
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
****
"Jadi gimana Will, elo udah percaya kan sama gue?" tanya Ben.
William hanya terdiam dan terus saja menatap wajah Ben secara seksama.
"Ya, sekarang yang perlu kita cari itu masalah kecelakaan tuan setahun yang lalu. Kecelakaan yang bikin dia koma selama setengah tahun." kata William.
"Bang Ben kan hacker, kenapa nggak coba retas aja akun polisi di tempat boss kecelakaan?" tanya Leon yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
"Udah gue coba kiddo tapi nggak pernah bisa, kayaknya ada orang berpengaruh di balik insiden itu. Kita harus temukan siapa orang itu. Kalau menurut gue ini pasti ulah keluarga Feng." jawab Ben.
"Stop panggil gue kiddo bang .... gue bukan anak-anak, umur gue ini sama kaya William ... kita cuma beda 5 menit doang, tapi sikap bang Ben seolah-olah kita beda 5 tahun aja," protes Leon menggebu-gebu.
"Hahahaha, masih tetep nggak mau di panggil kiddo ya," ejek Ben sambil mengusap kepala Leon layaknya anak kecil.
"Bodo amat lah," cicit Leon.
Suasana mencair setelah ejekan yang di lontarkan oleh Ben pada Leon. Sikap William yang awalnya acuh pun ikut mencair dan berubah menjadi senyuman manis di wajahnya.
*****
Dhany sampai di rumah mertuanya dengan nafas ngos-ngosan seolah dia berlari dari markas. di teras sudah ada Alexander dan Monica yang baru saja turun dari mobil.
"Nak Dhany dari mana kok ngos-ngosan?" tanya Monica saat melihat kedatangan menantunya itu.
Dengan nafas memburu Dhany menjawab pertanya ibu mertuanya, "Aku dari markas mom, hari ini ada perekrutan anggota baru Ghost Crime," jawabnya.
"Perekrutan?" tanya alexander.
"Iya dad, setiap tahun kita ngadain perekrutan anggota baru. Dalam ghost crime sendiri ada banyak devisi yang bisa di masukin, banyak dari mereka memilih keamanan umum," jelas Dhany sambil berjalan memasuki rumah.
Kini gilaran Monica yang bertanya "Devisi keamanan umum?"
"Aku jelasin nanti bolehkan mom? soalnya aku udah kangen banget sama Nandha udah 2 jam nggak ketemu nih," pinta Dhany.
Alexander tertawa lebar, "Hhahhahaha, ya ... ya cepat kamu temui istrimu jangan sampai karena rasa kangen membuatmu buta dan mengira pelayan rumah ini sebagai putriku," ejeknya.
"Daddy mah ngeledek terus." Dhany tersipu malu dengan ucapan daddy mertuanya.
"Aku duluan ya mom ... dad," pamit Dhany.
Monica menatap kepergian Dhany, "Sepertinya dia sangat mencintai putri kita. Tak bertemu 2 jam saja udah kangen kayak nggak ketemu 2 kehidupan aja," kata Monica.
"Kayak daddy sama mommy dulu kan," goda Alexander.
"Daddy mah gitu."
Nandha keluar dari kamar untuk mencari cemilan. Di atas tangga dia berpapasan dengan Dhany yang terngah berlari-lari menaiki tangga.
"Kenapa lari-lari gitu?" tegur Nandha saat Dada di hadapan Dhany.
Dhany yang mendapat teguran dari sang istri langsung menengadah dan memeluk tubuh Nandha dengan sangat erat.
"Kamu nggak papa kan? ada yang luka nggak? ada yang sakit nggak? udah makan? udah minum obat? kamu mau kemana? toilet?" Dhany mencecar Nandha dengan lapisan pertanyaan yang membuat si pendengar sakit telinga.
"Kamu mau bunuh aku pakek lapisan pertanyaan yang kayak wafer tango ya?"
"Bukan gitu yang ... aku khawatir sama kamu," aku Dhany.
"Khawatir boleh, tapi kalau kamu nggak lepasin pelukan ini aku rasa aku bakal beneran mati," kata Nandha.
Dhany melepas pelukannya sambil cengengesan seolah-olah tak punya dosa.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Dhany lagi.
"Aku mau nyari cemilan, aku laper tapi nggak tau kenapa aku males mau makan nasi. Perut ku mual kalau lihat nasi nggak tau kenapa," ucap Nandha.
"Nih aku bawa banyak cemilan buat kamu, tadi aku mampir di swalayan depan beli minum, lihat ada snack favorite kamu jadi beli deh," ujar Dhany sambil menunjukan 2 kantong kresek yang di bawanya tadi.
"Wiisssh banyak amat, serius itu buat aku?"
'"Iya sayang ... dah yuk balik kamar," ajak Dhany sambil menggandeng Nandha kembali ke lantai atas.
"Kita ke kamar kak Bryan ada yang mau aku tanyain sama dia," kata Nandha.
"Kamu mau nanya apaan sih? emang dia bakal jujur kalau kamu tanyain," tanya Dhany.
Nandha bersemirk, "Gue punya cara gue sendiri biar si kakak ngaku," katanya.
Nandha membelokan langkahnya ke kamar yang ada disebelah kamarnya, kamar dimana dia menyekap Bryan.
"Pffftt ..." Dhany menahan tawa karena melihat keadaan Bryan yang di ikat di sebuah kursi dengan rambut yang dikuncir 2 tak lupa boxer kuning bergambar bebek serta riasan yang tak kalah tebal layaknya penyanyi sinden.
"Jangan ketawa lo tokek Paijo," sentak Bryan yang kelihatan kesal setengah mamp*s.
Bukannya diam Dhany malah tertawa lepas, "Woy tuyul Paris ... mau nyinden kemana lo? awokawokawok," ejek Dhany sambi tertawa lebar.
"Liat aja lo tokek Paijo begitu *** ini lepas gue getok pala lo sampai jadi jajaran genjang," ancam Bryan yang di tertawakan oleh Dhany.
"Gue langsung aja ya bang. Sebenernya sejak kapan lo pacaran sama Suci?" tanya Nandha yang duduk di hadapan Bryan.
"Gue nggak inget kapan dek, seharusnya sih udah setahunan lah," jawab Bryan serius.
Suasana kamar itu menjadi sangat tegang, Nandha dan Bryan tengah membicarakan hal yang sangat serius. Dhany yang memperhatikan sedari tadi merasa takjub akan konsistensi yang ada di keluarga Agatha ini. Mereka yang biasanya bercanda dan bertingkah konyol sekarang berubah menjadi sangat serius. Tak ada dari mereka yang berani menjawab dengan guyonan ataupun banyolan lucu seperti biasanya.
"Lalu, kenapa kalian nggak ngomong ke gue? apa yang kalian pikirin? jangan bilang kalian punya pikiran gue bakal halangin hubungan kalian?" tanya Nandha lagi.
Bryan menghela nafasnya dalam-dalam, "Bukan gitu dek ... Awalnya gue emang mau cerita kok, tapi si Suci nolak terus. Gue sendiri yang pacarnya aja juga nggak tau apa alasannya." kata Bryan memberi penjelasan.
"Aneh?" tanya Nandha sambil melirik sang suami yang ada di sampingnya.
Dhany mengambil bangku rias dan membawanya ke samping sang istri.
"Menurut gue kalau emang Suci beneran suka sama Bryan seharusnya dia nggak masalah kalau sampai Bryan ngomong sama Nandha. Apalagi kalau kita lihat fakta kalau kalian itu kakak beradik dan Nandha sendiri sahabat Suci sejak lama, jadi aneh aja kalau sampai dia nggak mau Nandha tau hubungan kalian." jelas Dhany.
"Apa yang di omongin sama Dhany itu bener kak, gue sadar kalau Suci itu orangnya pendiam, tapi nggak seharusnya dia diem juga masalah ini." timpal Nandha.
Bryan diam saja, dia memang merasakan keanehan dari sikap Suci selama ini.
"Menurut elo Suci itu orangnya gimana sih dek?" tanya Bryan tiba-tiba.
"Gue nggak tau kalau dia sama elo gimana sikapnya, yang gue tau dia itu anaknya polos. Tapi setelah kejadian ini gue mikir-mikir lagi," kata Nandha.
"Kok gue ngerasa ada yang salah ya," ucap Bryan.
Dhany dan Nandha saling menatap satu sama lain.
"Dia beberapa kali ngode gue buat naik ke ranjang, tapi gue masih belum permah bawa dia ke ranjang sih. Cuma beberapa kali hampir kelepasan." aku Bryan sambil memonyongkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.
"Tapi belom lo apa-apain kan?" tanya Dhany.
"Kalau buat cium dan lainnya udah, kalau buat skidipapap di atas ranjang sumpah gue belum pernah begituan," aku Bryan dengan sangat serius.
"Sebenernya orang kayak apa sih Suci ini?" batin Dhany.
"Gimana kalau kita ngehack akun sosmed dia, jika emang di perlukan kita hack aja semua akun yang di miliki sama dia." usul Dhany.
"Hacker paling berpengalaman dan tergabung dalam kelompok Anonymo*s ada organisasi gue. Dia kepala bagian IT informatika." kata Dhany lagi.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Nandha dan Bryan bersamaan.
"Ben .... Benedict Robert. Dia kepala bagian informatika, kadang dia pergi ke kandang lawan sebagai hacker atau informan si kandang musuh ataupun grup yang kita nilai tukang bikin onar dan lain sebagainya." jelas Dhany.
"Ben?" tanya Nandha.
"Bukannya kamu udah ketemu sama dia?" tanya balik Dhany.
"Entahlah."
"Gue telfon dia dulu, oh ya ... nih hp kamu, tadi ada di meja kantor aku," kata Dhany sambil memberikan ponsel Nandha.
"Makasih sayang," jawab Nandha.
Dhany pergi ke sudut untuk menelfon Ben. Setelah dia menelfon Ben, kembalilah ia duduk di tempatnya tadi. Kini berganti ponsel Nandha yang berdering.
"Siapa yang?" tanya Dhany.
"Nomer baru," jawab Nandha.
"Angkat aja tapi di speaker ya," kata Bryan.
Nandha menuruti kata kakaknya untuk mengangkat sambungan telfon itu.
"Halo, siapa ini?" ucap Nandha.
"Halo baby, ini aku Jafar," kata orang di seberang sana.
Nandha menghela nafas jengah, "ngapain nelfon-nelfon sih, ganggu aja," ucap Nandha jengkel.
"Walau kamu udah hajar aku sampai hampir mati, tapi aku tetep mau kita balikan," kata Jafar dari ujung sana.
Dhany yang mendengar ucapan Jafar menjadi sangat marah, hampir saja ia merebut ponsel Nandha kalau tidak di plototi oleh Bryan.
"Kamu dimana?" tanya Nandha.
"Di balkon lantai 3 rumah sakit pusat kota, kenapa? kamu mau kesini ya?" tanya Jafar sumringah.
"Coba lihat kebawah," perintah Nandha.
Dhany dan Bryan bingung apa yang akan di ucapkan adik dan istrinya itu.
"Udah," lapor Jafar.
"LONCAT!!!" ucap Nandha singkat dan langsung mematikan telfonnya.
Dhany dan Bryan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan terakhir dari seorang Nandha.
"Lo nggak takut di penjara? kata-kata lo itu bisa jadi termasuk dorongan bunuh diri lho dek," ucap Bryan memperingatkan Nandha
"Biarin, Dhan tolong kamu lepasin kakak ya. Jangan lupa ambil foto dia dulu," kata Nandha yang sudah siap pergi meninggalkan kamar itu.
"Mon maap ya kakak ipar, ini perintah istri. Karena saya suami yang perhatian jadi saya nurut sama kata istri." Dhany terus menggod Bryan.
Di fotonya Bryan dengan penampilannya yang sangat cetar itu. Entah berapa banyak foto yang di hasilkannya. Bryan dengan tingkah konyolnya malah berpose bak waria yang sedang mangkal di semak-semak. Tingkah mereka tak ayal membuat diri mereka sendiri tertawa terpingkal-pingkal.
*****
*Hay semua jangan lupa mampir ke novelku yang lainnya.
*The Best Bad Couple*
*Creepy Story*
*Sheilla Clarius*
__ADS_1
*The Queen Of The Black World*
Terima kasih*