.
"Singkat cerita Mamah sama Marshel menjalani hari yang indah. Karena Marshel itu kakak kelas Mamah jadi dia lulus lebih dulu. Saat upacara kelulusan Mamah nyari Marshel buat kasih ucapan, tapi apa yang Mamah liat malah pemandangan Marshel yang lagi bercumb* dengan Rika." 2 tetes air mata berhasil meluncur bebas membasahi pipi sang Mamah.
"Mah are you okey?"
"Mamah nggak apa-apa kok Sayang." Katrine mengusap pucuk surai putra sematang wayangnya.
"Semua sudah berlalu sayang. Sekarang Mamah udah bahagia punya Papah, punya kamu. Kalian itu dunianya Mamah. Kalian orang-orang yang Mamah sayang, apalagi sekarang udah ada Nandha juga makin lengkap kebahagiaan Mamah. Cuma masih kurang satu ...." Katrine menggantungkan ucapannya membuat putranya menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kurang apa Mah?"
Katrine tersenyum sambil menunjukan ekspresi yang sulit untuk di tebak oleh Dhany.
"Cuma kurang cucu. Mamah sama Papah nunggu cucu dari kalian, hihihi."
Mendengar ucapan Katrine sontak membuat Dhany tertawa lebar. "Hahaha, bentar ya Mah sabar. Kalau urusan cucu Dhany bakal sering-sering usaha, tenang aja." Tawa keduanya pecah memenuhi mobil itu mencairkan suasana yang sempat terasa canggung.
Candaan demi candaan terlontar dari mulut mereka membuat perjalanan itu lebih indah. Hingga tanpa sadar kini mereka telah sampai di kediaman keluarga Effendy. Mobil berhenti di garasi mewah bersama beberapa mobil mewah koleksi papahnya.
"Kalian baru pulang?"
Katrine mengenal suara merdu yang tertangkap indera pendengarnya saat turun dari mobil sang anak. Disana-lah sosok yang tiba-tiba ia rindu datang menghampiri mereka dengan pakaian berkebun lengkap dengan sebuah pot bunga kecil di tangannya.
Melihat sosok suaminya yang tengah tersenyum lebar membuat Katrine terharu dan berhamburan dalam pelukan laki-laki itu. Tengku terhuyung kebelakang saat tubuh tegapnya di tabrak sang istri dengan terburu-buru. Terdengar kekehan Tengku sembari mengusap punggung sang istri dengan tangan lainnya.
Tak lama terdengar isakan pelan milik Katrine. Bahkan terlihat guncangan pada bahunya. Tengku terheran ada apa dengan sang istri? Tapi ia tak ambil pusing untuk saat ini. ia memilih terus mengusap punggung rapuh istrinya, memberi rasa nyaman. Ia meletakan pot yang di tangannya ke sembarang arah hanya agar dia dapat memberi pelukan penenang untuk wanita yang telah lama hidup bersamanya.
Dhany berdiri sambil memerhatikan tingkah kedua orang tuanya. Bersender pada bamper mobilnya senyuman itu tak pernah luntur dari wajahnya. Aahh ... Kini pikirannya terbang jauh pada sosok sang istri. Dimana istrinya saat ini? Sedang apa? Apakah sudah makan? Jujur saja. Sebenarnya dia khawtir tapi tak bisa mengungkapnya. sejujurnya ia iri melihat keharmonisan kedua orang tuanya. Dalam batinnya, ia juga ingin mendapatkan warm hug dari Nandha.
"Ada apa ini, hemm? Kenapa Mamah tiba-tiba nangis? Ada yang ganggu Mamah? Ayo sini bilang ke Papah biar Papah yang kasih pelajaran," tanya Tengku yang setia menepuk pundak istrinya.
"Tadi habis ketemu orang dari masa lalu," sahut Dhany.
Katrine sendiri tak menanggapi pertanyaan ataupun jawaban yang di lontar oleh anak dan suaminya. Dia terlalu terbuai dengan hangatnya pelukan Tengku menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya. Nyaman ... Sangat nyaman.
Namun yang di dapatkan hanyalah gelengan pelan dari istrinya."Lalu habis ketemu siapa? Biasanya kan sosok masa lalu itu mantan," Tengku kembali bertanya.
"Tadi habis ketemu mantan teman Mamah, Pah. Temen yang ngerecokin hubungan Mamah sama mantan Mamah," jawab Dhany dengan santai.
"Oh ... Mamah habis ketemu Rika? Terus Rika ngomong apa? Apa Rika ingetin Mamah sama pengalaman Mamah itu?" Tengku dengan telaten menanyai pertanyaan-pertanyaan ringan dengan lembut. Sebenernya ia takut sang istri akan tersinggung dengan pertanyaannya.
Tengku kembali mendapatkan gelengan dari Katrine. Tampaknya Katrine memang belum ingin menceritakan semuanya. Maka dengan itu Tengku membawa istrinya masuk ke dalam rumah meninggalkan Dhany yang masih asik memandangi mereka berdua.
"Duh, kok tiba-tiba kangen Nandha ya? Lagian kenapa nggak ada ngabarin sih? Kan gue khawatir," lirih Dhany yang nyaris tak terdengar.
Saat ia ingin meninggalkan tempatnya tiba-tiba sepasang tangan lentik memeluk lehernya. Deru nafas terasa di sekitar tengkuk Dhany. Siapa? Siapa yang berani memeluk Dhany dari belakang? Apakah ia tak takut terbunuh di tangan laki-laki kejam ini.
"Kalau kangen itu bilang jangan malah di pendem sendiri, nanti nyesek loh," bisik sosok itu tepat di telinga Dhany. Memberi kesan sensual dan menggoda.
Ah ... Siapa lagi yang memiliki suara begitu lembut dan berani menggodanya seperti ini selain istrinya, Nandha. Dhany bersemirk dengan cepat ia berbalik dan mendorong tubuh ramping Nandha sampai tertidur bertumpu pada bagian belakang mobil.
Dhany menatap wajah istri kecilnya itu selama 3 menit sebelum menyambar belahan bib*r plum kesayangannya. Kecupan demi kecupan ia berikan sampai Nandha merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutnya.
"C-cukup ...." Nandha mendorong tubuh Dhany agar menjauh darinya.
__ADS_1
"Why Baby?" Tanya Dhany dengan suara serak. Nandha dapat melihat adanya kabut samar dalam mata Dhany.
"Oh ****, nafsu," umpat gadis itu.
Dhany menarik kasar tangan Nandha membawanya masuk kembali kedalam mobil. Ia menuntun Nandha membuat wanitanya duduk kedalam pangkuannya untuk melanjutkan sesi memakan b*bir mungil istrinya.
Semakin dalam dan semakin panas. Kecupan berubah menjadi l*mat*n panas dan basah. Bahkan tangan kekar milik Dhany kini tengah merambat nakal menjelajah setiap inci tubuh Nandha. Satu kata untuk saat ini "panas". Pasangan muda itu melakukan sesi inti bercintanya dalam mobil mewah tersebut.
Adegan kalian bayangin sendiri ya.π
*****
Di dalam kamar bernuansa black&red berdiri seorang gadis mengenakan piyama dengan motif beruang. Gadis itu berdiri di depan sebuah papan tulis yang terdapat banyak foto yang di hubungkan dengan sebuah benang merah.
Tok ... Tok ... Tok
"Sayang ... Bunda masuk ya, Bunda bawain kamu vodk*," suara wanita dari luar kamar yang meminta ijin masuk kamar.
"Ah ya, masuk aja Bun," balas gadis itu.
Masuklah sosok wanita membawa nampan dengan sebaskom balok es, vodk* dan dua gelas kecil. Ia meletakkan nampan tersebut di sebuah meja yang tak jauh dari tempat gadis itu berdiri.
"Siska sayang ... Apa rencana kamu Nak?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Rika.
Siska berjalan ke arah meja dimana ibunya meletakan minuman favoritnya tersebut. Dengan gerakan lincah di bukanya botol vodk* dan menuangkan isinya. "Siska bakal mulai dari Nandha Bun," jawabnya.
"Huh? Siapa Nandha?" tanya Rika seraya menerima gelas dari putrinya.
"Nandha itu gadis jal*ng yang selalu berkeliaran di sekitar my prince Bun, Siska nggak suka sama dia," jawab Siska dengan Nada merajuk.
"Perlu bantuan Bunda?" Rika menawarkan bantuannya.
Siska menegak minumannya sebelum menjawab ucapan Bundanya. "Tidak Bun, dia urusan gampang. Toh dia hanya anak ingusan, dia nggak akan bisa menang dari Siska."
Siska kembali menuang minuman haram itu ke dalam gelasnya hingga penuh, "Kalau aku membunuhnya apa Bunda bakal bantuin aku? Maksudku membantuku menutupi semuanya, seperti membersihkan TKP dan membuang mayatnya," ucap Siska. Kini ia tengah menatap foto Nandha yang tengah tersenyum lebar.
"I hate you bit*h!!" umpat Siska di barengi dengan ayunan pisau yang di tancapkan tepat di tengah dada pada foto Nandha.
"Bunda pasti bantuin kamu Sayang, anything for you. Bunda bahkan siap kalau kamu suruh untuk membunuh jal*ng itu saat ini juga," kata Rika mantap.
"Jangan minum terlalu banyak nanti kamu mabuk, ingat besok kamu masih harus ke sekolah untuk mengajar." Rika mengusap kepala putrinya lembut sebelum berjalan meninggalkan putrinya sendiri.
"Aku tak akan mabuk hanya karena satu botol vodk* Bun, well my prince bersiaplah. Besok akan menjadi hari terindah untukmu." Siska mengusap lembut foto Dhany saat berujar seperti tadi.
"... Dan untukmu Nandha. Bersiaplah besok adalah awal dari hari-hari kehancuran mu. Aku akan membuat hidupmu menderita seperti berada di neraka."
__ADS_1
*****