The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 67


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote, dan follow ya gaes, biar Chiplux semangat upnya.


*****


"Siapa lagi ini Gus?" batin Jafar dan Lional yang ternyata sama.


"Halo?" sapa Bagus dari seberang sana.


"Bagus!!! lo dimana?" tanya Jafar.


"Di rumah, kenapa?"


"Gue perlu bantuan lu, ini urgent banget,"


"Bantuan apa?"


"Bangs*t, lu ***** muluk. Lu kalau sehari nggak ***** bisa loyo ya?" ucap Lional geram saat mendengar suara desahan seorang perempuan di seberang.


"Lu mau minta bantuan atau mau sok suci. Lagian junior kalau nggak di pakek ya loyolah dasar ogeb."


"****, iya-iya, gue perlu bantuan elu buat ngelacak sesuatu," ucap Jafar dengan serius.


"Ngelacak apaan?"


"Lu bisa suruh cewek lu diem dulu nggak sih? nyetrum nih, gue nggak mau main solo ya," ujar Jafar yang ikutan geram seperti Lional.


"Bangs*t si Bagus. Dia enak banget bisa ***** tiap hari sama cewek yang berbeda-beda lagi, bikin iri deh," cicit Jafar sambil mengetukkan jarinya pada permukaan meja belajarnya.


"Udah, jadi kalian mau gue ngelcak apaan?"


"Jadi gini Gus. Bokap gue tadi nerima paket yang isinya foto gue sama Lional lagi *****. Waktu itu kan yang ada di makar cuma kita bertiga sama beberapa anak doang, gue pikir..." tutur Jafar terputus.


"Lu nggak lagi nuduh gue kan Far?!!"


"Gila lu?! ya enggaklah. Kata Lional lu pergi setelah lu serahin si Stevia buat dia," jelas Jafar, ia terkejut mendengar Bagus mengatakan hal tersebut.


"Gue nggak pernah mikir kayak gitu Gus, sumpah dah." sambungnya.


"Oke-oke, jadi gimana? kalian mau gue ngelacak orang yang udah ngirim itu foto gitu kan?"


"Siiip, elu emang yang terbaik," jawab Jafar dan lional bersamaan.


"Kalian tau exspedisi yang dipake buat ngirim kan?"


"Nah disini masalahnya. Kita nggak ada yang tau pengirimnya lewat exspedisi apa. Soalnya bokap langsung nunjukin foto nggaka ada amplop ataupun petunjuk," kata Jafar dengan nada Lesu.


"Lah dasar si ogeb, gimana gue mau ngelacak kalau nggak ada exspedisi ataupun pentunjuk sedikitpun."


"Jadi lu juga nggak bisa ya?" tanya Jafar lesu.


"Ya enggaklah, kalau lu mau gue ngelacak paling nggak ada nama exspedisi atau mungkin rekaman cctv, rekaman cctv pun kalau nggak nunjukin muka orangnya ataupun kita beruntung mungkin kita bisa dapet nomer kendaraannya."


"Kalau itu kita nggak bakal bisa kak, kakak kan tau sendiri gimana keaman perusahaan," cicit Lional dengan muka masamnya.


Jafar diam sejenak. Ia tengah memikirkan bagaimana agar dia visa mendapatkan rekaman cctv kantor ayahnya. Namun ia langsung teringat suatu hal.


"Lional, emang ayah dapat foto itu dari kantor? kan nggak mungkin. Mending sekarang kita cek rekaman cctv rumah," ajak Jafar pada Lional.


"Bener juga lu kak, kuy kita lihat," jawab Lional.


"Bentar Gus kita cek rekaman cctv rumah dulu," ucap Jafar memberi tau Bagus.


"Oke buruan."


Jafar dan Lional berjalan bersama dengan tergesa-gesa menuju ruang monitor, saat menuruni tangga mereka berpapasan dengan sang ibu yang berjalan menaiki tangga.


"Kalian mau kemana? bunda baru aja mau manggil kalian buat makan," ucap Wanda saat melihat kedua putranya menuruni tangga bersama.


"Ada urusan bentar," jawab JAfar singkat.


Wanda menautkan alisnya, ia merasa bingung melihat tingkah kedua putra yang sangat cuek dan dingin padanya.


"Kalian nggak sayang bunda lagi ya?" ucap Wanda dengan muka memelas.


Jafar menghela nafas panjang. Ia merasa frustrasi disaat isang ibu menggunakan rayuan mautnya dengan embel-emebel 'sayang'.


"Bunda jangan gitulah, kita cuma ada urusan bentar doang kok," ucap Jafar jengah.


"Ayo Lional," lanjutnya yang langsung menaik tangan sang adik untuk undur diri.

__ADS_1


Mereka melihat sang Ayah tengah duduk di kursi makan sendirian, namun karena ego dan rasa gengsi pada diri masing-masing memebuat mereka semakin jauh.


Mereka tak mengidahkan pandangan penuh menyelidik yang di tunjukan oleh Sandi saat mereka memasungi ruang monitor.


"Gue minta rekaman dari kemarin pagi!!" perintah Jafar pada staf keaman yang ada disana.


"T-tuan muda!!" teriak 2 orang staf yang ada disana.


"Kenapa kaget gitu? kayak orang lihat hantu aja," ucap Jafar sambil menautkan alisnya.


"Bu-bukan begitu tuan muda. Kami hanya terkejut melihat anda disini," aku staf keamanan tersebut.


"Ini rumah gue, jadi terserah gue mau ada dimana dan mau ngapain itu semua nggak ada urusannya dengan kalian. Yang kalian perlu lakukan adalah perlihatkan rekaman cctv dari kemarim malam sampai saat ini," perintah Jafar dengan nada songongnya.


Sejenak para staf saling bertukar pandangan. Mereka merasa ragu saat mendengar permintaan tuan mudanya itu.


Jafar mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?" tanyanya.


"Anu tuan muda, semua cctv dimatikan dari kemarin siang tuan karena ada kesalahan teknis dan belum dinyalakan sampai saat ini," jawab staf itu sambil menundukkan kepala.


"APA?!!" teriak Jafar dan Lional bersamaan.


Jafar mengammuk di ruang monitor rumahnya sambil membanting beberapa barang yang ada disana, sedangkan para staf hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepala.


"Apa-apaan ini? nggak mungkin kebetulan kan?" amuknya saat sampai di dalam kamar.


"Di dunia ini nggak ada kebetulan kak," sahut Lional sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang king size sang kakak.


"Benar kata lo, tapi siapa yang yang ngirim itu foto ke ayah. Kita kan butuh petunjul Nal," ucap Jafar yang ikut merebahkan dirinya di samping Lional.


"Tidur dulu kak, daripada mumet. Lagian tadi si Bagus kan udah ngomong kalau nggak ada pentunjuk ya nggak bisa di lacak," kata Lional yang sudah memejamkan matanya.


"Entahlah, gue bingung Nal," sahut Jafar sebelum tertular virus molor dari Lional.


Sebelum Jafar tertidur ia sempat melihat pada ponselnya, disana terdapat fotonya bersama dengan Nandha yang terlihat sangat bahagia dan di penuhi dengan tawa.


"I LOVE YOU bebyh," ucapnya lirih sebelum kesadarannya hilang total.


*****


Carroline Carla Adistya, gadis cantik keturunan Indo-Korea. Ayahnya merupakan orang terkaya ke 5 di dunia bernama Park Adistya, ibunya adalah seorang wanita yang ambisius yang berasal dari sebuah keluarga miskin bernama Sekar Tri Ayu.


Saat ini Carla tengah berada dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah berkunjung dari rumah sang sahabat, yaitu Nandha. Carla dan Nandha bersahabat dari sekalas 1 SMP.


Saat sampai dirumah ia di sambut oleh sang pengurus rumah yaitu mbok Darmi.


"Non Carla udah pulang?" tanya mbok Darmi saat melihat Carla datang.


"Eh mbok Darmi?" ucap Carla terkejut.


"Iya non, ini si mbok. Apa ada yang bisa mbok bantu?" tanya mbok Darmi lembut.


"Nggak mbok, aku mau langsung tidur aja," jawab Carla sambil berjalan menaiki tangga.


"Non Carla nggak mau makan dulu?" tanya si mbok lagi.


"Aku udah makan di tempat temen tadi mbok," jawab Carla lagi, "Mbok, a-apa... papa sama mama nggak ada kasih kabar?" tanya Carla.


"Eemmm, itu non. Nyonya dan tuan tidak pernah menghubungi lagi," jawab mbok Darmi pelan.


"Baiklah kalau begitu mbok, Carla ke kamar dulu ua," ucap Carla sendu.


Sudah 2 tahun lamanya Carla tidak mendapatkan kabar tentang kedua orang tuanya. Tak ada telfon ataupun pesan singkat dari orang tuannya. Namun setiap bulannya ia menerima uang jajan yang cukup banyak untuk ukuran anak SMA.


Carla melihat sebuah potret, disana terdapat potret dirinya bersama ayah dan ibunya. Telihat jelas ia sangat bahagia saat foto itu diambil.


"Kalian kemana? apa kalian udah nggak sayang Arla lag? apa Arla bikin kesalahan sama mama dan papa?" racau Carla.


"Carla kamu jangan nyari papa sama mama lagi. Papa sama mama disini udah bahagia. Kamu itu cuma aib buat kami. Jangan ganggu kami lagi."


"PAPA...MAMA...JANGAN TINGGALIN CARLA!!!" teriak Carla memilukan.


Carla membuka matanya karena terkejut.


"Hosh...hosh...hosh, ternyata cuma mimpi," ucapnya lirih.


"Tapi kalian dimana sekarang? apa kalian bener nggak sayang Carla lagi? mama, papa kapan kalian pulang? Carla rindu kalian, hiks...hiks." Carla menangis sejadi-jadi membuat mbok Darmi yang sedang beres-beres rumah menjadi panik.


"Non Carla!!!"

__ADS_1


Mbok Darmi berlari pelan menuju kamar Carla, ia panik mendengar putri tuannya yang sudah ia anggap putrinya sendiri itu menangis sejadi-jadinya.


"Non, non Carla. Non Carla kenapa? si mbok masuk ya?" ucap mbok Darmi sambil membuka pintu kamar Carla.


"Ya allah, non Carla!!!"


Mbok Darmi terkejut melihat keadaan Carla yang meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya dengan rambut, dan make up yang acak-acakan.


Mbok Darmi langsung berlari memeluk tubuh Carla. Ia tersiap merasakan tubuh Carla yang sangat dingin dan basah oleh keringat dan airmata.


Carla sendiri terus bergumam memanggil mama dan papanya yang entah ada dimana. Teriris batin mbok Darmi melihat keadaan Carla.


"Non Carla sadar non, disini ada si mbok," ucap mbok Darmi menenangkan Carla yang terus gemetaran.


"Papa...hiks...mama...hiks...hiks...Carla...butuh...kalian..huaaa...huaaaa." Carla menangis sejadi-jadinya membuat batin mbok Darmi semakin teriris.


"Non Carla tenang dulu. Non Carla nggak sendirian kok, masih ada si mbok ada mamang juga." mbok Darmi terus menurus menenangkan Carla.


Setelah sekian lama akhrinya Carla sedikit tenang. Mbok Darmi sedikit tenang karena gadis di pelukannya kini sudah tenang dan kembali tertidur.


Mbok Darmi dengan susah payah membawa tubuh Carla kembali ke ranjangnya. Mbok Darmi memandang lurus wajah lesu Carla. Mbok Darmi teringat kejadian 2 tahun yang lalu, disaat ia di pasrahi seorang gadis remaja yang cantik dan ceria serta manis ini.


*Flashback On*


Di sebuah rumah mewah berlapiskan cat warna emas yang membuat rumah itu semakin mewah. Terdapat pasangan suami istri yang tengah bertengkar hebat.


"Pa...papa nggak bisa giniin mama," protes wanita itu.


"Why no? kamu pikir kamu itu siapa, hah?!!" teriak pria itu dengan kencangnya.


"Mamah mencintai papa, sangat mencintai papa malah. Mama mohon jangan tingglin mama pah." Wanita itu memohon dan berlutut dibawah kaki pria angkuh itu.


"Jika kau memang mencintaiku. TINGGALKAN PUTRI PEMBAWA SI*LMU INI!!! jika kau tidak mau maka jangan harap aku akan tinggal bersamamu," ucap pria itu dengan arogan.


"Baik...baik...mama akan tinggalkan CARLA demi papa, yang penting papa jangan tinggalin mama," ucap wanita itu menyetujui persyarat pria berjas itu.


Seorang wanita setengah baya tengah mengintip dari balik tembok sambil mentup kedua telinga seorang anak kecil yang hampir menangis.


"Tega sekali kalian pada anak ini," batin wanita yang tengah bersembunyi.


"Siapkan barang-barangmu, dan segera ikut aku kembali ke rumah utama. Gara-gara kau dia sekarang tengah membuat onar di rumah utama," ucap pria itu sarkas.


"Maaf pa, mama pergi siap-siap sekarang juga," ucap wanita itu patuh.


Wanita itu pergi naik ke lantai dua, 15 menit kemudian wanita itu kembali turun menenteng dua buah koper berukuran sedang.


"Pah mama sudah siap," ucap Wanita itu sambil berjalan kearah pria tadi.


"Dimana mbok Darmi?" tanya pria itu sambil menyesap rokoknya.


"Bentar mama panggilin dulu," ucap wanita itu yang tetap patuh, " Mbok...mbok Darmi." panggilnya.


"Ya nyonya sebentar," teriak mbok Darmi dari arah dapur.


Mbok Darmi datang bersama dengan seorang gadis remaja yang masih polos dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


"A-ada apa tuan, nyonya."


" Kami akan pergi ke luar negeri, kamu jagain bocah sial*n itu, karena aku tak akan membawanya. Kamu tak perlu khawatir aku akan mengirim uang dan semua kebutuhanya, jadi kamu cukup merawatnya saja." jelas pria itu.


"Baik tuan."


"Satu hal lagi, kami tak akan kembali kesini untuk selamanya dan rumah ini sudah aku ubah atas namanya. Jika suatu saat dia menanyakn tentang kami jawab saja kami sudah mati," perintah laki-laki itu lagi.


"Baik tuan."


"Jaga anak saya baik-baik ya mbok. Saya percaya mbok bisa jagain dia daripada saya," ucap Wanita itu sendu.


"Sayang maafin mama ya, mama lakuin semua ini juga demi kamu," ucap wanita itu parau sambil mengusap dan menciumi pipi gadis itu.


Awalnya gadis remaja itu memang menangis, namun tiba-tiba ia berkata, "Demi gue!! bullshi**t ini semua demi dirimu sendiri MAMA!!! dan anda tuan Park tak perlu mengatakan semua omng kosong seperti itu. Apa kau lupa jika aku berasal dari spermamu. Jika aku anak pembawa SI*L artinya kau seorang AYAH PEMBAWA SI*L!!!" ucap gadis itu berapi-api.


"Karena rumah ini sudah atas namaku maka, SILAKAN KELUAR DARI RUMAHKU!!!" ucap gadis itu penuh penekanan pada akhir kalimatnya.


Tuan Park dan nyonya Sekar yang merupakan orang tuannya terhenyak melihat perubahan ini, bahkan mbok Darmi pun ikut terkejut. Mereka tak menyangka akan apa yang di lihat dan di dengarnya.


"Dasar anak tak tau diri!!!" teriak tuan Park sambil menyeret keluar Sekar dari dalam rumah itu. Itulah terakhir kalinya Carla melihat kedua orang tuannya.


*Flashback off*

__ADS_1


"Non Carla udah besar ya, dulu si mbok ingat non Carla dulu pasti minta si mbok buatin susu sebelum tidur," ucap mbok Darmi lirih, kini ia sudah menitihkan air matanya.


*****


__ADS_2