The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 115


__ADS_3

Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya. Happy reading.😊😊😊


"Selamat pagi anak-anak," sapanya dengan suara ramahnya.


"Cih ... Dia toh ternyata." Dhany berdecih saat melihat Siska memasuki ruangan.


Nandha dan gengnya sama sekali tidak menghiraukan eksistensi dari Siska yang tengah ada di depan kelasnya. Mereka malah asik sendiri dengan ponsel ataupun teman sebangkunya.


"Itu yang di belakang ngapain heboh sendiri ya?" tegur Siska dari depan kelas.


"Tenang sedikit atau kalian silakan keluar dari jam pelajaran saya," hardik Siska dengan gaya sombongnya. Entah apa yang merasukinya, bukan dengan tegas menegur malah menegur dengan gaya sombong.


"Anda siapa nyuruh-nyuruh kita?" sahut Victoria yang sedari tadi asik benerin bulu matanya.


"Kamu?!" Siska mulai meradang karena sikap yang di tunjukan oleh murid-murid spesialnya itu.


"Kalau emang mau ngajar ya udah sih ngajar aja, kenapa banyak omong sih? Bikin makin ngantuk aja," timpal Dhany yang tengah bermain dengan pipi gembul Nandha. Dan Nandha sendiri yang malah asik dengan ponselnya tidak menghiraukan Dhany yang asik menoel pipinya.


Siska yang melihat keharmonisan antara murid crushnya dengan murid yang paling di bencinya itu tanpa sadar membuatnya naik darah. Ia merasa cemburu karena Dhany selalu hangat pada Nandha. Apa kurangnya dia dari seorang Nandha. Gadis di sebelah crushnya tidak lebih dari seorang bocah nakal yang suka membuat onar.


Berbeda dengan dia yang lulusan universitas luar negeri. Ia pintar, cantik, manis, kalem, lucu dan penurut juga. Lalu apa kurangnya dia dari Nandha. Pikiran-pikiran seperti itu tiba-tiba menyerang otaknya. Membuat dia tanpa sadar meraih dan lantas melempar penghapus papan tulis kearah 2 sejoli itu.


Wusshhh ....


Tap!


"Apa yang sedang anda lakukan?!" wajah Dhany menghitam. Nampak gurat-guratan urat dileher, tangan, dan pelipisnya.


Siska tersandar akan luapan emosi sesaatnya. Ia mendadak ketakutan merasakan hawa dingin yang menusuk kulit. Dia gemetar bahkan tanpa perlu melihat Dhany. Ia merasa seolah-olah ada ribuan mata pisau yang mengitarinya.


"Woy!! Mau ngapain lo?!" Carla berteriak kencang saat melihat tindakan sang guru itu.


Victoria dan Suci yang ikut melihatnya pun tak ingin tinggal diam. Mereka sudah siap berdiri di tempatnya sambil memberi tatapan membunuh. Berbeda dengan yang lainnya, Nandha sendiri malah asik dengan gamenya seoalah-olah tidak terjadi apa-apa di sekitarnya.


"K-knapa kalian ribut? Orang yang mau saya lempar aja masih biasa-biasa saja. K-kok kalian yang ribut?" ucap Siska tergagap.


"Huufff, ini guru bener-bener minta di gaplok kayaknya." Dhany meremas kuat penghapus yang kini ada di tangannya.


Nandha yang awal acuh menjadi tergerak. Di ambilnya penghapus itu dari tangan Dhany. Ia lemparkan kembali ke arah Siska.


"Kalo mo ngajar buruan, jangan banyak omong. Nanti belum kasih rumus muka anda yang babak belur," kata Nandha dingin.


Siska menatap Nandha dengan Nanar. Amarahnya semakin memuncak saat melihat respon yang di berikan oleh Nandha. Ia berharap Nandha akan menyerangnya, paling tidak dia ingin Nandha menamparnya. Karena dengan begitu rencananya baru bisa di mulai.


"Anak-anak yang lain, saya beri kalian tugas. Cari buku yang mengandung unsur matematika. Satu orang 2 buku. Kecuali Nandha, Victoria, Carla dan Suci, yang lainnya silakan keluar dan kerjakan tugas dari saya. Kalian mengerti?" ucap Siska memberi tugas pada murid-muridnya.


"Baik bu!" jawab para murid serempak.


Siska menaikan sebelah alisnya saat melihat rombongan Dhany yang juga tidak bergeming dari tempatnya. Jadi saat ini kelas itu berisikan 9 orang yang terdiri dari. Dhany, William, Vian, Boy, Leon, Nandha, Suci, Carla, dan Victoria.


"Kalian para cowok ngapain masih disini?" tanya Siska dengan suara deduktif.


"Apa pentingnya sih Bu guru cantik," goda Leon dari tempat duduknya.


Terlihat semburat merah di wajah Siska saat salah satu muridnya memberi gombalan. "Oh, apa kamu sedang mengakui kecantikan saya?" tanya Siska sedikit manja.


"Wah, sepertinya anda salah paham. Kalimat saya belum selesai tadi lho, maksud saya itu ... Apa pentingnya sih Bu guru yang cantik, tapi boong, bweeek." Leon menjulurkan lidahnya untuk mengejek guru centil di depannya itu.


"Leon!! Keluar dari sini dan segera menghadap guru BK!!" teriak Siska emosi. Siska merasa malu karena telah di permalukan oleh muridnya sendiri.


"Cih baperan," decih Leon.

__ADS_1


Siska berjalan mendekat ke arah Nandha sesaat nampak ia bersemirk sambil memandang Nandha dengan cemooh di matanya.


Tujuannya bukan Nandha, melainkan sosok di sebelah Nandha. Benar tujuannya adalah Dhany. Siska menjatuhkan tangannya di pundak Dhany dan dengan gerakan sensual ia meniupi bagian belakang dari telingan murid laki-lakinya itu.


Hal itu sontak membuat Dhany meradang marah. Ia merasa di lecehkan di depan istri dan teman-temannya. Di gapainya tangan guru tak senonoh itu, tapi. Sebelum tanganya sampai suara Nandha yang menginterupsi lebih dulu.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari tubuhnya sebelum video kejal*nganmu ini tersebar luas," ancam Nandha. Siska awalnya tak paham sampai ia mengikuti pandangan Nandha yang tertuju pada sebuah kamera cctv di sudut ruangan.


"Sebenernya saya tidak peduli kalau ada cctv, saya cukup mengatakan bahwa kami saling mencintai, bukan?" balas Siska. Nyatanya ancaman yang di berikan Nandha tidaklah cukup membuatnya takut. Memang urat malunya sudah putus mungkin.


"Baiklah kalau anda mengabaikan cctv, kalau begitu saya juga bisa mengabaikannya juga."


Nandha bangkit dari tempat duduknya dan langsung menerjang Siska. Di tariknya rambut perempuan dengan keras hingga dia terhuyung-huyung mengikuti langkah murid perempuannya ke belakang kelas.


Brak!


Nandha mencekik leher Siska dengan kuat, "Anda jangan main-main dengan saya, karena kalau saya sudah ikut bermain. Maka harus ada yang meninggal."


Semua orang yang mendengar ucapan Nandha langsung bergidik ngeri. Bahkan untuk ketiga temannya. Nandha tak pernah menunjukan amarah yang sebegitu besarnya sampai-sampai William bisa merasakan hawa membunuh yang setingkat dengan Dhany.


Siska menelan kasar ludahnya, guru cantik itu berusaha membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.


"Ingat, jangan menggangguku atau kau akan sangat menyesal!"


Nandha sontak melepaskan tangannya setelah mencekik dan memberi ancaman yang mirip seperti ultimatum itu. Sebelum pergi dari kelas Nandha sempat berbalik dan berkata, "Kalau masih mau coba silakan. Akan saya nikmati permainan Anda."


Kepergian Nandha itu membawa keheningan. Semua orang masih sibuk mengatur nafasnya. Namun Dhany segera tersadar dan langsung menyusulnya, berbeda dengan teman-temannya yang lebih memilih bermain-main dengan sang guru cantik itu.


"Mau apa kalian, hah?" tanya Siska, terdapat kepanikan dalam suaranya.


Leon bersemirk, "Kalau hanya 1 guru saja seharusnya gampangkan ngurusnya. Kita tinggal pukul lehernya, terus masukin ke bagasi. Gue ada 1 tempat kok buat jual orang. Lumayan dia bisa di gunainkan," katanya dengan santai.


Delapan orang itu maju mendekat sambil memberi tatapan yang sulit di artikan. Tatapan William yang seolah-olah sanggung mengulitinya hidup-hidup. Tatapan Leon yang mirip dengan om-om pedofil yang melihat mangsa. Suci yang biasanya kalem kini menghujani dengan tatapan yang seoalah-olah berkata "lo harus mati hari ini".


Karena terlalu takut akhirnya Siska berlari keluar tanpa mengatakan apapun. Membuat ke-delapan siswanya bingung dan tertawa.


"Lah dia cabut gaes, hahahaha." tawa bederai mereka nyatanya mampu memenuhi kelas sepi tersebut.


*****


"Papah nggak ke kantor?" tanya Katrine saat melihat suaminya yang masih bersantai di rumah.


Tengku meraih koran pagi yang selalu bertengger di meja tamunya, "Papah hari nggak mau ngantor Mah. Papah mau istirahat aja."


"Kenapa? Papah capek? Mau Mamah panggilin dokter?" tanya Katrine sambil menempelkan punggung tangannya di dahi sang suami.


"Ish Mamah ... Papah nggak papa. Papah tuh cuma mau nemenin Mamah, Mamah kan biasanya sendirian di rumah. Mumpung kerjaan Papah longgar."


"Tumben, nggak kayak biasanya kamu se-peka ini deh Pah."


"Mamah nih ya ... Mah, ke taman belakang yuk. Papah mau ajakin Mamah bernostalgia bersama," ajak Tengku. Kini laki-laki paruh baya itu sudah siap menggandeng tangan istrinya untuk di ajak bersantai di taman rumahnya.


"Papah tumben so sweet gini, Mamah jadi nggak terbiasa," cicit Katrine.


Mereka kini tengah duduk di kursi malas sambil selonjoran cantik layaknya orang-orang di pantai. Karena matahari yang sudah sedikit naik. Maka dengan sigap Tengku memakaikan kacamata hitam pada sang istri.


Katrine hanya diam. Pikirannya menerawang kemana-mana. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami? Apa yang membuatnya tiba-tiba begitu romantis. Ini memang hal receh, hanya bersantai di taman belakang rumah. Tapi menilik dari beta sibuknya Tengku selama ini, hal sederhana ini kini merubah menjadi hal yang sangat sayang untuk dilewatkan.


Katrine menangkup kedua pipi sang Suami, terdapat binar kebingungan disana. "Papah baik-baik aja kan? Papah kalo ada yang nggak enak bisa ngomong ke Mamah," kata Katrine dengan nada penuh khawatir.


Tengku tersenyum melihat ke-khawatiran pada Katrine. Di usapnya surai lembut Katrine dengan penuh kasih sayang. Perlahan ia menggeleng sambil menenangkap sang istri dengan suara lembutnya, "Papah nggak papa. Mamah jangan parno-an gitu ah," ucapnya.

__ADS_1


Katrine tak ingin berpikir aneh-aneh seperti yang di katakan oleh suaminya. Ia lantas tersenyum lebar sembari memeluk suami tercintanya. Mereka asik berbincang kesanan kemari. Keinginan mereka yang cukup aneh juga tak lupa dari bahasannya. Tengku berkata dia ingin memiliki 20 cucu, sedangkan Katrine hanya ingin memilki 3 cucu.


"Papah nih ya, apa nggak kasian Nandha kalau harus ngelahirin 20 anak? Jangan banyak-banyak. Kalau nggak 3 ya 4. Gini aja udah cukup Pah," protes Katrine saat mendengar keinginan suaminya. Mereka terpaksa menghentikan obrolannya saat seorang maid datang menghampiri mereka.


Disinilah Katrine sekarang. Di sebuah mall yang di kelola oleh menantunya, AA mall. Ia memutuskan untuk pergi berbenja bersama sahabat sekaligus besan-nya setelah di tinggal sang suami. Ya, maid yang menghapiri mereka tadi membawa pesan bahwa Tengku harus segera datang ke kantor karena ada sedikit masalah dengan koleganya yang dari Singapura.


"Yo Katrine!!" sapa Monica dari kejauhan. Wanita itu datang dengan pakaian kasualnya. Celanan jeans sobek yang di padukan dengan t-shirt berwana putih dan jaket denim. Tak lupa topi berwarna hitam dan kacamata hitamnya.


"Ckck, udah ada anak sama menantu tapi masih aja barbar lu ya," cibir Katrine sewaktu di hadapan dengan Monica.


Monica sontak tertawa, "Emak-emak berdasternya di rumah aja, kalau di luar mah .... Anak prawan 17 tahun," sanggah Monica.


mereka tertawa bersama sampai membuag beberapa pengunjung mengalihkan perhatiannya kepada mereka.


"Lalu mau kemana kita?" Tanya Monica sambil melihat sekeliling.


"Bingung gue, di rumah udah ada semua," jawab Kattine sambil garukin kepala yang tidak gatal.


Bletak!


"Kebiasaan!" Monica menghadiakan sebuah jitakan di kepala besan-nya itu. Karena setiap kali mereka pergi ke mall atau suatu tempat perbelanjaan, Katrine pasti selalu bingung dan berkata bahwa semuanya udah ada di rumah. Lalu apa tujuannya mengajak dia pergi mall kalau semua sudah tersedia.


"Lo lagi kepikiran sesuatu ya? Mau cerita?" tanya Monica yang sudah hafal betul dengan sifat Katrine. Temannya itu tak akan pernah pergi ke mall jika tidak dalam keadaan bingung.


"Cari makan dulu ya," ajak Katrine yang sudah melipir mencari tempat makan yang sepi.


Kini mereka ada di sebuah kafe di dalam mall. Kafe dengan desain interior yang semi modern dan pencahayaan yang temaram menjadikan kafe tersebut sangat cocok untuk muda mudi yang tengah di mabuk asmara.


"Wah tempatnya enak banget nih, kapan-kapan kita reuni keluarga disini aja kali ya." puji Katrine saat melangkahkan kakinya kedalam kafe tersebut.


"Mending suruh anak-anak kita kesini. Mereka butuh suasana baru. Oh ya Kat, ...." ucapan Monica terhenti saat Katrine menariknya untuk duduk di sudut ruangan.


"Ada apa Beb?" Tanya Katrine


"Enggak, gue cuma penasaran, kira-kira anak-anak udah pada uwu-uwu negatif beluk ya?" Tanya Monica penasaran.


"Udah kok, kemarin mereka nginep di tempat gue dan mereka udah bilang kalo udah uwu-uwu negatif, kata Nandha dia sampai bolos sekolah gara-gara nggak bisa jalan," terang Katrine.


"Lu mau berapa cucu Kat?" Tanya Monica tiba-tiba.


Pembicaraan mereka terpaksa terhenti saat seorang pelayan datang membawa daftar menu. Katrine dan Monica lantas menerima daftar menu dan mulai membolak baliknya. Tak lama dan akhirnya mereka menentukan pilihan masing-masing. Setelah mencatat semuanya pelayan itu kembali membawa daftar menunya dan bergegas pergi meninggalkan kedua tamunya.


"Gimana-gimana Mon? Sorry tadi ada pelayan," kata Katrine.


Monica menghela nafas secara kasar sebelum berujar kembali, "Kira-kira lo mau punya cucu berapa? Kalau gue sih pinginnya 5," ujarnya dengan mata berbinar-binar.


Katrine terhenyak mendengar ucapan dari sahabat sekaligus besannya itu. "Banyak banget gila," sahutnya.


"Iya banyaklah. Dua buat elu, dua lagi buat gue, satunya buat mereka berdua, wkwkwkwk."


"Waahh, bener juga ya. Kok lu lebih pinter? Aahh nggak seru," Katrine mencibir dengan bibir yang sudah melengkung sempurna.


Tak lama kemudian datang dua pramusaji membawa 2 buah nampan berisikan masakan yang sungguh menggiurkan. Salah satu pelayan meletakan seporsi beef steak dengan saus barbeque di hadapan Katrine. Dan salah satunya lagi meletakan seporsi pasta dengan saus keju di hadapan Monica. Tak lupa juga minuman yang sama-sama memilih beer asam jawa.


Mereka lantas menyantap pesanan masing-masing sambil bercanda dan bergurau. Tak ayal kadang mereka tertawa terbahak-bahak dengan mulut penuh makanan. Namun acara makan bersama mereka harus kembali terhenti karena sapaan dari seorang di depan sana.


"Katrine ... Monica!!"


"Rika!!"


Ujar keduanya saat melihat siapa sosok yang memanggil mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2