The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 104


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.😊😊😊


*****


*Di rumah sakit*


Tubuh Jafar yang tak sadarkan diri itu di bawah ke rumah sakit pusat kota untuk menjalani pengobatan. Di sana tubuh yang terkulai lemas dengan cairan merah yang keluar dari hidung dan mulutnya itu di tinggal begitu saja seolah benda yang tidak penting di tinggal setelah mengisi data formulir.


"Maaf kak, ini tagihannya mau di bayar siapa ya?" tanya seorang suster pada pengawal yang membawah tubuh Jafar.


"Suruh bayar sendiri saja, toh dia anak orang kaya disini," jawab pengawal itu.


Pengawal itu pergi begitu saja tanpa mengucupakan hal lainnya. Suster itu menggaruk kepalanya karena bingung akan sikap orang dihadapannya.


Seorang dokter dan suster memasuki ruangan dimana Jafar dirawat. Ruangan yang bernuasa serba putih dengan aroma khas obat-obat dan juga sebuah kantong infus dan kantong darah yang tergantung di sebalah tubuh Jafar yang tak bergerak.


"Sepertinya orang ini bertemu dengan orang gila yang sedang mengamuk, pasti dia akan sangat terkejut saat mengetahui apa yang terjadi pada masa depannya," ujar dokter cantik dengan tubuh yang porposional. Tubuh yang membuat pasien kaum adam menelan ludah dan iri untuk kaum hawa.


"Benar dok, mungkin dia akan ikut gila dan mengejar orang gila yang membuatnya gila," sahut suster cantik yang ada di belakangnya.


"Hmmmm ... "


Jafar membuka matanya secara perlahan. Ia terkejut saat mendapati tubuhnya ada di sebuah ruangan yang sangat asing untuknya.


"Dimana ini? nggak mungkin ini surga kan?" gmam Jafar sambil menyapukan pandangan di seluruh ruangan.


"Nggak kok, kamu belum mati!!!" sahut dokter.


"Huaa ....!!!" teriak Jafar terkejut.


"Siapa kamu? Jangan-jangan kamu bidadari ya?" ucap Jafar menggombali dokter jaga.


"Iya bener banget ... Saya bidadari yang khusus jatuh dari khayangan buat menyuntik mati pasien-pasien buaya darat macam kamu," kata dokter sambil tersenyum ramah.


Jafar meringis malu, ini kali kedua gombalannya tidak mempan pada wanita setelah Nandha.


"Ehehehe maaf dokter .... " Jafar melongokkan kepalanya untuk memeriksa nama di name tag dokter cantik itu.


"Dokter Fisyaka," lanjutnya setelah mengetahui nama dokter itu.

__ADS_1


"Saya periksa dulu ya." dokter Fisyaka meletakkan stetoskopnya di dada Jafar, dokter Fisyaka juga tidak lupa mengukur tensi darah Jafar.


"Tolong kamu beri kontak keluarga kamu ya, ada yang harus saya beritahu pada mereka," pinta dokter Fisyaka.


"Anda bisa menghubungi adik saya dok, bentar saya cari dulu hp saya," ucap Jafar.


"Eh lho kok tangan sama kaki saya nggak bisa di gerakin?" tanya Jafar panik saat mendapati tangan dan kakinya tidak bisa di gerakkan.


"Ini yang mau saya kasih beritahu ke keluarga kamu, kedua tangan dan kaki kamu patah, tapi tenang saja ini masih bisa di sembuhkan kok" ucap dokter Fisyaka berusaha menenangkan Jafar.


"Patah?!! tapi m-masih bisa sembuhkan dok?"


"Bisa kok kamu tenang aja, dimana ponsel kamu biar saya yang ambil?" tanya Dokter Fisyaka.


"Ada di kantung celana saya dok."


"Permisi ya." dokter Fisyaka tanpa ragu langsung merogoh saku celana Jafar untuk mengambil ponsel.


"Tolong kode sama nama kontaknya," pinta dokter Fisyaka.


Jafar menyebutkan kode dan nama Lional di ponselnya agar dokter Fisyaka bisa menelfon Lional.


Dokter Fisyaka dan suster pergi meninggalkan ruangan Jafar. Jafar yang di ruangan sendirian merasa bosan. Dia berusaha menggunakan tangannya untuk menekan nomor seseorang.


Terdengar suara seorang wanita dari seberang sana, "Halo, siapa ini?"


"Halo baby, ini aku Jafar," ucap Jafar sambil senyum-senyum.


Terdengar hembusan kasar dari wanita itu, "ngapain nelfon-nelfon sih, ganggu aja," ucap wanita itu jengkel.


"Walau kamu udah hajar aku sampai hampir mati, tapi aku tetep mau kita balikan," kata Jafar to the point.


"Kamu dimana?" tanya wanita itu.


"Di balkon lantai 3 rumah sakit pusat kota, kenapa? kamu mau kesini ya?" tanya Jafar sumringah.


Jafar bingung akan ucapan Nandha. Untung suster tadi sudah mendorong kursinya kebalkon untuk menikmati suasanya udara bebas daripada bau obat-obatan.


"Coba lihat kebawah."

__ADS_1


"Udah," lapor Jafar.


"LONCAT!!!"


Wanita itu mematikan ponselnya tepat setelah mengucap 1 kata. Bukannya marah Jafat malah tertawa tidak jelas sampai kedatangan Lional membuatnya terkejut.


"Mamp*s lu kak, kalau sampai ayah tau bisa kelar hidup lo!!" Liona datang tanpa permisi malah membawa ekspresi marah sambil melemparkan sebuah dokumen, nampaknya itu adalah kertas laporan pemeriksaan sang kakak.


Jafar berdecak kesal, "Ckckck, lo apaan sih Nal. Ganggu gue lagi halu aja," protes Jafar.


"Kak serius dikit napa, lo baca dulu gih laporan kesehatan elo. Gue yakin lo bakal kicep lihatnya."


Jafar pun membaca laporanya dengan sangat teliti. Dia terkejut saat melihat kata 'MANDUL'.


"Nggak !!! ini nggak mungkin !!!" Jafar tiba-tiba histeris dan berteriak-teriak tidak jelas.


Melihat reaksi kakaknya yang tidak terduga, Lional segera menekan tombol darurat yang ada di sebelah tempat tidur.


Dokter Fisyaka dan suster yang tadi merawat Jafar pun datang.


"Ada apa ini? kenapa pasien ini bisa histeris?" tanya Dokter Fisyaka yang terlihat panik.


Beberapa kali dokter Fisyaka berusaha untuk mendekati Jafar, namun Jafar terus mendorong dan berusaha menyakiti dokter Fisyaka.


"Suster tolong beri pasien obat penenang," perintah dokter Fisyaka.


Setelah pertempuran dengan Jafar yang menggila, akhirnya suster dan Lional berhasil memegangi Jafar agar berhenti berontak dan bisa di beri obat penenang.


Tak lama setelah obat berhasil di suntikan Jafa merasa kepalanya tiba-tiba pusing dan banyak bayang-bayang Nandha yang terbang diatas kepalanya.


"Ehh ... Nandha sayang .... Akhirnya kamu kembali sama aku ... Aku kan udah bilang kalau Dhany itu laki-laki brengsek," ucap Jafar mengigau sebelum kehilangan kesadarannya.


PLAAK !!!


Dokter Fisyaka menampar Jafar dengan sangat keras. Lional dan suster yang ada disana saling berpandangan. Disisi Lional dia tak mengira wanita cantik di hadapannya bisa memberi sebuah tamparan yang sangat keras, dan apa pula kesalahan sang kakak. Jika di lihat dari sudut pandang suster. Suster tersebut tidak menduga bahwa dokter yang terkenal akan kelembutan dan kesabarannya dalam menghadapi berbagai model pasien, kini tengah berkacak pinggang dengan nafas memburu setelah menampar seorang pasien yang sebenarnya tidak terlalu merepotkan. Seberapa marahkah dia, begitulah yang ada di pikiran suster tersebut.


"Urus sisanya!!" perintah dokter Fisyaka dan langsung pergi dari sana.


"Berani-beraninya mengigaukan keponakan gue. Mau gue libas lo," batin dokter Fisyaka.

__ADS_1


*****


__ADS_2