The Best Bad Couple

The Best Bad Couple
Episode 60


__ADS_3

****


"APPA!!!" teriak William dan Leon bersamaan saat mendengar suara anak kecil memanggil ayah.


Taekie yang mendengar teriakan William dan Leon sangat tgerkejut, ia langsung bersembunyi di belakang Dhany sambil memegangi ujung seragamnya.


"Kalian ricuh banget sih, kasian anak gue nih jadi takut," tegur Dhany pada kedua saudara kembar itu.


"Appa mereka siapa? kok teriak-teriak gitu," tanya Taekie sambil mengintip dari punggung Dhany.


Dhany membungkukan tubuhnya dan berkata, "Jangan takut mereka teman-teman appa."


"Teman appa? kok mirip tarzan, suka teriak-teriak," kata Taekie dengan polosnya.


"T-tuan, diakah anak tuan?" tanya Leon dengan puppy eyesnya.


"Iya dia anak gue," aku Dhany, "Chagi sini kenalan sama teman-teman appa," lanjut Dhany.


"Annyeong om, saya Aekie. Saya anak appa Dhany dan eomma Nandha," ucap Taekie sambil membungkukan tubuhnya.


"Asdfghjjkl, unyu banget!!" teriak William dan Leon histeris.


Taekie lari ke arah Nandha yang sedari tadi hanya menyimak obrolan para lelaki itu. Dhany yang melihat reaksi Taekie hanya bisa menepuk jidat.


"Yah kok lari, sini ayo salaman sama uncle," bujuk Leon dengan lembut.


"eomma...takut," cicit Taeki dengan mata yang berkaca-kaca.


Nandha mengusap lembut rambut Taekie, "Jangan takut mereka udah di jinakin appa kok," ucapnya menenangkan.


William menganggukan kepala, "Iya sayang uncle udah jinak kok, sini uncle punya banyak jajan. Es krim juga ada lho," rayunya.


"Es krim?!!" teriak Taekie sambil memalingkan wajahnya. "Mana es krim mana?" tanyanya sambil berlari kearah William.


Mereka semua terkejut melihat Taekie yang langsung lari saat mendekat saat mendengar kata 'Es krim'.


"Taekie suka es krim ya?" tanya William lembut.


Taekie menganggukan kepala, "Iya uncle Aekie suka banget sama es krim," ucap Aekie dengan mata berbinar-binar.


"Woy Leon mana es krimnya?" teriak William.


"Biasa ajalah bang," protes Leon.


"Sini sayang es krimnya ada di uncle lho, nanti kita makan bareng ya. Ayo sini-sini," ajak Leon yang terus membujuk Taekie.


" Horeeee makan es krim," sorak Taekie riang gembira sambil mengangkat kedua tangannya.


Leon mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Taekie. Taekie yang tau niat Leon itu langsung melompat dan menunjuk kearah sofa tempat ia duduk tadi.


Nandha dan Dhany tersenyum lebar melihat interaksi antara putranya dengan Leon yang cukup menggelitik itu. Taekie dengan jahilnya menyoretkan es krimnya di pipi mulus milik Leon.


"Nandha ini ada buah-buahan dari kita dimakan ya," ucap William menunjukan sebuah parsel besar berisi buah-buahan import.


"Makasih Will, btw, lu ada saudara kembar tapi kenapa kagak pernah cerita haa?" tegur Nandha dengan nada santai.


"Dia selama ini tinggal di Belanda sama ayah, gue yang di Indo jagain mama," jelas William.


William mengalih perhatiannya kepada Dhany yang sedari tadi melamun sambil melihat keluar jendelan.


William mendekatkan wajahnya pada Nandha dan berbisik, "Tuan kenapa? nggak biasanya beliau begitu," bisiknya menanyakan keadaan tuannya.

__ADS_1


Nandha ikut melihat kearah sang suami, ia ikut khawatir melihat kondisi suaminya. Tidak seperti biasanya suaminya itu yang biasanya bawel menjadi pendiam dan suka melamun.


"Gue nggak tau Will, coba lu tanya langsung aja ke dia," saran Nandha.


"Oke." William langsung pergi menghampiri tuannya.


William menepuk pundak Dhany dengan lembut, "Lu kenapa?" tanya William pelan.


Dhany memandang kearah Nandha yang tengah asik kembali dengan novelnya, "Untuk pertama kalinya gue ngerasaiin rasa takut Will," akunya pada William.


William terhenyak mendengar ucapan Dhany, orang yang ia kenal dengan keberaniannya kini mengaku tengah merasakan rasa takut.


"A-apa maksud tuan," tanya William panik.


Dhany menarik nafas sebelum akhirnya ia bercerita, "Tadi gue ketemu Jafar Will, dia nantang gue dan gobloknya gue kemakan tantangannya," ujar Dhany.


"Lalu tuan?" tanya William.


"Dia bilang kalau dia bakal ngerebut Nandha dari gue, jujur gue beneran takut will. Gue udah terlanjur sayang sama dia, gue nggak mau kehilangan dia," adu Dhany dengan 2 butir air matanya yang berhasil menerobos keluar.


Sekali lagi William terkejut melihat perubahan pada tuannya, "Tenang tuan saya yakin nyonya hanya mencintai anda."


"Gue tau, tapi gue tetep takut. Gue harus apa Will?" tanya Dhany.


William geram melihat tuannya tertekan karena ulah Jafar, di dalam hati ia bersumpah, "Gue bakal kasih lo pelajaran yang berharga karena sudah bikin tuanku mengeluarkan air mata."


Pembicaraan mereka terhenti karena seruan dari Leon yang meminta abangnya untuk membelikan ia makan.


"Abaaaang!!" teriak Leon menggebu-gebu.


William berdecak sebal meliahat tingkah laku adiknya yang super manja itu. "Ckck apaan si dek?" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah sang adik.


"Gue laper bang, tuan sama nyonya nggak mesenin kita makan jal," cibirnya menyindir tuan dan nyonyanya.


"Jangan dengerin omongan dia," ucap Dhany singkat.


Tok...Tok...Tok


Semua berpaling kearah pintu yang diketuk. Munculah sang bpengawal yang berjaga di depan pintu membawa 3 kotak pizza ukuran jumbo.


"Permisi tuan, nyonya dan yang lain. Saya hanya ingin menanyakan apakah benar nyonya tadi memesan ini?" tanya pengawal itu yang menunjukan pizza di tangannya.


Nandha memberi isyarat agar pengawal itu mendekat, "Benar saya yang pesan, taruh yang 2 kardus disana dan yang 1 bawa keluar itu buat kalian," perintah Nandha.


"Terima kasih nyonya." pengawal itu pun pergi mengerjakan tugas yang di berikan oleh Nandha.


"Uwoo pizza, nyonya baik banget," puji Leon dengan mata yang masih terfokus pada kotak pizza di hadapannya.


"Terima kasih nyonya," teriak Leon yang langsung berhambur ke pelukan Nandha. Dhany yang melihat hal itu langsung mendelik.


"LEOOOOON!!" bentak Dhany dan William bersamaan.


Leon yang mendengar teriakan itu hanya tertawa dan terus menempelkan tubuhnya pada tubuh Nandha. Nandha berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Leon yang sangat kencang dan sema itu gagal.


"Lepasin bini gue nyet, lu mau gue tebas disini ha?" ancam Dhany sambil berkacak pinggang.


"Otak elu dimana dek, itu nyonya ngapain elu peluk-peluk. Please jan nyariin gue masalah terus," keluh William sambil menepuk jidatnya berulang kali.


"Ya ampun kalian berisik banget, padahal gue kan cuma mau meluk nyonya doang," cicit Leon sambil memonyongkan bibirnya.


BUG

__ADS_1


Taekie memukul perut Leon dengan tangannya, "Nggak boleh peluk eomma, cuma appa sama Aekie yang boleh peluk-peluk eomma," Tegasnya.


Nandha terkejut melihat reaksi Taekie saat melihat ia di peluk oleh Leon. Sungguh menggemaskan dan juga agak menakutkan, sekilas Nandha melihat kilatan dimata Taekie yang mirip dengan mata Dhany.


Leon tertawa lebar, "Hahahahaha, uncle minta maaf ya, habis mama kamu baik banget, uncle jadi gemes. Kalau gitu uncle peluk Taekie aja ya," ucap Leon yang langsung berganti memeluk Taekie.


"Aaa-aah aauuww, aduh sakit tuan," jerit Leon karena telinganya yang di jewer oleh Dhany dengan kencang.


Mereka akhirnya bercanda bersama dengan Leon sebagai pelawak. Mereka menikmati waktu kebersamaan mereka, hingga Dhany juga mampu melupakan semua beban pikiran walau hanya sesaat.


*****


Jafar terduduk dan melamun diatas aspal yang mulai memanas, ia terkejut melihat sifat dan perubahan raut serta emosi Dhany yang menurutnya sangan menyeramkan.


"Gue yakin dia bukan manusia, dia itu iblis. Nandha nggak boleh sama dia terlalu lama," batinnya.


Jafar bangun dan segera kembali ke mobilnya, ia menancap gasnya untu pergi kesuatu tempat. Diperjalanan ia menelfon sang adik Lional Carenn.


"Halo Lional, lu dimana?" tanyanya saat terlfonnya tersambung.


"Di sekolahlah kak, masa iya gue di kebon binatang," cibir Lional dari seberang sana.


"Gue bakal ke markas, ental lo susul gue ya. Kumpulin anak-anak juga, ada yang mau gue bahas," perintah Jafar pada Lional.


"Ole beres kak," ucap Lional dengan entengnya.


Jafar kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang cukup macet itu, ia tak hentinya mengumpat dan menyumpahi Dhany dengan kata-kata kotor dan kasar.


Tak lama kemudian ia sampailah di sebuah gudang tua, tempatnya cukup menyeramkan. Banyak graffity bergambarkan serigala dimana-mana. Terdapat sebuah graffity paling besar bertuliskan 'Blood wolf' di pintu masuknya. Ia memarkirkan mobilnya di sebelah beberapa motor sport entah milik siapa.


Kriiieeeet...


"Yoo, halo boss!!" sapa beberapa orang yang ada di dalam sana.


"Kalian nggak pada sekolah?" tanya Jafar sambil mendekat kearah teman-temannya berada.


"Rokok bro" tawar seorang temannya saat ia dihadapannya.


"Oke thanks" ucap Jafar yang langsung menyambar sebatang rokok yang ditawarkan tadi.


Ia menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia hembuskan secara perlahan. "Kemana yang lain?" tanyanya setelah beberapa kali ia menghirup rokoknya.


"Ya pada sekolah bro, secara masih jam segini," sahut temannya yang lain.


Jafar diam saja, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. "Eh disini ada yang jago IT nggak, yang sejenis hacker ada nggak?"tanyanya lagi.


"Noh si Bagus pinter," tunjung sesorang kepada seorang anak laki-laki yang tengah asik memainkan ponselnya sambil memahai earphone.


"Gus, sini lu," panggil Jafar dengan nada memerintah.


"Elah mana denger dia, kalau lo mau ngomong sama dia. Lo harus ngelepas earphonenya dulu." Jafar langsung pergi meninggalkan temannya saat mendengar saran itu.


"Woy bagus, gue mau ngomong ama elu!!" teriak Jafar tepat di telinga Bagus yang sudah ia lepas earphonenya.


"Anjiiir, siapa sih bikin kuping gue budeg aja?" protes Bagus sambil menggosok-gosok telinganya.


"Eh si boss," cicitnya waktu tau bahwa Jafarlah yang telah mengganggunya.


"Gue perlu bantuan elu," ujar Jafar pada Bagus dengan wajah seriusnya.


"Bantuan? bantuan apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Jadi gini..."


__ADS_2