
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat upnya.
*****
Carla, Victoria, Suci dan William kembali masuk setelah mengantar tubuh Nandha yang masih tidur itu ke mobil Dhany. Namun bukanya kembai ke kelas mereka malah pergi ke atap untuk merilekskan pikiran dan badan mereka.
"Eh? Boy? Vian? kalian ngapain disini?" tanya Suci saat melihat keberadaan Boy dan Vian yang sudah stand by di atap.
"Loh kalian kesini? kita kira kalian balik kelas?" tanya Vian waktu melihat Carla dan temen-temennya masuk.
"Kagaklah, ngapain kita di kelas kalau Nandha aja nggak ada," tutur Carla yang langsung mendaratkan tubuhnya di kursi panjang yang ada disana.
"Kalian sadar nggak sih kalau hubungan bu Siska sama Nandha kayaknya nggak baik?" ucap Victoria.
"Iya, keliatan banget kalau bu Siska julid ke Nandha," timpal Carla.
"Kalian ngapain sih?" tanya Victoria penasaran karena boy dan Vian yang asik dengan ponsel dan kertas-kertas yang tidak jelas.
"Diem dulu kita lagi mikirin cara buat ngerjain bu Siska nih," ucap boy yang asik menulis di sebuah kertas gambar.
Karena ucapan Boy membuat Carla dan yang lainnya mendekat kearah Boy. Mereka ingin berpartisipasi dalam acara tersebut.
"Gimana kalau kita kunci dia di gudang?" usul Victoria asal.
"Nggak jangan, gue nggak setuju. Eemm gimana kalau kita..." ucap Boy berbisik.
"Setuju!!!" teriak mereka kompak.
Bel pulang pun berbunyi semua murid berhamburan meninggalkan sekolah. Bahkan para gurupun ikut pergi meninggalkan sekolah satu persatu.
Hingga giliran bu Siska pergi meninggalkan sekolah, saat ia sampai di tempat parkir ia terkejut melihat motornya yang sudah kehilangan kedua rodanya.
"Kerjaan siapa ini??" amuknya.
Ia melihat sekeliling dan ternyata sepi. Tak ada satu orang pun disana. Geramlah ia melihat motor kesayangannya berdiri tanpa kedua rodanya.
Bu Siska mondar-mandir mencari dimana keberadaan kedua roda motornya, ia terus berjalan hingga sampailah ia di taman sekolah yang ada di bagian belakang sekolah.
"Astaga!" ucapnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ia melihat kedua roda motornya tengah tergantung dengan apik di sebuah pohon mangga yang cukup tinggi, tak hanya itu di roda tersebut terdapat tulisan...
SELAMAT MENIKMATI MAKAN SIANG ANDA BU GURU...!!!
Emosi bu Siska memuncak saat membaca tulisan itu, ia menerka-nerka siapa yang sudah menjahilnya, ini pertama kali baginya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari muridnya.
__ADS_1
"Siapa yang berani membullyku seperti ini?! apa dia tidak tau kalau aku ini seorang atlit karate?!" teriaknya dengan suara menggema di penjuru taman.
Dan hasilnya sama. Keheningan yang membalas teriaknnya. Bu siska akhirnya mencari bantuan kesan kemari, ia kembali mengelilingi seluruh sekolah.
"Permisi pak, saya mau minta tolong," pinta bu Siska sopan saat bertemu dengan seorang satpam yang tengah berkeliling.
"Loh, bu Siska kok belum pulang?" tanya pak satpam dengan sopannya.
"Anu pak, saya minta maaf sebelumnya, tapi saya ingin meminta bantuan bapak," pintanya lagi.
"Minta tolong apa ya bu?" tanya pak satpam cengo.
Dengan ragu-ragu bu Siska menceritakan apa yang terjadi pada motor kesayangannya, "Jadi begitu pak, saya ingin bapak bantu saya menurunkan ban motor saya yang tergantung di taman belakang sekolah pak," jelas bu Siska sambil menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon.
"Aduh bu Siska jangan seperti ini, saya pasti bantu anda kok. Mari tunjukan tempatnya biar saya yang ambilkan," tutur satpam itu penuh perhatian.
Bu Siska jalan mendahului pak satpam, di jalan ia bertanya, "Apa bapak sudah lama kerja disini?" tanyanya.
"Ya, lumayanlah bu. Saya kerja disini sudah 1 tahunan," ucap satpam itu yang tetap memandang lurus ke depan.
Bu Siska berdehem, "Hmmm, lumayan lama ya. Apa bapak tau siapa saja siswa yang memiliki pupularitas cukup buruk disini? m-maksud saya yang b-bandel gitu," tanya bu Siska hati-hati.
"Maaf bu, setau saya semua murid disini itu anak baik-baik. Malah ini kali pertamanya saya melihat ada murid yang mengganggu gurunya," jelas pak satpam itu.
Bertambah bingunglah bu Siska saat mendengar penjelasan pak satpam, ia terus melamun sepanjang jalan kembali ke taman belakang. Iaa memikirkan siapa yang telah mengganggunya, siapa yang tega melepas ban motornya dan menganggantungnya.
"Oh, itu di san..." ucap bu Siska terpotong, ia terkejut saat melihat kearah pohon mangga tempat kedua bannya tadi tergantung, ternyata bannya sudah tidak ada disana.
"Loh, kemana ban-ban saya? tadi tergantung di pohon mangga itu," ucap bu Siska sambil menunjuk kearah pohon mangga.
Satpam itu ikut bingung seperti bu Siska, namun ia akhirnya menyarankan agar bu siska mencarinya lagi.
Mereka akhirnya mengelilingi sekolah yang amat luas itu sekali lagi hanya untuk mencari ban-ban motor bu Siska. Karena rasa penat yang mendera akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke parkiran dan ternyata.
"Bu bukannya itu motor ibu?" tanya pak satpam sambil menggertakan gigi.
Bu Siska mengerjap bingung, ia langsung melirik kearah parkiran tempat ia memakirkan motornya "Iya , itu motor saya kenapa?" balasnya dengan polos seperti anak kecil.
Terlihat jelas urat leher pak satpam, "Tadi ibu bilang ban motor ibu hilangkan?" tanya pak satpam dengan suara serak.
"Iya pak," jawab bu Siska.
"Lalu itu apa bu?! motor ibu baik-baik aja kan?! jangan-jangan ibu ya, yang mau ngerjain saya? ibu kurang kerjaan ya?! lebih baik ibu kerjain yang lain saja jangan saya, saya lagi sibuk!!" cecar dan amuk pak satpam bersamaan.
Dengan hati dongkol pak satpam pergi meninggalkan bu Siska yang termangu melihat sepedah motornya yang kembali mulus seperti semula.
__ADS_1
"Apa aku nggak salah liat? perasaan tadi nggak ada? aku nggak mimpikan?" cecarnya pada dirinya sendiri.
Disaat bu Siska termangu dengan kejadian ban motor, ada segerombolan remaja yang tengah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha, sumpah ngakak coy," ucap Carla yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ho'oh, astaga gue nggak nyangka kalau ternyata lu bisa jadi montir dadakan ya Boy? niat banget ngerjainnya," sambung Victoria sambil memegangi perutnya.
"Habis gue kesel ama dia," aku Boy sambil cengengesan.
"Ya udah kita ketempat Dhany yuk, btw siapa yang bawa mobil Nandha?" kata William.
"Biar gue aja," usul Vian, ia mengajukan dirinya sendiri untuk membawa pulang mobil Nandha.
"Oke sudah jelas ya, ayo berangkat," ucap William yang diiringi sorakan bahagia di akhir kalimat.
William cs berangkat kerumah Dhany secara berurutan dengan william memimpin jalan dan di akhiri oleh Vian dengan mobil Nandha.
William memasukin halaman rumah Dhany tanpa hambatan, ia memakirkan mobilnya di parkiran mewah sebelah rumah.
Carla, Suci, Victoria, Boy, dan Wiliam ternganga melihat rumah mewah minimalis milik Dhany. Menurut mereka rumah Dhany sangatlah artistik.
"Ayo masuk!!" ajak William yang mengagetkan mereka.
Tingtong....Tingtong...tingtong
"Ya tunggu!!" teriak seorang perempuan dari dalam rumah.
"Siang tuan William, silakan masuk tuan," sapa Lily sang maid yang membukakan pintu.
"Hmm," balas william bergumam.
"Silakan kakak-kakak sekalian," sapa Lily pada yang lainnya juga.
Mereka masuk kedalam rumah Dhany , dan mereka tak henti-hentinya terperangan akan disain rumah itu.
"Wahgila siih, ini rumah keren banget," ucap Boy katrok.
"Lily dimana tuan?" tanya William saat di ruang sampai di ruang tamu.
"Tadi tuang pulang dengan nyonya yang tak sadarkan diri, jadi tuan membawa nyonya kekamar. Tuan belumada keluar lagi tuan," ucap Lily menjelaskan.
"T-tunggu dulu!!!" potong Boy, "Kok lu manggil Dhany tuan? dan nyonya? maksudnya nyonya itu siapa? NAndha?" lanjutnya mencecar William dengan berbagai pertanyaan.
"Itu karena gue.."
__ADS_1
"Dia orang gue."
*****