
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
****
Dhany yang sedari tadi mondar mandir di dalam kantornya mendapat tatapan aneh dari para pengawalnya.
"Dimana William? Leon juga tak ada disini?" tanya Dhany pada salah satu pengawal bertopengnya.
"Boss William ada di ruangannya bersama dengan boss Ben." jawab pengawal itu.
Dhany berbalik, "Apa kamu bilang?! William dan Ben ada di ruangan yang sama?!! Sebentar lagi pasti ada badai nih" katanya tak percaya.
Dhany berlari menunyusuri lorong menuju ruangan William.
"Bisa hancur bangunan ini kalau mereka sampai 1 ruangan," gumamnya.
BRAAK
Suara pintu membentur dinding dengan sangat keras. William, Ben dan juga Leon memalingkan wajahnya saat mendengar suara itu. Melihat tuannya berdiri di tengah pintu, wajahnya memerah dan nafas yang memburu.
William dengan sigap beranjak dari tempat duduknya dan mengambil segelas air untuk di berikan pada Dhany.
"Minum dulu tuan," kata William.
Dhany menerima gelas itu secepat kilat dan menenggaknya sampai tandas, "Ruangan ini masih aman kan? jendela nggak ada yang pecahkan?" tanya Dhany sambil melarikan pandangannya menyapu seluruh ruangan itu
"Anda jangan kamvret dong, seharusnya lo kan ngawatir sama gue ... Lo nggak takut apa kalau gue mati di tangan nih anak?" protes Ben sambil menunjuk kearah William yang sedang mengacuhkannya.
Dhany menatap Ben sejenak, "Bodo amat," ucapnya singkat.
Dhany berjalan memasuki ruangan dan langung merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang diduduki oleh Leon.
"Belum ada kabar dari Nyonya kah?" tanya Leon.
"Belum, gue juga nggak tau dia udah sadar apa belum," keluh Dhany yang terus mengkhawatirkan keadaan sang istri.
Dhany kembali menatap Ben lalu berganti pada William, "Kalian udah baikan?" tanyanya.
"Nggak!!" teriak William.
__ADS_1
Dhany mengubah posisinya, kini dia terduduk dengan wajah yang serius.
"Kalian berdua duduk sini," perintahnya.
Benedict dengan senang hati mengikuti instruksi yang di berikan oleh Dhany. Berbeda dengan William yang nampak enggan tetapi tetap melakukannya.
"Sebenernya kalian mau sampai kapan kayak gini?" tanya Dhany santai.
"Mati!!" jawab William singkat.
Ben langsung menatap tajam kearah William yang sedang menatap lurus kearah Dhany.
"Lo apa-apaan sih Will? Gue kan udah bilang kalau bukan gue yang bunuh cewek lo. Gue .... " Benedict berusaha menjelaskan duduk perkaranya namun terpotong ucapan William.
"Udah ngarangnya?" tanya William memotong ucapan Ben.
"Gue nggak ngarang Will, gue serius!!" Ben berusaha menjelaskan pada William.
Dhany menekan pelipisnya, "Diem!!" Dhany menggebrak meja yang ada di hadapannya agar kedua tangan kanannya bisa diam dan menutup mulutnya.
"William coba kamu jelasin apa yang kamu lihat waktu itu," perintah Dhany.
"Terus?" ucap Dhany.
William kembali melanjutkan ceritanya, "Gue langsung nyusul dia ke taman bermain, gue nggak ada pikiran apa-apa. Tapi gue inget gue janji sama dia kalau gue bakal ajak dia ke taman bermain sebagai ganti atas panggilan mendadak dari elo." William kembali memotong ceritanya.
"Tapi William malah liat pacarnya lagi bercumbu di belakang wahana sama tuan muda dari keluarga Feng," sahut Ben.
William melotot pada Ben meminta agar Ben tidak ikut campur dalam pembicaraan ini.
"Apa will?" tantang Ben.
"Gue lihat semuanya Will. Gue di perintah sama boss buat ngikutin lo, boss cuma merintahin gue buat bawa cewek lo ke markas, bukan bunuh dia. Walaupun gue nggak suka sama penghianat ataupun mata-mata, tapi gue bukan orang yang asal bunuh aja, apalagi ini pacar temen gue sendiri." lanjut Ben.
William terkejut dan juga bingung. Tak pernah terlintas di otaknya kalau Ben bergerak atas perintah Dhany.
Dhany menghela nafasnya, "Emang gue yang merintah Ben buat ikutin elo dan bawah tuh cewek ke markas, yang di bilang Ben tadi juga bener. Gue nggak pernah merintah dia buat bunuh pacar elo," kata Dhany.
"Tapi waktu gue sama Nayla pelukan tiba-tiba ada yang nembak dia, dan gue lihat dengan jelas kalau lo berdiri di belakang Nayla sambil megang pistol," sanggah William.
__ADS_1
"Gue emang megang pistol ... tapi pistol gue bukan gue arahin ke pacar elo. Gue lihat ada orang lain di belakang elo, orang itu bawah senapan dan lagi berusaha buat bidik elo dari atas pohon di seberang wahana. Gue panik dan gue langsung keluarin pistol gue pas banget gue lagi arahin pistol gue tiba-tiba ada peluruh yang melesat dari belakang gue dan kena pacar elo." kata Ben menjelaskan apa yang di lihat olehnya.
"Apa?!!" Dhany dan William berteriak bersamaan.
"Gue emang nggak pernah ngomongin ini ke siapa pun. Karena gue mau langsung ngomong ke elo Will. Gue nggak mau kalau sampai lo makin salah paham sama gue. Lo kenal gue sejak pertama kali kita ikut sama Tuan. Kita udah bersama cukup lama, kita juga ngerasain seneng dan sedihnya di dunia ini. Apa gue seburuk itu di pikiran elo? atau lo mikir gue adalah orang yang asal bunuh?" tanya Ben.
William mulai melunak dalam ucapan Ben.
"Gue emang pembunuh berdarah dingin, tapi cukup sama musuh. Si Nayla itu cewek elo gue nggak mungkin sembarangan ambil tindakan sama dia." kata Ben lagi.
"Ini artinya ada orang yang berusaha buat mecah belah kita dari dalam. Ada 2 orang yang berbeda di saat yang bersamaan. 1 orang bertugas buat bunuh pacar William dan yang 1 buat ngecoh Ben. Sungguh rencana yang sangat sistematis," ucap Dhany mengungkapkan pendapat atas konspirasi yang ada di sekitarnya.
"Habis itu kita di sibukan dengan boss yang .... " ujar Ben terpotong dering ponsel Dhany.
Dhany mengangkat telfon itu setelah melihat nama siapa yang terlihat pada display ponselnya.
"Halo Tuyul Paris, gimana keadaan bini gue? dia udah siuman kan?" tanya Dhany pada sosok di seberang sana.
"Sekate-kate lo ya ngatain abang gue Tuyul," protes suara di seberang sana.
Dhany terkejut mendengar suara yang menjawabnya, ia kembali melihat nama yang terterah di ponselnya 'Bryan Tuyul'.
"Eeehhh Nandha sayang .... Loh bukannya ini nomernya Bryan ya?" tanya Dhany bingung.
"Iya ini nomer abang hp gue ketinggalan di markas," jawab Nandha dari seberang sana.
"Oh hitu ... terus gimana keadaan kamu? ada yang sakit nggak? atau kamu mau makan apa gitu? bilang aja nanti aku beliin,"cecar Dhany.
"Enggak aku cuma mau kasih kabar ke kamu kalau aku udah sadar itu aja," kata Nandha dingin.
"Oh oke, bentar lagi aku pulang ya,"
"Siiip, nanti kalau pulang beliin nasi bebek sama jus alpukat ya, aku tutup dulu masih ada urusan sama kakak," kata Nandha.
"Oke sayang, love you," ucap Dhany.
"Love you too," balas Nandha.
Dhany kembali menyimpan ponselnya, "Jadi masalah kalian udah clear kan? gue serahin urusan perekrutan sama kalian gue mau balik ke rumah mertua dulu." pamit Dhany yang sudah siap meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
*****