
Budayakan like, koment, vote, dan follow ya, biar Chiplux makin semangat upnya.
*****
"K-kamu menambaknya?" tanya Nandha gugup.
Dhany mendekat dan langsung mendekap tubuh Nandha yang sudah bergetar hebat. Nandha yang memang dari awal sedang tidak enak badan ditambah mual dan adegan menegangkan tadi akhirnya jatuh pingsang tak sadarkan diri. Dhany langsung menggendong Nandha keluar dari ruangan, meninggalkan Ratu yang tengah tertegun.
Dhany berbalik sebelum keluar dan berkata, "Sekali lagi gue denger lo ngomong yang enggak-enggak tentang istri gue. Gue bakal pastiin peluru tadi nembus kepala lo ngerti!!" ancamnya.
Dhany berlari dengan terburu-buru bersama Nandha di gendongannya. Semua anggota yang masih disana di buat terkejut sekaligus panik. Ini baru pertama kalinya Dhany menunjukkan ekspresi panik dan ketakutan.
"Panggil dokter Zuan segera!!!" perintahnya di sepanjang lorong.
William dengan cekatan langsung melakukan perintah Dhany. Dia langsung menghubungi dokter Zuan. Dokter pribadi yang di kontrak Dhany untuk mengurus kesehatan anggota ghost crime. Sedangkan Leon memeriksa ruang bawah tanah karena mendengar suara tembakan.
Dhany mondar-mandir di ruangannya setelah meletakkan tubuh Nandha di sofa yang di pakai untuk makan bersama tadi.
"Dimana dokter Zuan?!!! kenapa lama sekali??"
"Maaf tuan, saya tadi terjebak macet." sahut seorang laki-laki muda berjas dari belakang Dhany bersama seorang wanita berpakain suster.
"Dokter Zuan!! ayo cepat periksa istri saya."
"Tolong anda semua diam disini, biar saya periksa pasien," ucap dokter Zuan.
Dokter zuan masuk kedalam ruangan tempat Nandha tengah terbaring lemah. Suster tadi mencegah Dhany yang ingin ikut masuk kedalam.
"Apa kau gila!! yang di dalam itu istriku. Dan kau sekarang sedang menghalangiku untuk masuk?! kau sudah ingin mati ya!!" teriak Dhany.
"Maaf tuan. Tapi saya hanya menjalankan perintah dokter Zuan." suster itu langsung menutup pintu ruangan itu.
Terpaksa Dhany menunggu di luar ruangan. Tak lama kemudian anggota lainnya datang bersama William dan Leon. Mereka bersama-sama menunggu dokter Zuan keluar dan memberi laporannya.
Dokter Zuan keluar dari ruangan itu bersama dengan sang suster.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Dhany yang masih panik.
"Dasar bucin," ucap dokter Zuan sambil menepuk punggung Dhany. "Istri kamu nggak papa. Dia cuma kecapekan aja gara-gara di gempur terus-terusan. Kayaknya dia nikah sama kuda liar," sambungnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dhany membulatkan matanya.
"Kenapa kaget gitu? dia cuma masuk angin doang kok sama kaget udah itu aja." ucap Dokter Zuan.
"Huffhh, untunglah." Lega sudah batin Dhany mendengar ucapan dokter Zuan.
"Ternyata kamu seorang bucin ya."
"Apaan sih dok," elak Dhany memalingkan wajahnya.
Dokter Zuan berbisik di telinga Dhany , "Malam ini jangan dulu ya." seketika dokter Zuan tertawa terbahak-bahak.
Wajah Dhany sudah langsung memerah bak tomat matang. Hilang sudah kharisma seorang Dewa Kematian milik Dhany. Kini yang tersisa adalah kharisma seorang bucin yang penuh aura merah muda.
Anggota lainnya hanya bisa menatap Dhany dengan tatapan berbagai arti, berbeda dengan William dan Leon yang memilih menepuk jidatnya.
Dhany lebih memilih masuk kedalam ruangan untuk melihat keadaan Nandha. Meninggalkan para anggota yang tengah bergosip ria.
William mulai khawatir akan kebucinan Dhany yang di tunjukan di depan umum. William nampak sangat resah. Akhirnya William memutuskan untuk menyusul Dhany masuk keruangan.
"Dek, lo urus mereka ya. Gue mau nyusul tuan dulu." bisik William yang langsung pergi menyusul Nandha.
Leon menuruti ucapan William. Ia menggiring orang-orang kembali ke ruang rapat untuk membicarakan kebucinan Dhany.
"Permisi tuan. maaf saya sudah lancang masuk tanpa izin." ucap William saat sudah berada di belakang Dhany.
__ADS_1
"Ada apa Will?"
"Maaf sebelumnya, tapi menurut saya apa tidak berbahaya jika tuan menunjukan rasa cinta anda untuk nyonya di depan umum seperti tadi? saya khawatir orang-orang tadi akan berpikir bahwa nyonya adalah kelemahan anda." ucap William.
"Saya juga khawatir jika sampai hal ini terdengar oleh musuh dampaknya akan sangat buruk. Bisa saja suatu saat nyonya tengah berjalan sendirian dan culik pihak musuh." lanjut William.
"Kalau gitu, buat gue jadi kuat!!"
"Nyonya/sayang?!!" ucap Dhany dan William bersamaan.
"Kalau menurut lo gue lemah dan terlalu mengkhawatirkan, ayo ... bikin gue jadi kuat biar kalian nggak perlu lagi khawatirin gue." ucap Nandha dengan sorot mata yang tegas.
William tampak tak enak hati pada Nandha, dia berpikir Nandha tersinggung akan ucapannya itu.
"Nggak papa Will. gue ngerti maksud lo kok jadi santai aja."
"Makasih nyonya sudah mau mengerti saya," ucap William sambil menundukkan kepalanya.
"Sesuai ucapan gue tadi, tolong buat gue jadi kuat." sekali lagi Nandha mengatakan keinginannya.
"Tapi yang ... kamu kan belum pulih. Orang tadi kamu cuma liat aku nembak Ratu aja langsung pingsan," ucap Dhany sambil mengusap rambut Nandha.
"Kan nanti juga bisa .... " sahut Nandha.
"Bagaimana ini tuan?" tanya William meminta keputusan dari Dhany.
"Terserah dia aja sih Will. Buat kita yang paling penting ilmu bela diri sama kekejaman," jawab Dhany.
"Okey kalau gitu. Nanti kalau gue udah sembuh total kita mulai latihan ya," ajak Nandha penuh semangat.
"Baik nyonya. Tuan saya sudah mendapatkan nomor Jafar." ucap William.
"Nomor Jafar? buat apa?" tanya Nandha.
"Dengan tujuan?"
"Aku mau dia jahunin kamu kalau aku menang." kata Dhany tegas.
"Jadi aku mau di jadiin bahan taruhan gitu?" tanya Nandha sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak .... taruhan itu buat sesuatu yang kita nggak tau siapa yang menang. Kalau ini aku yakin aku yang bakal menang." ucap Dhany penuh keyakinan.
"Aku nggak mau di jadiin bahan taruhan!!!"
"Kan aku tadi udah bilang enggak sayang .... aku berani jamin kalau aku bakal menang." Dhany mencoba menjelaskan secara perlahan.
"Terserah kamu ajalah. Aku nggak mau tau," ucap Nandha merajuk.
Nandha beranjak dari sofa tempatnya berbaring, namun belum sempat melangkah Dhany sudah menahannya.
"Please sekali ini aja percaya sama aku, ya?" Dhany memohon agar Nandha mempercayainya.
"Ya."
"Kok cuek gitu sih,"ucap Dhany sambil menoeli pipi Nandha. Dhany berusaha membuat mood Nandha menjadi lebih baik.
"Minggir!!" ujar Nandha dengan penuh emosi.
Nandha kembali melangkah meninggalkan sofa itu, namun Dhany kembali menahannya.
"Kamu mau kemana sih?" tanya Nandha.
"Aku itu mau ke toilet!!! dari tadi kamu nahan aku terus, aku udah nggak tahan tau," teriak Nandha sambil melotot kearah Dhany.
Dhany merasa malu dan akhirnya melepaskan tangan Nandha. Dhany menunjuk sebuah ruangan kecil yang ada di sudut ruangannya.
__ADS_1
Setelah mengetahui dimana toiletnya berada, Nandha langsung berlari tanpa menghiraukan pandangan Dhany dan William.
Setelah puas membuang sampah dalam tubuhnya. Nandha akhirnya keluar dari toilet, dan ternyata Dhany tengah menelfon seseorang.
"......"
"Ini gue, Dhany cowoknya Nandha."
"......"
"Gue mau nantang lo balapan. Yang kalah jauhin Nandha."
"......."
"Terserah lo, lo mau main dimana gue nggak peduli"
"......"
"Gue bakal pastiin lo kalah."
"......"
Begitulah yang di dengar oleh Nandha. Ia tak bisa mendengar apa yang di ucapkan lawan bicara Dhany. Namun Nandha bisa menebak siapa orang yang tengah di telfon oleh Dhany.
"Pasti lagi ngomong sama terong ungu." batin Nandha.
Nandha berjalan mendekati Dhany. Tapi tetap saja hatiny merasa sakit akan kenyataan bahwa dirinya digunakan sebagai taruhan. Dhany buaknnya tak mengetahui kehadiran Nandha. Ia hanya berpura-pura tak menyadarinya agar Nandha tak mengamuk lagi.
"Maafin aku sayang, aku terlalu takut kehilangan kamu," batin Dhany menjerit meminta maaf.
Dhany kembali sibuk dengan rapatnya meninggalkan Nandha sendirian di ruangannya, karena ia harus mengingatkan para anggotanya agar menjaga rahasia mengenai Nandha serapi mungkin. Rapat itu berlangsung sekitar 2 jam, dan saat ia kembali ke ruangannya ternyata Nandha sedang tertidur pulas dia atas sofa.
"Sayang .... ayo bangun," ucap Dhanyh membangunkan Nandha yang bak kerbau betina itu.
"Dhany .... kamu brengsek. Dasar cowok kurang ajar, seenak jidat aja jadiin gue bahan taruhan," umpat Nandha yang tengah mengigau.
"Kamu serem ya, ngigau aja masih bisa ngatain orang." kata Dhany sambil menoel pipi Nandha.
Dhany terus berusaha membangunkan Nandha sampai akhirnya usahanya itu berhasil.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Dhany sambil mengusap keringatnya.
"Kenapa?"
"Aku udah 20 menit bangunin kamu, tapi kamunya nggak bangun-bangun,"
"Masak sih kok aku nggak ngerasa ya," ucap Nandha santai.
Dhany hanya bisa diam membisu saat mendengar ucapan Nandha.
"Ayo katanya mau balapan sama Kadal amazon," ucap Nandha yang sudah ada di ambang pintu.
Dhany mengikuti langkah Nandha dari belakang.
"Kok udah sepi sih?" tanya Nandha sambil melihat keadaan sekitar.
"Iyalah rapatnya kan udah selesai."
"Oh jadi mereka udah pulang ke tempatnya masing-masing?"
Dhany menganggukkan kepalanya.
"Aku kan udah ijinin kamu balapan sama kadal amazon. Sebagai gantinya, bawa aku kesana. Aku mau lihat secara langsung. Tapi sebelumnya bawa aku pulang dulu," ucap Nandha sambil bersemirk.
*****
__ADS_1