The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 61


__ADS_3

*****


Bantuan? bantuan apa?" tanyanya.


"Jadi gini, gue mau lo nyari info dimana cewek ini di rawat," ucapnya sambil menyodorkan foto Nandha yang ada di ponselnya.


Bagus melihat foto itu sekilas, "Siapa dia bro?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Dia pacar gue, cuma sekarang lagi di tahan sama seorang iblis aja," aku Jafar berbohong pada Bagus.


Bagus mencebik saat mendengar ucapan Jafar, "Dia kenapa?" tanya Bagus sambil memainkan ponselnya.


Jafar memingat-ingat kenapa Nandha bisa masuk rumah sakit, "Dia kena tusuk di sekolah," jelas Jafar.


"Oh, lo sekolah di Fenatha International high school kan?" tanya Bagus tanpa memandang Jafar sang lawan bicara.


"Iya kenapa?"


"Lo kok makin gobl*k ya Far, udah jelas banget dia ada di rumah sakit DNA," jelas Bagus sambil menghina Jafar.


Jafar memasang tampang plongonya, ia bingung akan perkataan Bagas, "KOk lu bisa nyimpulin kalau Nandha ada di rumah sakit DNA?" tanyanya polos.


"Hadeeh," keluh Bagus sambil menepuk jidatnya, "Logikannya di pakek dong J.A.F.A.R cuma rumah sakit DNA yang paling dekat dari sekolah elu."


Jafar terkesiap mendengar ucapan Bagus, kenapa ia melupakan fakta penting nan sederhana itu.


"****, bener kata elu. Kenapa otak gue nggak pernah mikir kesana ya?" kata Jafar sambil nyengir kuda.


"Karena elo emang nggak ada ot*k," ucap Bagus lirih.


Jafar pergi meninggalkan markas dengan tergesa setelah berpamitan pada teman-temannya, ia juga menitipkan salam untuk lional. Ia melajukan mobilnya dengan cepatan penuh dengan harapan agar bisa segera bertemu dengan Nandha.


Naas baginya saat ia sampai disana ternyata orang yang ia cari sudah di perbolehkan untuk pulang. Namun masih ada beberapa pertanyaan yang menggajal di batinnya. Ia mengingat-ingat kembali kejadian tadi.


*Flashback On*


Jafar memakirkan mobilnya di sembarang tempat, hingga terpaksa seorang satpam harus memindahkan mobilnya. ia sendiri langsung bergegas menuju meja resepsionis.


"Sus pasien atas nama Nandha ada di kiamar nomor berapa ya?" tanyanya sambil terengah-engah.

__ADS_1


"Mohon tunggu sebentar tuan," ucap suster yang berjaga disana.


"Maaf tuan, pasien atas nama Nandha baru saja meninggalkan rumah sakit ini, ia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter," lanjut suster itu lagi.


"Saya pacarnya sus, kira-kira dia pulang kerumahnya yang mana?" tanya Jafar lagi.


Suster itu tersenyum ramah dan berkata, "Jika memang anda pacarnya kenapa menanyakan pada kami, dan maaf semua data tentang pasien adalah rahasia rumah sakit. Kami tak ada wewenang untuk mengatakannya.


Jafar meninggalkan rumah sakit itu dengan keadaan lesuh diiringi langkah gontainya. Ia merasa kecewa karena keterlambatannya dalam menjemput Nandha, yang baginya adalah wanitanya.


*Flashback Off*


"Kenapa adanya Adele Andrianandha Effendy? gue lupa siapa sih nama lengkap Nandha? perasaan namanya Adele Andrianandha A bukan E," gumamnya di sepanjang perjalanan.


Tiba-tiba ia terlintas di benaknya bayangan pertengkarannya dengan sang ayah pagi tadi, dan itu sangat membuatnya frustasi, ia memutuskan akan kembali ke markas saja.


"Lah, kok u balik lagi kak, nggak mau pulang?" tanya Lional saat melihat sang kakak turun dari mobilnya.


Jafar terus berjalan gontai tanpa mengiraukan pertanyaan sang adik. Di dalam markas sendiri ada begitu banyak orang tengah berkumpul.


"Uwoho, kenapa boss? keliatan badmood banget," tanya tanya seorang anggotanya yang bernama yudiz.


Yudiz sang sahabat Jafar dan Lional yang terkenal playboy itu memberi isyarat pada kedua wanita yang menemaninya dari tadi agar mendekati dan menggoda Jafar.


Seorang wanita berambut merah merona mendekat dan langsung duduk di pangkuan Jafar, "Malem sayang, kamu nggak mau ajak aku main," ucap wanita itu dengan nada yang sungguh menggoda.


Jafar hanya diam saja di perlakuakn seperti itu oleh wanita asing yang tak ia kenal, melihat targetnya tidak bereaksi si wanita semakin gencar menyerang pertahanan Jafar hingga akhirnya runtuh semua. Jafar menyambar bibir wanita itu dan melum*tnya dalam-dalam.


Yudiz tersenyum licik sambil melihat wanita yang ia kirim tadi, sekilas ia mengacungkan ibu jarinya dan berbisik, "Good job beby."


Jafar melepas pangutannya dan menarik pergi wanita itu, ia membawanya kesebuah ruangan di lantai atas. Disana terdapat ranjang tua, sofa dan sebuah meja.


Ia hempaskan tubuh wanita itu dan langsung menindihnya, "Kamu yang bangunin dia maka kamu juga yang harus tanggung jawab," ucapnya sambil bersemirk.


Tanpa aba-aba ia tarik baju wanita itu hingga robek, dan terjadilah adegan lucknut yang penuh desahan dan teriakan.(Kalian bayangin sendiri, Chiplux nggak kuat lagi buat nulisnya takut nggak bisa berhenti, bisa dicekal novel Chiplux nantiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚).


Di lantai bawah ada Yudiz yang tengah tertawa terbahak-bahak, ia sungguh bahagia melihat teman baiknya terkontaminasi racun bejat miliknya.


Lional tiba-tiba masuk dan berteriak pada Yudiz, "Yudiiiiiiiz, apa yang lo lakuin ke abang gue?" teriaknya sambil mencengkeram baju Yudiz.

__ADS_1


"Apa? kakak lu yang mau bukan gue yang maksa," elak Yudiz santai, ia menepis tangan Lional dengan mudahnya.


"Gue kan juga mau ogeb," protes Lional dengan wajah seriusnya.


Yudiz kembali tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Lional yang iri akan kakaknya, "Oke-oke ini masih ada sih Stevia, kalau lu mau ajak aja dia gue mau pergi." Yudiz langsung pergi meninggalkan 2 sejoli yang dimabuk nafsu itu.


****


Sebuah rumah mewah tengah ramai dengan gelak tawa, rumah siapa lagi kalau bukan rumah Saydhany Daiba Effendy. Ya rumah mewah yang beberapa hari ini terlihat suram itu kini telah kembali berwarna dan ceria karena


sang tuan dan nyonya kembali lagi.


"Senangnya nyonya sudah kembali kerumah," kata beberapa maid yang mengintip dari dapur.


"Iya beberapa hari ini rumah rasanya sepi banget," sahut lainnya.


"Kalian lanjut dulu gue mau ngomong sama Leon dulu," ujar Dhany sambil menari Leon dan memberi kode pada William.


Dhany dan Leon pergi ke ruang kerja Dhany, disana leon memberikan semua informasi tentang Jafar yang ia cari selama perjalanan menujnu rumah tuannya tadi.


"Jadi tuan, si Jafar ini ketua geng biasa, mereka menyebut diri mereka sebagai wolf blood, mereka bukan gangster apalagi mafia, mereka cuma sekumpulan anak-anak dengan kenakalannya berlebihan."


"Jadi dia nggak ada terlibat dengan dunia mafia?" tanya Dhany.


"Benar tuan, dia bukan ancaman buat kita," jawab leon dengan nada sopan.


Dhany pun membiarkan Leon pergi meninggal dia seorang diri di ruang kerjanya. Ia menerawang dan entah membayangkan apa hingga sebuah panggilan di terima oleh ponselnya.


"Orang rumah sakit? ada apa ini?" batinya bertanya-tanya.


"Ya hallo, ada apa?" tanya Dhany langsung to the point.


"......."


Dhany membulatkan matanya mendengar penjelasan dari seseorang diseberang sana. Ia menggertakan giginya, raut wajahnya pun mulai berubah menjadi hitam.


"Baik, tutupi semuanya jangan biarkan orang luar tau tentang kami," ucap Dhany tegas dan langsung mematikan telfonnya.


"Bangs*t kau!!!" umpatnya penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2