The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 63


__ADS_3

*****


Plaaak...Plaaak...!!


Suara nyaring tamparan dari Sandy di pipi Jafar dan Lional bergantian, "Apa kalian sudah gila hah?!! kenapa kalian ngelakuin hal bejat ini? dan otak kalian itu dimana? kalian membiarkan seseorang mengambil foto kalian yang sedang berhubungan intim, hah?" amuk Sandy di pagi hari yang cerah itu.


"Kami main di mar..."


"Kita udah pastiin waktu main itu aman, nggak ada orang lain di lokasi," ucap Jafar memotong penjelasan Lional.


"Kalau memang di lokasi itu tidak ada orang lain, lalu kenapa foto kalian ini bisa sampai di tangan ayah, hah?" cecar Sandy dengan emosi yang meledak-ledak.


"Kami nggak tau yah, kalau pun kami tau, pasti itu foto nggak bakal ada di tangan ayah kan," jawab Jafar santai tanpa dosan.


Mendengar jawaban Jafar yang slengekan membuat Sandy semakin murka, ia menggapai vas bunga yang ada di dekatnya dan melemparkannya.


PRANG...!!!


Suara vas membentur dinding, mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu Wanda keluar dari dapur dan langsung menghampiri Sandy.


"Ada apa yah?" tanya Wanda panik.


Bukannya tenang Sandy semakin kalap, ia lempar setumpuk foto kedua putranya yang tengah berada di atas seorang gadis, "Kamu liat baik-baik itu kelakuan anakmu," teriaknya dengan penuh amarah.


Wanda menggertakan giginya, "Dasar bodoh!!" teriak Wanda yang ikut naik pitam.


"Kalian ini apa-apaan sih, kamu Jafar malu-maluin bunda aja, kamu itu mau bunda kenalin ke putri keluarga Agatha malah main beginian," amuk Wanda juga.


"Maaf bun, Jafar ke kamar dulu," elak Jafar, "Ayo Lional kita ke kamar," ajak Jafar pada Lional yang langsung di angguki oleh Lional.


"Hey mau kemana kalian ayah belum selesai bicara!!" teriak Sandy sambi berkacak pinggang.


Jafar tidak menghiraukan teriakan dari ayahnya, ia bersama Lional terus berjalan menuju kamarnya.


"Kak emang nggak papa ya kita kek gini?" tanya Lional dengan tubuh yang gemetar hebat.


"Udah diem, sekarang kita cari tau aja siapa yang udah ambil foto kita diam-diam," ucapnya dengan geramnya.


"Setau gue waktu elu keatas buat main, gue protes ke si Bagus, nah terus di kasih Stevia buat gue dianya pergi nggak tau kemana," tutur Lional.


"Nggak mungkin Bagus, dia kan udah lama ikut kita. Dia juga nggak pernah bikin masalah," ucap Jafar.


"Terus siapa kak? gue nggak tau, soalnya cuma ada kita waktu itu, yang lain kan udah pada pulang," saut Lional bingung.


Jafar dan Lional sibuk dengan pemikiran masing-m,asing. Mereka menerka-nerka siapakah yang memotret mereka secara diam-diam dan mengirimnya pada sang ayah.

__ADS_1


*****


"Ayo bangun dong mio caro, aku khawatir nih," ucap Dhany tepat di telinga Nandha dengan lirih.


Dhany terus menggosok telapak tangan Nandha dengan minyak angin agar hangat, ia berharap sang istri akan segera sadar.


"Maaf aku beneran nggak bermaksud buat bikin kamu jadi bahan taruhan, aku kelepasan doang, aku sayang sama kamu."


"Sayang bangun dong, aku cium nih kalau nggak bangun."


"Gue gebok lu berani nyium gue," balas Nandha tiba-tiba.


Dhany langsung mendongkrakan kepalanya saat mendengar suara Nandha, ia tersenyum bahagia melihat Nandha yang sudah membuka matanya.


"Ada yang sakit nggak? laper? atau kamu mau apa biar aku ambilin," tanya Dhany beruntun.


"Makan, aku belum makan dari semalem," ucap Nandha lirih.


"Aku suapin ya?" tanya Dhany dengan puppy eyesnya.


"Hmmm," balas Nandha dengan deheman.


Dhany sambil tersenyum lebar penuh bahagia, ia menyuapkan sesuap demi sesuap makanan yang dibawakan oleh William tadi hingga tandas.


"Udah kenyang?" tanya Dhany kalem.


"Jadi aku dimaafin nggak nih?" tanya Dhany malu-malu.


"Iya, asal jangan di ulangi lagi," kata Nandha sambil menyenderkan tubuhnya.


Saat mereka tengah mengobrol dengan tenang, masuklah seorang guru membawa sertumpuk berkas.


"Kalian sedang apa disini?" teriak guru itu.


"Bu Siska?" ucap Nandha lirih.


"Dhany!! tolongin ibu dong," ucap bu Siska manja, ia mendekat dengan langkah gemulai. Ia berniat menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Dhany, namun...


"Aauuuwww," jerit bu bu Siska pelan karena rambutnya yang di jambak oleh Nandha.


"Jangan ganggu pacar gue ya bu," ucap Nandha sambil menarik rambut bu Siska semakin kencang.


Dhany melongo seketika namun ia langsung bersemirk saat mendengar ucapan Nandha pada bu Siska, ia merasa bangga karena tindakan Nandha yang menunjukan rasa cemburunya.


"Lepaskan rambut saya," teriak bu Siska sambil terus meronta berusaha melepaskan tarikan Nandha.

__ADS_1


"Ibu menjauh dulu dari pacar gue," perintah Nandha santai.


Bu Siska melangkah mundur menjauhi Dhany hingga beberapa langkah barulah tangan Nandha lepas dari rambut bu Siska.


Nandha turun dari bangkar dan melangkah mendekat kearah bu Siska yang tengah merintih kesakitan.


"Bu Siska dengerin ya gue peringatin, sekali lagi gue liat bu Siska deketin pacar gue ini. Gue pastiin bu Siska bakal menyesal," peringat Nandha sambil mencondongkan wajahnya.


"Sayang ayo pergi," ajak Nandha sambil merangkul Dhany dan menariknya meninggalkan ruangan itu.


Bu Siska mengumpat dalam hati saat mendengar pengakuan Nandha, "Siala*n kenapa bisa dia sama murid itu?" batinnya.


Dhany mengikuti langkah lebar Nandha hingga sampailah mereka di ruang khusus, Dhany menarik Nandha dalam pelukannya dan berbisik, "Kamu cemburu ya?" bisiknya.


"Udah tau nanya," balas Nandha sambil memalingkan wajahnya.


"Uch gemes," cicit Dhany sambil mencubit kedua pipi Nandha.


"Kamu bawa obat nggak?" tanya Dhany yang masih enggan melepas pelukannya.


"Iya, ada di tas," jawab Nandha.


Dhany menghubungi William, ia meminta William untuk membawa tas Nandha keruang kelas, sambil menunggu William mereka berdua terus saja mengobrol membahas segala hal, mulai dari saham sampai urusan pribadi.


"Yang, kapan kamu bolehin aku itu?" tanya Dhany ragu-ragu.


"Itu apa? ngomong yang jelas," tanya Nandha yang asyik bersender di dada Dhany sambil memainkan ponselnya.


"Itu, m-malam pertama," ucap Dhany terputus-putus.


Nandha terkejut hingga menjatuhkan ponselnya, ia tak menyangka bahwa Dhany akan menanyakan jatahnya saat ini.


"Sabar dulu ya, tunggu aku siap," kata Nandha sambil mengusap pipi sang suami.


Dhany menurunkan pandangannya nampak jelas bahwa ia kecewa mendengar jawaban dari Nandha, "Oke."


Tok...Tok...Tok


"Permisi tuan, saya datang mengantarkan tas nyonya," lapor William dari luar ruangan.


"Masuk aja Will," perintah Dhany.


"Ini tasnya nyonya," kata William sambil menyerahkan tas Nandha yang ia bawa dari tadi.


Nandha bangun dari zona nyamannya untuk menerima tas dari William, "Makasih ya Will," balas Nandha sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


William menganggukan kepala dan langsung undur diri, ia tak mau menjadi obat nyamuk dalam kebersamaan tuannya itu, ia tau bahwa majikannya baru saja akur, karena itulah ia ingin memberi waktu untuk mereka beromantis- romatis ria.


*****


__ADS_2