The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 124


__ADS_3

"Gue di culik orang lain, bukan dia yang kita duga di awal. Tapi tenang guee aman, gue cuma mau minta tolong selidiki koordinat ini [sebuah titik koordinat] nggak usah balas. Gue yakin lo bisa."


*****


Nandha tengah asik menikmati seporsi burger dan juga cola bersama dengan pak Wahid yang setia duduk bersamanya.


"Pak? Bapak udah berapa lama kerja sama dia?" tanya Nandha sambil melahap roti berdaging yang ada di tangannya.


"Lumayanlah Dek, Bapak ikut nona udah hampir 9 tahun," jawab pak Wahid.


"Berarti Bapak tau banget dong ya sama tabiat si nona muda?"


"Ya gitu deh Dek."


Nandha menangkap adanya kesedihan dalam raut wajah pak Wahid. Nandha dengan kepekaan yang melampaui orang-orang biasanya akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Ada yang nggak beres ya Pak?" tanya Nandha to the points. Anak yang satu ini memang tidak suka berbelit-belit.


"Tidak ada apa-apa kok Dek," jawab pak Wahid singkat.


"Pak."


"Ya Dek?"


"Bapak percaya nggak kalau saya sebenernya bisa keluar dari sini?" tanya Nandha dengan tatapan tajamnya.


Sejenak pak Wahid terkejut akan aura yang keluar dari tubuh Nandha. Aura anak muda pencilakaan dan cengengesan hilang entah kemana. Bahkan pak Wahid tampak sedikit gemetaran saat melihat kilatan pada mata gadis di depannya.


"Tolong ceritakan semuanya. Saya janji apapun yang terjadi saya akan membantu Bapak," Nandha menjeda ucapannya, "Termasuk keluar dari sini." sambungnya.


"Kenapa saya harus percaya pada kamu?" tanya pak Wahid.


"Saya baru saja mengirim koordinat tempat ini melalui ponsel Bapak. Saya juga bisa pergi saat ini juga, tapi tentu saja Bapak yang akan menjadi sasaran empuk nona muda si*lan itu. Karena dia tak mungkin tidak mengece internet kalian," ucap Nandha santai sambil menyeruput coca cola yang ada di tangannya.


"Apa?"


"Tidak perlu terlalu kaget seperti itu, karena asal Bapak mau membantu saya. Saya sendiri yang pastiin semua riwayat internet Bapak akan di bersihkan oleh anak buah saya."


"Anak buah?"


"Putuskan saja dulu, nanti saya atur semuanya."

__ADS_1


Keraguan jelas terpancar dari raut wajah Pak Wahid. Tapi Nandha menanggapinya dengan sangat santai. Tak ada yang tau apa yang tengah di pikirkan oleh seorang gadis yang tengah sakit hati dan juga siap menggila.


"T-tolong bantu saya-"


Smrik tercetak jelas dalam wajah penuh luka Nandha. Seringai iblis yang dapat membuat bulu kuduk siapa pun berdiri dan menggigil ketakutan.


"Good! Ceritakan semuanya."


Walau ragu akhirnya Pak Wahid menceritakan semua yang terjadi padanya. Berulang kali gadis itu harus menghela nafas berulang kali. Sampai di pertengah cerita tiba-tiba wajah cantinya kaku. tanganya mengepal kuat bagkan kini giginya juga saling bergemeletuk. Ah, amarah gadis itu ttengah menggebu-gebu. Hal itu terbukti dari tindakan yang di ambilnya.


Nandha dengan cepat mengambil ponsel yang ia sembunyikan dari Pak Wahid dan melakukan panggilan dengan cepat menggunakan bahasa asing. Yang Pak Wahid tahu hanya kata terakhir yang di ucapakan oleh Nandha yaitu-


"Jemput gue di koordinat yang gue kirim!"


Disini Pak Wahid yakin bahwa apa yang di katakan oleh sosok di depannya bukan sekedar bualan ataupun omong kosong.


"Ada berapa penjaga di sepanjang jalan menuju pintu keluar?" tanya Nandha.


"Saya tidak yakin. Tapi seingat saya di jadwal seharusnya ada sekitar 9 orang yang berjaga bersama saya pagi ini." jawab Pak Wahid sembari mengingat-ingatan kembali jadwalnya.


"Bapak ada senjata?"


"Saya hanya punya pistol dengan 5 peluru."


"Apa yang akan di lakukan oleh gadis ini?" batin Pak Wahid khawatir.


"Tolong apapun yang terjadi jangan jauh-jauh dari saya ya Pak?" pinta Nandha sebelum dia mempersiapkan pistol Pak Wahid yang entah sejak kapan ada di tangannya.


"K-kapan gadis ini mengambilnya?" Pak Wahid bergumam melihat Nandha yang sudah mengusap manja pistolnya.


*****


Disisi lain jam pelajaran tengah berlangsung dengan khidmat sampai sebuah dering ponsel menyapa indra pendengaran semua orang. Membuat semua orang menatap kearah sumber suara. Seorang pemuda yang duduk di belakang tengah menatap nanar pada ponsel yang menyebabkan konsentrasi kelas terbagi.


"Halo-,"


"Oke, gue kesana."


Dhany melangkah cepat meninggalkan kelas yang tengah berlangsung tanpa meminta izin pada gurunya. Para sahabatnya-. Ah tampaknya mereka melepas ikatan persahabatan mereka karena perilaku Dhany terakhir kali.


Dengan langkah tergesa pemuda itu meninggalaka area sekolah menggunakan kuda besi yang di pacu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Kenapa harus gue yang jemput dia?" keluhnya sepanjang jalan.


Hanya butuh waktu sekitar 15 menit agar Dhany bisa mencapai koordinat yang ia tuju. Tampak seorang wanita berseragam pns tengah duduk di sebuah halte sembari menjilat es krim dengan nikmat.


"Di sekolah juga ada tempat fotocopy, lalu kenapa kau harus memilih tempat sejauh ini Siska?" geram Dhany saat turun dari mobilnya. Tampaknya mereka sudah sangat dekat buktinya Dhany dapat memanggil wanita itu tanpa embel-embel Bu.


"Kan biar kamu bisa jemput aku Yang," jawab Siska manja. Wanita itu bahkan tak ragu untu bergelayut manja di depan umum.


Dhany yang sadar tempat memilih untuk menepis tangan guru yang akhir-akhir ini mendeklarasikan diri sebagai kekasihnya.


"Kamu nggak lihat kita dimana? Kita ini ada di tempat umum. Kamu masih pakek seragam dan aku juga masih pakek seragam. Bisa malu-maluin nama sekolah, sadar kamu." tegur Dhany yang langsung pergi masuk kembali ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan yang sama kencangnya seperti tadi. Kini ia tengah mengantar Siska kembali ke sekolah. Sepanjang jalan Dhany memilih diam dan tak membuka mulutnya sedikit saja.


"Sayang kamu kenapa?"


"Kamu ngambek ya sama aku gara-gara aku suruh kamu jemput aku?"


"Atau gara-gara aku yang tadi ngerangkul amu pas di halte?"


Diam. Dalam mobil itu hanya ada suara Siska yang merengek seperti anak paud yang kehilangan emaknya.


"Sayang maaf ih, masak gara-gara aku gelayutan di halte tadi sih?"


CKIIT


Deru ban mobil yang di adu dengan aspal saat Dhany menginjak pedal rem. "Kamu sadar nggak sih tindakan kamu itu bisa malu-maluin nama sekolah. Kamu pakek seragam aku juga pakek seragam, kamu apa kamu nggak mikir kalau viral gimana?" ucap Dhany yang mulai naik pitam.


"TURUN!" Perintah Dhany tanpa menatap kearah gurunya itu.


"Tapi Sayang,"


"Gue bilang turun, ya turun!"


Akhirnya dengan berat hati Siska turun dari mobil mewah Dhany dan menatap sekitar. Ternyata ia sudah ada di depan gerbang sekolah dan sedang di tatap oleh beberapa petugas keamanan.


"Maka-" ucap Siska yang terhenti karena Dhany yang langsung menancap gasnya dan pergi meninggalkan Siska yang mematung karena kepergiannya.


Mobil itu terus di pacu menuju istananya. Tiba-tiba mood sekolah dia hilang begitu saja. Selama dalam perjalanan yang cukup tenang itu Dhany sempat termenung dan bergumam.


"Kalau gini ceritanya harus menghubungi dia."

__ADS_1


*****


__ADS_2