The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episod 69


__ADS_3

Dhany dan William terus saja membahas mengenai masalah dunia mafia yang selama ini mereka kuasai.


"Sebentar lagi adalah jadwal kita merekut anggota baru kan?" tanya Dhany sambil memilih buku yang ada di rak dalam ruangan itu.


"Benar tuan, dan kali ini ada lebih banyak peserta dari tahun lalu," jawab William.


Dhany berdehem, "Hmmm, tolong kirim formulir dan kamu selidiki setiap kandidatnya. Aku tak ingin Ghost Crimeku berisikan para kroco yang hanya numpang nama saja tanpa kualitas," perintah Dhany yang langsung di angguki oleh William.


"Lalu bagaimana keadaan Ratu? dia masih hidupkan?" ucap Dhany menanyakan keadaan Ratu. Sebenarnya ia tak ingin peduli dengan keadaan wanita itu namun, karena sang istri mengatakan ingin menemui Ratu, membuat ia harus memastikan bahwa wanita itu masih ada di dunia ini dalam keadaan hidup.


"Dia masih hidup kok tuan, hanya saja tubuhnya penuh luka akibat ulah saya, maafkan saya yang terbawa emosi." William langsung menyatukan kedua telapak tangannya.


"Apaan sih Will, santai aja. Buat gue mah yang penting dia masih hidup aja," jawab Dhany santai.


"Tuan ... apa saya boleh menanyakan suatu hal?" tanya William ragu.


Dhany memalingkan wajahnya untuk memandang wajah William walau hanya sekejap, "Mau tanya apa sih? kok serius banget," ucap Dhany yang kembali fokus pada buku yang ia ambil tadi.


Terlihat jelas rasa ragu pada raut wajah William, "A-apa tuan sungguh sudah jatuh cinta pada nyonya?" tanyanya setelah memantapkan diri.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Tidak ada tuan, saya hanya ingin tau. Karena saya harap anda sudah melupakan wanita itu," ucap William pelan.


Seketika wajah Dhany menghitam saat mendengar William mengatakan kalimat 'wanita itu'.


"William aku rasa aku sudah pernah mengatakan untuk tidak membahasnya lagi," ucap Dhany dengan penuh penekanan.


"Maaf tuan, saya tak akan mengulanginya lagi." William langsung pergi meninggal Dhany setelah mengatakan permintaan maafnya.


Dhany termenung beberapa saat, ia teringat suatu hal yang terjadi sebelum ia kembali ke Indonesia. Sebelum ingatan itu semakin mengendalikannya ia memilih meninggalkan ruang belajarnya dan menyusul sang istri di kamar.


Dhany masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintunya. Di dalam kamar Nandha tengah berdiri di samping jendela mengenakan kemeja polos berwarna putih milik Dhany yang oversize untuknya.


"Yang, kamu sengaja ya pakai baju kayak begitu? mau godain aku ya?"


"Apa heem?" ucap Nandha saat Dhany memeluknya dari belakang.


"Sayang, imanku nggak sekuat itu buat tahan godaan sebesar ini," ucap Dhany sambil menyembunyikan wajahnya.


Setelah itu Dhany menarik tangan Nandha untuk berbaring di ranjang king size. Tanpa aba-aba dan persetujuan dari Nandha, Dhany menyambar dan memangut bibir mungil Nandha. Karena malam sudah semakin panas dan Dhany semakin liar, akhirnya mereka melakukan malam pertama dengan sangat mendebarkan. Setelah kegiatan itu berlangsung selama kurang lebih 30 menit akhirnya mereka tertidur tanpa sehelai pakaian di balik selimutnya.


*Keesokan harinya*


Nandha membuka matanya secara perlahan, ia merasa badannya sakit dan remuk semua. Ia terkejut saat melihat di tubuhnya di balik selimut.


"*Hah? kok? s*eriusan gue semalem lakuin itu sama Dhany?" batin Nandha.


Saat ia memalingkan wajahnya menatap kearah Dhany terlihat Dhany tengah tertidur lelap sekali, membuatnya tak tega untuk membangunkannya. Jadi, Nandha memutuskan untuk diam-diam pergi kemar mandi.


"Aauwwhh," desisnya saat ia berusaha menggerakan tubuhnya.


Dhany yang mendengar desisan tersebut langsung bangun dari tidurnya, "Ada apa yang?" tanyannya dengan suara serak khas orang bangun tidur ditambah dengan gerakan mengucek matanya.


"E-enggak papa kok," elak Nandha sambil memalingkan wajahnya.


Bukan Dhany namanya kalau ia tidak peka akan keadaan istrinya. Dhany turun dari ranjang dan langsung menggendong Nandha menuju kamar mandi. Ia meletakan tubuh Nandha kedalam bathtub dan mengisinya dengan air hangat.


"Kamu mau ini kan?" tanya Dhany dengan senyum miring menghiasi wajahnya.


"Jadi orang ngapa peka banget sih," batin Nandha yang sudah menggembungkan kedua pipinya.


"Kamu pasti lagi batin yang enggak-enggak kan?" tanya Dhany yang berhasil membuat Nandha salah tingkah.


"E-enggak kok," elak Nandha panik karena ketahuan membatin tentang kepekaan sang suami.


Dhany tersenyum lembut karena gemas melihat Nandha yang salah tingkah dengan wajah yang sudah memerah bak tomat matang.


"Kamu mandi aja dulu aku siapin pakaian kamu, habis itu ganti aku yang mandi." Dhany berjalan pergi meninggalkan Nandha sendirian di dalam bathtub.


Dhany menyiapkan handuk dan juga baju santai untuk di pakai sang istri, setelah semua selesai Dhany kembali untuk melihat Nandha.


"Kamu udah selesai? kalau udah ayo aku bawa kamu ke kamar ganti," ucap Dhany.


Nandha hanya mengangguk dan pasrah saat Dhany membawanya ke ruang ganti. Dhany pergi membersihkan diri setelah membantu sang istri berpakaian hingga tuntas.


"Yang." teriak Dhany saat keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Ya?"


"Hari ini kamu dirumah aja ya, nggak usah sekolah." ucap Dhany berjalan mendekat sambil memakai seragamnya.


"Kok gitu?" tanya Nandha bingung.


Dhany menepuk jidatnya, "Kamu jalan ke kamar mandi aja nggak bisa, apalagi ke sekolah," jawab Dhany sambil menggelengkan kepalanya.


Mendengar ucapan Dhany, Nandha hanya tersenyum geli.


"Oke i know. Kamu yang izinin ya," sahut Nandha sambil tersenyum lebar.


"Baik boss. Ah satu lagi, nanti biar maid yang kirim makanan kesini jadi kamu nggak perlu turun. Ingat ini perintah ya." Dhany memberi perintah pada Nandha agar diam di kamar.


Dhany bersiap selama 5 menit, akhirnya ia selesai dengan persiapannya.


"Aku berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah, muach." Dhany memberi kecupan di dahi Nandha sebagai penyemangat paginya.


"Oh oke. Hati-hati," ucap Nandha sambil melambaikan tangan.


Dhany mengangguk pelan sebelum keluar dari kamar. Saat ia sampai di meja makan, ia hanya menyambar sebuah roti tawar dan meminum segelas susu. Sebelum ia pergi tak lupa ia memberi perintah pada maid agar mengantarkan makanan untuk Nandha di kamar.


******


Boy dan Vian tengah asik main game di parkiran mobil tempat biasa the most wanted parkir. Mereka tengah menunggu kedatangan ke 4 gadis cantik incaran para siswa di sekolah.


"Gue masih nggak nyangka kalau Nandha sama Dhany ternyata udah ,,," ucapnya Boy terhenti, "Nikah." lanjutnya setelah celingak-celinguk memeriksa keadaan sekitar.


"Bener, padahal mereka baru kenalkan ya? mereka di jodohinkan ya." sahut Vian tetap Fokus pada hp miringnya.


Bruuummmm...Bruuuuum...Bruuuuum


Deru mobil memasuki halaman sekolah, semua siswa dan siswi memandang kearah datangnya sumber suara. Tak salah lagi mobil Carla, Victoria, dan Suci memasuki wilayah sekolah secara bersamaan menimbul kegaduhan. Banyak siswa yang bergosip tentang mereka yang datang menggunakan mobil mewah kelas dunia.


Boy dan Vian tersenyum sumringah saat ketiga gadis itu turun dari mobil.


"Kalian tumben disini, nungguin kita ya?" goda Carla saat turun dari mobil mewahnya.


"Iya kita nungguin kalian buat bahas pelajaran selanjutnya," sahut Vian tanpa memandang wajah Carla.


"Kali ini mau kalian apain?"


"Mau di apain?" tanya Suci.


"Lo liat aja entar." Carla langsung tersenyum devil setelah menjawab pertanyaan Suci.


Mereka berlima berjalan menuju kelas bersama-sama hingga menjadi pusat perhatian.


Tak lama setelah kedatangan the most wanted, Dhany sampai di sekolah tepat 5 menit sebelum bel tanda pelajaran berlangsung berbunyi bersamaan dengan William. Dia tanpa memperdulikan kehebohan yang terjadi karena kehadirannya dan langsung berjalan ke kelasnya.


Suci yang pertama kali menyadari kedatangan Dhany langsung menyapanya.


"Loh, Nandha mana Dhan?" tanya Suci yang tak kunjung melihat Nandha.


"Oh, dia nggak masuk," jawabnya singkat.


Dhany mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan singkat pada sang istri bahwa ia telah sampai di sekolah.


"Kenapa? luka dia kambuh lagi?" tanya Victoria panik.


"Enggak kok santai aja, dia cuma nggak bisa jalan."


"NGGAK BISA JALAN!!!"


Mereka berenam berteriak bersamaan membuat seluruh kelas menutup telinganya dan memalingkan wajahnya menatap mereka yang tengah berteriak. William yang sedari tadi hanya menyimak tiba-tiba ikut berteriak akibat ucapan Dhany yang ambigu.


"Berisik banget sih, di kira ini hutan apa?" protes seorang siswi berbisik.


"Diem lu upil gajah!!" ucap Carla ngegas karena mendengar bisikan siswi tersebut.


"Lo apain sahabat gue hah?" ucap Carla ngegas.


"Woi, jangan macem-macem sama tuan gue!!" teriak William dari arah belakang Dhany dengan memasang tampang galaknya.


Belum juga mendapatkan jawaban dari Dhany, bel pelajaran pertama pun berbunyi. Mereka langsung duduk di tempat masing-masing menunggu guru pelajaran pertama memasuki ruangan.


Jam pertama adalah pelajaran bu Siska. Mereka sudah menyiapkan hadiah untuk guru tercintanya itu.

__ADS_1


Bu Siska memasuki ruangan dengan santai, "Selamat pagi anak-anak," sapanya seperti biasa.


"Pagi bu ..."


"Kita langsung mulai saja pelajarannya ya," ucapnya.


Bu Siska meletakan semua bukunya di meja dan langsung menerangkan pelajarannya di papan tulis. Setelah 15 menit akhirnya penjelasan itu usai, bu Siska akhirnya mendaratkan bokongnya di kursi yang tersedia sambil membolak balikan bukunya.


"Kalian bisa catat semuanya beserta penjelasannya ya," perintahnya ," Itu bangku kosong siapa yang izin?" tanyanya.


"Nandha bu."


"Oh." ucap bu Siska berO ria.


"Dia bolos atau ada keterangannya?" tanya bu Siska.


"Gue yang ngizinin, dia lagi sakit dan harus istirahat total." jelas Dhany singkat padat dan jelas.


Bu Siska berdecak kesal, ia kembali menanyai Dhany dengan pertanyaan-pertanyaan receh yang sungguh menjengkelkan untuk seorang Dhany.


"Kamu siapanya? dia sakit apa? kenapa kamu yang izinin dia? emang dia siapa kamu? terus kenapa kamu bisa tau kalau dia butuh istirahat total?" cecar bu Siska pada Dhany.


"Saya rasa pertanyaan anda sudah melebihi batas kewajaran seorang guru, jadi saya berhak untuk tidak menjawabnya." balas Dhany sarkas.


DEG ....


Ngilu, itulah yang dirasakan bu Siska atas sikap dingin dan sarkasnya Dhany. Hal ini semakin membuat dirinya semakin bersemangat untuk mendapatkan hati seorang Dhany.


Sedangkan Dhany malah memupuk rasa risih dan tak nyaman pada gurunya yang satu itu. Ia bahkan berencana untuk mengeluarkan guru matematikannya itu dari sekolah. Ia merasa akan ada badai jika ia terus membiarkan guru itu ada di sekitarnya.


Bu Siska kembali menerangkan pelajarannya, ia kembali berjalan ke arah papan tulis, selesai menerangkan ia kembali duduk di tempatnya lagi, hal itu terjadi berulang-ulang.


Carla dan teman-temannya tengah menahan tawa. Dhany dan William yang tengah duduk bersama pun saling memandang dan mengangkat alisnya. Mereka tak tau apa yang sudah teman-temannya lakukan., daripada sibuk memikirkannya Dhany lebih memilih menyembunyikan wajahnya di balik buku paket yang di tegakkan dan pergi ke alam mimpi.


"Itu yang di belakang kenapa cengengesan?" tegur bu Siska dari depan kelas.


"Nggak ada bu," teriak Boy dari bangku paling belakang.


"Tau si ibu sensitif banget deh," sambung Carla.


"Bu, mending ibu pas pulang nanti beli pepsodin sensitif deh, biar nggak sensitif lagi," ucap Victoria dengan ekspresi yang di buat-buat.


"Kamu nggak sopan sekali ya, kamu mau saya hukum?" ucap bu Siska.


"Hukum ya hukum aja sih bu," jawab Suci enteng.


Bu Siska sudah hampir naik pitam dengan ulah teman-teman Nandha. Kecuali Dhany dan William, mereka lebih memilih menjadi penonton yang baik. Disaat bu Siska tengah memarahi murid-muridnya itu muncul suatu rasa yang samar-samar. Namun lama kelamaan rasa itu semakin jelas.


"Aaawwhhh ... panas ... panas." teriak bu Siska kepanasan.


Mendengar teriakan bu Siska terpaksa membuat Dhany menengadah melihat apa yang terjadi pada guru piciknya itu.


Terlihak bu Siska tengah berteriak sambil mengipasi area pantatnya. Dhany merasa lucu sekaligus bahagia. Ia tak mau memusingkan apa yang terjadi pada gurunya itu, yang terpenting baginya adalah tontonan ini sungguh menarik dan menghibur.


"K-kalian lanjutkan saja pelajarannya, ibu mau ke tailet sembentar." pamit bu siska.


Carla and the geng langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka telah berjuang keras menahan tawanya. Kini pecahlah tawa mereka. Tak hanya mereka yang tertawa, tapi seluruh siswa di kelas tengah tertawa lebar.


Dhany hanya bisa membatin, "Pasti ulah mereka," batin Dhany.


"Sumpah ini kocak banget, hahahaha." tawa Boy berderai di akhir ucapannya.


"Iya, lagian si Carla ada aja idenya, good job girl." puji Vian tulus.


"Gokil ... gokil, gila ini sih gokil, daebak lu La," puji Suci tulus pada Carla.


Di saat semuanya tertawa karena suatu hal yang terjadi pada bu Siska. Di sisi lain bu Siska tengah kebingungan akan apa yang terjadi pada dirinya.


"Astaga, ini apa sih? Gila panas banget," gerutu bu Siska sepanjang jalan menuju toilet. "Kenapa gue sial terus sih, udah 2x gue di kerjain kayak gini. Kemarin ban motor gue di gantung, sekarang pantat gue jadi korban."


Bu Siska masih bingung apa yang terjadi pada dirinya, setelah ia sampai di toilet ia langsung mengguyur bagian yang panas tadi dengan air yang ada.


"Si*l kenapa nggak ilang-ilang panasnya," umpat bu siska karena kesal.


"Sebenernya ini apa sih?" gerutu bu Siska yang sudah hampir menangis.


Bu Siska akhirnya mengambil sebuah ember yang ada disudut ruangan dan mengisinya dengan air penuh, tanpa babibubebo ia langsung mendudukan dirinya di bak penuh air tersebut. Tanpa di sadari sedari tadi ada beberapa pasang mata yang tengah mengintip dari balik dinding sambil menahan tawanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2