The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 79


__ADS_3

Budaykan like, koment, dan vote sebelum baca ya, biar Chiplux semakin semangat up nya.😊😊


Jafar semakin mendelik dan langung pergi meninggalkan semua orang di dalam markas. Ia membawa kuda besinya itu pergi dengan kecepatan tinggi.


*****


"Dasar orang-oran nggak berguna!!! masalah pengirim foto belum kelar udah dateng lagi masalah baru. Pala gue rasanya udah ma copot aja ini." keluh Jafar sepanjang perjalan.


"Belum lagi urusan gue yang mau test masuk ghost crime lagi. Makin puyeng gue."


Jafar menghentikan mobilnya di sebuah bar mewah yang di yakini milik pemimpin ghost crime yaitu tuan dewa kematian. Sebelum masuk kita harus melewati dua orang penjaga yang badannya sudah mirip binaragawan. Saat masuk kita akan langsung di sambut oleh dentuman musik DJ yang membuat kita ingin melompat dan berjoget ria.


Karena dia sudah sering kesana, membuat beberapa pengunjung dan juga staf menjadi akrab dengannya. Ada sebagian orang yang melihatnya datang dn langsung menariknya untuk ikut berjoget, namun Jafar malah menepis tangan mereka dan pergi tanpa menghiraukan semuannya.


"Kenapa muka lo gitu amat sih Far?" tanya Bartender yang ada di depannya.


"Gue lagi emosi, sakit hati, galau .... pokoknya campur aduk dah."


"Nih gue kasih minuman yang bisa bikin lo bahagia." Bartender itu menyerahkan minuman yang baru saja ia racik di sebuah gelas ramping yang sangat cantik.


"Minuman apaan ini warnanya gini amat, pink-pink kek Badan Hukum tante-tante gir*ng." ucap Jafar menghina minuman yang baru saja di berikan oleh bartender tadi.


"Anjiiir .... jangan salah, walau warnanya feminim tapi kan rasanya." sahut bartender tadi.


"Awas lo kalau gue keracukan minuman lo." ancam Jafar sebelum meneguknya.


"Kagak bakal."


Jafar menegak minuman itu hinggal tandas. Dia mengakui bahwa minuman yang di buat oleh bartender tadi sangat enak. Ia meminta lagi dan lagi tanpa sadar ia telah menghabiskan hampir 10 gelas minuman itu.


"Itu tadi minuman apa?" tanya Jafar.


"Ini namanya summer wings minuman yang baru aja gue temuin." jawab bartender.


"Tapi pala gue kok pusing ya? berapa persen sih kandungan alkoholnya?" tanya Jafar sambil memegangi kepalanya.


"Cuma 5% kok." aku bartender tersebut.


"Tapi perasaan gue minum baru berapa gelas gitu, kok udah pusing sih?" Jafar terus memegangi kepalanya yang semakin pusing.


"Ah udahlah. Gue bayar aja nih. Berapa semuanya?"


"Nih billnya ... lo serius mau pulang dalam keadaan gitu? mending lo istirahat di atas aja deh." usul sang bartender.


"Emang di atas ada apaan? ada kamarnya?"


"Ada dong. Kami disini nyesiain kamar buat mereka yang mabuk berat istirahat. Nah lo mending kesana aja, bayarnya nanti kalau lo udah mau pergi."


"Oke sediain 1 kamar buat gue ya."

__ADS_1


Jafar meletakkan kepalanya di meja tepat disebelah gelas terakhir yang ia minum tadi. Setelah memesan kamar untuk Jafar bartender tadi kembali bersama seorang wanita dengan pakaian yang sungguh menggoda iman kaum adam.


"Far kenalin ini Feni dia yang bakal bawa elo ke kamar elo." ucap bartender tadi setelah membangunkannya.


Jafar menatap kearah Feni yang berdiri di depannya.


"Wow .... ini mah semok depan semok belakang." ucap Jafar sambil menyeka air liurnya.


"Fen ... lo tolong bawa Jafar ke kamar nomer 7 ya." pinta bar tender tadi.


"Beres bro."


Feni membopong tubuh Jafar uang mulai lemas karena efek alkohol dari minuman summer wings buatan bartender temannya tadi.


Saat pintu lift yang di naiki oleh Jafar menutup, masuklah sosok yang samar-samar di kenal oleh Jafar.


"Eh tuan Demian. Anda sudah datang?" tanya bartender tadi saat melihat seorang remaja laki-laki seumuran dengan Jafar memakai hodie hitam berlogo tengkorak berjubah membawa sabit maut di punggungnya.


"Gimana?" tanya orang yang di panggil Demian.


"Iya tuan dia disini. Semua sudah bersiap."


"Bagus. Ngomong-ngomong tuan dewa kematian sama tuan William nggak ada kesini kah?" tanya Demian.


"Mereka sudah lama nggak kesini tuan."


"Baik tuan."


Sosok Demian yang baru saja masuk kini kembali keluar meninggalkan club malam yang amat berisik namun sangat menyenangkan itu.


*****


Dhany, Nandha san William pergi meninggalkan kedai mie ayam itu ke tempat masing-masing. Selama perjalanan kembali kerumah Dhany setia mengekori mobil Nandha yang berjalan sedikit lebih lambat.


"Kenapa Nandha bawa mobilnya nyantai amat yak?" ucap Dhany kebingungan di dalam mobilnya.


Dhany pun menggapai ponselnya dan lantas menghubungi Nandha. Di mobilnya Nandha merasakan ponselnya bergetar. Ia pun langsung mengeluarkan ponselnya dari saku kemajanya.


"Dhany?!!" batin Nandha setengah terkejut.


"Halo sayang ada apa kok telfon?" tanya Nandha saat menjawab sambungan telfon dari Dhany.


"Kamu kenapa pelan banget nyetirnya? apa jangan-jangan kamu ngantuk ya?" tanya Dhany dari seberang sana.


"Enggak kok, aku nggak ngantuk. Aku cuma mau menikmati keindahan malam aja.


"Bener nggak ngantuk?'


"Iya sayang ... aku cuma pingin lihat pemandangan malam aja."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, tapi kita harus cepetan pulang."


"kenapa gitu?"


"Udara malam nggak baik buat kesehatan kamu, apalagi kamu kan belum minum obat juga."


"Oke deh aku pulang sekarang." Nandha mematikan telfonnya.


Di dalam mobil Dhany terkejut melihat Nandha yang sudah menancap gasnya di sebuah tikungan sebelum memasuki daerah rumahnya.


"Nggak sekenceng ini juga kali yang,"batin Dhany saat melihat Nandha yang mulai menghilang dari pandangannya.


Kurang dari 15 menit, Nandha sudah sampai di depan rumahnya. Selang 5 menit Dhany pun menyusul memasuki halaman rumahnya.


"Kamu itu ya, aku bilang cepet pulang ... bukan berarti kamu boleh kebut-kebutan," ucap Dhany saat turun dari mobil dan langsung menjewer telinga Nandha.


"Aduh ... sakit yang," keluh Nandha sambil berusaha melepas tangan Dhany dari telinganya.


"Mau ngomong apa, hah??" tantang Dhany.


"Ini lepas dulu ... sakit tau ahh ... "


Dhany melepas jeweran di telinga Nandha dan langsung menggendongnya ala karung beras.


"Dhany .... turunin gue. Kalau l gendong gini perut gue sakit," protes Nandha.


Dhany langsung menurunkan Nandha dan mengangkat baju Nandha untuk memeriksa lukanya.


"Suek bener dah ... ngapain lu nelanjang*n gue disini? gue malu Dhan, lagian kita punya kamar segede GBK ngapain main disini?" tanya Nandha yang hiperbola.


"Jangan lebay deh, orang aku cuma mau liat luka kamu doang kok," jawab Dhany dingin.


"Kamu jawabnya cuek amat dah, kamu udah nggak sayang aku ya? iya kan hayo ngaku? ngaku kamu," ucap Nandha dengan mata berkaca-kaca.


Belum sempat Dhany menjawab Nandha sudah mulai menangis.


"Hua .... hua .... mommy .... Dhany udah nggak sayang Nandha lagi. Dhany udah ada cewek lain, hua .... " Nandha mulai berakting menangis untuk menggoda Dhany.


"Bukan gitu yang ... sini aku jelasin dulu. Aku bukannya nggak sayang sama ka ... "


Cup


"Aku boong ... "


Nandha berlari memasuki rumahnya setelah mengecup singkat bibir Dhany, dia meninggalkan Dhany yang asik dengan keterkejutannya.


"Anjiiir bini gue makin ganas aja" _- batin Dhany.


*****

__ADS_1


__ADS_2