
Budayakan like, komet, vote and follow ya biar Chiplux makin semangat upnya.πππ
*****
William masih menatap tuannya itu, ia sendiri terkejut kenapa tuannya bisa menjadi seorang bucin yang kebanyakan micin.
"Masih gue pantau belum gue sleding, lagian kenapa tuan bisa sebucin ini ya? perasaan dulu sama si itu nggak gini-gini amat." batin William sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lu kenapa Will?" tanya Dhany yang berhasil mengagetkan William.
"Bucin." ucap William spontan.
"Lu ngatain gue bucin?" tanya Dhany yang sengaja menggoda William.
"B-bukan gitu. Aduh mulut gue ngapa lemes banget yak." William memukul mulutnya sendiri.
Dhany menahan tangan William yang sedari tadi di gunakan untuk memukul mulutnya.
"Jangan gini Wil. Gue nggak mau elu sakit." Dhany mendekatkan wajahnya. Saking dekatnya mereka sampai bisa merasakan nafas satu sama lain.
"T-tapi tuan, mulut William ini udah bersalah karena sudah mengejek anda," William sudah siap dengan tampang imutnya dan mata yang berkaca-kaca.
"Nggak jangan gini, hatiku sakit melihatnya," balas Dhany yang semakin lembut.
Author:"sungguh keuwuan yang hqq"ππ
"Oke cukup gue mulai jijik tauk," William menepis tangan Dhany yang sedari tadi memegang tangannya.
"Kalau ada yang lihat bisa dikira kita ini gay," balas Dhany sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lagian elu ngapain bermanja-manja ria tadi?"
Dhany hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa lebar. Dhany terus tertawa sambil memegangi perutnya karena rasa sakitnya.
"Terus aja, masih gue pantau belum gue sembur."
Dhany masih tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi jengkel dari sahabatnya. Ia lantas menggiring William ke kantin karena sudah tak tahan akan rasa laparnya.
"Ini belum istirahat Dhan."
"Ya kenapa, perut gue udah nggak tahan, tadi gue belum sempet sarapan."
"kenapa?"
Dhany menatap William secara intens, "Kayaknya lu bener. Gue sekarang jadi bucin. Masak gue nggak nafsu makan gara-gara nggak bareng bini gue, jal." kata Dhany.
"Lah tumben kalian nggak makan bareng."
"Kan gue udah bilang kalau bini gue nggak bisa jalan." ucap Dhany sambil melirik kearah William.
William mengangkat sebelah alisnya, "kenapa?" tanyanya.
"Semalem gue sama dia begituan," kata Dhany sambil menautkan kedua jari telunjuknya.
"Begituan apa?" tanya William polos.
Dhani memandang William dengan ekspresi datarnya, "Malam pertama Will." katanya sambil bersemirk.
Mendengar ucapan Dhany membuat mata William berbinar-binar, "Apa?!! serius?!! teru-terus ... gimana rasanya?" tanya William penuh antusias.
Dhany bersemirk, seperti biasa Dhany dengan isengnya menggoda William yang masih polos, "Mbeeeeehh sadaaaap," goda Dhany.
"Yakin? pantes si Leon suka banget," kata William sambil meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
"Duuuh, polos banget temen gue yang satu ini," batin Dhany.
William masih sibuk dengan pemikirannya tentang hal itu. Dan Dhany masih saja menahan tawanya. Sepanjang koridor mereka asik bercanda hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.
BRUUUK ....
Tanpa sengaja Dhany menabrakk bu Siska yang baru saja keluar dari toilet dalam keadaan pakaiannya yang basah kuyup.
"Aauuww .... " bu Siska mengaduh pelan, "Siapa sih yang jalan nggak pakek mata," lanjutnya.
"Dimana-dimana jalan itu pakek kaki, kalau gue jalan pakek mata ntar di kira gue main sulap," ucap Dhany sarkas.
"Oh Dhany ya, tolongin ibu dong kaki ibu kayaknya terkilir nih," kata bu Siska sambil memegangi kaki kanannya.
(π―:"huuuu .... modus-modus dasar krupuk upil")
"Sial banget dah," ucap William lirih.
Dhany dan William saling menatap, seakan-akan mereka berbicara melalui tatapan.
"*Gimana nih Will?"
"Kagak usah sok peduli, gue tau yang lu peduliin cuma Nandha*."
Dhany tersenyum melihat ekspresi yang di tunjukan oleh William. Dhany celingak-celinguk seolah mencari sesuatu, samapai datanglah bayangan seseorang yang sangat ia kenal.
"Pas banget, hehehehe." batin Dhany saat melihat banyangan pak kepsek dari lorong di depannya.
"Pak ... pak kepsek," panggil Dhany yang sengaja berteriak agar di dengar oleh lawannya.
Karena merasa di panggil pak kepsek pun memutar tubuhnya, "Nak Dhany, kamu yang manggil bapak?" tanya pak kepsek sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
"Iya pak, maaf ya pak sebelumnya. Saya tadi kan dari toilet, nah nggak sengaja nabrak bu Siska sampai dia jatuh. Sekarang kakinya terkirir, saya mau bantu tapi saya kan harus balik ke kelas." jelas Dhany panjang lebar, tak lupa ia memberi kode mata pada kepala sekolah itu.
Kepala sekolah itu mengerti apa yang di inginkan dari anak pemilik tempat ia bekerja. jadi, tanpa di jelaskan lebih panjang lagi, dia langsung mengulurkan tangannya pada bu Siska.
"Nak Dhany dan nak William kembalilah ke kelas biar urusan bu Siska saya yang bantu."
"Baik pak. Kami permisi dulu." kata Dhany sambil menundukan kepalanya, begitu juga dengan william.
Dhany dan William pergi meninggalkan pak kepsek dengan bu Siska yang tampak sedang berdebat.
"T-tapi pak ... " kata bu Siska terbata-bata.
"Tak apa bu. Mari saya bantu berdiri sekalian saya antar anda ke ruang uks."
"Tak perlu pak saya bisa jalan sendiri." bu Siska menepis tangan pak kepsek yang ingin membantunya.
"Sial !! padahal gue pinginnya di bantuin Dhany, kenapa jadi si tua bangka ini yang bantuin gue." batin bu Siska bergemuruh.
Bu Siska memang tidak benar-benar terkilir, dia hanya ingin di tolong oleh Dhany. Awalnya dia memang ingin marah-marah pada orang yang sudah menabraknya namun, saat ia tau yang menabraknya adalah Dhany ia menjadi putar haluan dan mengubah semua rencananya.
Dhany dan William tertawa terbahak-bahak saat melihat kejadian dimana bu Siska terlihat kecewa dan menepis tangan kepala sekolah. Dia sengaja mengajak William untuk mengintip dari ujung koridor karena penasaran akan kejadian berikutnya.
"Hahahahaha, sumpak kocak. Pasti tuh remahan peyek kecewa berat." kata William sambil tertawa terbahak-bahak sepanjang jalan.
"Lagian keliatan banget kalau ngibul. Tadi aja marah-marah begitu tau gue yang nabrak, langsung mode cabe on," sahut Dhany sambil menyibak poninya.
Mereka akhirnya sampai di kantin dan langsung memesan makanan favoritnya. Saking laparnya Dhany sampai kembali memesan menunya untuk kedua kalinya, dan kembali melahapnya secepat kilat. Membuat William menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lu laper apa doyan?" tanya William sambil menutup wajahnya karena malu.
"Guwe lafer Hill, tadi helum sempet mahan," jawab Dhany dengan mulut penuh makanan.
"Ih ... Dhany jorok banget, telen dulu itu yang di mulut." protes William sambil menutup mulutnya.
Dhany menelan makanannya sebelum berkata, "Gue laper Will, tadi belum sempet makan. Lu kan tau sendiri gue kalau udah bucin sama seseorang kayak gimana." kata Dhany sambil menyeruput minumnya.
"Dasar bucin micin," ejek William sambil tersenyum.
Dhany menghentikan obrolannya dengan William saat merasakan getaran dari ponselnya. Terterah nama 'my home' pada displaynya, seketika jantungnya berhenti berdetak. Pikirannya melayang pada kondisi Nandha.
"Ada apa ini?" batinnya sambil terus memandangi layar ponselnya.
"Ada apa Dhan?" tanya William
"Telfon dari rumah Will, kira-kira ada apa ya?"
"Angkat aja, sapa tau penting."
Dhany mengangguk dan langsung mengangkat telfonnya.
"Halo, ada apa?" tanya Dhany saat mengangkat telfon itu.
"Ya Lily ada apa?"
"Saya hanya ingin memberitahu bahwa nyonya bilang sedang deman, tapi beliau tak mau minum abat. Maaf tapi saya harus bagaimana?" tanya Lily dari seberang sana.
"Apa?!! dia demam? tapi kenapa dia tak mau minum obat?"
"Saya kurang tau tuan. Jadi saya harus bagaimana tuan?"
"Begini saja, campurkan saja obatnya dalam makanan atau minuman yang akan dia minum. Aku akan segera pulang," kata Dhany.
"Baik tuan."
Dhany menutup ponselnya dan langsung beranjak dari duduknya.
"Ada apa Dhan?" tanya William bingung.
"Bini gue demam Will, gue mau pulang sekarang juga." kata Dhany yang terlihat kecemasan di raut wajahnya.
"Apa? ya udah lu mending pulang sekarang. urusan tas dan yang lainnya serahin ke gue." sahut William.
"Oke. Tolong bantuin ya" jawab Dhany sambil menepuk pundak William.
Dhany pergi meninggalkan William dengan tergesa-gesa. Bahkan ia tak ingat untuk membayar makanan yang tadi telah ia santap. William narik nafas dalam-dalam melihat kebucinan Dhany yang sungguh terihat jelas.
"Semoga nyonya adalah orang yang tepat buat anda ya tuan." ucap William lirih sambil terus memandangi kepergian Dhany.
Dhany bergegas masuk kedalam mobilnya dan langsung tancap gas menuju rumahnya. Saat sampai dirumah Dhany langsung menerobos masuk saat seorang maid membukakan pintu untuknya.
"Dimana nyonya?" tanyanya.
"Ada dikamar tuan."
"Bagaimana keadaannya?"
"Nyonya sedang tidur tuan."
"Oke, kembalilah bekerja."
Dhany berlari menaiki tangga menuju kamarnya, saat sampai di kamar ia langsung menghampiri Nandha yang tengah tertidur lelap. Dhany menekan tombol merah di dekat ranjangnya untuk memanggil maid.
Tak butuh waktu lama datanglah seorang maid dengan tergopoh-gopoh, "Ada yang bisa bantu tuan?" tanya maid itu.
"Tolong ambilin termoter, sebaskom air hangat sama kain bersih." perintah Dhany yang masih terfokus pada wajah sang istri.
__ADS_1
"Baik tuan."
Maid itu pergi meninggal Dhany untuk menjalan perintah Dhany tadi.
"Sayang kamu nggak papa kan?" tanya Dhany lirih sambil mengusap wajah istrinya.
"Jangan bikin aku khawatir dong."
"Tuh kan. Badannya anget, gimana ini? apa aku panggil dokter pribadi aja ya?" batin Dhany bingung.
"Tuan ini baskom dan kainnya." kata maid tadi yang sudah ada di samping Dhany.
Dhany terkejut saat tau disebelahnya ada orang lain, "Apa kau tak bisa mengetuk pintu?!!" ucap Dhany sambil melirik mai tersebut.
"M-maaf tuan, tapi saya sudah mengetuknya berulang kali." kata maid tersebut terbata-bata.
"Oh, iyakah?" Dhany mulai cengoh akan keadaan sekitar.
"Ya sudah kalau begitu terima kasih."
Maid itu menganggukan kepala dan pergi meninggalkan majiknnya berduaan.
Dhany menaruh termometer dalam mulut Nandha untuk mengecek suhu tubuh Nandha. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Dhany mengetahui bahwa istrinya benar-benar demam. Dengan telaten ia menaruh kompres di dahi sang istri berharap agar panasnya lekas turun.
"Sayang cepet sembuh ya." ucap Dhany sambil mengecup pipi cabi sang istri.
Para maid diam-diam tengah mengintip di balik pintu kamar Dhany yang terdapat sedikit celah. Mereka tercengang melihat perlakuan Dhany yang begitu lembut pada Nandha. Siapa di antara para maid yang tak tau siapa sosok Dhany, Laki-laki kejam yang sudah membunuh puluhan orang.
"pppssshhh ... pppssshhh itu beneran tuan Daiba kan?" tanya Lily pada maid lainnya dengan suara berbisik.
"Aku juga ragu sama pandanganku sendiri," jawab maid tersebut.
Merasa tengah di awasi berpasang-pasang mata membuat Dhany risih. Karena tak tahan akhirnya Dhany memutuskan untuk menegr mereka.
"Sampai kapan kalian mau ngintipin saya sama istri saya, hah?" tanya Dhany yang sudah ada didepan para maid.
Bruuk ....
Mereka pun akhirnya terjatuh bersamaan karena rasa kejut yang dihasilkan oleh Dhany. Mereka terdiam sambil menundukkan kepala, tak berani menatap ke arah Dhany.
"Maaf tuan Daiba." ucap maid senior yang ternyata iku menguping.
"Kalian tau saya tak suka ada orang lain yang mengganggu privasi saya." ucap Dhany.
Deg
Jantung para maid serasa berhenti tak kala mereka merasakan hawa membunuh yang berasal dari Dhany. Tubuh mereka langsung bergetar hebat.
"Kembali bekerja atau ku kirim kalian ke markas yang di Afrika." Dhany memberi ancamannya pada para maidnya.
"Kami permisi dulu tuan, masih banyak kerjaan yang belum kita selesaiin." pamit maid senior sambil menarik tangan maid yang lain.
Dhany membuang nafasnya dengan kasar, ia merasa frustasi melihat kelakuan para maidnya itu. Dia kembali kesisi sang istri dan membenarkan kain kompres yang hampir jatuh.
"Cepet sembuh ya sayang." Dhany ikut merebahkan tubuhnya di samping Nandha dan langsung tertidur sambil memeluk tubuh Nandha.
****
William kembali ke kelas seorang diri. Membuat teman-temannya kebingungan.
"Loh lu kok sendirian?" tanya Suci saling celingukan mencari sosok Dhany di belakang William.
"Pulang." jawab William dengan dinginnya.
"Si William, udah lama temanan masih aja dingin." cibir Suci pada sikap William.
William menatap kearah Suci lalu pergi kearah bangkunya.
"Kenapa Dhany pulang Will?" tanya Boy.
"Nandha demam."
"Will kuranginlah salju lu buat kita, jangan dingin-dingin banget."
William sama sekali tak menghiraukan ucapan Boy. Dia malah asik dengan ponselnya, mengetik sesuatu sambil tersenyum.
"Woi Will, gue lagi ngomong sama elu, jangan cuekin gue," Boy sudah siap dengan ekspresi akan menangis, namun Vian meleparnya dengan sebungkus permen kopiko.
"Jangan berisik Boy, biarin si william sama duniannya." kata Vian.
Sebenanrnya William sedang mencari sesuatu yang sangat diinginkan oleh Dhany. Dia tak tau apa tujuan dhany mencari sesuatu itu. Tugas William hanya mewujudkan semua keinginan Dhany tanpabanyak bertanya.
William tersenyum puas tanda ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Dah kelar urusan lu??" tanya Vian saat melihat William memasukkan ponselnya kembali.
"Udah, kenapa?"
"Tuh liat. Mereka pada ngamuk sama elu." Vian menunjuk kearah Boy dan Suci dengan dagunya.
"Lah mereka kenapa?"
"Gue gigit Will. Masak lu nggak inget. Mereka kan habis lu serang pakek tembakan es dari sikap lu."
"Temakan es dari sikap gue?" William bingung dengan perkata Vian yang tak mau berterus terang dengan jelas.
__ADS_1
****
Follow akun ig Chipuk ya di @Chiplux_Barbar terima kasih.