
Tenang, terlalu tenang. Disinilah Reno tengah asik memandang wajah tenang dari sosok gadis barbar yang selalu menjadi musuhnya. Sebenarnya Reno ingin sekali menghibur gadis itu, tapi apa daya melihat wajahnya yang tenang-tenang saja membuatnya takut.
"Lo gue anter ke kelas ya, soalnya gue mau bolos. Lo kan nggak mungkin ikut gue bolos secara lo kan ketua osis, nggak etis kalo lo ikutan bolos sama gue," ucap Nandha tanpa menengok lawan bicaranya.
Ragu-ragu membuat Reno bungkap cukup lama sampai Nandha harus menegurnya beberapa kali, "Eehh, iya-iya gimana?" balasnya saat tersadar dari lamunan.
"Gue mau bolos jadi gue mau anterin lo dulu. Btw kelas lo dimana?"
"G-gue boleh ikut lo nggak?" Nandha menaikan sebelah alisnya. Dia bingung ingin merespon seperti apa. Lalu apa kabar dengan Reno? Haha dia sendiri bahkan bingung dengan reaksi yang di berikannya. Bisa-bisanya siswa teladan sang ketua osis yang terkenal ketat itu bisa dengan sukarela menawarkan dirinya untuk ikut membolos. Apalagi wajah memerahnya, cukup menggemaskan dimata Nandha.
"Lo nggak enak badan apa lagi ngeblus sih? merah banget mukanya," Nandha tertawa pelan. Reno yang merasa di tertawakan hanya bisa menggaruk tengkuknya.
"Gue males bawa lo pas bolos, lo kan bisanya nyusahin doang," ucap Nandha di selingi tawa renyah.
Reno mendengus kesal, "Nggak ya!! Enak aja nyusahin, gue bisa kok manjat pager belakang sekolah," protes Reno. Bak seorang anak kecil ia mempout bibirnya sambil menghentakan kakinya ke bumi.
Nandha menyodorkan tangannya, "Ayo katanya mau ikut gue bolos?" Senyum Nandha mengembang lebar. Cantik sekali.
Ini orang cantik banget, sadar tidak sih kalau dia itu bikin jantung dangdutan. Yah kurang lebih seperti itulah bayangan di kepala Reno sampai ia tak sadar sudah menyerahkan tangannya sedetik yang lalu.
Ternganga, itulah yang menggambarkan keadaan Reno saat ini. Pasarnya setelah menyerahkan tangannya di genggaman Nandha. Ia malah langsung di bawa pergi menggunakan mobil mewah gadis itu untuk pergi meninggalkan sekolah. Ia pikir Nandha hanya ingin pergi ke taman atau cafe terdekat layaknya teman-teman sekolahnya. Tapi ternyata pikiran polosnya itu salah besar. Ia malah di bawa ke sebuah kantor besar nan tinggal serta megah.
"Kita ngapain kesini woy? Ini kan kantor AA pengusaha yang paling misterius," kata Reno yang hampir ketakutan.
Nandha hanya tertawa renyah. Di parkirnya mobil kesayangannya di parkiran VVIP yang biasanya hanya untuk para pemimpin saja. Semakin paniklah Reno saat itu.
"Lo nggak salah nih parkir disini? Maksud gue tuh, ya gue tau lo orang kaya, tapi gue nggak tau kalo kekuasaan orang tua lo bisa sampai disini juga," celoteh Reno sepanjang jalan.
Menanggapi ocehan Reno yang tiada henti Nandha hanya mengendelikan bahunya acuh.
"Turun!!" Perintah Nandha santai tapi terkesan tegas.
__ADS_1
Reno pun mengikuti perintah Nandha dengan keraguan. Terlihat dari bagaimana tangannya bergetar. Nandha yang sudah keluar dari dalam mobil terlebih dahulu hanya bisa menatap gemas ke arah teman sebanyanya itu.
"Yuk."
Hanya satu kata tapi mampu memporak-porandakan batin Reno. Bagaimana tidak? Gadis itu dengan santainya memasuki lobi gedung mewah tersebut, seolah-olah dia sudah sering datang kemari.
"Selamat siang Nona pemimpin," sapa seorang karyawan yang tengah membawa setumpuk berkas fotokopian.
Reno yang tengah terkagum-kagum dengan desain interior yang mewah saat seseorang menyapa. Nafasnya mendadak tercekat. Apa ia tak salah dengar? Sepertinya ada yang menyapa sang pemimpin, tapi dimana? Ia celingak-celinguk sampai tak sadar kalau teman bolosnya tadi sudah masuk kedalam lift.
"Eee ... Eehhh tungguin."
Seakan tak cukup dengan kedatangannya di AA Group. Kini Reno di kejutkan dengan posisi Nandha duduk. Dimana dia duduk? Oh sudah jelas di balik meja bertanda CEO. Awalnya saat mereka tengah di depan ruangan bertanda CEO ia sudah mulai khawatir. Namun semua pikiran itu di tepisnya jauh-jauh. Bisa sajakan Nandha kemari menemui paman atau mungkin saudaranya yang lain. Tapi apa ini? Nandha dengan santainya mendudukan bokong sintalnya di kursi Kebesaran itu.
"Gue urus sesuatu bentar ya, lo duduk aja di sofa itu. Gue pesenin makan sama cemilan dulu, lo mau kopi or softdrink?" tanya Nandha membuyarkan lamunan Reno.
"Gue pemakan segala kok, jadi nggak perlu repot-repot," racau Reno tanpa sadar.
Nandha juga menekan beberapa digit angka lalu menelfon kembali kali ini perintahnya sangat singkat hanya, "Segera keruangan saya, Leakai!"
Hening.
Reno nampak enggan menegur Nandha yang tengah berkutat dengan dengan dokumen-dokumen yang ada di atas mejanya. Sampai terdengar sebuah ketukan dari luar. Percayalah buli kuduk Reno meremang saat mendengar Nandha berkata "Masuk." Kalau kata anak-anak zaman sekarang mah, serem boor.π
Datanglah seorang wanita membawa troli dorong yang berisikan makanan, cemilan serta softdrink seperti perintahnya tadi. Tak lama kemudian disusul seorang pria tampan nan gagah yang bersetelan jas rapi ikut masuk ke dalam. Namun saat wanita yang di duga seorang OG (office Girl) itu keluar sang pria tetap tenang di dalam ruangan. Duduk di depan Nandha dengan raut wajah tak terbaca.
"Anda memanggil saya Nona?" tanya Leakai di hadapan Nandha.
Nandha yang asik dengan dokumennya tersentak saat mendengar suara Leakai yang menegurnya, "Oh kamu sudah disini, mari duduk disana." Ajak Nandha.
"Kak, gue disini mau ngomong sebagai adek lo aja ya. Gue mau lo ambil alih semua urusan kantor. Karena lo tau sendiri status gue sekarang apa, gue nggak mungkin urusin urusan kantor tiap hari kayak waktu dulu. Apalagi ini udah mulai masuk ujian kenaikan kelas juga. Gue bakal makin sibuk dan gak menutup kemungkinan kalau gue bakal lebih jarang di kantor. Gue gak lepas kendali seutuhnya kok, mungkin gue cuma bakal meriksa setiap laporan dari rumah. Kalian tinggal kirim filenya aja, atau mungkin sama tanda tangan doang." ucap Nandha panjang lebar.
__ADS_1
"Apa?! Lo mau nyerahin urusan kantor ke gue? Yang bener aja Ndha. Ini kantor lo sendiri yang ngerintis dan sekarang lo mau nyerahin ke orang lain?" Suara Leakai menggelegar memenehui seisi ruangan tersebut.
Nandha menghela nafas pelan menyenderkan tubuhnya ke belakang, "Bukan ke orang lain sih. Kan gue nyerahinnya ke lo Kak. Lo itu juga Kakak gue kalau lo lupa." Nandha tersenyum lebar.
*****
Di tempat lain seorang wanita cantik tengah sibuk menggoda seorang murid berseragam yang tengah duduk diam di depannya. Berawal dari kerlingan mata genit sampai kontak fisik dilakukannya. Tapi, apakah siswa itu merespon? Tentu saja. Semua godaan itu di terima dengan baik. Seperti pribahasa kucing lapar di suguhi ikan, sudah pasti di libas.
"Dhany ... Kamu sama saya saja. Tinggalin bocah brandalan tadi. Dia nggak pantas buat seseorang seperti kamu," ucap Siska.
"Brandalan? Maksud anda Nandha? Hem, saya memang merasa bosan dengan dia. Sejujurnya saya ini fakboy. Saya akan bosan dengan pasangan saya setelah berhubungan selama 1 sampai 2 minggu saja," balas Dhany.
Seulas senyum terpatri indah di wajah Siska, oh nampak senang sekali dia saat mendengar ucapan dari muridnya itu. Entah setan apa yang merasukinya (jangan nyanyi yaπ) hingga dia berjalan mendekat dan beranjak ketempat duduk Dhany. Menyentuh bahu muridnya dengan gerakan sensual. Mengusap wajah Dhany dengan lembut, membelai pipi dan rahang tegas milik pemuda di hadapannya.
"Aku ingin mencium bibir ini, apakah boleh?" Tanya Siska sambil mengusap bilah bibir Dhany. Belum mendapatkan izin tapi wanita itu sudah mendekatkan wajahnya.
Tapi, tunggu dulu. Tidak semudah itu wahai kutil bison. Saat jarak yang hanya tinggal beberapa inchi tiba-tiba ponsel Dhany berbunyi menampilkan nama William di displaynya. Sontak membuat Dhany membungkam mulut guru cabul di depannya itu dengan sepotong ketas ujian yang ia ambil dari meja.
"Saya permisi dulu, ada hal penting yang harus saya lakukan." Pamit Dhany sambil mengusap surai gelap gurunya.
Bagaimana batin Siska saat ini? Kalau kata Syahrini sih banyak bunga-bunga. Tapi saya pribadi berharap itu bunga bangkai. Bahkan ia tak sakit hati saat Dhany menyumpal mulutnya sangking senangnya dia.
Setelah Dhany sepenuhnya keluar dari ruangannya terdengar suara teriakan penuh dari dalam sana. Ternyata wanita itu tengah bersorak, melompat, berjoget ke segala arah. Benar-benar tidak jelas.
Sedangkan Dhany apa yang ia lakukan setelah dari perkebunan cabai? Dia nampak acuh dengan sekitarnya bahkan saat bertemu dengan kawan-kawannya di lorong tadi dia tetap diam. Walau teman-temannya sudah menyalanya sambil berteriak-teriak layaknya orang kesetanan, tapi dia tetap diam.
Semua orang bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua temannya itu. Tadi mereka melihat Nandha yang sedang memapah Reno menuju mobilnya. Lalu sekarang melihat Dhany yang begitu dingin dan menyeramkan.
"Ada yang nggak beres," batin mereka semua.
*****
__ADS_1