The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 110


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya. Happy reading.😊😊😊


"Nona memang benar. Wanda adalah anak tunggal saya, tapi tak apa. Daripada saya nanti tidak tenang mending saya bereskan dari sekarang. Dan untuk masalah harta, saya akan ambil alih semua harta Sandi dan menyerahkannya kepada kalian," jawab nyonya Lilis sambil tersenyum.


*****


Kedua orang itu hanya saling menatap. Tak ada yang bersuara, mereka hanyut dalam pikiran masing - masing. Sampai akhirnya Nandha bersuara.


"Nyonya, saya rasa kami tidak pantas menerima semua itu. Sudah cukup anda membayar organisasi suami saya dengan uang 15 triliyun kemarin. Untuk urusan kekayaan ini lebih baik anda suruh seseorang untuk menyumbangkannya. Saya rasa itu lebih baik." saran Nandha.


Nyonya tua itu tersenyum puas, "Memang anak yang baik, nak Dhany kamu beruntung sekali bisa mendapatkan istri sebaik nak Nandha," kata Nyonya itu.


"Terima kasih Nyonya, saya memang harus bersyukur terutama pada menantu dan cucu tertua anda yang sudah menyia - nyiakan gadis manis ini," jawab Dhany halus sambil menoel pipi sang istri..


Nyonya Lilis terhenyak, "Apa katamu nak Dhany?" tanya Nyonya tua.


"Istri saya ini adalah mantan kekasih dari cucu tertua anda. Ayahnya tak mengizinkan mereka merajut kasih dengan alasan kalau istriku ini anak orang miskin. Istriku ini memang suka menyembunyikan identitasnya, karena itulah banyak orang yang salah paham padanya," jelas Dhany.


Wanita tua itu kini tengah mangut - mangut, "Begitu rupanya. Saya percaya, Sandi memang orang yang tamak." kata nyonya Lilis.


Setelah mengobrol panjang kali lebar, nyonya Lilis memutuskan untuk undur diri. Beliau pulang di kawal oleh orang - orang Dhany hang sedari tadi menunggu di luar ruangan.


"Yang ... " panggil Dhany manja.


"Apa?? Hemm ... " tanya Nandha sambil menyeruput teh yang tadi di buatnya.


"Kamu nggak takutkan sama aku??" tanya Dhany yang menyembunyikan wajahnya d ceruk leher Nandha.


"Iya ... aku takut banget ... " ucap Nandha sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Iiih ... kok gitu sih," rengek Dhany.


Nandha tertawa berbahak - bahak, "Hahahaha, kamu itu aneh banget ya. Tadi aja nyerimin sekarang malah kek hello kitty gini," kata Nandha.


"Yah mau gimana lagi, kamu kan tau sendiri kalau aku kesini sebagai pemimpin organisasi mafia. kalau aku sampai lembek nanti nggak bakal di hormatin tau. Kamu tau nggak, tadi di hati aku tuh udah ketar - ketir banget pas lihat gerak - gerik William. Ditambah pas lihat kamu pingsan itu hatiku bergetar tau ... rasanya itu anjink .... banget," oceh Dhany,


"Rasanya seperti menjadi Ironman ... " balas Nandha.


"Odading mang Olengnya kakak ..." sahut Dhany.


Karena percakapan ini lah akhirnya mereka tertawa bersama. Bryan yang sedang membuka pintu ruangan itupun menjadi kebingungan. Dia tak pernah mendengar tawa lepas adiknya untuk waktu yang cukup lama.


"Hey ... hey ... hey. Apa yang sedang kalian ketawain ? Suara kalian itu menggelegar tau," kata Bryan saat masuk ruang kerjanya.


"Ini lho kak ... Si Dhany turun pangkat jadi jualan odading," jawab Nandha sambil menyembunyikan tawanya.


"Ihh .. mana ada. Kamu yang bener aja dong," protes Dhany.


"Odading mang Oleng yang lagi viral itukah ?" tanya Bryan.


"Iya, katanya sekarang Ghost crime udah nggak butuh dia, makanya dia mau turun pangkat jadi bakul odading aja, hahaha." Nandha terus mengejek suaminya itu.


"Kalau kamu masih ledekin aku terus ... Lihat aja bakal ada hukuman keras malam ini," ancam Dhany halus.


Nandha mengingat hukuman - hukuman yang penah di berikan oleh Dhany padanya. Saat mengingat hal itu, yang muncul di bayangan Nandha adalah adegan dewasa mereka bersama. Seketika wajah Nandha menjadi merah padam layaknya stowberry yang siap di petik.


"Muka lu ngapa merah gitu dek?" tanya Bryan.

__ADS_1


Dhany ikut menatap wajah Nandha, "Wah ... pasti lagi mikir yang nggak - nggak nih," goda Dhany.


"A-apaan sih nggak ya. Kamu tuh yang pikirannya mesum terus," bantah Nandha.


"Kalau emang nggak mikirin apa - apa. Kenapa itu pipi berubah jadi tomat mateng hah?" Dhany semakin gencar menggoda Nandha.


Nandha menggeleng - gelengkan kepalanya sambil terus menolak tuduhan yang di berikan oleh Dhany. Suasana disana pun berubah menjadi ramai kembali.


Tok ... Tok ... Tok


Suara ketukan pintu dan disusul gerakan pintu di buka. munculah raut wajah William disana dengan percikan darah di bajunya.


"William ?? Ada apa?" tanya Dhany.


William menundukkan kepalanya, "Lapor tuan, tugas saya sudah selesai." jawab William sopan.


"Kamu apakan mereka Will?" tanya Nandha penasaran.


"Emm ... I-ini .."


"Jawab saja Will," ucap Dhany memotong ucapan William.


Jika tadi nampak jelas keraguan dalam diri William saat ingin menjawab pertanyaan Nandha, kini dia sudah tampak lebih tenang karena bantuan dari tuannya itu.


"Maaf Nyonya saya tidak tau dengan yang lainnya, karena bagian saya hanya penghabisi tuan Sandi. Untuk dia, saya sudah mencincang tubuhnya menjadi ratusan potong dan memberikannya pada ikan Piranha peliharaan tuan," jawab William santai.


"Kamu mencincangnya?" tanya Bryan ngeri.


"Benar tuan."


Bryan yang jarang terkagum pada sesuatu. kini tengah terkagum - kagum akan keberanian William.


"Benar," jawab William singkat padat dan jelas.


"Waow benar - benar berdarah dingin. Apa kamu tak ingin mengikutiku ??? Aku akan memberimu bayaran 5x lipat dari yang diberi oleh si Tokek," ucap Bryan menarwakan perpindahan tuan.


"Woy ... nggak bisa gitu dong," protes Dhany.


"Diem lu Tokek," sahut Bryan.


William diam saja, namun nampak jelas ekspresi ketidak sukaan di wajahnya. Hal itu tak luput dari pandangan seorang Nandha.


"Tidak minat," jawab William dan langsung melenggang keluar.


"Apa - apaan itu??" kata Bryan sambil memperhatikan kepergian William.


Dhany melepas nafas lega saat melihat William meninggalkan mereka, "huufftt ... syukurlah kalau dia nggak papa," ucapnya.


"Bersyukurlah elo. Gue tadi udah panik banget. Gue kaget pas denger lu ngomong kek gitu tadi," lanjutnya.


"Kayaknya elo udah tau kalau itu nggak bakal berhasil??" tanya Bryan.


"Bukan tau lagi, kalau gue mah udah hafal. Ini bukan pertama kalinya buat William di tawari pindah tuan. Semuanya di tolak, dan yang lebih parah ... Mereka dibuatnya hampir kehilangan nyawa sama William. Makanya gue tadi takut lo bakal kehilangan lidah atau mungkin mata lo," jelas Dhany.


Nandha memiringkan kepalanya, ia tak mengerti apa yang di maksud oleh sang suami.


"Apa?? Kamu nggak faham??" tanya Dhany melirik Nandha.

__ADS_1


Nandha nyengir, "Enggak, heehehe," jawab Nandha.


Dhany menghela nafas frustasi, "Huufff ... Jadi gini lho. Dulu ada salah satu klien yang suka sama William. Jadi dia nawarin William buat ikut sama dia. Kamu pasti tau kan gimana setianya William ke aku. Nah jadi tawaran itu di tolak, si klien nggak terima terus jelek - jelekin aku. Katanya aku miskin, aku nggak bakal sanggup bayar William dengan tinggi, akhirnya William emosi di tusuknya si klien. Nggak sampai disitu saja, William bahkan memotong lidah orang itu," kata Dhany menjelaskan kejadian bertahun - tahun silam.


"Dia bisa segila itu?!!" tanya Nandha tercengang.


"Benar, makanya waktu denger kakak kamu nawarin hal bodoh kayak tadi bikin aku kaget."


"Gue nggak nyangka bocah dengan wajah selembut itu bisa semengerikan itu," kata Bryan sambil menggelengkan kepala.


"Makanya, lain kali kalo sama William itu hati - hati. Ngadepin dia itu nggak gampang," kata Dhany.


"Lah mana saya tau, saya kan ikan," jawab Bryan dengan bahu terangkat.


"Ngeledik ni orang, dia itu nggak pandang bulu. Kamu pasti inget sama Ratu kan Yang??" tanya Dhany pada Nandha.


"Ingetlah, kan aku habis nemuin dia," jawab Nandha.


"Nah menurut kamu siapa yang udah hajar dia. Dia di hajar sampai hampir mati sama William cuma gara - gara dia ngehina Leon. Bahkan yang aku dengar dari Leon, William sempat ngukir kata 'jal*ng' di punggung Ratu pakek pisau." kata Dhany lagi.


"Apa?!! Bagaimana bisa William sekejam ini??" tany Nandha tak percaya.


"Benar, diusianya yang masih muda ini, bagaimana mungkin dia bisa bertindak sekejam ini," imbuh Bryan.


"Kalian pasti tau bagaimana sikap psycopat, dulu dia mengalami hal yang sangat mengerikan sebelum kenal aku. Aku sendiri nggak tau apa yang udah di alami sama dia, yang aku tau dari Leon hanya sebatas penderitaan mereka bukan William." kata Dhang lagi.


Tok ... Tok ... Tok


Suara ketukan pintu kembali menghentikan obrolan mereka. Bennedict masuk dengan pakaian bersih tanpa setetes darah pun di bajunya. Berbanding terbalik dengan William yang datng dengan berlumuran darah.


"Lapor tuan, tugas sudah selesai," kata Bennedict melapor pada Dhany.


"Kali ini kalian apain orang - orang itu??" tanya Nandha.


"Maaf Nyonya?"


"Tadi William kesini dan melapor katanya dia udah mencincang daging, makanya tadi aku tanya. Sekarang mereka kamu apain," ujar Nandha.


"Ohh begitu toh, maaf Nyonya tapi saya hanga bertanggung jawab membuat gila wanita sinting itu," jawab Bennedict.


"Lalu apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Nandha lagi.


"Em ... saya hanya memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Saya juga sudah mengirim orang untuk menyamar sebagai tuan Susanto guna meneror wanita itu," jelas Bennedict.


"Yang ini masih halusan dikit. Tinggal kita lihat apa ulah si Leon," batin Nandha.


Bennedict menatap Nandha dengan sangat intens, entah apa yang ada di pikirannya sampai - sampai wajahnya berubah menjadi merah padam.


"Kenapa kau menatap istriku seperti itu?? Hentikan pikiran kotormu itu sebelum matamu di congkel oleh William," tegur Dhany.


Bennedict menjadi salah tingkah saat mendengar ucapan tuannya itu. Daripada ia menjadi bahan percobaan William, bennedict memilih meninggalkan ruangan itu sambil cengengesan.


"Apa - apaan sih Yang?" tanya Nandha tak mengerti akan ucapan Dhany.


Dhany mendekatkan wajahnya, "Hati - hati sama Ben, pikiran dia itu ngeres. Melihat dari mukanya jelas banget dia tadi lagi bayangin hal yang enggak - enggak sama kamu," kata Dhany tegas.


Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci saja. Nafas mereka bahkan bisa di rasakan satu sama lain. Hal itu membuat Bryan menjadi gerah dan melemparkan tutup pulpen yang ada di sakunya.

__ADS_1


"Ada jomblo disini," katanya.


*****


__ADS_2