The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 114


__ADS_3

Maaf ya lama up nya, soalnya masih sibuk dengan suatu urusan yang nggak bisa di tinggal.


Happy reading.


"Apaan sih Pah, Nandha aja tuh yang lebay," elak Dhany.


Mendengar penuturan sang suami yang mengatakan bahwa dirinya lebay membuat Nandha menjadi geram.


"Heh tutup panci!! yang bener aja dong, lo mau bilang gue yang lebay? lo lupa siapa yang nyod*k kenceng banget, sampai-sampai ranjang sekokoh itu bisa keluar bunyi kriet-kriet," balas Nandha tak kalah sengit.


"Yah Yang, kok gitu sih. Kan seharusnya kamu belain aku," protes Dhany.


Nandha bedecak pelan, "Ckckck, belain elo? lo aja jatuhin gue, ngapai gue kudu bantu elu coba?" jawab Nandha santai.


Plok ... plok ... plok


"Bagus! itu baru menantuku." Tengku memuji Nandha dengan riang sambil bertepuk tangan.


"Pah ... yang anak Papah itu aku apa Nandha," protes Dhany lagi.


"Anak Papah emang kamu, cuma Papah lebih sayang Nandha, dia lebih cocok sama Papah," jawab Tengku.


"Yang kalian nggak ada main belakang kan?" tanya Dhany was-was.


Plak


"Sembarangan! kamu pikir Papah kamu ini brondong tua yang suka sama daun muda?!" ucap Katrine sambil mengepalkan tangan.


"Mamah!!!"


Riuh sudah suasana di meja makan, tawa Nandha dan yang lainnya pecah melihat tingkah keluarga Effendi. Keluarga kaya yang berusaha hidup tidak mencolok di mata umum. Keluarga yang selalu jauh dari kabar-kabar miring dan isu-isu tak sedap.


"Mah ... kita balik ke markas dulu ya," pamit Bennedict pada Katrine.


"Loh kalian mau balik sekarang?" jawab Katrine dengan ekspresi tidak tega.


"Iya Mah, masih ada yang harus diurus di markas," balas Bennedict.


Ketrine menghela nafas, "Oke kalian pulang lah. Urus apa yang belum kalian urus, jangan kecapean, jangan begadang. Pulang belajar besok kalian sekolah, ngerti? " kata Kathrine memberi nasehat kepada Bennedict dan juga William.


Bennedict dan William pun akhirnya pergi meninggalkan rumah keluarga Effendi dengan tenang. meninggalkan keempat anggota yang terdiri dari Tengku, Ketrine, Dhany, dan juga Nandha. Karena ke-2 orang tersebut telah pergi akhirnya keadaan rumah tersebut kembali sunyi hanya dentingan sendok yang bertemu piring.


"Kapan kalian akan memberikan cucu?" tanya Tengku membuka pembicaraan.


Bruuussshhh


Dhany memuncratkan semua yang ada di dalam mulutnya ke atas meja yang berhasil membuat Tengku dan Katrine murka.


"Apa-apaan ini?! sungguh tidak sopan!!" tegur Tengku.


"Nah Papah sendiri apa-apaan? baru juga kemarin bikin sekarang udah mau jadi aja dikira bikin kendi apa bisa langsung jadi," cicit Dhany.


"Papah nggak boleh gitu aahh, ya udah kalian mau nginep disini apa pulang ke rumah kalian?" tanya Katrine.


Dhany memandang Nandha sekilas, "Kayaknya kita bakal nginep aja mah," jawab Nandha sembari melirik arlojinya. "Tanggung kalau pulang udah capek juga."


Mereka melanjutkan kegiatan berikutnya dengan menonton siaran televisi bersama-sama di ruang keluarga. Gelak tawa memenuhi seisi ruangan, membuat beberapa pelayang yang sedang lewat mengulum senyum bahagia.


Rumah yang biasanya sepi sunyi kini berubah menjadi lebih hangat setelah kedatangan Nandha, menantu yang membawa segala keceriaan.


Nandha sendiri merasa sangat bahagia. Ia tak pernah membayangkan akan memiliki seorang suami yang bucin dan keluarga mertua yang sangat menyayanginya.


"Aku bahagia banget dapet kamu Yang. Tapi aku takut, aku harus membayar mahal atas kebahagiaan ini." batin Nandha yang tengah memeluk tubuh Dhany.


Dhany mengusap pelan pucuk kepala Nandha, "Kamu hartaku yang paling berharga. Apapun akan ku lakukan untuk membahagiakan dan melindungi kamu. Aku pernah sakit hati, dan aku harap kamu nggak akan melakukan hal yang sama seperti dia." di kecupnya kening sang istri secara singkat.


Jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam. Nandha sudah terlelap di paha sang suami dengan damai. Dhany menatap wajah damai sang istri yang sesekali nampak mengulas senyuman.


Dia merasa sangat beruntung mendapatkan gadis seperti Nandha. Gadis yang sangat tangguh, gadis yang tak pernah mengeluh dan tak pernah meminta perlindungan. Gadis yang selalu mencoba menangani semuanya sendirian. Gadis yang selalu mandiri, Dhany sebenarnya berharap agar Nandha mengandalkannya. Dia juga ingin menjadi sosok yang direpotkan oleh sang istri.


"Mah, Pah. Dhany bawa Nandha ke dalam dulu yah, kasian kalau harus tidur disini," pinta Dhany undur diri.

__ADS_1


"Iya nak, hati-hati ya menantu kesayangan Papah itu," sahut Tengku.


Dhany mengangkat tubuh sang istri dengan hati-hati. Sebelum dia kembali ke kamar ia sempat membalas ucapan sang Papah, "Nggak, nanti bakal Dhany hempasin pas di kamar."


Dhany melirik ke arah sang Papah yang nampak tengah mengomel di bawah sana. Perlahan ia menaiki tangga sampai akhirnya sampai di kamar lamanya.


Seusai membaringkan sang istri dan juga memberi kecupan singkat di bibirnya sebagai kecupan selamat malam. Ia beranjak untuk menelfon William.


"Halo William," sapa Dhany saat panggilannya terjawab.


"Ya Tuan? Apa ada yang bisa bantu?" tanya Wiiliam dari seberang sana.


"Gue hanya ingin laporan terperinci mengenai keluarga Carren," sambungnya.


"Baik Tuan, tolong tunggu sebentar."


Terdengar suara langkah kaki menjauh dan kembali mendekat. Dhany menebak bahwa William sempat pergi meninggalkan ponselnya di suatu tempat dan kembali setelah mendapatkannya.


"Jadi Tuan, seperti yang saya laporkan tadi siang. Saya sudah melenyapkan tuan Sandi dengan mencincangnya dan memberikannya kepada ikan piranha kesayangan anda. Lalu untuk Wanda sudah di urus oleh Ben, setelah konsultasi dengan ibunya beberapa waktu lalu. Ben memasukkannya ke rumah sakit jiwa sambil membayar orang untuk menyamar menjadi tuan Susanto agar dia semakin tertekan. Sedangkan Jafar dan Lional sudah di masukan ke dalam salah satu kawah gunung berapi oleh Leon." William memberi laporan terperinci soal tugas mereka bertiga.


"Bagaimana soal harta kekayaan mereka?"


"Untuk itu kita mengalami sedikit kesulitan Tuan, pasalnya Nyonya tua itu menolaknya. Beliau bersikeras ingin memberikan seluruh harta Sandi kepada anda," sahut William.


Hening.


Dhany tengah berpikir apa yang akan ia lakukan dengan kekayaan keluarga Carren. Sampai akhirnya ia memutuskan.


"Will."


"Ya tuan?" jawab William saat mendengar namanya di panggil oleh tuannya.


"Bagaimana kita terima aja harta itu, terus ubah menjadi aset ghost crime. Masukin semua itu ke perusahaan ternama kayak perusahaan papah sama Nandha?" tanya Dhany setelah termenung.


"Semua terserah anda Tuan."


"Baiklah kalau begitu, untuk sementara gitu aja. Lo jangan lupa istirahat gue tidur dulu." Dhany lantas mematikan sambungan telepon selulernya.


*****


Matahari dengan usilnya menyelinap menganggu tidur pulas seorang Dhany. Anak laki-laki itu mengerjap merasakan silaunya matahari pagi. Netranya berusaha mengatur cahaya yang di terima oleh retinanya.


Ia merabah sisi lain ranjangnya, berharap bisa menggapai dan memeluk tubuh rampingbsang istri. Namun apa yang di dapatkan? Nihil. Tak ada tubuh sang istri disana. Ranjang tersebut sudah kosong dan terasa dingin, artinya Nandha sudah lama beranjak dari sana.


"Yang ... Ayo bangun, kita berangkat bareng." Suara merdu yang masuk ke gendang telinganya. Suara yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga.


"Kamu darimana aja? Aku nyariin, rasanya takut pas bangun gada kamu," ucap Dhany yang masih bermalasan dengan ranjangnya.


Nandha meletakan seporsi sandwich di atas nakas sebelum mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang Dhany. "Aku bikin sarapan buat kamu sama yang lainnya," katanya.


Dhany merengkuh tubuh Nandha, "Kan udah aku bilang, kamu nggak boleh ngerjain apapun di rumah ini. Apa gunanya Papah sama Mamah bayar para maid tiap bulan kalau ternyata menantunya masih ngerjain tugas itu?" kata Dhany merajuk.


Diusapnya kepala Dhany dengan lembut, "Sayang, dengerin aku. Aku seneng sama kerjaan dapur, aku seneng bisa buatin sarapan buat semuanya. Aku nggak selamanya kan masak di dapur, kamu nikahin aku bukan buat alat transaksi ataupun penghangat ranjangkan? Jadi please jangan terlalu manjain aku," pinta Nandha lembut.


Dhany terharu mendengar jawaban dari sang istri yang begitu dewasa, "Morning kiss ku mana?" Dhany memajukan bibirnya meminta jatah paginya.


"Dih ... Gosok gigi sana, bau jigong tau," cibir Nandha.


Dhany tidak peduli dengan cibiran yang ia terima. Dengan sigap di tariknya tengkuk Nandha sampai sang empunya terkejut. Dua benda kenyal nan lembut saling menyatu mencipkatan sensasi sengatan listrik di tubuh keduanya.


Dhany kecupan pelan bibir mungil sang istri. Lumayan manis untuk awal hari yang baik. Kecupan berubah menjadi pangutan panas. Tanpa sadar tangan Dhany sudah menyusup ke dalam baju Nandha mengusap dan punggung serta menjelajah kesana kemari.


Nandha melenguh nikmat saat tangan Dhany menyentuh aset kembarnya. Dhany semakin kalap saat des*h*n demi des*h*n lolos dari bibir Nandha. Keadaan semakin memanas, pasokan oksigen keduanya juga semakin menipis membuat keduanya terpaksa melepas morning kiss-nya.


Sorot mata Dhany melayu terlihat jelas kabut dimatanya. Deru nafasnya menjadi berat, "Yang minta jatah ya?" pintanya dengan suara serak.


Dengan nafas terengah Nandha menjawab, "Nggak ada! Gue nggak mau jalannya pengkor gara-gara kamu pagi-pagi minta jatah."


Nandha segera menarik tubuhnya dan berlari menuju kamar mandi. Dhany hanya bisa melongo saat melihat punggung sang istri hilang di balik pintu kamar mandi.


"Hmm, yang sabar ya dek. Kali ini kita main solo aja," keluh Dhany yang sedang memegangi gundukan di balik celananya.

__ADS_1


Di meja makan sudah ada Papah dan Mamah Dhany yang tengah asik melahap sarapan buatan sang menantu.


"Masakan siapa ini? Kenapa rasanya beda, lebih enak dan fresh." puji Katrine sambil terus melahap roti isi buatan Nandha.


"Itu nona muda yang memasak Nyonya," jawab salah satu maid yang berjaga disana.


Tengku terkejut mendengar hal itu, matanya beberapa kali mengerjap takjub. "Ohoho menantu ini hebat sekali ya," timpalnya.


Suara derap kaki menuruni anak tangga membuat Tengku dan yang lainnya melirik kearah tangga. Nampak Nandha yang tengah berlarian diiringi gelak tawa dan Dhany yang tengah berlari menyusulnya sambil mengomel.


"Yang kamu mah tega sama aku," protes Dhany yang terus mengejar Nandha.


Nandha terus berlari sambil cekikikan mendengar protes yang di layang oleh sang suami. Melihat samg menantu yang menuruni tangga dengan tergesa membuat Tengku menjadi panik.


"Aduuh Nak, jangan lari-lari nanti kalau jatuh gimana?" seru Tengku bergegas menjemput sang menantu di ujung tangga.


"Awas!!"


Apa yang di khawatirkan oleh Tengku ternyata benar. Saat di tengah larinya tiba-tiba Nandha terpeleset dan hampir saja terjatuh jika tangan kekar Dhany tak segera menangkapnya.


"Kamu sekarang makin bandel ya, hem? Kayaknya hukuman yang ku beri belum cukup membuatmu jerah," ucap Dhany dengan suara deduktif.


"Heh!! Dasar bocah nakal. Kalau menantuku jatuh terus lecet gimana?! Kamu mau Papah hukum, hah?!" Tengku mengamuk sambil berkacak pinggang di bawah sana.


Kedua insan yang tengah berpelukan diatas tangga malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar amukan sang Papah.


"Nggak papa kok Pah, kan ada Dhany yang siap siaga. Lagian menantu Papah nih yang nakal, suami minta jatah tapi nggak di kasih," cicit Dhany mengadukan menolakan sang istri tadi.


"Ku bungkus mulutmu ya, nggak tau mau sekolah apa. Udah lepasin aku, aku mau balikin piring terus kita berangkat," jawab Nandha.


Setelah berbasa-basi dengan kedua orang tuanya Nandha dan Dhany memilih berpamitan untuk segera kembali ke sekolah. Karena mereka menginap di kediaman Effendi dan disana tidak ada mobil Nandha, maka mereka memutuskan untuk berangkat bersama.


Seisi sekolah heboh saat melihat kedatangan mobil sport mewah milik Dhany. Suasana kembali riuh saat melihat sosok gadis berseragam yang keluar dari balik pintu penumpang. Ya, gadis itu adalah Nandha.


"Sayang ...." Lengkingan suara yang memekikan telinga berhasil menyambut kedatangan mereka. Siapa lagi kalau bukan Carla.


"Lo tadi sarapan apa sih La? Gede banget suara lo," protes Nandha. Dia sesekali meniupkan udara ke kepalan tangan dan di pindah ke telinga.


Mendadak Carla menjadi lemas, "Gue belum sarapan njiir," keluhnya dengan nada memelas.


Di belakang Carla sudah ada teman-teman yang lainnya. Mereka lantas menggandeng Nandha dan Dhany untuk di giring ke kantin. Namun saat mereka akan pergi mobil William masuk bersama dengan motor gede milik Leon. Yang membuat mereka terpaksa menghentikan langkahnya.


"Itu William, kita tungguin aja sekalian," ajak Victoria.


"Halo everybody, cogan comeback nih. Ada yang rindu nggak?" sapa Leon dengan antusias.


Krik ... Krik ...


Mereka tak menanggapi ucapan Leon yang terlewat ngaco. Beda halnya dengan Leon yang heboh William hanya diam sambil melempar tas sekolah Dhany dan Nandha.


"Yo ... makasih sob," ucap Dhany.


William hanya mengangguk. Rencana ke kantin pun kembali tertunda karena bunyi bel tanda masuk berbunyi. Carla sepontan berteriak kesal dan memaki penuh emosi.


"Pelajaran pertama apa?" tanya Victoria saat sampai di kelas.


"Musuh kita," sahut Carla lesu.


"Bjiiir, makin loyo dong lu La," ejek Nandha yang diiringi tawa teman-temannya.


"Suek lu ya Ndha," balas Carla dengan bibir yang mengerucut.


"Emang musuh kalian siapa Yang?" tanya Dhany setengah berbisik.


Nandha menatap mata Dhany dengan intens, "Dia musuh kita, bukan kalian. Seharusnya sih kamu juga benci dia," jawab Nandha yang masih memandangi wajah tampan Dhany.


Belum selesai acara menerka-nerkanya. Sosok cantik bertubuh langsing mengenakan pakaian dinas masuk sambil membawa setumpuk buku di dekapannya.


"Selamat pagi anak-anak," sapanya dengan suara ramahnya.


*****

__ADS_1


Sekali lagi Chiplux minta maaf ya gaes karena udah lama hiatus. Soalnya Chiplux lagi banyak masalah, ada tekanan batin juga. Daripada nanti novelnya ngaco jadi Chiplux milih buat hiatus sampai kondisinya bener-bener bagus buat Chiplux. Buat kalian yang udah setia nunggu Chiplux up, terima kasih banyak ya. Maaf karena terlalu lama hiatus.


__ADS_2