
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
*****
Dhany keluar dari kamar hotel dengan wajah yang sumringah. Berbeda dengan Nandha yang nampak menekuk wajahnya sampai tampakseperti uang receh yang ada di tangan tukang cilok.
"Dasar kamvret, dia enak senyam senyum cengingas-cengingis, lah gue ... " batin Nandha.
Dhany berjalan di depan Nandha dengan santainya, Nandha yang ada di belakang Dhany terpaksa harus berjalan bersusah payah.
"Ini baru pagi yang indah," kata Dhany lirih.
Nandha memukul bagian belakang kepala Dhany, "Pagi yang indah mata kau!! badan gue udah sakit semua ini njiir," sahut Nandha berapi-api.
"Aduuh, kamu itu istriku apa musuhku sih. Lagian pukulan kamu keras banget yak, bisa-bisa aku gagar otak nih," keluh Dhany sambil mengusap kepalanya yang di pukul sang istri.
"Syukurin biar sekalian tuh jadi gagar gulung," balas Nandha dengan pedasnya.
"Dadar gulung woy .... DADAR GULUNG bukan GAGAR GULUNG!!!" teriak Dhany yang menimbulkan keributan.
Nandha membuat gerakan kilat bak ninja hattori kw super dan membungkam mulut Dhany.
"Jangan bikin malu kamu ya," ancam Nandha dengan mata yang melotot lebar.
Dhany kembali iseng pada sang istri. Dia membuka mulutnya pelan-pelan saat Nandha tengah sibuk celingak-celinguk. Nandha yang tak menyadari gerakan mulut Dhany terkejut saat benda kenyal dan basah menyentuh kulit tangannya.
"Dhany .... " pekik Nandha di barengi oleh wajah yang memerah.
"Apa?" Dhany terkekeh pelan.
Nandha memalingkan wajahnya.
"Kamu masih harus berlatih 100 tahun lagi kalau mau berurusan sama aku," kata Dhany.
"Tau ah ... " Nandha pergi meninggalkan Dhany di belakang.
Melihat sang istri yang tengah malu dan salah tingkah itu membuatnya gemas dan terkekeh ringan.
Dhany berlari menyusul Nandha dan langsung menggapai pinggangnya. Di gendonglah si Nandha ala tukang kuli membawa sekarung beras.
(Authornya terlalu barbar sampai tokohnya disamain sama karung berasπππ).
"Dhany ?!!"
Dhany hanya membalas teriakan Nandha dengan deheman singkat.
"Dari tadi kek kalau mau gendong," ucap Nandha sambil memeluk erat leher Dhany.
"Hahahaha, kamu kenapa? udah nggak kuat jalan ya?" tanya Dhany penuh tawa namun sungguh manis sekali.
"Iya, makanya jangan brutal-brutal banget lah," protes Nandha.
Pemandangan pagi itu di lihat oleh beberapa tamu hotel yang turun hendak mengambil sarapan di kafetaria. Mereka yang melihat tersipu malu oleh keromantisan yang di tunjukan oleh pasangan muda ini, namun ada juga beberapa orang yang menatap iri dan pandangan negatif lainnya.
Namun Dhany dan Nandha terlalu tuli untuk mendengarkan ocehan warga +62 yang memekakkan telinga.
"Kamu mau makan di rumah atau disini?" tanya Dhany sambil mengusap punggung sang istri.
"Kita ke tempat mamah yuk, aku kangen sama mamah nih," ajak Nandha.
"Boleh juga tuh, lagian deket juga kan rumah utama dari sini," jawab Dhany.
"Serius ya?"
"Iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu."
"Yeeeaaayyy .... " Nandha mempererat pelukannya.
Dhany tanpa rasa malu atau risih pada tatapan dan cibiran orang-orang yang ada disana. Dengan santainya ia menggendong Nandha sampai ke parkiran tempat dia memakirkan mobilnya.
"Kamu serius nggak bisa jalan?" tanya Dhany lagi.
"Kamu nggak liat kakiku gemeteran,"
"Maaf sayang," Dhany meminta maaf pada sang istri dengan wajah memelas.
"Kamu mah sejak dari malam pertama ngomongnya maaf yang maaf yang, aku janji bakal lebih pelan. Apaan ... pelan kagak brutal iya," cibir Nandha.
"Iya-iya bawel. Sabar napa, namanya aja pengantin baru, masih darah muda juga kan," goda Dhany.
"Awas lu gue bilangin bang Bryan entar baru nyahok," cicit Nandha.
"Kamu jangan aneh-aneh. Masak kamu mau lihat suami kamu dipukuli sama saudara kamu sendiri?"
"Kalau nggak mau di laporin sama abang ya pelan dikit." kata Nandha yang sudah menaikan suaranya hingga 2 oktaf.
"Sayang ini parkiran bawah tanah lho, dan kaca mobil aku pakek film jadi nggak bakal keliatan dari luar. Kamu jangan aneh-aneh kalau nggak mau aku hajar disini," ucap Dhany sambil memberi tatapan mesum pada Nandha.
"J-jangan aneh-aneh kamu ya."
Saat Dhany mendekatkan wajahnya pada wajah Nandha tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Ckckck, siapa sih nganggu banget," keluhnya.
"Halo ada apa?" tanya Dhany.
"Pagi boss ini gue, gue cuma pingin kasih kabar kalau tugas dari boss udah beres."
"Oke, lo dimana sekarang?" tanya Dhany.
"Gue lagi di markas kenapa?"
"Gue kesana sekarang,"
Dhany menutup pintu di sebelah Nandha dan langsung masuk di balik kemudi.
"Sayang kita ke tempat mamahnya kapan-kapan ya. Aku ada urusan yang nggak bisa aku tinggal," pinta Dhany.
"Oke nggak masalah, tapi kamu mau kemana?" tanya Nandha kepo.
"Ada urusan di markas, kamu ikut aja ya. Nanti dijalan aku beliin burger sama cola, gimana?" bujuk Dhany.
"Done!!"
Dhany pun mengusap kepala Nandha penuh kasih. Tanpa basa-basi dan mengulur waktu, Dhany pun menginjak pedal gasnya dengan kuat. Dia melajukan mobilnya cukup kencang dengan tujuan agar segera sampai di tujuan.
Dhany juga memenuhi ucapannya dengan membelikan burger dan cola di saat dia melihat kedai burger favorite sang istri.
"Perasaan baru keluar dari Burger King deh, kenapa udah sampai markas aja sih," kata Nanda menatap bangunan di depannya.
"Kamu aja yang terlalu menikmati perjalanannya. Orang kita udah hampir 25 menit kok," sahut Dhany.
__ADS_1
Nandha pun terkejut, "Iyakah?!!"
"Dasar," cibir Dhany.
"Selamat pagi tuan dan nyonya dewa kematian!!" sapa semua orang yang melihat mobil Dhany memasuki markas.
Dhany memakirkan mobilnya dan langsung membuka pintu mobil di sampingnya. Dia menggapai tubuh Nandha dan kembali menggendongnya. Setiap anggota yang melihat hal itu merasa aneh dan juga terharu.
Seorang dewa kematian yang terkenal begitu kejam dan mampu membunuh orang hanya dengan tatapan saja bisa menggendong seorang wanita dengan begitu romantisnya.
"Aduh ... aduh, sejak kapan majikan gue jadi bucin gini," kata seorang laki-laki yang ada disudut ruangan.
"Berisik!! buruan susul gue ke ruangan gue," kata Dhany singkat.
Laki-laki itu berdecak pelan, "Nggak elo nggak dia sama aja, sama-sama tukang perintah ... bikin gue kesel aja," kata laki-laki itu bergumam.
Dia memang bergumam namun dia tetep saja menuruti perintah Dhany. Setelah Dhany memasuki ruangannya tak lama kemudian laki-laki itu ikut menyusul dia.
"Ada apa lo kesini?" tanya Dhany.
"Jadi salah gue gitu kalau gue kesini?" kata laki-laki itu.
"Hoy apa kalian ngelupain gue?" protes Nandha.
"Ehehehe ... maaf yang," ucap Dhany sambil menempel pada Nandha.
"Bodo minggir sana," balas Nandha.
"Wft ... apa nih, jangan bilang kalau lo SSTI?" ucap laki-laki itu.
"SSTI?" ucap Nandha dan Dhany.
"Suami-Suami Takut Istri, hahhaha ... "
Bletak!!!
Laki-laki itu mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya dari seseorang yang baru saja datang.
"Aduh bangs*t,"
"Nggak ada akhlak ya lo, dia itu majikan lo. jangan seenak jidat ya Ben," kata Leon.
"Eh nyonya ... " mata Leon berbinar-binar melihat sosok Nandha yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangan it.
"Mau apa kamu?" tanya Dhany sambil menghadang langkah Leon yang hendak memeluk Nandha.
"Eh reflek tuan masih bagus aja yak," kilah Leon.
"Dasar kamu ya, Sayang kenalin ini Ben. Dia salah satu anak buahku," kata Dhany.
"Buah apa? Buahya ya," balas Nandha.
"Anjiir ini boss cewek mulutnya pedes amat yak. habis makan cabe buk ... " kata orang yang bernama Ben.
"Kagak kok. Cuma tadi di jalan nyemilin biji merica," jawab Nandha.
"Bhakshahahahah... " tawa Dhany dan Leon pecah mendengar jawaban Nandha yang terkesan nyablak.
"Sebenarnya kalian itu mau ngapain di ruangan gue?" tanya Dhany.
"Bentarlah tunggu sih abang gue dulu," sahut Leon.
"Apa? kenapa bawa-bawa nama gue?" sahut William yang sudah berdiri depan pintu.
"Ada apa?" tanya William.
"Kita bikin rapat sekarang aja mumpung si Ben ada disini,"
"Boleh juga saran lo itu," balas William.
William mengambil alih pembicaraan itu, "Jadi gini tuan. Saya sudah mendengar laporan dari Ben masalah orang itu, menurut saya lebih baik acara perekrutan anggota baru kita percepat saja, bagaimana?" tanya William.
"Lalu?"
"Kalian mau mengelabui musuh ya? pasti target kalian si kadal amazon," sahut Nandha.
"Benar nyonya, dan satu hal lagi. Menurut saya pribadai orang itu masih bisa kita selamatkan asal kita bergerak sesegera mungkin." kata William.
"Saya juga sudah membocorkan cara latihan kita di dark web. Tadi pagi aku lihat beberapa dari peserta banyak yang melihatnya kok." timpal Leon.
"Kalau saya, sudah jelas tugas saya yang paling gampang tapi juga susah. Saya sudah memberi informasi ataupun beberapa materi pada mereka yang membutuhkan walau kadang masih saya hiperbola," timpal Ben.
"Kalian harus merancang masalah ini serapi mungkin." kata Dhany.
Nandha diam seribu bahasa. Dia berusaha menilai akar masalah dan juga solusinya. "3 minggu," katanya.
"Ha?" semua orang menatap kearah Nandha.
"Kalau aku nggak salah ingat waktu buat hari itu adalah 3 bulan lagi kan, " semua orang mengangguk saat mendengar ucapan Nandha ini. "Jadi kita percepat aja menjadi 3 minggu. Mereka yang serius dan punya bekal dan kualitas baik pasti akan tenang namun tetap meningkatkan pelatihannya. Kalau yang model kek kadal amazon itu pasti bakal leha-leha dan bersantai karena dia merasa diri dia sudah memenuhi syarat," lanjutnya.
"Ehem," Dhany berdehem.
"Apa? cemburu? jangan kekanak-kanakan disaat kayak gini," kata Nandha.
"Aku memang anak-anak saat di depanmu," sahut Dhany lirih.
"Apa?"
"Nggak ada, terus gimana lagi?" tanya Dhany.
"Sebenernya hal ini bisa memberi kalian keutungan juga. 1, Kalian bisa ngerjain si Jafar karena seperti kata aku tadi, dia orang yang nggak cukup ilnu namun penuh gaya. 2, Kalian bisa dapat pasukan yang bener-bener berkualitas, orang masuk Ghost Crime hanya dengan tujuan agar tenar, dia bakal bersantai saat mengingat waktu audisinya masih lama. Berbeda dengan orang yang berkualitas tadi. 3, Ini menghemat waktu kalian menyeleksi kandidat-kanditnya," jelas Nandha.
"Jenius," puji Ben.
"Terima kasih, tapi dari dulu aku jenius," sahut Nandha menyombongkan dirinya sendiri.
"Nyesel gue mujinya."
"Ben tugas lo apaan? kenapa lo tadi bilang tugas lo gampang tapi juga susah?" tanya Nandha.
"Anda sebenernya tau apa tugas saya kan, anda hanya ingin memastikan pemikiran anda benar iya kan?" sahut Ben.
"Tentu. Menurutku yang namanya tugas gampang tapi susah pasti dia berinteraksi langsung dengan musuh secara berkala," kata Nandha.
"Smart girl."
Semua orang yang ada disana di buat terperanga akan kejeniusan dari seorang Nandha.
"Pantas AA group bisa melesat dan melambung tinggi dengan cepat, ternyata mereka memiliki pemimpin sekeren ini sih," puji Dhany juga.
"Apa AA group?!!" terian William, Leon, dan Ben bersamaan.
__ADS_1
"Berisik nyet," tegur Nandha smbil memegangi telinganya.
"Ini yang kalian bahas AA group yang ada Leakainya nggak sih?" tanya Ben.
"Lo kenal kak Kai?" tanya Nandha sambil menaikan alisnya.
"Kami semua kenal Leakai sayang, jangankan Leakai, kita semua bahkan juga kenal Bryan." sambung Dhany.
"Kalian juga kenal kakak?"
"Apa kakak? sebenarnya kamu ini punya kejutan apalagi sih, jangan bilang kalau kamu itu anaknya orang terkaya di dunia, si tuan Alexander Agatha sama Monica Aegis," kata Ben.
"Emang,"
Leon dan Ben jatuh terduduk saat mendengar jawab singkat dari seorang Nandha. Hanya William yang masih berdiri anteng di tempatnya karena dari awal dia tau siapa dan identitas yang dimiliki oleh Nandha.
"Gue bisa kena serangan jantung kalau gini terus," keluh Ben.
"Gue mau balik ke tempat bertugas gue aja, gue yang bakal sebar kabar masalah hari audisi itu," kata Ben sambi melangkah pergi meninggalkan teman-teman dan kedua bossnya tetap di dalam ruangan itu.
Dhany dan yang lainnya lanjut membahas langkah mereka selanjutnya.
*****
Bryan baru saja membuka matanya saat sang mommy marah-marah di kamarnya.
"Ada apa sih mom?" tanya Bryan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ini udah jam berapa? kenapa kamu nggak bangun-bangun. Adek kamu kemana ya? kok nomer telfon dia nggak di angkat," kata Monica khawatir.
"Mom stop khawatirin adek, dia udah nikah mom," protes Bryan.
"Mommy tau dia sudah menikah, tapi yang namanya seorang ibu itu wajar kalau khawatir sama anaknya."
"Ya udah nanti Bryan tanyain sama bodyguard sewaan Bryan yang biasa ngawal dia," kata Bryan akhirnya mengalah.
"Nah gitu dong."
"Ya udah mommy ngapain masih disini? mending mommy keluar gih, temenin si daddy kek," protes Bryan.
"Daddy kamu udah berangkat main golf sama temennya dari jam 8 tadi." jawab Monica.
"Apa? astaga si daddy, bukannya diem di rumah sama keluarga mumpung hari libur gini."
"Ya udah sih, kamu buruan mandi ini udah siang." Monica pergi meninggalkan kamar Bryan.
"Lagian si adek kemana sih?" gerutunya.
Bryan menggapai ponselnya untuk menelfon bodyguard pribadinya.
"Dimana?" tanyanya saat telfonnya terhubung.
"Masih memantau nona muda tuan."
"Bagus, posisi?" tanya Bryan lagi.
"Saya sekarang ada di markas besar Ghost Crime. Tuan dan nona muda datang kemari dari tadi pagi."
"Ngapain mereka disana?"
"Dari info yang saya dapat 3 minggu lagi adalah acara perekrutan anggota Ghost Crime yang baru," lapor orang itu.
"Pasti ada yang nggak beres. Ya sudah kamu lanjut pantau mereka dari sana jangan sampai ketahuan."
"Baik tuan," orang itu pun memutuskan sambungan telfonnya.
Bryan kembali ke ranjangnya untuk memejamkan matanya kembali. Namun baru saja terpejam dia sudah terbangun lagi. Dia kembali mencari ponselnya yang tadi ia lempar sembarangan. Dia mencari kontak sekretaris pribadinya.
"Halo tuan Bryan," sapa seorang wanita di seberang sana.
"Ya halo, saya langsung saja. Saya ada tugas buat kamu, tolong kamu cari tau aset apa aja yang dimiliki oleh Pt. Carenn, faham?"
"Faham tuan," jawab wanita itu.
"Oke kalau begitu, ingat ... laporkan semua yang kamu tau pada saya," perintah Bryan.
"Baik tuan Bryan."
Bryan ingin kembali tidur tapi dia tau mommynya sebentar lagi akan datang mengamuk kalau melihat dia belom mandi.
Bryan pun melangkah gontai menuju kamar mandinya, tempat paling menyeramkan bagi Bryan Agatha.
Dulu waktu Nandha baru berumur 3 bulan Bryan yang sangat senang mempunyai seorang adek merasa gembira sampai pada taraf over. Semuanya ingin ia lakukan sendiri untuk adiknya itu.
Suatu ketika dia berusaha memandikan adik kecilnya itu sendirian tanpa orang tuanya. Tapi baru saja ia masukan dalam bak mandi bayi. Ternyata tangannya tk sanggup menopang tubuh beby Nandha yang memang sangat aktif, tenggelamlah beby Nandha dalam bak mandi yang penuh oleh air dan mainan.
Bryan kecil merasa panik. Secepat mungkin dia mengangkat tubuh beby Nandha dan menggendongnya erat-erat dan membawanya dalam pelukannya.
Hal itulah yang membuat dia membenci toilet, apalagi bak mandi bayi. Hal ini juga yang membuat dia menjadi super protektif pada Nandha. Dia bahkan tidak ragu untuk membayar puluhan juta untuk membayar bodyguard terbaik untuk menjaga sang adik dari jarak jauh.
"Aku bener-benar membenci tempat ini," batin Bryan.
Dengan rasa terpaksa ia memasuki kamar mandinya. Masalah traumatik yang di alami olehnya itu tak pernah ia ceritakan pda siapapun termasuk Nandha dan kedua orang tuanya.
Tak sampai 15 menit, Bryan keluar dari toilet dengan berlari dan tergesa-gesa.
"Lebih baik aku mandi di kolam renang daripada harus masuk ruangan seperti ini terus," batinnya lagi.
Bryan menggapai bajua casual yang tersedia di lemari pakaiannya. Dia memakai boxer kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahunnya dari sang adik, dan di padukan dengan T-shirt warna hitan.
Bryan pun turun dari kamarnya menuju lantai bawah. Disana sudah ada Monica Aegies sang ibu dan juga Leakai teman sekaligus keluarganya.
"Morning mom ... morning Kai," sapanya saat menuruni tangga.
"Morning honey," balas Monica.
"Yo ... baru bangun lo?" jawab Leakai dengan pertanyaan.
"Iya maklumlah mumpung libur. Bawaannya nggak mau pisah lama-lama dari ranjang," jawab Bryan sambil berjalan mendekat.
"Mom ... Bryan laper," keluhnya manja.
Monica mengusap kepala Bryan pelan, "Makanlah, mommy lihat semalem kamu cuma makan sedikit kan" kata Monica.
"Mau masakan mommy," pinta Bryan.
"Iya-iya mommy masakin, emang kamu mau makan apa?" tanya Monica sambil berbalik menatap Bryan. "Astaga Bryan!!! kamu itu udah gede kenapa masih pakek celana itu?!!" amuk Monica.
"Emang kenapa mom? kan cantik," kata Bryan polos.
Leakai yang baru memperhatikan penampilan Bryan jadi tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini dia melihat seorang Bryan Agatha, putra tertua keluarga Agatha memakai boxer bergambar bebek berwarna kuning. Menurutnya ini adalah hal tergokil dalam hidup Leakai.
__ADS_1
*****