
Budayakan like, koment, vote, dan follow ya gaes, biar Chiplux semangat upnya.
*****
"T-tunggu dulu!!!" potong Boy, "Kok lu manggil Dhany tuan? dan nyonya? maksudnya nyonya itu siapa? Nandha?" lanjutnya mencecar William dengan berbagai pertanyaan.
"Itu karena gue.."
"Dia orang gue," potong Dhany dari atas tangga.
Semua orang memandang kearah Dhany yang berjalan menuruni anak tangga. Ia langsung menepuk pundak William sambil berbisik.
"Kebiasaan ya kalau di luar auto panggil tuan," bisiknya sambil bersemirk.
"Kalian pasti bingung ya, kenapa William manggil gue tuan? itu karena dia orang gue, dia itu tangan kanan gue," jelas Dhany dengan wajah seriusnya.
Suasana di ruangan itu berubah menjadi kaku karena Dhany memasang tampang seriusnya. Terpancar aura mendominasi dan kepimpinan dari sorot matanya. Tak jarang William merasakan bahwa tuannya tengah mengeluarkan aura membunuhnya, namun ia yakin teman-temannya tak akan sadar akan hal itu, karena anak-anak itu masih polos dan manis.
"Tangan kanan?" ulang Vian sambil mengangkat sebelah alisnya.
Dhany mengangguk pelan, "Dia udah lama jadi temen gue, dan dia ini orang kepercayaan gue. Dia suka iseng panggil gue tuan sampai akhirnya keseringan deh," tutur Dhany dengan santai.
"Ayo duduk dulu," ajaknya, "Lily tolong kamu buatin minuman sama makanan, jangan lupa sama cemilannya juga ya," perintah Dhany.
"Baik tuan."
Vian menatap kearah Carla, Victoria, dan juga Suci secara bergantian, ia merasa aneh karena mereka ketiga tidak menunjukan ekspresi terkejut, seakan-akan mereka telah mengetahui semuanya dari awal.
"Kok gue ngearsa kalian nggak kaget sama sekali ya? atau ini cuma perasaan gue aja?" ucap Vian dengan nada menyelidik.
"Apaan sih Ian, kita kaget kok, cuma nggak kita perlihatin aja," elak Suci.
"Bener banget, kita mah mode elegan zheyenk," imbuh Carla dengan muka songongnya.
"Lu peka sama sesuatu yang nggak penting ya Ian," timpal Victoria, "Mending lu pekain hubungan kita aja, eeeaaaak," sambungnya.
"Bwahahha, si Ian di kode keras sama Ria, ayoo sikat bro, lampu hijau udah menyala dengan terang," ucap Boy sambil menepuk pundak Vian yang tengah tersipu malu.
Dhany dan William saling memandang dan menghembuskan nafas lega. Mereka atau yang lebih tepatnya Dhany, ia tak ingin teman-temannya tau bahwa ia adalah seorang mafia, mereka cukup tau bahwa ia dan Nandha adalah seorang pasangan itu saja. Tidak lebih.
"Btw, Nandha mana Dhan, kok nggak keliatan??" tanya Carla pada Dhany.
"Dosis obatnya terlalu tinggi, makanya tidurnya lama banget, udah kayak orang mati suri aja," ucap Dhany dengan ekspresi tenangnya.
Tiga orang pelayan masuk dan meletakan sebuah teko penuh air sirup dan beberapa piring cemilan, "Silakan di nikmati tuan-tuan dan nona-nona sekalian."
"Uwu ada piscok!!" teriak Carla dengan mata berbinar-binar.
"Yeaah kalau urusan makan aja paling cepet," cicit Boy.
"Diem lu JOMBLO, sirik aja, kalau lu mau ngomong entar gue baji setengah," bantah Carla dengan mata yang masih lurus memandang sepiring penuh pisang coklat yang ada di meja.
"Serius? beneran ya?" saut Boy.
"Iya, setengahnya sebeji maksud gue," ejek Carla sambil menggapai sepotong pisang coklat yang masih mengepu itu.
"Ssshhh-aauuwwwhh!!! panas-panas," keluh Carla yang kepanasan karna sembarangan menyomot pisang coklat tanpa di cari tau pisang itu panas atau hangat.
"Lo tuh bisa lebih hati-hati nggak sih La? masak pisang ngepul gitu lo comot aja," cibir Boy.
Boy memang mencibur tidakan Carla, namuan lain lagi dengan tindakannya. Ia menggapai tangan Carla yang di pakai untuk mencomot pisang panas itu dan langsung meniupinya.
"Huuufffftt...huuuffftt lain kali lebih hati-hati," ujarnya seraya terus meniupi tangan lentik Carla.
__ADS_1
"Aheeeeem...!!!"
Semua orang berdehem sambil memasang wajah masamnya, sedangkan yang di pandang malah asik cengengesan dan saling memandang.
"Gue cantik gue diem," ucap Suci dengan santai dan tenang.
"Jomblo merapat gaes," saut Victoria.
Mendengar ucapan Victoria dan Suci membuat geli hati Dhany dan William. Tak tahanlah mereka untuk tidak tertawa.
*****
Nandha merasa tidurnya terusik saat mendengar suara tawa yang begitu keras. Ia membuka matanya dengan perlahan.
"Astaga, itu siapa sih yang ketawa? kenceng banget sih. Kuping gue sampai pengang deh," keluhnya saat bangun.
"Eh? ini di rumahkan? kapan gue pulangnya? perasaan tadi di sekolah deh," ocehnya yang bingung.
"Loh, kayaknya tadi suara trio kuda lumping deh, mereka disini?"
Nandha mengganti seragamnya dengan baju santai dan langsung turun kebawah. Di bawah ia melihat suaminya berada di tengan teman-temannya yang tengah asik bercanda dengan penuh riang.
"Ngapain trio kuda lumping ada disini?" ucapnya sambil berjalan mendekat.
"Kamu udah bangun yang?" tanya Dhany yang langsung menyongsong kedatangan sang istri.
"Iyalah, kalau belum kan nggak akan ada disini," jawab Nandha singkat.
"Ehehe, maaf yang, sini pegangan," ucap Dhany sambil menyodorkan Tangannya yang langsung disambut oleh Nandha.
"Kalian beneran pacaran ya?" tanya Boy tanpa basa-basi.
"Enggak kok," jawab Dhany singkat, "Kita kan pasangan suami istri jadi bukan pacaran kan ya,awokawok," batinnya.
Dhany belum selesai dengan kebingungannya, tiba-tiba Nandha mendudukan dirinya sendiri di pangkuan Dhany sambil berkata, "Dia bukan pacar gue, tapi suami gue, hoooaaamm."
Semua melengo terutama para kaum adam yang ada disana, mereka beberapa kali mengerjap bingung. Nandha sendiri malah kembali tidur di pangkuan Dhany, di hadapan semua teman-temannya. William menepuk jidatnya saat melihat tingkah laku majikan perempuannya itu.
"APA!!!"
Teriak Boy dan Vian bersamaan, sedangkan trio kuda lumping malah asik tertawa lebar.
"Aduh ngakak banget, rasanya kayak kita flashback nggak sih? hahaha, jadi keinget waktu pertama kali kita tau kalau mereka pasangan suami istri," tutur Suci sambil tertawa lebar.
"Diem woy gue mau...ti..dur, zzzzzz...zzzz," ucap Nandha di tengah tidurnya yang langsung disambung oleh dengkuran merdunya.
"K-kalian beneran pasang suami istri??" tanya Boy lagi yang masih belum percaya.
"Iya Boy, kita udah nikah di Inggris 2 minggu yang lalu," aku Dhany sambil mengusap punggung sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Gila, jangan bilang waktu kalin nggak masuk sekiolah waktu itu?" tanya Vian.
Dhany hanya mengangguk, ia memilih sibuk mengusap kepala dan punggung sang istri. Tak lama datanglah seorang maid yang melapor bahwa makan siang yang ia minta untuk di sajikan saat ada teman-temannya.
"Tuan, makan siang sudah siap."
"Baik, kembalilah ke belakang," perintah Dhany pada maid tadi.
"William bawa mereka ke meja makan, aku mau bawa Nandha ke kamar dulu," perintah Dhany pada William.
"Baik tuan."
"Kalian pasti belum makan kan, sana ikut William ke meja makan. Tadi para maid udah siapin makan buat kalian, gue ke kamar dulu," ucap Dhany yang sudah berdiri dengan Nandha di gendongannya.
__ADS_1
"Uluuuh, kalian sweet banget sih, bikin iri deh. Ian, Ria juga mau di gendong," ujar Victoria sambil menampilkan puppy eyesnya.
"Hadeh, kode lagi nih," ucap Suci yang mulai jengah.
"Udah-udah kita makan aja yuk," ajak William.
William membawa Boy, Vian dan trio kuda lumping ke ruang makan, sedangkan Dhany kembali ke kamar sambil menggendong Nandha ala koala.
"Hadeh, mio caro kamu bikin orang kaget aja, ku pikir kamu tadi marah, nggak taunya malah bikin pengakuan," ucap Dhany lirih.
Dia meletakkan tubuh Nandha di atas kasaur dan melepaskan diri secara perlahan tak lupa ia menyelimuti tubuh mungi sang istri. Saat Dhany berbalik tiba-tiba ia berhenti, saat ini tangannya tengah di cekal oleh tangan sang istri. Ia menatap sendu sang istri yang tengah mengigau.
"Jangan pergi Nandha nggak mau di tinggal," igau Nandha dengan polosnya.
"Astaga, bini gue imut banget. Pingin gue uyel-uyel," batin Dhany, ia merasa batinnya terflower karena wajah imut sang istri saat mengigau.
"Ini gimana? dia nggak mau di tinggal, tapi disana ada temen-temen, walau ada si William tapi gue tetep nggak enak. Gue kan tuan rumah, masak iya gue mau biarin mereka" batin Dhany berkecamuk
"Nah iya, gue gitu aja."
Dhany kembali turun ke bawah dan langsung menyusul teman-temannya di meja makan.
"Loh Dhan, kok lo bawa Nandha balik kesini," ucap Suci yang melihat kedatangan Dhany bersama Nandha di gendongannya.
"Ehehehe, iya nih. Gue nggak tega ninggal Nandha di kamar sendirian," aku Dhany sambil nyengir.
Yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kebucinan seorang Dhany kepada istrinya.
"Tuan, bagaimana cara anda makan kalau anda terus memangku nyonya begitu?" tanya William yang mode formal.
Dhany mendelik mendengar ucapan William.
"Nggak papa, tenang aja. Masih bisa gue atur," jawab Dhany singkat.
William bergidik ngeri saat di pelototi oleh Dhany, ia tau kalau ia salah itu sebabnya ia merasa takut.
"Aduh, maafin William tuan," batin William.
Mereka akhirnya makan dengan nikmat, Dhany yang masih setia memangku sang istri dan teman-temannya yang asik bergurai di sela-sela makannya.
*****
"Kak, kakak udah tau siapa yang ngirim foto itu ke ayah," tanya Lional pada Jafar.
"Nggak tau, lagian kita nggak tau ekspedisi pengirmannya apa, coba aja kita tau," keluh Jafar yang masih fokus pada layar monitor komputernya itu.
"Ish, siapa sih yang udah berani cari mati sama kita? udah bosan hidup ya?" oceh Lional tak terkendali, "Kalau sampai gue tau siapa yang udah berani gangguin kita. Lihat aja, gue bakal bikin perhitungan. Gue bakal urus dia sampai tuntas," imbuhnya.
"Terserah kamu aja, yang penting kamu urus dia dengan baik, jangan sampai orang luar tau terutama pihak Ghost Crime, kita harus jaga nama baik kita biar bisa masuk jadi anggota Ghost Crime," terang Jafar pada Lional.
Semua yang berasal dari dunia ganster bahkan preman kelas teri, semua bermimpi untuk mendapatkan kesempatan masuk dan menjadi anggota tetap Ghost Crime. Organisasi mafia nomer satu di dunia, organisasi yang di pimpin oleh sang Dewa Kematian yang terkenal akan ke kejamannya.
Jafar dan Lional pun ingin masuk dan menjadi anggota tetap dari organisasi ini. Maka dari itu beberapa tahun ini kelompok milik Jafar menjaga sikapnya dengan sangat hati-hati.
"Kak, kenapa kakak nggak telfon si Bagus aja coba?" tanya Lional yang baru saja mendapat hidayah.
"Bener banget tuh, lumayan encer ya otak lu," puji Jafar sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Jafar menghubungi Bagus sampai 50x karena tidak ada yang menjawab, pada panggilan ke 54x ternyata dia angkatlah panggilan tadi. Bukannya suara Bagus yang di dengar oleh mereka saat sambungan itu tersambung, namun desahan lucknut orang berhubungan sexsual.
"Siapa lagi ini Gus?" batin Jafar dan Lional yang ternyata sama.
******
__ADS_1