
*****
Seorang anak laki-laki berseragam sekolah tengah tertidur pulas di dalam ruangan serba hitam.
Drrrt....Drrrrt...Drrrtt
"Astaga siapa sih pagi-pagi nelfonin gue, elah ganggu aja, " gerutu Leon sambil mengacak-acak rambutnya, karena merasa waktu tidurnya terganggu.
"Hm, halo siapa ini? gue lagi tidur nih," keluh Leon.
"Lo bolos lagi dek?" kata seorang laki-laki yang sangat ia kenal.
"BANG WILL!!" teriak Leon yang langsung bangun dari tidurnya.
"Iya ini gue, lo bolos dimana? markaskah?" tanya William dari seberang sana.
Leon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, "I-iya bang, gue ada di markas," cicit Leon.
Leon berubah menjadi lesu saat mendengar suara hembusan nafas panjang dari seberang sana, "Maaf bang, gue ngantuk banget. Lagian di sekolah gue nggak asik," ucapnya menjelaskan.
"Ya udah kali ini aja, nggak ada lain kali. Lagian gue nelfon elu ada urusan penting yang mau gue omongin".
"Urusan apa bang?" tanya Leon sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nanti gue mau ajak elu jenguk nyonya di rumah sakit, jadi nanti tolong elu beliin buah tangan yang banyak ya".
Leon terkejut bukan main mendengar ucapan sang kakak yang ingin mengajaknya menjenguk istri tuannya itu. Pasalnya ia belum pernah bertemu dengan Nandha karea ia baru saja tiba di indonesia setelah sekian lama tinggal di Belanda bersama sang ayah.
"Seriously??" tegas Leon yang tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Iya, nanti beliin snack anak-anak juga buat anak tuan".
"What ? emang tuan punya anak? kok gue nggak tau sih bang," protes Leon, ia merasa ia tak tau apa-apa tentang tuannya itu.
"Nanti gue ceritain, pokoknya elo ikutin aja omongan gue. Terus kalo emang sekolah elo nggak asik lo bisa pindah sekolah disini biar gue yang urusin dokumennya".
__ADS_1
"Beneran ya bang? lo nggak bohongin gue kan ya?" cecar Leon yang berharap bahwa ucapan William benar adanya.
"Kalo lo bersikap baik ya nggak apa-apa. Pokoknya jangan lupa ucapan gue tadi ya?"
"Siap bang"
Telfon pun berakhir, Leon lantas menggapai ranselnya pergi meninggal ruangan tempatnya tidur. Beberapa anggota yang melihatnya keluar ruanganpun menyapanya, namun ia hanya menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan markas.
****
Bu Siska di ruangannya tengah sibuk menyembunyikan dirinya, ia merasa malu dan juga senang disaat bersamaan. Ia senang karena bisa melihat Dhany sang murid idamannya tengah tertidur pulas, dan malu karena aksinya itu tertangkap basah.
"Astaga apa yang sudah ku lakukan? kenapa aku seperti orang mesum," ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Tanpa sadar kini wajahnya tengah merona, "Tapi sumpah Dhany ganteng banget kalo tidur," gumamnya.
"Dia harus jadi milikku apapun yang terjadi, akan ku lakukan segala cara agar dia menjadi milikku, HANYA MILIKKU".
*****
Dua orang tengah duduk berhadapan di sebuah ruangan rahasia, siapa lagi kalau bukan Dhany dan William.
Dhany diam sesaat, "Biarin aja dulu, kita lihat apa yang akan dia lakukan," ucapnya setelah berpikir sejenak.
William mengerutkan dahinya karena tidak mengerti akan apa yang ada di dalam pikiran tuannya itu.
"Oh iya tuan, saya ingin memindahkan Leon ke sekolah ini agar lebih muda mengawasinya. Bolehkan tuan?" jelas William sekaligus meminta pendapat Dhany.
"Lakukan apapun yang kamu mau, selagi itu tak merugikan atau membongkar identitasku. Aku tak mau itu semua terjadi," jawab Dhany santai.
"Baik tuan akan saya pastikan semua aman,"ucap William meyakinkan Dhany.
"Gimana keadaan dunia kita Will, memngingat gue udah lama vakum dari sana?" tanya Dhany, ia ingin mengetahui perkembangan dunia mafia tempat ia bernaung selama ini.
"Karena selama ini kabar tentang tuan kami jaga dengan baik, jadi masih aman. Kita masih menempati posisi pertama sebagai mafia terkaya dan terkejam di dunia," lapor William kepada Dhany yang sangat terperinci.
__ADS_1
DEhany menganggukan kepala sebelum kembali bertanya, "Jadi kemarin itu nggak ada yang tau kalau gue ngilang?".
"Benar tuan,"ucap William membenarkan ucapan Dhany.
"Bagus, kalau begitu besok adakan rapat reguler di markas seperti biasa," perintah Dhany pada William yang langsung mendapat anggukan kepala dari William.
Mereka lanjut membahas dunia bawah yang sudah mereka kelola selama 2 tahun lebih ini. Hingga tanpa sadar mereka sudah melewatkan seluruh pelajaran hari ini.
"Will bentar lagi jam pelajaran selesai kita balik aja yuk," ajak Dhany sambil melirik kearah jam tangannya.
"Silakan anda duluan tuan, saya masih harus menemui Leon di markas," usul william pada Dhany.
"Kalian jadi ke rumah sakit?" tanya Dhany sambil mencari ransel yang ia lempar sembarang tadi.
"Jadi dong tuan, saya aja udah telfon Leon buat beli buah tangan kok," saut William sambil memonyongkan bibirnya.
Dhany mendelik melihat gaya manja William, "Will, gue normal ya. Gue geli liat muka lu kayak gitu sumpah," ucapnya sambil memasang ekspresi takut dan jyjyk sekaligus.
"Astaga Dhany! gue bukan gay Dhan buset dah," bantah William dengan wajah menggemaskannya.
Mendengar ucapan William yang berubah menjadi santai membuat Dhany tertawa lebar, "Hahahahaha, lagian elu sih. Masak lu nampili muka gitu di depan gue doang, lu kalau diluar aja kayak kulkas 4 pintu tau nggak?" uacap Dhany sambil menyeka air matanya yang menetes karena ulah William.
"Gue yang dingin danj cuek aja masih jadi rebutan apalagi kalo gue cute, bisa kejang semua orang," saut Willim dengan PDnya.
"Kalo ini gue beneran mau muntah Will," ucap Dhany sambil menutup mulutnya. "Btw, sekarang elu ngomongnya santai ya, pakai elo gue lagi," lanjutnya.
William terhenyak akan ucapan Dhany, "Maaf tuan, saya tidak sengaja," ucapnya meminta maaf pada Dhany.
"Santai aja kan kita temen," sambung Dhany sambil tertawa dan langsung merangkul William. "Ya udah gue duluan mau beli hadiah buat Taekie, bye".
Dhany meninggalkan ruangan lebih dulu di ikuti oleh William di belakangnya, mereka sama-sama menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing. Dhany pergi kearah rumah sakit sedangkn William kearah markas untuk menjemput sang adek, Leon.
Sebelum ke rumah sakit, Dhany mampir di sebuah mall untuk membelikan hadiah Taekie. Sebuah mobil mengikuti Dhany sedari ia keluar meninggalkan sekolah. Bukannya Dhany tak tau, ia hanya penasaran siapa? dan apa tujuannya?
Dengan santai Dhany turun dari mobil dan masuk kedalam mall, 20 menit ia berada di dalam mall dan saat keluar ia sudah menenteng banyak sekali paper bag. Mobil yang sedari tadi mengikutinya pun masih setia di parkiran tak jauh dari mobilnya. Dhany melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena ia merasa risih di ikuti terus.
__ADS_1
"Mau kemana elu Dhan? gue nggak bakal biarin elu lolos, karena elu kunci satu-satunya yang gue punya," ucap seseorang di dalam mobil penguntit itu.
****