The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 123


__ADS_3

Sudah 2 hari Nandha menghilang dan tak ada kabar. Dua hari juga Dhany semakin dekat dengan Siska, sang guru. Hal itu memancing emosi banyak orang. Tak hanya teman-teman keduanya tapi dari keluarganya pun sangat marah.


Berita kedekatannya dengan Siska memang sudah sampai di telinga kedua orang tuanya dan keluarga Nandha. Karena ini ia juga mendapatkan bogem mentah berkali-kali dari Alexander, Bryan, Leakai dan ayahnya sendiri, Tengku.


"Sayang, luka kamu ini kok banyak banget. Aku obatin ya?" siapa yang bersuara semesra itu? Ah, siapa lagi kalau bukan Siska dan Dhany. Sungguh tak tau malu bemesraan di dalam kelas.


"Nggak usah, aku gapapa kok," ucap Dhany menenangkan Siska yang tampak panik.


Kegiatan mereka ini mendapakan tatapan membunuh dari seluruh kelas. Bahkan Reno dan Leon yang kebetulan ada di kelas mereka pun mendadak jijik melihat pemandangan di depannya.


"Woi sampah!!" teriak Reno yang ada di sebelah teman-teman Dhany.


Reno ke kelas Nandha bersama dengan Leon tadi tujuannya adalah untuk mencari tau kemana Nandha 2 hari ini kok nggak ada kabar. Tapi apa yang di dapatnya? Adegan yang tak seharusnya di lakukan oleh guru dan murid di depan murid yang lain.


Dhany menoleh dan menaikan sebelah alisnya, "Lo manggil gue?"


"Nah lo sampah bukan?" tantang Reno tanpa rasa takut.


Dhany berjalan mendekati Reno dengan tatapan yang sangat tidak selow. Ada kilatan amarah di dalamnya dan semua orang dapat melihatnya.


"Apa lo bilang tadi?"


"Lo sampah yang cuma bisa mainin perasaan cewek. Bisa-bisa lo pacaran gini disaat pacar asli lo si Nandha hilang nggak ada kabar," geram Reno.


"Terus urusannya sama lo apa?" tantang Dhany.


"Kalau lo emang udah nggak mau sama dia bilang nj*ng jangan mainin dia gini," ujar Reno setengah berteriak. Ia kesal melihat perilaku Dhany yang menurutnya seperti baj*ng*n.


"Lo suka sama Nandha?" tanya Dhany dengan santai. Kayak Nandha itu bukan istrinya.


"Sorry menyela, tapi kalau sikap lo kayak gini gue milih mundur dan duduk mengabdi di seblah Nandha." Siapa itu yang menyela? Oh, ternyata ungkapan sarkas itu datang dari Leon.


Dhany terkejut dengan apa yang di lihatnya. Ia berjalan mendekati Leon. Tapi sebelum ada di hadapan Leon seseorang menghadang tepat di depan tujuannya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba sentuh adek gue. Lo mungkin boss ataupun temen gue, tapi gue setuju sama Leon. Gue gak nyangka lo bisa semurah ini sampai ngelupain Nandha yang punya hubungan jelas sama lo." William yang berujar. Pemuda yang jarang bicara itu bahkan berbicara sangat panjang.


"Lo makin gak tau diri ya Will?" tanya Dhany sarkas.


Siska menarik tangan Dhany ke belakang dan mengambil alih tempat pemuda itu. "Apa sudah membully-nya? Kalau sudah silakan keluar." Perintah Siska yang sudah menunjuk pintu keluar.


"Nggak tau malu boleh tapi lihat-lihat kalau sampai jadi pelakor gini ya ... Sama aja nggak punya harga diri," ujar Suci.


Mereka semua pergi keluar kelas meninggalkan Dhany dan Siska berdua saja. Pasalnya semua siswa yang lain sudah jengah akan kemesraan mereka yang tidak tau tempat.


"Sebenarnya Nandha kemana sih? Dia nggak dalam masalah kan?" cicit Reno yang sudah tampak lesu.


"Gue harap dia baik-baik aja. Tapi percaya sama gue, Nandha itu orangnya kuat. Dia nggak bakal hancur dalam sekali," ujar Carla.


"Bener. Kita temenan sama dia udah dari lama. Nanti dia juga bakal balik, tapi kalau dia nggak balik dalam kurun waktu 5 hari. Kita cari dia bareng-bareng, oke?" timpal Victoria.


*****


"Woi ada orang nggak?" Teriaknya dari tempat duduknya.


Seorang laki-laki datang mendekat membawa sebuah nampan berisikan sarapan yang di duga untuk dirinya.


"Apa itu Pak?" Tanya Nandha kelewat santai.


"Sarapan buat kamu," jawab bapak-bapak itu.


"Lauknya?"


Bapak tersebut tampak menaikkan sebelah alisnya, "Ayam goreng sama sayur sop," jawab bapak tersebut.


"Tapi Pak, saya nggak mau makan itu. Saya maunya junk food gimana dong," ucap Nandha dengan mulut yang melengkung jatuh.


"Banyak maunya."

__ADS_1


"Ya maaf Pak, tapi saya kan emang udah kebiasa di manja. Jadi apa aja yang saya mau selalu di turutin. Bahkan nih ya Pak, saya kan udah punya suami kan. Nah dia tuh bucin banget sama saya," celoteh Nandha yang mulai melantur.


"Tapi sayangnya pas sebelum saya kecelakaan saya berantem sama dia. Saya mergokin dia lagi pangku-pangkuan sama guru saya di sekolah. Kan jadinya saya marah. Ih rasanya mau ku kebiri aja itu kambing bandot," ocehnya lagi.


"Terus gimana?" tanya bapak-bapak tadi yang kini udah duduk bersimpuh di depannya. Menyimak dan mendengarkan cerita Nandha.


"Saya dulu pernah di culik juga kayak gini. Tapi dia langsung tau kalau saya lagi dalam bahaya. Cuma kalau lihat sekarang yang saya balik di culik dan sampai 2 hari disini rasa aneh. Saya ngerasa kalau saya gak ada di hati dia. Dia mungkin sekarang lagi skidipapap swadikap sama guru saya Pak." Nandha kini menitihkan air matanya. Gadis itu menangis.


"Aduh kasian, kamu jangan sedih gini dong. Jangan nangi, kamu bikin saya inget sama anak saya di rumah. Kamu mau apa biar nangisnya berhenti?"


"Mau burger sama cola. Terus aku mau gula-gula, mau snack, mau susu juga. Udah itu aja," kata Nandha dengan mata berbinar.


"Banyaak banget," seketika bapak-bapak tadi merasa menyesal karena menawari Nandha.


"Mendadak menyesal saya. Ini anak makannya banyak juga," batin Bapak tersebut.


"Pak saya pinjem hp-nya ya? Saya mau order makanan. Kalau bapak keberatan sama semua pesanan saya tadi, saya bisa pesen pakek akun saya sendiri kok. Bapak cuma perlu bukain ini iketan nanti kita makan bareng. Habis itu Bapak bisa ngiket saya lagi," tawar Nandha memelas.


Bapak penjaga cukup menimang keputusannya ini beberapa kali sampai akhirnya ia mengangguk mengiyakan permintaan konyol Nandha. Dengan keraguan yang masih tampak di setiap gerak geriknya. Nandha yang memahami apa yag menjadi kebimbangan bapak tersebut hanya mampu menghela nafas ringan.


"Kalau Bapak ragu nggak usah Pak nggak apa-apa kok," ucap Nandha yang kembali mematahkan senyuman.


"Ya sudah, ini saya pinjami kamu. Tapi pakek akun kamu sendiri ya, soalnya saya belum gajian. Bilang sama kurirnya buat bilang pesanannya pak Wahid," ucap Bapak penjaga yang baru di ketahui kalau namanya adalah Wahid.


"Baik pak makasih." Nandha menerima ponsel jadul milik pak Wahid setelah ikatan tangan dan kakinya terlepas.


Jari Nandha tampak indah menari-nari di atas benda persegi yang saat ini menjadi candu setiap insan di bumi. Cukup lama ia menggunaka ponsel dari penjaganya tersebut.


Sebelum Nandha mengambalikan ponsel pak Wahid, ia tidak lupa mengeluarkan akunnya dari ponsel pinjamnya. Tak lupa ia juga menghapus pesannya untuk seseorang yang tak di ketahui tersebut. Pesan singkat itu bertuliskan.


"Gue di culik orang lain, bukan dia yang kita duga di awal. Tapi tenang guee aman, gue cuma mau minta tolong selidiki koordinat ini [sebuah titik koordinat] nggak usah balas. Gue yakin lo bisa."


*****

__ADS_1


__ADS_2