The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 122


__ADS_3

Semua orang tengah menatap kearah Ratu yang masih terduduk di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Dihadapannya ada seorang laki-laki bertubuh tegap dengan seorang wanita cantik yang pernah ia temui di seolahnya tempo lalu.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kenapa tubuh anak saya tidak di temukan di lokasi kejadian?" tanya Laki-laki yang ia duga adalah ayah dari Nandha.


"S-saya nggak tau. Saya hanya mengikuti Nandha untuk pergi kesuatu tempat bersamanya. Kami bercanda sepanjang perjalanan dan tiba-tiba ada mobil dan semuanya gelap." jawab Ratu dengan tubuh yang gemetar.


wanita yang sedari tadi menatapnya kini mulai menumpahkan air matanya. Ia tak menyangka bahwa putri tercintanya akan mengalami kecelakaan dan menghilang bagai di telan bumi.


"Apa kamu tak melihat Nandha keluar dari mobil atau apapun itu? M-maksud saya bisa saja Nandha keluar untuk mencari bantuan," ucap Monica disela-sela tangisannya.


Ratu menggeleng pelan, tetapi tak lama kemudian gadis itu menjerit kesakitan sambil berkata, "Pria berbaju hitam." dan ia kembali tak sadarkan diri.


Paniklah kedua orang tua Nandha melihat Ratu yang kembali terjatuh lemas di atas ranjangnya. Tanpa banyak basa-basi Alexander langsung menekan tombol darurat yang ada di sebelah tempat tidur gadis itu. Seketika seorang dokter dan suster datang dengan langkah tergopoh.


"Apa yang harus kita lakukan Dad? Anak kita hilang. Putri kecil kesayangan kita menghilang." Itu Monica yang membuka suara.


Mau bagaimanpun juga ia adalah seorang ibu. Dia pasti khawatir dengan putrinya yang tiba-tiba menghilang di tengah kecelakaan. Pikirannya di penuhi oleh banyak sekali pertanyaan seperti-


"Apa anaknya terluka?"


"Apa lukanya sudah di obati?"


"Apa dia sudah makan dan minum obat?"


"Siapa yang membawanya?"


"Apakah dia orang baik?"


Begitulah isi kepala Monica, ia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Sangking paniknya ia bahkan lupa menghubungi menantu dan besannya.


"Mommy jangan lupa kasih kabar ke Dhany ataupun Tengku. Mereka juga berhak tau kabar ini." Alexander mengingatkan istrinya agar mengabari menantu dan besannya.

__ADS_1


Monica pun mengangguk dan dengan gerakan yang lemas ia mengangkat telfon genggamnya dan mencari kontak dari orang-orang tersebut. Awalnya ia menghubungi Katrine yang tentu saja langsung panik mendengar menantu kesayangannya menghilang.


Dari kejadian ini ada satu keanehaan saat mendengar respon menantunya sewaktu ia menelfonnya.


"H-halo D-dhany sayang. Ini Mommy Nak. Mommy cuma mau kasih kabar kalau Nandha tadi kecelakaan dan belum di temukan," kata Monica parau.


"Oh, baik Mom. Terima kasih."


Dan panggilan itupun langsung terputus sewaktu Dhany selesai mengucapkan kata "Terima Kasih."


Lalu bagaimana reaksi Monica saat mendapati reaksi sang menantu yang di luar ekspetasinya? Wanita paruh baya itu bersumpah dalam batinnya akan membunuh sang menantu kalau sampai ia tak peduli akan keadaan istrinya.


"Mom, Dad ... Gimana keadaan si adek?" tanya Bryan dan Leakai yang datang bersamaan.


"Siapa yang ngasih kabar kalian?" ucap Monica yang membalas ucapan mereka dengan pertanyaan.


"Daddy yang kasih tau kita Mom," jawab Leakai.


Bukan menjawab pertanyaan kedua putranya Monica malah kembali menangis dan langsung terperok di atas lantai. Melihat hal itu kedua putranya langsung panik dan berusaha menolongnya.


Runtuh sudah jantung beserta jajarannya mendengar adiknya hilang. Berbeda dengan Bryan yang lemas, Leakai malah langsung panik dan naik pitam.


"Siapa yang berani membawa adik gue pergi tanpa ijin?!" terdengar geraman di setiap intonasi yang ia ucapkan.


"Leakai tenang ya, Daddy udah kerahin pasukan khusus buat nyari Nandha di seluruh penjuru," tutur Alexander menenangkan semua keluarganya.


Belum selesai dengan kegaduhan dari keluarganya sendiri. Kini kegaduhan itu harus bertambah karena kedatangan Tengku yang langsung mencak-mencak karena tak tau kondisi si menantu kesayangan di tambah dengan sang anak yang tak tampak batang hidungnya.


Disaat semua panik Dhany datang dengan langkah santai dan tak ada sedikitpun rasa khawatir di dalam wajahnya. Hal itu tentu saja memancing emosi setiap orang. Tak ada aba-aba sebuah bogem mentah jatuh di rahang pemuda itu di susul pukulan di perutnya dan beberapa pukulan lainnya. Dari siapakah pukulan itu? Semua pukulan itu ia dapatkan dari sang Mamah dan ibu dari istrinya.


"Saya sudah meluangkan waktu saya untuk datang kemari padahal saya sedang sibuk. Kalau dia sudah capek dengan permainan ini nanti juga bakal pulang. Jadi nggak perlu drama." ucap Dhany sebelum pergi.

__ADS_1


*****


Disebuah tempat yang sangat gelap dan tertutup sangat pengap terdengar rintihan seorang wanita. Nandha terbangun di sebuah gudang yang sudah tak layak pakai. Ia sedikit meringis karena rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.


"Apa-apaan ini? Gue di culik lagi? Ckck, pada nggak bosen apa nyulik gue," gerutu gadis itu.


Gadis itu bahkan tak berusaha untuk meloloskan dirinya dari ikatan tali yang ada di tangan dan kakinya. Tubuhnya terlalu lemas dan lelah. Tubuh yang biasanya putih mulus dan bersih itu kini penuh dengan luka dan cairan darah dimana-mana. Bahkan darahnya sudah mulai mengering.


"Sudah sadar Nandha?" tegur seorang wanita yang baru saja masuk.


"Ah elo ternyata," sahut Nandha kelewat santai.


Wanita itu berjalan mendekati tawanannya. Dengan santai ia mengusap rambut dan wajah sosok di depannya. "Wajah lo jadi rusak Ndha, banyak luka dimana-mana? Apa Dhany masih mau sama lo kalau muka lo udah jelek gini?" kata wanita itu.


Nandha berdecih pelan cukup mengesalkan mengingat posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan untuk dia berlaga sombong.


"Cih, terus menurut lo kalau gue udah jelek Dhany bakal mau sama lo gitu?" belum sempat wanita itu membalas ucapan Nandha. Nandha lebih dulu melanjutkan ucapannya. "Percaya sama gue, dia nggak bakal mau sama lo."


PLAK


"JAGA MULUTMU J*L*NG!!"


Wanita itu menampar Nandha dengan sangat keras. Emosinya terpancing karena ucapan gadis tawanannya itu.


"Cuih." Nandha meludah tepat di depan kaki wanita yang menyekapnya itu. Ia merasakan rasa besi berkarat dimulutnya karena tamparan tadi menyebabkan bibirnya robek cukup lebar dan mengeluarkan darah.


"Padahal gue bicara apa adanya, kalau nggak percaya lo bisa buktiin sendiri kok. Selamat berjuang buat dapetin buaya ya."


Wanita itu enggan menanggapi ucapan Nandha yang sangat mengesalkan baginya. Sebelum ia kembali emosi dan melakukan kekerasan pada Nandha ia memilih pergi meninggalkan Nandha yang tengah terbatuk-batuk.


"Karena lo udah bikin gue emosi jadi gue nggak bakal obatin luka lo dan nggak ada makan buat malam ini." ucap Wanita itu sebelum menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Hahaha, gue heran kenapa semua orang seneng banget nyulik gue." ucap Nandha bermonolog di sela kekehan pelannya.


*****


__ADS_2