The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
episode 131


__ADS_3

Keduanya menuruni tangga bersama dengan porsi tangan Dhany yang melingkar apik di pinggang Nandha. Hal itu tentu saja membuat seluruh keluarganya tersenyum senang. "Masih pagi dah mesra-mesraan aja nih," goda Bryan saat adik dan adik iparnya tiba di meja makan.


"Iri aja yang habis putus," balas Nandha dengan smirk di wajahnya.


Uhuk!!!


Bryan tersedak oleh teh yang tengah di minumnya, "Apa-apaan baru putus? Siapa bilang gue baru putus ha?" tanya Bryan dengan nada yang sedikit tinggi.


Nandha menarik kursi tepat di sebelah kakaknya. "Heleh, lo pikir gue ngga tau apa. Cewek lo kan demen sama lakik gue makanya lo di putusin wleeek."


"Sialan." Bryan hanya mampu meringis mendengar ucapan adeknya.


"Nak Reno bagaimana tidurnya?" tanya Alexaner.


Reno memalingkan wajahnya menatap sosok gagah tegap penuh kharisma yang merupakan kepala keluarga di rumah tempatnya menginap tadi malam. "Alhamdulilah tidur saya nyenyak Om," jawab Reno dengan sopan.


Alexander pun mengangguk. "Syukurlah kalau begitu."


"Ini Leakai mana ya?" tanya Monica.


Baru saja Nandha ingin menjawab pertanyaan mommy-nya tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sedikit berlari. Tampak wajah tampan Leakai yang baru saja selesai mandi dan bergegas turun ke meja makan. Tidak banyak obrolan yang di lakukan sampai akhirnya para maid datang membawa menu sarapan dan di jajarkan di meja makan.


"Selamat makan."


Setelah Alexander mengucap kan kata tersebut keadaan pun kembali hening. Reno yang baru pertama kali ada di rumah Nandha merasa sedikit canggung. Ah salah-salah tapi sangat amat canggung. Ia tidak tau kebiasaan keluarga Nandha yang akan makan dengan diam sampai sosok terakhir selesai makan. Setelah selesai makan satu persatu keluarga tersebut berlalu kembali pada kesibukan masing-masing. Nandha, Dhany dan juga Reno pergi bersama menggunakan mobil Dhany. Leakai dan Bryan pergi mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor masing-masing. Alexander yang kembali naik helikopter untuk terbang ke Singapura dan yang terakhir adalah Monika yang pergi ke butik untuk bertemu teman lamanya.

__ADS_1


Di dalam mobil pun Reno menanyakan soal makan tadi pada Nandha, "Ndha, sorry kalau pertanyaan gue kurang sopan. Tapi emang keluarga lo kalau makan pada diem-dieman ya?" tanya Reno.


Nandha melirik Reno yang ada di bangku belakang mobil Dhany, "Iya, lo ngga nyaman ya?" Dengan cepat Reno menggelengkan kepala, "Engga kok, gue cuma kaget aja."


"Gue awalnya juga kaget, tapi kita kalau di luar makan sambil makan juga biasa aja. Cuma bokap mertua emang ngelarang kita buat makan sambil ngomong takut kita kesel kali ya," timpal Dhany dari balik kemudi.


"Tapi nih ya, nanti gimana kalian pas ketemu geng kalian?" tanya Reno.


Nandha dan Dhany saling berpandangan, keduanya dengan kompak mengucapkan, "Mampus kita."


Perjalanan dari rumah Nandha menuju sekolah memang tidak perlu waktu lama karena memang jaraknya cukup dekat. Sebelum keduanya turun mereka dengan kompak menarik nafas dalam dalam. Reno yang melihat tingkah keduanya hanya mampu menggeleng pelan dan terkekeh.


"Udah ayo anjir."


Dhany menatap Nandha sekilas dan tersenyum sebelum memutuskan keluar dari mobil. Dengan keteguhan hati yang mendalam keduanya turun dari mobil tapi nyatanya apa yang menyambutnya? Ya, di depan mereka sudah ada ke lima temannya.  Ada Victorya, Carla, Boy, William, Leon dan Vian, mereka entah sejak kapan sudah ada di tempat parkir yang biasa mereka gunakan. Ke lima remaja itu langsung berlari menghampiri Dhany dan Nandha yang baru saja turun dari mobil. Mereka tampak terkejut saat melihat Reno di belakang mereka.


"Kalian bertiga hutang penjelasan ke kita ya." Itu Victorya yang bersuara. Tampaknya gadis berdarah campuran itu sudah tidak sabar ingin mendengarkan apa yang terjadi kepada mereka selama ini. Di tambah ia melihat Reno datang bersama mereka. Setahu mereka hubungan Dhany dan Reno tidak sebaik itu sampai bisa berangkat bersama  ke sekolah.


Nandha menaikan alisnya, baru saja ingin menjawab sebuah suara mengintrupsinya, "Lalu ini apa Dhan?" Kini Leon yang menyela. Ia menunjukkan undangan dengan logo tengkorak berjubah hitam membawa sabit kematian. Itu adalah logo maut Ghost Crime, kelompak yang di pimpin oleh Dhany sendiri.


"Lah? cepet banget undagannya udah sampai ke tangan kalian."


Carla terkejut melihat undangan yang di bawa oleh Leon, "Gue juga dapet anjir." Di keluarkannya sebuah undangan yang sama persis dengan milik Leon. Di susul oleh William, Vian dan juga Victorya. Mereka tampak bingung berbeda sekali dengan Dhany. Ia memang meminta anak buahnya untuk mengirim undangan sakral tersebut. Biasanya undangan itu di sebar kepada target target penting atau seseorang yang akan mereka lenyapkan. Maka dari itu William dan Leon tidak berani membuka surat tersebut karena mereka tau benar apa yang akan terjadi jika seseorang menerima undangan tersebut. Ada perasaan aneh saat menerima surat tersebut. Biasanya mereka yang membuat dan menyebarkannya, tapi lihat kali ini malah mereka yang menerimanya.


"Kenapa ngga di buka?" tanya Dhany.

__ADS_1


"Siapa yang berani buka anjir," jawab Wlliam.


Dhany tertawa, "Buka aja kalau ngga di buka gimana kalian mau tau isinya?"


Ke lima temannya saling menatap dan akhirnya membuka amplopnya. Disana ternyata undangan biasa yang meminta mereka untuk hadir di markah Ghost Crime. Lantas mereka memandang Dhany dengan perasaan tidak karuan.


"Dateng aja ngga usah liatin gue kayak gitu."


"Hari ini jadi ujian kan? Soalnya kemarin kan di batalin gara gara penangkapan guru gila itu sama temenmu," kata Dhany.


"Harusnya jadi, waktu itu aku langsung minta guru lain untuk bikin soal baru pas kamu bilang kalau Reno di tawari bocoran soal," jawab Nandha.


Dhany mengangguk paham.


Akhirnya mereka pun berjalan memasuki ruang kelas untuk mengikuti ujian tengah semester yang sempat tertunda karena panangkapan Suci dan Siska. Di tengah-tengah tenangnya suasa siswa yang tengah sibuk mengerjakan soal masing-masing, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita memanggil nama Dhany dengan sangat kencang. Hal itu berdampak konsentrasi anak-anak. Mereka samar-samar juga mendengar suara seseorang lainnya.


"Dhany mana Dhany?! Dia calon menantu saya bisa-bisanya membiarkan anak saya mendekam di penjara!!"


"Maaf Ibu tolong jangan berisik ini sedang ada ujian."


"Nggak!! Panggil Dhany kemari!!"


Dhany melongokkan kepala untuk melihat siapa yang bising-bising di luar. Ternyata orang tersebut adalah Rika, ibunya Siska.


"Mau apa orang itu kesini?" kata Dhany.

__ADS_1


__ADS_2