
Budayakan like, koment, vote dan follow ya biar Chiplux makin semangat up nya.πππ
Nandha menatap Jafar sekilas dan berkata dengan sarkas, "Oh hay sampah, maaf saya tidak ingin si temani dengan laki-laki yang hanya berpikir dengan bagian bawahnya saja." Nandha pun melenggang pergi meninggalkan Jafar yang tengah tertegun.
*****
"Kayak kenal suaranya deh, terus gaya arogannya juga mirip sesorang. Tapi siapa ya?" batin Jafar bertanya-tanya.
Jafar mengalami kesulitaan untuk mendekati Nandha. Hal itu tak jauh berbeda dengan Lional yang juga kesulitan untuk mendekati Dhany. Ia masih takut akan di tatap lagi oleh William yang terus saja mengekor pada orang bertopeng.
Posisi ini sungguh menyulitkan bagi seorang Lional. Bagai makan buah simalakama, bagaimana tidak. Jika ia mendekati sosok orang bertopeng, maka ia harus siap di beri tatapan maut oleh William. Tapi, jika ia mundur maka ia harus siap menerima amukan dari sang ayah.
Setelah menguatkan mental, akhirnya Lional memilih untuk mendekat pada sosok bertopeng itu. Dan benar saja, baru mendekat saja dia sudah langsung di tatap nanar oleh William.
Dhany mengibaskan tangannya agar William berhenti menatap Lional.
"M-maaf tuan, bolehkah saya berkenalan dengan anda?" tanya William ragu-ragu.
Dhany tersenyum, "Tentu, apa ada yang bisa saya bantu?" balas Dhany.
Lional tersenyum lebar, ia merasa keberuntungan tengah memihak padanya, "Saya Lional Carenn, saya ingin menjadi teman tuan," ujar Lional.
"Ngomong aja gagap gimana mau jadi temen dia," sahut William dari belakang Dhany.
Dhany melirik William.
"Maaf tuan," ucap Wiliam yang langsung menundukan kepalanya.
Lional semakin besar kepala saat tau bahwa orang bertopeng itu membelanya, "Cuma babu aja songong," ucap Lional menghina William.
"Saya mau memperingatkan kamu, berani hina orangku siap-siap akan menderita. Akan ku buat kamu berada dalam posisi hidup tak mau mati pun enggan." ancam Dhany.
Tubuh Lional bergetar hebat saat melihat orang bertopeng dihadapannya mengancamnya. "M-maaf tuan," ucapnya.
Kali ini William hanya dia saja menyasikkan kejadian itu. Ia tak mau ikut campur lagi karena takut akan di tegur oleh sang tuan.
"Tapi bohong, ahaha." jawab Dhany yang langsung tertawa lebar. Dhany menepuk punggung Lional, "Santai saya hanya bercanda, tapi kalau kamu nggakpercaya kamu bisa mencobanya."
"Silakan nikmati pestanya, saya masih harus menyapa tamu yang lain." Dhany pergi meninggalkan Lional yang tengah tersenyum lebar.
"Jangan senang dulu, karna terlalu senang sebelum perang bisa membuat kekalahan." kata William.
__ADS_1
Karena rasa senang yang memuncak membuat Lional tak mengidahkan ucapan William. Ia berjalan sambi melompat-lompat kecil menuju meja keluarganya. Beberapa nona muda yang ada disana tertawa melihat kelakuan Lional yang seperti anak kecil itu.
"Ah ... dia imut sekali, siapa dia? aku ingin membawanya pulang." kata seorang gadis cantik berambut merah.
"Kamu serius?" tanya gadis lain.
"Ya, aku mau dia jadi salah satu pria koleksiku," kata gadis berambut merah itu lagi.
"Dasar psychopat gila."
Disaat yang lain asik dengan acara masing-masing. Suci tengah duduk sendirian sambil memutar gelas anggur di tangannya. Sesekali ia menatap kearah para sahabatnya yang tengah mempererat jalinan kasihnya. Nandha dan Dhany sibuk dengan para tamu undangan.
Kegabutan yang melanda itu terhenti saat seorang pelayan mendatanginya. "Ini untukmu nona," kata pelayan itu menggunakan bahasa Inggris.
"Aku?"
"Ya nona. Silakan di terima."
Suci menerima surat itu, wajahnya tiba-tiba memerah saat melihat isi dan nama dari pengerim surat itu.
"*Temui aku di kamar 309"
"Your π*"
"305, 306, 307, 308 .... 309." gumam Suci membaca papan pintu kamar yang ia lewati.
Tok ... Tok ...Tok
"Aaaaa ..... "
Suci di tarik oleh sepasang tangan kekar dan membawanya dalam pelukannya.
"Hey beby, kenapa dari tadi aku lihat kamu cemberut terus," ucap seorang laki-laki yang menarik tangannya.
"Bryan ... melepasin dulu, aku nggak bisa nafas," ucap Suci meronta dalam pelukan laki-lakinya yang ternyata adalah Bryan.
"Aku kangen kamu, udah lama kita nggak ketemu," rengek Bryan manja.
"Aku tau, aku juga kangen sama kamu. Tapi mau gimana lagi, kamu kan sibuk. Aku nggak mau egois minta ketemu." ucap Suci sambil menepuk kepala Bryan.
Bryan menggosokkan wajahnya di leher Suci dengan manja. Suci gemas melihat tingkah Bryan yang tak akan di lihat oleh orang lain. Dia terus menepuk kepala Bryan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Pinjem pahanya bentar ya." Bryan merebahkan tubuhnya dengan kepala yang bertumpu pada paha Suci.
"Aku denger kamu yang masang foto Nandha ya?" tanya Suci sambil terus mengusap rambut Bryan.
Bryan memejamkan matanya menikmati usapan dari sang kekasih, " Ya aku yang melakukannya." jawab Bryan enteng.
"Dengan maksud apa kamu melakukan itu?"
"Tak ada. Aku hanya kesal dengan dia yang menganggu adik dan adik iparku."
"Kau sayang sekali pada Nandha."
"Tentu saja. Dia adikku satu-satunya. Dia permata dalam hidupku. Kamu bukan cemburu kan?" tanya Bryan sambil menatap lurus mata Suci.
"Ah, mana mungkin aku cemburu. Aku hanya iri saja." aku Suci.
Bryan tersenyum, "Anak baik. Jangan cemburu padanya. Kalau kamu cemburu dengan dia, silakan pergi dari hidupku untuk selamanya." kata Bryan santai namun menusuk batin Suci.
"Aku paham posisiku."
"Lalu kenapa kamu cemberut?" tanya Bryan.
Suci menatap Bryan, "Apa kamu lihat teman-temanku. Mereka datang dengan pasangannya, walaupun masih pdkt. Tapi nyatanya hal itu bisa membuatku iri. Aku juga ingin datang dengan kekasihku." keluh Suci.
Bryan hanya diam saja mendengar keluhan Suci.
"Aku tadi juga lihat kamu banyak di samperin cewek-cewek. Aku cemburu tau, ingin rasanya aku tarik kamu dan membawamu lari dari sana." lanjutnya.
"Ku menangis .... membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku .... kau buatku cemburu dengan mereka yang ada disana."
Suci dan Bryan terheyak mendapati seseorang baru saja memasuki kamar mereka sambil melantunkan lagu Rossa yang liriknya kacau balau.
"Siapa kamu?!!" Bryan bersiap ingin menyerang orang mendekat itu.
Karena Bryan mematikan lampu depan membuat ia kesulitan melihat sosok yang baru saja membobol masuk kamarnya. Dari suara yang di dengar oleh Bryan membuat ia menyimpulkan bahwa ia adalah seorang wanita.
"Kamu melupakan aku Bryan," kata wanita itu.
"Siapa kamu? aku tak mengenalmu."
"Aku pacar kamu yang khusus datang dari Paris. Apa kamu melupakan aku? apa yang kamu lakukan itu JAHAT Bryan."
__ADS_1
"K-kamu!!! n-nggak ini nggak mungkin."
*****